
Nathan keluar dari tempat persembunyiannya, sudah segar ... tentu saja, mukanya cerah. "Lho, sejak kapan kalian disini?" terkejut dia, karena sahabat-sahabatnya sudah berkumpul di ruangannya.
Sebelum yang lain menjawab, Brian mendahului. "Baru saja, tuan."
Nathan hanya mengangguk dan ikut bergabung dengan mereka. Tapi sebelum dia lupa, "Brian, tolong pesankan lasagna, ya."
"Baik, tuan."
"Tidak usah, Than ... mana kita makan makanan seperti itu?!" protes Thomas.
"Hei ... itu untuk Tita-ku, bukan kalian."
"Tita?? Tita ada disini?!" Rega mencari-cari.
Plak! "Perhatikan matamu, apa yang kamu cari?!"
"Uuh, sakit Nathan " seru Rega sambil mengusap-usap lengannya. "Aku kan hanya ingin menyapanya.
"Tidak perlu!"
"Tapi ... apa Tita tidak bekerja? kok dia bisa ada di sini?" Axel pun tidak kalah penasaran.
Oh ... kalian cari mati, terlalu penasaran dengan nona Tita. Brian.
"Ini kantor ku, aku suaminya ... jadi apa masalahnya kalau istriku ada di sini!!" nah kan, kesal kan si suami. hehehe.
"Oh, iya ... iya, baik, baik." Rega mencoba meredam emosi Nathan yang sudah mulai meninggi. Tanpa dikatakan pun Nathan juga menyadari bahwa Rega pernah ada hati dengan Tita, entahlah kalau sekarang.
Brian kembali masuk ke ruangan setelah menyelesaikan tugas dari sang tuan muda. Dia pun membawa beberapa minuman dingin, untuk para tamu yang memang sengaja di undang.
"Jadi, ada apa kalian kemari?" seru Nathan.
"Saya yang meminta mereka kemari, tuan." Brian yang menjawab pertanyaan Nathan.
"Kenapa?" Nathan meluruskan kakinya, menyenderkan punggungnya .. oh, dia lelah sekali.
"Begini, tuan. Saya sudah menceritakan kepada mereka perihal nona Clair..."
"Clair? memangnya ada apa?"
Thomas memperhatikan Nathan, "Kamu tidak merasa ada yang aneh dengan Clair?" selidik Thomas.
"Tidak, dia wanita yang baik."
Axel dan Rega saling pandang, tidak biasa-biasanya Nathan memuji seorang wanita, selain Tita.
"Jangan melihatku seperti itu, aku tidak macam-macam dengannya."
"Tapi, tuan... Apa anda lupa, bahkan nona Tita sempat terluka ..."
"Ehm ... iya, aku tidak lupa hal itu." Nathan memejamkan matanya. "Tapi, aku sungguh tidak sadar telah melakukannya."
"Nathan, apa ada yang kamu rasakan pada saat ada wanita itu di dekatmu?" Thomas harus memastikan kecurigaannya.
"Seingat ku tidak ada ... oh, iya ... dia harum."
"Harum?? Harum seperti apa?" Thomas makin penasaran.
"Iya, harum sekali ... aku tidak akan lupa harumnya." dan Nathan tersenyum ketika mengatakan hal itu.
Oh, ya ampun ... Benar dugaan ku. "Itu wewangian pemikat, aku yakin ketika kamu mengingat keharumannya pasti kamu memikirkan keindahan wanita bernama Clair itu, kan?" Thomas menjelaskan, "Maksudku hal-hal yang indah."
Nathan terdiam, dia memang melakukan itu tadi. Tapi ... itu terjadi begitu saja, memang terlihat seperti sesuatu yang alami. Melihat Nathan yang terdiam, Thomas makin yakin dengan dugaannya.
"Kamu bahkan tidak menyangkal perkataan ku kan? Jadi ... apakah kamu sudah membenarkan ucapan ku?"
"Entahlah, aku tidak mengerti hal-hal seperti itu."
"Thomas, apa kamu yakin tentang wewangian pemikat itu?" Brian memastikan lagi.
Hah!! para laki-laki itu tentu sangat terkejut dengan pengakuan Thomas. "Untuk apa kamu memiliki barang seperti itu?" kali ini Rega yang berkomentar, sekaligus menertawakan Thomas ... pantas saja kalau mereka sedang ada di suatu tempat, wanita-wanita cantik yang ada di sana pasti lebih melirik Thomas dibanding dirinya.
"Hei ... aku tidak pernah menggunakan barang seperti itu, ya ..." seperti tau apa yang sedang di pikirkan oleh Rega.
"Tapi, kenapa kamu bisa punya barang seperti itu?"
"Hadiah dari salah satu teman kencan ku." Thomas mengetuk-ngetuk pinggiran sofa dengan telunjuknya.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan agar tidak terperdaya?" Nathan mulai mempercayai perkataan Thomas, karena tidak mungkin kan sahabat nya memperdaya dirinya?
"Tidak ada." Jawab Thomas. "Satu-satunya cara adalah, jangan dekat-dekat dengan wanita itu."
"Bagaimana caranya? wanita itu kan perwakilan wali kota B. Dan pasti ketika kita sampai di sana, dia ikut menyambut kedatangan kami." Brian, jika tidak menyukai seseorang pasti enggan bahkan hanya untuk menyebut namanya.
"Dan kalaupun kamu meminta wali kota mengganti wanita itu, dia pasti akan mencari cara lain agar bisa mendekati kamu."
Brakk!! tiba-tiba terdengar pintu tertutup kencang. Laki-laki itu langsung menatap kearah asal suara. Nathan yang menyadari keberadaan Tita, langsung beranjak dan menghampiri sang istri.
"Sayang ..." apa dia mendengar percakapan tadi ya?
"Iya?"
"Kamu lapar?" aduh! kenapa aku malah menanyakan hal itu.
"Iya."
Pasti ngambek deh, jawabnya singkat-singkat sekali. "Aku sudah memesan kan lasagna untukmu, kita makan yuk." ajaknya.
"Aku makan di sini saja."
"Sayang, jangan marah padaku ... nanti aku akan menjelaskan padamu." Nathan memelas.
"Tidak perlu, aku sudah mendengar semuanya."
Nathan mendekat ke arah Tita, "Tapi sikapmu ini membuatku jadi merasa bersalah."
Tita menghela nafasnya, "Bukan salah mu, kalau wanita itu ingin memiliki mu." ketika mengatakan kalimat itu, Tita merasa seperti ada yang mencubit hatinya.
Nathan memeluk sang istri dari belakang, "Aku kan hanya milikmu, sayang. Aku tidak akan di miliki siapapun selain kamu."
"Iya, iya ... aku tau. Tapi, aku tidak suka kalau ada yang menginginkan kamu." Tita terlihat sangat kesal.
Ujung bibir Nathan terangkat, senang? tentu saja ... "Kalau begitu, jagalah milikmu ini." makin erat dirinya memeluk sang istri.
"Sudah awas, aku lapar." Tita menyikut perut sang tuan suami, dan berdiri. Sebaiknya aku keluar saja, bahaya jika aku terus berada di dalam sini. Aku lelah, energi ku seperti habis terkuras.
"Hai, Tita." Sapaan hangat Tita dapat dari Rega.
Baru juga Tita mengangkat tangannya, tapi Nathan sudah merangkulnya. Menggiring Tita untuk duduk di sebelahnya. Manandai kepemilikannya.
"Kalian mau makan juga?" tawar Nathan, sambil menyerahkan se kotak lasagna untuk kekasih halalnya.
"Dari tadi kami disini dan baru kau tawari kami makan sekarang?" Axel menggerutu.
"Mau atau tidak?!"
"Tentu saja mau."
Mereka tertawa melihat sikap kedua laki-laki dewasa ini, begitu pun Tita ... kekesalannya cair begitu saja melihat keakraban sang tuan suami dan sahabat-sahabatnya.
***
Di kota B, galeri seni yang baru rampung itu terlihat kesibukannya. Banyak orang lalu lalang untuk mempercantik penampilan galeri seni yang beberapa hari nanti akan di adakan acara penting, peresmian sekaligus penyerahan galeri seni Kota B yang akan di lakukan oleh Petra Corporate. lain halnya dengan seorang wanita yang kini tengah berdiri di depan cermin yang memantulkan kemolekan tubuhnya. Dia memiliki kesibukannya sendiri, dia adalah Clair. Semenjak dia melihat sosok laki-laki tegap, tampan, berkharisma, pemilik Petra Corporate ... wanita itu sudah bertekad harus bisa menaklukkan laki-laki itu. Walaupun banyak isu-isu yang miring yang dia dengar tentang tuan muda Petra, tapi dia tidak menyerah. Oleh karena lah, dia rela membeli sebotol wewangian pemikat dengan harga yang sangat mahal bagi karyawan sepertinya demi berhasil membuat tuan muda Petra bertekuk lutut padanya. Karena di pikirannya, jika dia berhasil membuat tuan muda Petra jatuh cinta, maka uang tidak lagi jadi masalah baginya. Bahkan dia akan mendapatkan lebih banyak keuntungan jika dia berhasil dalam memikat tuan muda Petra. Clair sangat percaya diri dengan bentuk tubuhnya, tingginya yang semampai, hm ... laki-laki mana yang tidak ingin menghabiskan malam dengannya?
Jadi, apakah upaya Clair akan berhasil?