
"Terima kasih ya ... kalian beneran gak mau mampir?" tanya Tita.
"Tidak, terima kasih. Aku gak mau di semprot kakakku." jawab loudy. Tita dan Mickey hanya tertawa mendengar jawaban Loudy.
"Aku mengantar Loudy dulu, kamu tidak apa keatas sendiri?" tanya Loudy dan Tita mengangguk.
Tita pulang terlambat karena pergi nonton dengan Loudy dan Mickey. Awalnya, Nathan tidak mengijinkan karena dia ingin menjemput istrinya ... tapi karena sang adik memohon sekaligus mengancam, akhirnya dia mengijinkan juga. Sebagai jaminannya, Loudy dan Mickey harus mengantar Tita pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Sesampainya di unitnya, rupanya sang tuan suami sudah menunggu. Nathan duduk dengan rapi sambil membaca sebuah buku, dia sudah mengenakan piyamanya. "Kenapa baru pulang?" tanyanya.
"Maaf ya sayang," Tita menghampiri, mencium pipi Nathan kanan dan kiri. "Aku mandi dulu ya,"
"Tunggu ..." Nathan mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Tita. Dan tangannya tentu tidak mau diam, membuat Tita kegelian. Rasanya seperti pengantin baru.
Malam semakin beranjak, Nathan dan Tita membunuh waktu dengan mengobrol di tempat tidur. Quality time mereka, tinggal berdua di hari ke dua.
"Sayang, ceritakan tentang dirimu ... aku mau dengar." tanya Tita.
"Cerita tentang apa?"
"Apa saja ..."
"Hm ... tidak ada yang menarik di kehidupanku." sejenak Nathan terdiam, pikirannya melayang ... "Oh iya, kamu sedang ada proyek apa sekarang?"
"Masih pegang proyeknya Muller," jawab Tita santai.
Mendengar kata Muller malah Nathan yang tidak santai, "Muller?!" bahkan suaranya naik satu oktaf ... padahal bukannya Nathan tidak tahu, hanya saja dia tetap tidak bisa terima.
"Iya, kenapa?" eh .. eh ... kenapa ini?
Nathan memeluk tubuh Tita erat dan membenamkan kepalanya pada ceruk leher sang istri.
"Kamu pasti akan sering bertemu Terry, kan?"
"Terry kan temanku, sekalipun tidak ada hubungannya dengan pekerjaan memang aku tidak boleh bertemu?"
"Sayang ... kamu tau aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain."
"Aku tidak dekat-dekat laki-laki lain, kok. Tidak ada yang aku anggap lebih spesial darimu."
"Tapi kamu tau aku terlalu cemburu .... aku,"
"Iya, iya ... aku tau. Tapi kalau dia mengajakku makan siang atau sekedar bertemu, aku tidak enak kalau menolak terus."
"Jadi kamu sering bertemu dengannya?!!" Nathan kini sudah merubah posisinya, menatap tajam Tita yang kini berada dibawahnya.
Alarm bahaya menyala, apakah aku salah bicara??
Melihat matanya yang menyala, sepertinya memang aku salah.
"Tidak sering ... hanya beberapa kali saja."
Nathan bergeser dan menempatkan tubuhnya di sebelah sang istri, nafasnya teratur namun matanya menatap langit-langit kamar. Melihat sang tuan suami yang tidak menyerangnya seperti biasa, Tita merubah posisinya menghadap Nathan.
"Kenapa?" tanyanya.
"Tidak apa."
"Kamu marah?"
"Tidak."
"Dia kan klien ku, jadi ..."
"It's okay sayang." Nathan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk kepala Tita, mengelus helaian rambut itu dengan penuh sayang. Tita merasa sangat dicintai, dan merasa nyaman hingga dia terlelap dalam kedamaian. Melihat sang istri sudah terlelap, perlahan Nathan memindahkan kepala Tita dari lengannya. Nathan mengambil ponselnya dan keluar dari kamar.
"Tuan Petra, saya sudah mempersiapkan perjalanan ke Prancis ..." Lisa berdiri dengan anggun dan senyum manis yang tidak pernah dia tinggalkan ketika berhadapan dengan bosnya.
"Apa Brian mengetahuinya?"
"Tentu saja, tuan. Bahkan tuan Brian yang langsung memerintahkan."
"Baiklah, kamu atur saja."
Nathan tidak melirik Lisa sekalipun, tentu hai itu membuat Lisa jengkel tapi dia tahu kalau dia harus bersabar. Sedikit lagi Lisa, bersabarlah. Seperti itulah dia memotivasi dirinya sendiri. Keluar dari ruangan sang bos besar, Lisa mengirimkan pesan berupa detai pejalanannya bersama Nathan kepada Terry. "Ini peluang terakhir kita, jadi lakukan yang terbaik." seperti itulah isi pesan peringatan untuk Terry.
Sementara itu, Terry tersenyum senang membaca isi pesan dari Lisa. Perjalanan bisnis Nathan selama dua minggu, itu artinya Tita-nya bebas selama itu. Ya, benar ... waktu ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Aku harus bisa mendapatkan Tita. Terry mengeluarkan ponselnya dan membuka menu gallery, dipandanginya sejumput wajah yang tertawa riang walaupun foto itu diambil dari jarak yang tidak dekat. Ah, hanya memandang fotonya saja membuatku rindu begini... maka diambilnya kunci mobil yang tersimpan diatas mejanya, Terry pun langsung menjalankan mobilnya menuju tempat kerja sang pujaan hati. Dan ajaibnya, bahkan dia belum memikirkan alasan apa untuk masuk ke dalam sana. Ck ... jantung ku sampai berdebar-debar seperti ini.
Tita sedang menikmati coklat panasnya ketika Mickey masuk ke pantry, "Ta ..." sapanya.
"oh, hi Mickey." jawab Tita sambil mengangkat sedikit cangkir yang sedang di pegangnya.
Mickey membuat kopi untuk dirinya, "Ta, bagaimana hubunganmu dengan tuan Nathan?"
"Kami ... baik-baik saja. Kenapa? ada apa?
"Tuan Nathan itu .... galak gak ya?"
Tita beranjak dari duduknya dan pindah persis di sebelah Mickey, "Kamu melakukan kesalahn apa?" tembaknya.
"Ah, gak ... aku gak melakukan kesalahan apapun," Mickey terlihat gugup, namun dia berusaha tetap tenang.
Tapi ... bukan Tita namanya jika luput dari hal kecil seperti itu. "Jujur saja, apa yang sudah kamu lakukan?! sebaiknya kamu jujur padaku sekarang jadi aku bisa membantumu kemudian!"
Mickey jadi serba salah, Tita memang bukan orang yang mudah menyerah dan sangat peduli dengan temannya. "Aku ingin cerita, tapi aku bingung harus mulai dari mana?"
"Kamu terlilit hutang?" Tita asal menebak.
"Gak lah, bagaimana kamu bisa berfikir seperti itu?!" Mickey agak emosi.
"CK, santai aja dong ... aku kan hanya asal menebak. Itu karena kamu menanyakan soal Nathan di awal kan?"
Mickey menyeruput lagi kopi panasnya, "Aku takut Loudy hamil,"
Uhuk... huk .. huk ....
Tita menyemburkan coklatnya yang sudah tidak panas, dia terkejut bukan kepalang hingga tersedak. Dan plak!! Punggung Mickey tak selamat dari pukulan Tita.
"Apa maksud kamu!!" semburan kemarahan terpancar dari bola mata indah Tita. Mickey menunduk seakan menyesali yang sudah terjadi. "Mickey ... maksud kamu apa?!" kali ini Tita setengah berbisik.
"Aku ... Kami, tidak sengaja melakukannya ... saat itu," Mickey menghembuskan nafasnya "Saat itu, aku juga tidak sadar dan itu terjadi begitu saja."
"Kamu gila Mickey. Kenapa kamu jahat begini?!" Tak ayal Tita marah mendengarnya.
"Ta, hal itu terjadi begitu saja."
"Tapi seharusnya kamu bisa menahannya, argh .... gila, aku tidak habis pikir kamu tega melakukannya."
"Tapi Ta, aku juga tidak memaksanya?!"
"Stop! aku masih belum bisa berfikir jernih dan aku masih sangat kesal sekarang. Bilang sama Loudy, kita harus ketemu." Tita berdiri dari bangkunya dan berjalan keluar dari pantry masih dengan perasaan marahnya.
Baru saja dia keluar dari pantry, dia sudah dikejutkan dengan kehadiran sang tuan suami, "Sayang," Nathan dengan senyum hangatnya menyapa Tita yang terkejut melihat Nathan di depan pantry kantornya. "Kenapa kamu terkejut seperti itu?" tanya Nathan heran.
Belum lagi Tita menjawab Nathan, tiba-tiba Mickey keluar dari pantry dengan wajah yang masih penuh penyesalan. "Oh, ah .. Tuan Nathan."
Seketika suasana berubah canggung, tidak hanya Tita yang terkejut karena Nathan secara tiba-tiba ada dihadapannya, Mickey yang serasa tertangkap basah dan merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan pada adiknya Nathan. Dan Nathan yang juga curiga karena kedua orang di hadapannya ini terlihat jelas sangat terkejut melihatnya.