
Kala menceritakan semua yang dialaminya malam itu. Jika saja dia tidak mengetahui apa hubungan antara Anya, Nathan dan Tita, serta kejadian yang sempat membuat sang adik kesayangan bersedih hati, mungkin Kala tidak akan perduli dengan wanita cantik yang dia jumpai malam itu.
"Kamu ingat bagaimana wajah wanita itu?" Brian sang sekretaris yang selalu menomor satukan kenyamanan sang tuan bertanya.
"Dia ... sangat cantik, hanya itu yang aku ingat, tuan."
"Nathan ... bagaimana menurutmu?"
"Aku tidak tau ... Aku pikir, kita harus memastikan dulu kebenarannya."
"Menurutmu apakah mereka ada disini?" tanya Brian.
"Tuan, alasan lain kenapa saya memilih menghubungi tuan Rega adalah ... karena saya merasa ada yang memperhatikan gerak gerik saya." ketiga laki-laki itu cukup terkejut. Pikiran mereka adalah sama, kenapa Kala diperhatikan gerak geriknya?
"Saya belum tau alasan pastinya, tuan. Apakah karena saya adalah kakak Tita, atau karena alasan lain. Tapi, saya ... ketika beberapa waktu lalu saya ikut makan malam tim, seorang teman saya meminjam ponsel saya untuk menghubungi istrinya karena ponselnya mati dan setelahnya, dia mengatakan dengan hati-hati kepada saya bahwa ponsel saya sedang di sadap." Kala mengeluarkan ponsel yang di maksud ke atas meja, dan mereka melihat ke arah ponsel itu. "Anda akan mengetahuinya kalau menggunakannya, kalau di dengarkan baik-baik seperti ada bunyi angin."
"Wah ... aku tidak paham soal ini." sesal Rega.
"Bagaimana cara kamu menghubungi Rega?" tanya Nathan.
"Saya menggunakan ponsel pacar saya, tuan Petra."
"Ini adalah keahlian Thomas, tuan. Saya akan menghubunginya ..." sela Brian.
"Baiklah. Nah, Sebaiknya untuk sementara kamu disini saja. Oh, apa kamu mau bertemu Tita?" tawar Nathan.
"Saya ingin sekali, tapi saya juga khawatir selama kecurigaan ini belum terpecahkan."
"Ya, ya ... saya mengerti." Nathan kemudian berdiri. "Kalau begitu saya pergi dulu, sudah terlalu lama saya meninggalkan Tita di rumah sakit."
Ha ha ha. Rega, Kala dan Brian tertawa bersamaan. Apanya yang lama coba?
Di dalam perjalanan kembali ke rumah sakit, Nathan memberi perintah kepada Brian, "Brian, sebarkan informasi bahwa Kala sedang dapat tugas perjalanan dinas, untuk mengantisipasi."
"Baik, tuan." Brian menjawab tanpa melepaskan pandangannya dari jalan. "Apakah anda mencurigai sesuatu, tuan?"
"Hm, aku tidak tau. Kamu tau kan, hal ini masih belum jelas ... kita juga tidak mungkin bertindak gegabah hanya karena asumsi dan kecurigaan saja." Nathan melemparkan pandangannya ke jendela di sampingnya, dia sungguh tidak dapat memikirkan apapun. Tapi Nathan tetap berharap agar semuanya tetap baik-baik saja, terutama Tita-nya.
Sesampainya di rumah sakit, Nathan bergegas menuju kamar tempat sang istri di rawat. Rasanya terlalu lama dia meninggalkan Tita sendirian, apakah Tita kesepian? atau dia sedang menangis karena merindukan aku?
Tapi, sesampainya di depan kamar sayup-sayup terdengar suara beberapa orang yang sedang tertawa. Nathan amat sangat mengenali dengan baik suara tawa salah satu wanita di dalam.
"Apakah ada tamu yang datang?" tanya Brian kepada penjaga di depan kamar sang nona, seakan dia tau sekali apa yang di pikirkan sang tuan mudanya.
"Ada, nyonya besar dan ..."
***
Tita sedang tertidur sebenarnya, setelah meminum beberapa obat. Tidurnya tenang sekali, dan terlihat sangat nyenyak. Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu, bahkan disaat kamu tertidur pun kecantikan mu malah makin terpancar.
Terry segera datang setelah mendengar dari tuan putra bahwa Tita mengalami kecelakaan dan sudah satu minggu ini berada di rumah sakit. Ketika dia sedang mencari-cari kamar rawat Tita, tanpa sengaja dia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan membawa satu kotak yang di rasa berisikan kue. Terry mengenali wanita paruh baya itu, seorang wanita ramah yang hampir tidak pernah absen pada acara-acara sosialita ataupun lelang amal, maminya Nathan yang artinya dia adalah mertua Tita. Maka dengan berpura-pura mau menanyakan nomor kamar Terry bergegas mendekat dan menyamai langkahnya dengan langkah nyonya Petra.
"Selamat sore, nyonya..." otomatis sang nyonya menoleh padanya. "Maaf, apakah anda tau kamar no ini?" Terry menunjukkan secarik kertas bertuliskan nomor sebuah kamar yang sebenarnya sudah dia hafal di luar kepala.
"Kamu siapa?" tanya sang mami, karena yang laki-laki tampan ini tunjukkan adalah kamar tempat sang menantu di rawat.
Pandai sekali Terry berakting seolah dia bingung dengan pertanyaan yang di ajukan padanya. "Ehm, saya ... saya teman orang yang sedang di rawat ini, nyonya. Saya baru tau siang ini, kabarnya bahwa teman saya ini, Zahra kecelakaan dan di rawat disini."
"Oh, iya benar ... saya maminya. Kita masuk saja sama-sama." Kalau laki-laki ini memanggil Zahra, artinya teman kantor kan?
Akhirnya mereka berjalan bersama, tampak dua orang penjaga sedang menunggu di depan kamar yang di maksud. Wah ... beruntung sekali aku sudah memprediksi hal ini dari awal. Pikir Terry. Karena dia datang bersama dengan sang nyonya besar, jadi tidak mungkin dia di tanya-tanya oleh bodyguard Nathan, kan?
Wanita yang biasanya menampilkan senyum ceria kini sedang terlelap, cantik sekali. Terry bahkan tidak pernah tau, kapan dia benar-benar jatuh cinta dengan wanita ini.
"Terry, duduk saja dulu. Tita sepertinya masih tidur. Apakah kamu memberitahu Tita sebelumnya bahwa kamu akan datang?"
"Tidak, nyonya. Saya terburu-buru datang karena berita yang mengagetkan itu, jadi saya lupa." Terry membantu nyonya Petra menata buah-buahan diatas meja. "Oh iya, apakah anda ibunya Zahra?"
"Bukan ibu kandung ... Saya ibu mertuanya." mami setengah berbisik dan tertawa.
"Oh, maaf... saya tidak tau." Terry pun tertawa menanggapi.
"Ugh, mami?" tita terbangun dan mengenali sang nyonya mami.
Melihat sang menantu sudah bangun, sang mami pun bergegas mendekat. "Sayang, mami bawa makanan untuk kamu."
"Aduh mi, nanti mami kecapean."
"Tidak kok, mami akan bergantian dengan ibumu. Jadi kamu tidak akan kesepian. Oh iya ada temanmu, tadi mami ketemu di koridor." sang nyonya mami memanggil Terry agar mendekat.
"Hai, Zahra. Bagaimana kabar kamu?" Terry mengembangkan senyumnya.
"Oh, hai Terry. Kok kamu bisa tau aku ada disini?"
"Iya, aku tau dari bos kamu. Tadi aku meeting dengannya dan dia menceritakan keadaan mu."
Dan mengalir lah pembicaraan diantara mereka. Bagi Tita, Terry adalah teman bicara yang menyenangkan karena tidak kaku dan selalu bisa membuat Tita tertawa. Seperti saat ini, ruangan perawatan Tita menjadi ramai dengan celoteh-celotehan yang di ucapkan Terry, bahkan sang mami pun ikut tertawa mendengar obrolan mereka. Tita jadi terhibur.
Namun, di saat mereka sedang bercengkrama, tiba-tiba pintu kamar itu di buka dan muncul lah sang tuan suami yang memasang wajah cemburunya begitu melihat siapa tamu yang mengobrol dengan serunya bersama sang istri. Terlebih lagi, laki-laki itu adalah laki-laki yang beberapa jam lalu menjadi bahan perbincangan sang tuan muda dengan kakak iparnya. Terry! sedang apa dia disini?!