
Setelah makan siang bersama, para anak-anak muda itu berkumpul membuat permainan, ada sekitar dua belas orang yang bermain termasuk Tita, Loudy dan Mike. Mereka memainkan permainan Warewolf, mereka mulai memainkannya dengan membagikan kartu secara acak kepada setiap pemain, pada saat kartu dibagikan setiap pemain mulai merasakan adrenalin yang menggila, mencurigai setiap orang yang ada disana ... menebak-menebak siapa yang memegang kartu warewolf. Ke dua belas orang itu saling tuduh menuduh dan menutupi identitas masing-masing. Aksi mereka ini tidak hanya memunculkan gelak tawa yang tak terelakkan dari setiap pemain, tetapi juga teman-teman mereka yang tidak ikut bermain.
Tita merasakan kebahagiaan yang luar biasa, bisa keluar dan menikmati masa bersama teman-temannya, tertawa, bebas, lepas. Merayakan kelulusan mereka, sebagai rasa syukur telah berhasil melewati empat tahun bersama. Pernikahan 'terpaksa' yang dia lakukan, tuan suami yang kadang sulit diketahui apa maunya, menyebalkan sekaligus menggemaskan, untuk sesaat ditinggalkan dulu. Hm, pernikahan di usia muda ... ini tidak ada dalam planning kehidupannya, tapi apa mau dikata ketika takdir berkata lain ... dia juga tidak bisa menolak ketika laki-laki yang sudah bersikeras menikahinya, membuatnya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya ... membuatnya percaya dan menyerahkan dirinya dan kehidupannya kepada laki-laki bernama Nathan. Baiklah, anggaplah pernikahan ini sebagai bonus ... karena diantara teman-temannya yang ada disini, hanya dia yang sudah menikah.
Matahari sudah makin menjauh dari posisinya, menandakan malam sudah bersiap menampakkan wujudnya, ketika mereka melakukan permainan berikutnya. Tita tidak ikut permainan itu karena tadi dia lelah, ternyata bermain dengan melibatkan adrenalin bisa menguras energi mu juga. Tita melihat ponselnya, sepi ... tidak ada telpon atau pesan apapun dari laki-laki yang sampai dengan pagi tadi masih berat melepasnya pergi. Apa aku harus telpon lagi? ah, aku kirim pesan saja.
"Tita, kamu lagi apa?" tanya Andin.
"Tidak sedang apa-apa, kenapa?"
"Temani aku ke supermarket di sana , yuk. Sambil jalan-jalan."
"Oke, yuk." Tita mengambil jaketnya Karen udara mulai terasa dingin.
Udaranya masih sangat segar disini, ibu pasti suka kalau aku ajak kesini. Mereka hanya butuh berjalan sekitar tiga puluh menit untuk sampai di tempat tujuan mereka.
"Wah, bagus ya tempatnya?" ujar Andin.
"Iya, aku pikir supermarket biasa ... eh, ada makanan impor juga ternyata."
"Ta, aku lihat-lihat skincare dulu ya. Siapa tahu ada yang sedang aku incar, hehe."
"Iya, pergilah." Andin memang termasuk orang yang maniak skincare, segala macam merk dan jenis dia punya ... korban iklan kalau Tita bilang. Tita lebih memilih melihat-lihat makanan yang khas, siapa tahu bisa dijadikan oleh-oleh.
"Zahra? Zahra ya ..." Sapa seseorang dengan suara yang terdengar senang.
Merasa dirinya yang dipanggil, Tita pun menoleh. "Lho, hai ... pak." Tita membalas sapaan itu dengan canggung. Kenapa dia bisa ada disini?
"Jangan panggil aku bapak, kesannya aku sudah sangat tua." Ha ha ha. "Terry. Panggil saja aku Terry." pipinya membentuk dimples ketika dia menarik sudut bibirnya. "Kok kamu ada disini?" tanyanya lagi.
"Aku sedang ada acara dengan teman-teman kampus. Kamu, kenapa kamu ada disini?"
"Oh, vila ku ada di sebelah sana. Aku hanya sedang bosan di kota, jadi ingin jalan-jalan saja kesini. Dan tidak menyangka akan bertemu dirimu disini kali ini." Ha ha ha. "Sepertinya kita berjodoh."
"Bercanda kamu." Ha ha ha. Tawa manusia ini ternyata menular, ah ... mungkin karena pembawaannya yang bersahabat.
"Karena kita bertemu disini, aku akan menemanimu ya. Jangan menolakku!"
"Ya, ya, baiklah. Tapi aku kesini dengan temanku, dia sedang pergi sebentar."
"It's okay ..." Terry memamerkan senyumnya, aku akan melakukannya dengan sangat natural hingga kamu sendiri nantinya yang akan berlari ke arahku. Kata Terry dalam hati.
"Andin, kamu dimana?" Tita bahkan tidak menyadari bahwa dia sudah tidak bersama Andin sejak tadi. "Oh, yaaa .... baiklah aku akan pulang sendiri ... iya jangan khawatir."
"Kenapa? Temanmu meninggalkan kamu?" tebak Terry.
"Iya, dia memang suka lupa dengan hal lain kalau sudah belanja. Dan baru teringat kalau sudah meninggalkan aku disini ketika dia sudah sampai di vila." Tita agak kesal juga, tapi tidak bisa mengalahkan ... karena dia pun terlalu asik mengobrol dengan Terry. "Aku kembali ke vila duluan ya, Terry."
Ketika ingin pergi, Terry menahan lengan Tita. "Nanti saja, kita beli camilan dulu di sana ... aku akan mengantarmu dengan selamat sampai di vila. Oke?"
Tita itu suka makan, suka sekali tapi entah mengapa tidak berefek pada tubuhnya sama sekali. Dan mendengar kata camilan membuat dia susah menolak memang, "Oke."
Pergilah mereka ke sebuah booth yang menjajakan aneka camilan seafood panggang. Terry makin tertarik dengan gadis di depannya kini, dan makin tinggi hasratnya untuk memiliki gadis ini.
Sementara di tempat lain, mobil Nathan berhenti tepat di depan sebuah apartemen bergaya modern klasik. Nathan keluar dari mobil untuk menunggu wanita teman kencannya. Menunggu, adalah strategi pertama mereka karena siapapun tahu seorang Nathan pantang untuk menunggu ... jadi siapapun yang bisa membuat seorang Nathan menunggu maka dia adalah orang yang spesial bagi Nathan. Seorang wanita dengan pakaian yang seksi dan mencolok menghampirinya, tanpa permisi bahkan wanita itu mencium pipinya. Bukan main terkejutnya Nathan, tapi rasanya berbeda ketika Tita yang melakukannya.
"Ayo masuk." walaupun tidak membalas ciuman itu, Nathan juga tidak bisa menolak.
"Sayang, kita pergi kemana?" Anya mendekatkan tubuhnya ke arah Nathan.
"Anya, duduklah yang benar. Ada Brian." tegur Nathan. Wah, dia mengulang kata-kata yang sering Tita ucapkan ketika dia melakukan hal yang sama. Aku rindu istriku.
Brian hanya memperhatikan dari kaca dinatas kepalanya, benar-benar wanita yang menjijikkan, sabar ya tuan muda.
Mobil melaju menuju club' 8. Anya menggandeng mesra Nathan. Dia serasa berada di atas angin. Berhasil menggandeng Nathan sudah membuatnya merasa high class. Anya ingin duduk di pojok dekat jendela, tapi Nathan mencegahnya. Dia ingat, harus menggiring wanita ini keruangan yang sudah di persiapkan Thomas.
"Ah, aku sudah mem-booking ruangan untuk kita." Nathan mengajak Anya naik ke lantai dua, sebuah private room.
Wah, bahkan dia menyiapkan ruangan khusus untuk kita makan malam. Baiklah aku akan melakukan apapun kali ini untuk mendapatkan kamu lagi, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Anya.
Seorang pramusaji yang sudah diberikan tugas khusus datang membawa minuman dan menu makanan.
"Apa yang ingin kamu makan, Anya?"
"Aku ingin Wagyu Rib Eye dan soda." Aku ingat makanan favorit kamu Nathan.
"Dua," Nathan mengembalikan buku menu kepada pramusaji.
"Nathan, aku ke toilet dulu ya." Anya meninggalkan Nathan sendiri. Dia mengejar pramusaji tadi. "Hei, ambil uang ini dan masukan ini kedalam minuman kekasihku, oke. Jangan sampai salah."