
Nathan yang sedang sibuk dengan berkas-berkas di mejanya, cukup terkejut dengan kedatangan pegawai sekaligus kakak iparnya, "Tidak apa, nah, ada apa?" katanya sambil memperhatikan Kala. Dan pada saat itulah, muncul sosok gadis mungil yang sudah membuatnya uring-uringan, membuat pikirannya tersita, membuat hatinya gundah gulana, ah ... seseorang yang bisa menjungkir-balikkan dunianya.
"Hai ... apa aku menggangu?" Katanya.
Kali ini sang tuan muda terkejut ... sangat terkejut, ketika sang gadis masuk tadi dia langsung berdiri, "Tita?!" antara percaya dan tidak dengan apa yang di lihatnya. Mungkin, jika dalam drama-drama akan ada banyak bunga-bunga dan kupu-kupu berterbangan di sekitarnya saking dia bahagia. Sang gadis yang menjadi porosnya berdiri di sana malu-malu, menunggu untuk di hampiri ... Tapi itu hanya dalam drama, karena pada kenyataannya sang tuan muda hanya berdiri di tempatnya, membuat Tita merasa canggung. Hingga, Brian menyadarkannya.
"Tuan. Nota Tita datang." katanya sambil mencengkram bahu sang tuan dengan agak keras. Untuk apa? Tentu agar sang tuan sadar, dan bertindak. Ha ha ha.
Nathan berlari, menuju titik magnetnya tentu saja. Tidak bisa membendung rasa bahagia dan kerinduan yang bercampur sekaligus. Di peluknya sang gadis, pelukan erat ... tidak perduli di setujui atau tidak, karena menginginkannya. Dan tidak ada juga penolakan dari Tita, he he.
"Sayang, aku merindukan kamu ..." itulah kata-kata Nathan di telinga Tita. Membuat sang gadis merona karena malu dan hatinya menghangat. Entahlah, Tita merasa kata-kata yang di ucapkan Nathan adalah ketulusan, dan dia bahagia. Maka dengan keberanian yang sudah di kumpulkan walaupun dengan malu-malu dia menjawab, "Aku juga."
"Ehm! Maaf tuan Petra."
Nathan mengangkat kepalanya, apa, katanya.
"Saya hanya mengantarkan adik saya,"
"Oh, iya." jawaban tanpa melepaskan sang istri. Tapi Tita yang berusaha melepaskan diri, malu juga dia tersadar sedang berpelukan dengan laki-laki di hadapan kakaknya. Namun, Nathan terlihat protes karena pelukannya di lepas.
"Aku mau mengantar kakak ku."
"Sudah sayang tidak perlu mengantar aku." sang kakak merasa aneh dengan kenyataan di hadapannya, seorang Nathan yang lama di kenalnya bisa bertingkah seperti itu pada adiknya. Dengan tetap waspada dan hati-hati, dia mencium kedua pipi sang adik, sebenarnya hal ini biasa dia lakukan tapi biasanya itu tidak ada tatapan membunuh dari orang lain yang melihat. "Aku, pergi ya. Baik-baik kamu, kabari aku. Permisi, tuan Petra, tuan Brian." dia menunduk dengan hormat.
"Terima kasih sudah mengantar, adikmu." Sang tuan menjawab, dengan menekankan kata 'adikmu' pada kalimatnya. Ck ck ck, cemburu tidak pada tempatnya.
Selepas Kala pergi, Nathan menarik Tita untuk duduk di sebelahnya. "Kamu kapan datang?"
"Semalam," Tita melihat tangannya yang terus di genggam Nathan, ya ... dia bahagia. Datang jauh-jauh kesini adalah keputusan yang tepat. Sang suami seperti melupakan apa yang terjadi sebelumnya, karena matanya dan gerakan tubuhnya hanya memancarkan kebahagiaan.
"Hah, semalam? Lalu kamu tidur dimana?!" nah, mulai cemas.
"Tidak usah khawatir, aku menginap di apartemen kakak." jawabnya dengan senyum yang manis. "Dia kakak aku, jadi tidak mungkin macam-macam." Seperti sudah tahu apa yang ada di kepala sang suami, Tita menjelaskannya. Brian yang menyaksikan adegan itu hanya tertawa, dasar bucin.
"Brian, tolong pesankan makanan." pengusiran secara halus. Dan tentu sang sekretaris sangat mudah untuk mengerti situasi ini.
"Baik, tuan muda. Take your time." sengaja banget yaaa, ha ha ha.
"Aku tidak menyangka kamu kesini. Kamu naik apa?" Nathan membuka obrolan.
"Naik pesawat, memang bisa naik apa lagi selain pesawat?"
Tita teringat kini, "Kenapa kamu tidak menjawab panggilan ku?"
"Aku ingin melihat, apa kamu juga merindukan aku."
"Cih, dasar."
"Jadi, kamu merindukan aku gak?"
"Tadi kan aku sudah jawab, Nath."
"Kapan?"
"Tadi, saat kamu masih memelukku sambil berdiri."
"Hah, gak ah. Aku gak dengar."
"Salahmu sendiri, kenapa gak dengar."
"Aku anggap, iya." Di peluk lagi istrinya, gadis kesayangannya.
"Nathan ... maafkan aku, ya." Tita mengungkapkan penyesalannya.
"Maaf untuk apa?" di belai lembut rambut sang istri.
"Aku sudah membuat kamu marah. Dan kamu pergi dalam keadaan marah ... aku benar-benar merasa buruk."
"Iya, sudah ... jangan menyesal seperti itu. Aku memaafkan kamu... Kamu tahu, melihat kamu di sini saat ini sudah membuat aku bahagia berkali-kali lipat. Aku sungguh tidak pernah menyangka bahwa kamu akan menyusul aku sejauh ini." Nathan menempatkan kedua tangannya di pipi Tita, menatapnya penuh kelembutan, kerinduan, keinginan ... "Tita, keberadaan kamu di sini, menyusul aku ... apakah aku bisa menganggap bahwa perasaan kamu sudah berubah untuk aku??" Nathan harus memanfaatkan momen, memastikan perasaan sang gadis di hadapannya.
Tak ayal pertanyaan itu membuat wajah Tita bersemu, aduh... kenapa tanya hal itu sekarang sih ... Tita sudah ingin memalingkan wajahnya, namun di tahan oleh tangan kekar itu. "Yaa ... mm, iya. Aku jauh-jauh datang ke sini ya .... karena rasa bersalahku dan rasa rindu aku ..." Hah ... karena tidak bisa menggerakkan kepalanya, jadi Tita mengatakan isi hatinya dengan mata terpejam. Dasar wanita.
Tak tahan dengan kelakuan imut sang gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu, Nathan mengecup kening sang istri dengan cepat. Membuat Tita membelalakkan matanya seketika. Waaaah ... seperti ada ribuan petasan yang menyala di dalam dirinya, he he ... Nathan teramat bahagia. Ck ... rupanya tak cukup hanya mengecup kening sang istri, karena dengan gerakan secepat kilat dia menabrakkan bibirnya dengan bibir istrinya, hingga tubuh mungil Tita makin merapat dengan sofa. Nathan dengan semangat membara benar-benar membayar habis kerinduan yang dia pendam beberapa hari ini. Lenguhan yang terdengar seperti bahan bakar yang makin memacu energinya.
Dan ketika wajah Tita makin memerah dengan nafas yang sudah satu dua, Nathan mengistirahatkan kegiatannya ... agar mereka bisa mengatur nafasnya. Namun, selanjutnya ... "Tita... aku boleh, melakukannya sekarang?"
Sekarang?? Ini di luar rencananya, tapi melihat sang suami yang seperti sudah sangat mengharapkan hal itu, dia juga tidak tega untuk mengatakan 'tidak'. Hmm, mungkin juga bukan hanya karena tidak tega sih, tapi karena dia juga sudah tidak bisa berkata apa-apa. Kenapa? Ya, tentu saja karena detik berikutnya Nathan sudah mengeksplore semuanya, all part of her body. actually it doesn't take a lot of words to get started right?
Dunia Tita jungkir balik saat itu. Dia meyakini dirinya untuk mempercayakan kebahagiaan hidupnya kepada laki-laki yang saat ini tengah berbagi kesenangan dengannya. Aku berharap keputusan ini tidak salah, karena menurut drama romantis terakhir yang dia lihat ... cinta itu tidak pernah salah, cinta itu indah, cinta itu membuat siapapun yang merasakan selalu dilingkupi kebahagiaan.