
"Sayang, kamu antar Tita pulang, kan?" Mami memastikan.
"Iya, Mi. Nathan antar Tita pulang." Jawab sang tuan muda, namun matanya melirik ke arah Brian. Dan seperti yang sudah-sudah, sang sekretaris itu memang sangat peka untuk urusan tuannya.
"Tuan, maaf. Apakah saya bisa ijin? Kekasih saya mengajak saya bertemu?" Hah, mereka memang the best couple.
"Tentu saja, ini juga sudah sore. Tidak apa-apa kamu naik taxi?" sandiwara yang indah.
"Tentu saja, Tuan." Sambil menyerahkan kunci mobil, Brian pamit dengan semuanya. Tita bingung harus bagaimana, pasalnya, setelah kejadian 'khilaf sang tuan', Tita jadi lebih waspada terhadap makhluk Tuhan yang satu ini. Sang Nyonya dan Ibu sudah masuk ke mobilnya. Tita ingin mengejar, tapi sang tuan muda sudah lebih dulu menahannya, "Aku yang akan mengantarmu," Tita berusaha melepas genggaman jemari Nathan, namun ... "Kamu lebih suka di paksa atau ..." Sungguh tuan muda ini sangat senang mengintimidasi rupanya. Dan bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, Tita langsung masuk ke kandang harimau ... ups, mobil sang tuan maksudnya, he he.
"Kamu gak usah gelisah begitu, aku kan gak mengigitmu, ha ha ..." Tita kesal mendengarnya. Ya, kamu gak gigit, tapi kamu cium aku! Tapi dia tidak berani mengatakannya. Entah cuma perasaannya saja, atau memang mobil ini yang jalannya lambat ya. Ugh ... aku kenapa mati kutu gini sih. batin Tita.
"Tita, jadi kamu sudah mau kan, menikah dengan ku?" Nathan harus mendengar langsung bahwa gadis ini bersedia menikah dengannya.
"Memang aku boleh menolak?"
"Tidak,"
"Lalu kenapa anda bertanya?"
"Aku hanya ingin tahu, apa perasaan mu sudah berubah atau belum. Dan aku tidak suka ditolak, kamu harus tahu itu."
Tita tidak menjawab kali ini, percuma bicara dengan kepala batu. Pikirnya. Pada saat itu, ponselnya berdering ... Mickey calling ... "Ya, Mickey," Nathan menoleh. "Aku masih dijalan mau pulang, kenapa? Oh, iya ... besok hari pertama kamu ... oke deh ... iya, sampai besok Mickey." Klik. Tita memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Kenapa Mike menelpon kamu?"
"Besok hari pertama dia masuk kerja dan mengajakku berangkat bersama."
"Kenapa kamu tidak meminta ijinku?"
"Kenapa?"
"Aku kan calon suamimu."
"Baru calon, belum jadi suami."
Mobil sudah terparkir di depan apartemen. Nathan kesal dengan sikap Tita. Dia sangat tidak suka ketika gadis ini membangkang. "Setelah menikah, aku akan memindahkan kamu ke perusahaan ku!"
"Hah, gak mau! Tuan, anda tahu bagaimana perasaan saya ketika tiba-tiba harus menikah dengan anda? Sekarang, anda juga mau memindahkan tempat kerja saya? Kenapa sih anda suka seenaknya? Saya belum sebulan bekerja disana, aku juga punya mimpiku sendiri!"
"Tanpa bekerja di Mirae pun, aku bisa menjadikan kamu designer hebat. Aku bisa memberi kamu proyek-proyek bagus."
"Tapi aku diterima di Mirae karena hasil usahaku sendiri, dan aku ingin berkembang dengan kemampuan aku sendiri." Tita merasa tercoreng harga dirinya. Lelaki arogan ini, pasti ingin mengekangnya. Dia tidak boleh mengalah.
"Jangan, Tuan. Aku masih ingin bekerja. Iya. Iya, aku akan meminta ijin jika ingin pergi," otak Tita bekerja kini, dia melunak karena dia mengetahui seberapa berkuasanya lelaki disebelahnya kini. Ceklek. Pintu di kirinya terbuka, sang tuan yang membukakan pintu untuknya. "Aku akan masuk sendiri, anda bisa langsung pulang,"
"Aku mau tidur disini," jawab sang tuan.
"Hah! Tuan, maksudnya apa?" Tita mulai panik. Mempercepat langkahnya, mengejar sang tuan muda. "Hei, tuan!" naas Tita memburu ketika mereka masuk dalam lift. "Aku tidak nyaman kalau kau menginap di tempatku!" Nathan menatap lucu gadis yang masih terengah-engah karena berlari ini, ya.. karena perbedaan tinggi badan tentu mempengaruhi langkah kakimu, he he. Nathan memutar tubuh sang gadis, memperlihatkan tombol lantai yang menyala, '7' dan '8'. "Oh, kamu mau ke lantai 8?" Malu juga ya rasanya, sudah salah sangka dengan orang ini ... ternyata dia tidak seburuk pikiranku.
"Iya, unit ku ada di lantai 8. Tapi sungguh aku takkan keberatan jika kamu mau aku tidur di lantai 7 ..." seringai menyebalkan nya muncul.
Sialan! kutarik lagi kata-kata ku barusan. Cih! Menyesal aku sudah memujinya walaupun hanya dalam hati.
Nathan sampai di unitnya, melepaskan jas dan kemejanya. Sejak pertama melihat Tita, dia sudah hampir tidak pernah merasakan sakit karena pengkhianatan yang pernah di alaminya dulu. Sungguh, gadis itu telah menyita seluruh pikirannya. Setelah selesai membersihkan diri, pintu unitnya di buka seseorang. Nathan keluar dari kamarnya untuk melihat siapa yang datang. Hah, para pria-pria lajang berkumpul di tempatnya kini ... dan sepertinya mereka baru pulang dari club'. "Wah ... bagus ya, kalian bersenang-senang tanpa ku."
"Itu karena kamu mengusir Sekretaris yang setia hanya karena wanita!" kelakar Alex.
"Ha ha ha! Aku tidak mengusirnya, dia sendiri yang ingin pergi. Bukan begitu, Brian?"
"Ya, tuan. Saya hanya menyesuaikan diri dengan keadaan, dan ingin membuka kesempatan sebanyak-banyaknya untuk anda. Siapa tahu ada kelanjutan dari ciuman pertama," sang sekretaris meluruskan.
Hah!! dan ke tiga pria itu dikejutkan oleh pernyataan Brian. Mereka menatap laki-laki yang tengah tertawa kecil dengan pipinya yang merona dengan tatapan yang sulit diartikan. Pasalnya, Nathan, yang mereka kenal selama ini sangat malas untuk berdekatan dengan wanita apalagi sampai berciuman.
"Hei! katakan dengan jujur. Kamu di cium atau kamu mencium!?" Alex yang merupakan saksi hidup kemalangan Nathan karena pengkhianatan lah yang paling ingin tahu.
"Menurutmu?" wah... senang sekali dia mempermainkan sahabatnya.
"Kamu di paksa mencium Tita!?"
"Hei! kamu pikir aku selemah itu?" Nah, tersinggung kan dia.
"Karena kami pikir kamu sudah tidak lagi berselera dengan wanita," Thomas menepuk bahunya, menenangkan ketika alarm bahaya berbunyi.
"Jangankan kalian, aku aja merasa aneh. Aku sudah mati-matian menahan untuk tidak menyentuhnya, tapi gagal," teringat lagi momen itu ... merona lagi wajahnya.
"Dasar bucin!" Rega melemparkan bantal sofa ke wajah Nathan yang merona.
"Pakai pelet apa Tita, bisa bikin kawan kita bertekuk lutut begini, ha ha..." Thomas penasaran.
"Tapi memang dia manis sih... bahkan aku langsung terpesona ketika bertabrakan dengannya malam itu," Alex mengenang sekaligus menyulut api tanpa dia sadari. Sejurus kemudian, lehernya sudah dalam pitingan lengan Nathan. "A..a..a... ampun ... Lep... passsss..."
"Dia milikku!" tegas Nathan kala sudah melepaskan leher Alex.
"Baru calon!!!" seru kawan-kawannya. Ha ha ha. Sang tuan muda hanya mendengus, bahkan Brian yang setia pun kali ini tidak memihaknya. Tapi Nathan bahagia, memiliki sahabat-sahabat seperti mereka. Dan akan memiliki istri dalam hitungan hari. Semoga saja, semuanya akan terus baik-baik seperti ini.