
Tita sedang ada di mobil bersama Kala. Ya, sang kakak mengantarnya kembali ke hotel karena sudah terlalu malam. "Tidurlah, kabari aku kalau kamu mau pulang. Aku tidak mau menjadi kakak yang menyedihkan karena tidak bisa mengantar kamu pulang nanti."
"Apa sih, lebay." He he. Tita mencium kedua pipi sang kakak tercinta. Terhibur juga hatinya, pilihan yang tepat karena dia lebih memilih main ketempat tinggal sang kakak.
Anya melihat kejadian itu, "Hm, tidak jauh lebih baik dariku." benar-benar percaya diri sekali ya dia ckckck.
Tita menaiki lift sendiri, dia sudah pulang belum ya? Padahal aku ingin menginap saja ditempat kakak. Ting, Lift yang membawanya sampai, dia berjalan dan melihat Brian yang baru keluar.
"Nona, anda darimana malam-malam?" tegurnya.
"Tempat kakakku," jawabnya.
"Kenapa anda tidak mengabari?" Brian setengah kesal, pasalnya ketika mereka kembali ke hotel, Nathan tidak dapat menemukan istrinya dimanapun. Yah sudah bisa ditebak sepanik apa dia, bukan? Dia sudah menghubungi ponsel Tita tapi mati. Habislah Brian menjadi bulan-bulanan sang tuan muda.
"Lho, memangnya kenapa?" apa ya namanya, sikap Tita ini?? hehe. Tita langsung masuk kedalam dan disambut kemarahan Nathan.
Sang tuan muda yang melihat istrinya datang langsung berdiri, rahangnya mengeras tanda dia menahan kemarahannya. "Kamu darimana! Kenapa tidak bisa dihubungi!"
Tita mengeluarkan ponselnya dari kantong dan, "Oh, ponselku mati." katanya sambil menggoyangkan ponsel itu untuk diperlihatkan pada suaminya.
"Aku sudah menyuruhmu, dikamar saja kenapa kamu keluar tanpa mengabariku!" dasar yaa, manusia arogan satu ini, bulan main tinggi harga dirinya. Dia lupa bagaimana paniknya dia tadi saat sang istri tidak ada di kamarnya dan tidak bisa dihubungi. Bahkan, tadi Brian keluar karena diminta untuk memeriksa seluruh CCTV hotel ini, karena dia takut istrinya diculik.
"Bagaimana aku bisa masuk, jika aku tidak punya akses masuk." Bohong. Kebohongan pertama Tita pada suaminya, karena dia kesal.
Dan sang suami tentu saja percaya. "Brian, kenapa tidak kamu berikan akses pintu untuk istriku?"
Aku lagi yang disalahkan. Brian.
"Kamu darimana, tadi?" tanyanya kemudian dengan suara yang lebih lembut.
"Maafkan aku ya, tadi tidak jadi mengajakmu jalan-jalan."
"Lupakanlah, aku toh bisa jalan-jalan sendiri, kan?"
Dan Nathan sadar, dia tengah disindir. Istrinya marah. Nathan melihat Brian memberikan kode padanya, gerakan jari yang mengunci bibir artinya ... sudah cukup jangan diteruskan. Untungnya kali ini Nathan langsung paham. Jadi dia membiarkan sang istri masuk untuk beristirahat. Huft ... apa lagi sekarang. "Tita marah, kan? Kamu lihat dan mendengarkan tadi, dia marah padaku, kan?"
"Iya, tuan, benar." Brian menjawab.
"Lalu, aku harus apa?"
"Buatlah istri anda senang agar marahnya reda."
Nathan masuk ke kamar tidurnya, dilihat sang istri sudah tertidur di kasurnya. Di hampiri sang istri, di peluk tubuh istrinya dari belakang. Tita secara refleks menggeliat. Di saat suasana hatinya sedang kesal dengan sang suami, malas rasanya di pelak peluk seperti ini.
"Kamu menolakku?" katanya. "Aku tahu kamu belum tidur." sang istri masih terdiam. Karena tidak ada reaksi dari sang istri, dia pun melanjutkan, "Kakak tersayangmu masih bekerja padaku kalau kamu lupa." Dan dengan secepat kilat Tita berbalik, dan memeluk suaminya. Curang! mengancam ku dengan mengatasnamakan kakak. Eh, tapi aku merasa nyaman. Ih, susah sekali sih orang ini di taklukkan. Aku kan sedang marah, kok bisa-bisanya ... hiks, bahkan tubuhku sendiri mengkhianati aku.
Nathan yang mendapat pelukan seperti itu tentu senang, apalagi ketika tanpa sengaja bibir Tita menabrak dadanya tadi. Bagi Tita itu adalah faktor ketidaksengajaan karena dia terlalu cepat berbalik. Hanya saja, bagi sang tuan muda yang pada usianya sekarang baru merasakan kenikmatan dunia, itu adalah sinyal-sinyal untuk memenuhi hasratnya. Dengan segera dia menempatkan satu kakinya diatas kaki sang istri, membalas pelukan sang istri dengan usapan-usapan di punggungnya. "Karena kamu yang memancingku lebih dulu, jadi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini." katanya dengan percaya diri.
Otomatis Tita melihat ke atas, ke arah sang suami. Apa katanya tadi? "Siapa yang menggoda ..." sayang sekali kata-katanya tidak dapat terselesaikan, karena bibir Nathan sudah membungkam bibirnya. Tangan Nathan sudah tidak bisa di kondisikan, karena tanpa melihat pun tangan-tangan itu sudah tahu pasti dimana letak tempat favoritnya.
"Aaah," Tita berteriak ketika Nathan mencengkeramnya dengan agak keras. "Jangan, aku sakit." katanya memelas dan dengan nafas yang tersenggal.
"Sorry dear ... i can't wait." ditenggelamkan lagi wajahnya pada ceruk leher sang istri. Ketika terdengar lenguhan sang istri, Nathan pun tersenyum dalam kegiatannya. Huft, tuan muda walau Tita menerima perlakuan mu itu, tidakkah kamu berfikir kalau itu adalah reaksi alami setiap manusia ketika diperlakukan se-intim itu ... Bukan berarti karena dia sudah melupakan kemarahannya padamu.
Tita memandangi Nathan yang sedang tertidur pulas setelah melakukan kegiatan yang menyenangkan baginya. Dia tidak bisa bergerak bebas karena sang suami melingkarkan tangan ke pinggangnya. Hmm, dia memang laki-laki paling tampan yang pernah ku kenal. Wajar kalau dia banyak digilai wanita-wanita. Tita memberanikan diri menyentuh pucuk hidung sang suami dengan telunjuknya, hah... pertama kali melihatmu aku ingin sekali menyentuh ini, beda sekali dengan punyaku. Perlahan air matanya keluar dari sudut matanya, aku tidak tahu seperti apa hubungan kamu dulu dengan kekasihmu itu, apa yang menyebabkan hubungan kalian berakhir, aku pun tidak perduli apapun alasanmu yang sebenarnya menikahi aku, tapi jika kamu sekali saja meyakinkan aku kalau kamu mencintaiku, aku akan percaya padamu karena aku juga mencintaimu. Tapi jika nanti pada kenyataannya kamu lebih memilih mantan kekasihmu itu, sekalipun kamu tidak mengatakannya... maka aku akan pergi dari hidupmu. Air matanya makin deras, namun dia tahan suaranya agar tidak keluar. Tangannya yang semula membingkai pipi sang suami, kini dengan sadar dan tanpa paksaan, dia memeluk suaminya erat dan makin merapatkan tubuhnya. Tita menyerahkan kisah cinta pertamanya pada takdir, seperti pertemuannya dengan Nathan yang juga karena campur tangan takdir. Dia tidak akan menyesali semua yang pernah terjadi, tidak. Karena dia melakukannya dengan senang hati ... kamu hal terindah yang pernah hadir di perjalanan hidup ku, sekali pun nanti harus berakhir dengan tidak menyenangkan ... tapi aku tidak akan pernah menyalahkan pertemuan kita, karena aku percaya setiap manusia berhak untuk bahagia.
Yap, Tita dengan pikiran-pikirannya ... kalau Nathan bisa mendengar apa yang sedang dipikirkan sang istri pasti dia akan mengejek habis-habisan. Haha.