
Ketika Mickey keluar dari pantry dia dikejutkan dengan kehadiran Nathan yang seakan memergoki mereka berdua. Suasana canggung pun tak terelakkan. Terlebih Tita, bagaimana bisa kebetulan seperti ini?
"Sa ... sayang, kok ada disini?" sudut bibir itu melengkung dengan kaku.
"Apa yang kalian lakukan disana?" makin datar intonasi suaranya maka makin berbahaya situasinya.
Mickey merasa amat bersalah terhadap sang tuan muda yang merupakan kakak sang kekasih, tapi dia juga belum siap mengatakan keadaan yang sebenarnya. Tita terkejut karena laki-laki ini hadir disaat yang tidak tepat, rasa kesal dan kasihan atas dua orang yang penting dalam perjalanan hidupnya masih membara.
"Kami hanya minum kopi, sayang. Kamu kok ada disini?"
"Aku ada janji dengan atasan kamu."
Hah? Janji dengan pak Putra?? rasanya tidak ada jadwal bertemu dengan Petra Coorporation hari ini. Pikir Tita. "Ada urusan apa? ada meeting?"
"Tidak juga, aku hanya ingin bertemu bos mu."
"Tuan Petra," Pak Putra menghampiri Nathan dengan sedikit terburu-buru. Rupanya memang Nathan datang dengan mendadak. "Mari tuan muda, keruangan saya." katanya.
"Kak Brian, ada apa sih?" Tita sempat menahan tahan Brian karena penasarannya.
"Nanti juga nona akan tahu sendiri." jawabnya simple seperti biasa.
Dasar pelit, padahal kan tinggal kasih tau aja. Tita menggerutu sediri, dia memang sulit sekali akrab dengan manusia satu itu, padahal kalau dipikir-pikir tidak ada salahnya juga kalau Brian sedikit lunak padanya ... toh aku ini istri tuannya kan?
"Ta, Tita ..." Mickey menghampiri dan berbisik, "Tuan Nathan curiga ya?"
"Dia bukan curiga karena kesalahanmu, tapi dia curiga karena kira berdua di pantry ..." Tita menjawab tanpa menoleh, dia masih sangat kesal dengan Mickey. Dan Mike pun menyadari sikap judes Tita, memang semua karena kesalahannya.
****
Waktu menunjukkan pukul 19.00 ketika Mike tiba di kampus Loudy.
"Maaf ya .. aku telat datang." terpogoh-pogoh Mike mendatangi Loudy yang berdiri sendiri di depan gerbang kampus.
"Kenapa bisa telat sih." sungut Loudy
"Ada laporan yang harus aku cetak tadi dan perintahnya mendadak, maaf ya sayang ..." Mike mengiba.
"Ck ... Ya sudah, tapi lain kali kabari aku jadi aku kan bisa menunggu di tempat lain."
"Iya, iya sayang ... maaf ya. Kita makan yuk, kamu pasti sudah lapar sekali kan ..." Mike merayu sang kekasih.
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan terdekat, mereka makan sambil bertukar cerita. Couple goals sekali...
Loudy dan Mike sudah berada dipusat perbelanjaan, mereka melangkahkan kaki mereka ke area food court dan rupanya sudah ada Tita menunggu di salah satu meja disana. Loudy seketika menghentikan langkah kakinya ketika melihat sang sahabat yang tengah duduk dan belum menyadari kehadirannya.
"Kenapa Tita ada disana?" tanya Loudy panik.
Mike mengenggam tangan sang kekasih dengan lembut dan sayang, "Aku sudah menceritakan secara garis besar apa yang sedang kita alami." Mike tertunduk, dia benar-benar merasa bersalah sekali.
Loudy sulit melangkah, kakinya seperti terpaku ... jika tidak dia tahan pasti sudah lolos air matanya. Oh ... dia sungguh berdosa, kecerobohan yang telah dia lakukan dengan sadar, membuatnya juga merasa malu bertemu Tita. Mike sangat mengerti apa yang sedang di rasakan dan di pikirkan Loudy, maka dengan lembut dia merangkul sang kekasih dan menggiringnya menemui Tita.
"Tita," Mike dan Loudy menyapa gadis mungil yang sedang menyeruput jus alpukat miliknya, gadis itu menegadahkan kepalanya. Mata bulatnya seketika berair melihat sosok sahabat yang kini makin jarang ditemuinya. Terbesit cerita Mickey di pantry tadi, rasanya sulit bagi Tita untuk menerima bahwa cerita itu benar-benar menimpa Loudy-nya.
Loudy duduk di sebelah Tita, dia hanya bisa menunduk dan tidak cerewet seperti biasa. Tita juga merasakan apa yang sedang di rasakan sahabatnya ini, perasaan bersalah dan tidak nyaman. Sejurus kemudian, Tita menarik lengan Loudy dan langsung memeluknya. Pecah isak tangis Loudy seketika, ya ... dia tidak butuh ceramah dan kata-kata, dia butuh pelukan dan Tita melakukannya dengan sempurna. Menit demi menit berlalu dalam kesunyian, hanya isak tangis yang terdengar makin melemah, hingga si empunya menarik tubuhnya menjauh dari kenyamanan.
"Sudah lebih baik?" tanya Tita.
"Thanks ya, Tita." masih serak Loudy menjawabnya. "Maafkan kebodohan ku..."
"Sssst ... sudah, sudah ... Sekarang apa yang akan kalian lakukan?" Tita melemparkan pandangannya ke arah Mike.
"Apakah kami harus bicara jujur dengan keluarga?" Tanya Mike. "Yang pasti aku akan menikahi Loudy, tapi aku masih takut akan reaksi tuan muda." Mike mengungkapkan ke kahawatirannya.
"Kalau masalah itu, aku juga tidak tau akan seperti apa tanggapan Nathan..."
"Kakak pasti akan marah besar," tegas Loudy.
"Jadi sebenarnya ... Kenapa kalian bisa sampai melakukan itu sih?" akhirnya terucap juga kekepoan seorang Tita, karena dia amat mengerti dan memahami karakter dua orang di depannya ini.
Loudy dan Mike hanya melirik satu sama lain, mungkin mereka bingung mau memulai dari mana. Hal itu memang tidak terjadi begitu saja seperti di drama-drama, tapi juga memang tidak pernah mereka rencanakan sebelumnya.
"Bukan salah Loudy, Ta. Aku yang bersalah ... jadi kalau mau menyalahkan, salahkan aku saja."
"Hei ... aku tidak ingin mencari tau siapa yang salah diantara kalian. Kalian sudah dewasa, semua yang kalian lakukan adalah tanggung jawab kalian. Tapi, sepanjang aku mengenal kalian ... kalian bukan orang yang dapat dengan mudah melakukan hal itu." Tita agak keras ketika mengungkapkan apa yang dipikirkannya itu. Bagaimanapun, Tita sangat menyayangi mereka berdua, terlebih Loudy adalah sahabat dan adik iparnya.
"Ta ... apa yang harus aku lakukan. Apa yang harus aku katakan kalau kak Nathan menanyakan alasan aku menikah?" Loudy mulai memelas. Dia tau sekeras apa watak sang kakak. Nathan, walaupun berteman dengan orang-orang yang terbiasa dengan pergaulan bebas, tapi dia tidak seperti itu. Bahkan, dia selalu mewanti-wanti sang adik tersayang agar dapat menjaga dan menghargai dirinya sendiri, menjaga kehormatan dirinya dan keluarga besar tentunya.
"Apa ... kami tidak usah menjelaskan alasan yang sejujurnya, ya?" usul Mike.
Tita pun tidak tau harus memberikan jawaban seperti apa, bahkan kalaupun ingin membantu kedua orang ini dia sama sekali tidak ada ide bagaimana menyampaikan keinginan sahabatnya untuk menikah tanpa mengundang pertanyaan-pertanyaan dari sang tuan suami.
"Lou ... menurut kamu, kalau aku memberitahu kakakmu keinginan Mickey menikahi kamu dalam waktu dekat ini, apakah kakakmu tidak akan bertanya-tanya padaku alasannya?"
"Hhh ... entahlah, kemungkinan besar kakak pasti akan bertanya, tapi kalau kamu beruntung dia tidak akan bertanya ..."
"Hah ... jawaban macam apa itu, aku jadi merinding hanya dengan membayangkannya tau..." Tita mengusap-usap tangannya karena merinding. "Eh, tapi apa kamu hamil?"
Mendengar pertanyaan Tita, Loudy melotot kaget, bahkan Mike terbatuk-batuk karena tersedak.
"Waduh ... haha ... maaf, pertanyaan ku agak ekstrem ya?"
"Bukan agak tapi memang ekstrem." jawab Loudy.
"Loudy takut untuk mengeceknya. Aku bahkan sudah membeli alat tes kehamilan."
Duk!!
Loudy menyikut perut Mike yang begitu lancar berbicara. "Jangan bicarakan itu, please?!"
"Kamu tetap harus memperhitungkan hal itu, Lou."
"Iya, iya ... aku tau." Loudy menjawab dengan bersungut. Dia juga takut hamil rupanya.