Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 13



POV Nathan


Gak nyangka sama sekali akan ketemu dia disini. Lebih gak nyangka lagi, dia adalah teman Loudy ... Bahagia, tentu saja Nathan bahagia, sangat, sangat bahagia. Dan gadis ini terlihat lebih manis dengan rambut sebahunya. Ya, Tita tidak mengikat rambutnya, dia membiarkan rambutnya terbebas dari ikatan rambut, bahkan di ujung rambutnya sekarang curly. Perasaan bahagia tadi tiba-tiba berubah menjadi kesal, mengingat bahwa rambut indah wife to be-nya di sentuh pria lain malam itu. Dan. Mengapa dia berdandan cantik hari ini! Ingin ditunjukkan kepada siapa dandanannya ini. Huh, aku jadi kesal sendiri kan. Seharusnya aku bahagia melihatnya disini, tapi kenapa aku jadi kesal. Ck!


***


POV Tita


Aduh, kenapa aku harus ketemu tuan Petra disini? Dan aku gak nyangka ternyata dia kakak Loudy. Itu kan artinya Loudy nona Petra. Argh! kok aku bisa gak tau sih. Yaa, ibu juga gak pernah bilang kan kalau ini adalah kediaman keluarga Petra. Hiks... hiks ... semoga aku gak berbuat kesalahan yang akan menyinggung tuan Petra disini. Dua kali ketemu laki-laki itu, dua kali pula di pergi begitu saja meninggalkan aku tanpa aku tahu ada masalah apa. Tita mengasihani dirinya sendiri. Aku sungguh berharap hari ini semua baik-baik saja.


***


Pesta berlanjut ke acara makan-makan. Nathan duduk berkumpul bersama teman-temanya. Axel yang terengah-engah menghampiri Nathan, "Than ... kamu kenal gadis berambut sebahu itu?" sambil menunjuk ke arah Tita.


"Kenapa?"


"Teman adik kamu, kan? Aku mau kenalan dong," Axel penuh harap, gadis yang tidak sengaja dia tabrak malam itu di taman rumah Nathan.


"Gadis itu, Zahra." Brian yang menjawab, mewakili sang tuan, sekaligus menekankan bahwa 'jangan berani anda macam-macam!'


Hah. Kalau adikmu kenal baik dengan gadis itu, kenapa gak minta dikenalin langsung sih? Mungkin itulah yang ada di pikiran teman-temannya.


"Aku baru tahu hari ini, gak usah kalian melihatku seperti itu." Nathan pergi menghampiri sang mami, duduk di sebelahnya tapi matanya selalu curi-curi pandang setiap kali sang gadis terlihat oleh matanya. Yes! jalan ku pasti mulus kali ini. Itulah yang di fikirkannya.


Hari mulai malam, ketika tamu-tamu satu persatu meninggalkan kediaman Petra. Acara yang sangat kekeluargaan itu pun berakhir sudah. Yang tersisa hanya, petugas-petugas yang membersihkan sisa-sisa pesta. Di ruang tamu, masih tersisa keluarga inti ditambah Tita, Mickey, Brian dan Rega. Sebenarnya Nathan sudah gerah melihat Tita yang akrab sekali dengan Mike, apalagi dari obrolan mereka hanya Tita yang memanggil Mike dengan Mickey.


"Lou, selamat ya sekali lagi ... aku sekalian pamit pulang, Tante," Pamit Mike. "Tita, aku pulang duluan ya, atau kamu mau pulang bareng aku?"


"Gak deh, Mickey ... Aku tidur disini aja malam ini, capek." dengan gemas Mike mengusap-usap poni Tita, dan dihadiahi cengiran gadis itu. Dan kelakuan mereka berdua tidak luput dari mata Nathan. Orang-orang yang melihat adegan itu pasti akan mengira mereka berdua pacaran, tapi hanya Loudy yang tidak berfikir seperti itu karena dia tahu.


"Kalian pacaran ya?" Brian yang kepo dan demi misi sang tuan, merasa wajib mengklarifikasi sendiri.


"Tidak," jawab keduanya bersamaan, sambil melangkah keluar. Mickey menundukkan kepala sopan, karena dia tahu laki-laki di hadapannya, kakak dari teman barunya, adalah calon bos besarnya.


"Hati-hati ya, Mickey." dia melambaikan tangannya. Dia masuk kembali ke ruang tamu. "Tita, sini dulu sayang." Sang nyonya mami memintanya duduk di sebelahnya.


"Jadi nama asli kamu, Zahra Ratifa, tapi kenapa di panggilnya Tita?"


"Ish, kepo aja deh kak Rega,"


"Kenapa? kamu cemburu?" Loudy mendengus.


"Tapi kok aku gak tau mi" kali ini Nathan yang bertanya.


"Lho, emang kamu pernah mau mengetahui hal-hal yang tidak penting untuk kamu?" skak. Nathan tidak berkutik dengan jawaban sang mami. "Yang kamu pikirkan kan hanya perusahaan saja, bisnis kamu." sang mami yang rupanya masih kesal dengan kebatuan sang anak, karena tidak mau dijodohkan.


"Nyonya mami, aku istirahat dulu ya," Tita sudah merasa tidak nyaman berada di antara orang-orang itu. Walaupun dia biasa bercengkrama dengan Loudy dan nyonya mami dengan nyaman, tapi di hadapan sang tuan muda, nyali Tita menciut. "Tuan Petra, tuan Brian, saya permisi dulu," hormatnya.


"Nathan, nama saya Nathan," jawabnya.


Sikap aneh Nathan tidak luput dari perhatian adik dan maminya. Seorang Nathan, mau menjawab bahkan mengatakan dengan gamblang namanya dihadapan seorang gadis itu luar biasa, sebuah kemajuan. Dan Nathan hanya tersenyum melihat wajah-wajah penasaran sang adik dan mami. Tapi bukan mami namanya jika tidak jeli, dia langsung menyambung benang merah di kepalanya. "Nathan, ikut mami."


"Hah, kenapa mi?"


"Oke, Than, aku dan Brian pamit ya, Tante, Loudy ... selamat ulang tahun," Dan mereka pergi.


Tinggal Nathan dan sang mami di ruang kerja sang anak. Mami duduk di sebelah sang anak, menatap penuh curiga sang anak. "Kenapa sih, mi? Jangan melihat aku seperti itu, mi,"


"Gadis yang kamu sukai, yang kamu bilang teman Loudy, itu ... Tita!?" Tepat. Tebakan mami memang tepat. Nathan menggaruk tenggara yang tidak gatal, "Ehm ... iya mi," salah tingkah .. jika dilihat orang lain pasti mereka tidak percaya seorang Nathan, pengusaha sukses dan bertangan dingin, tidak mudah goyah karena godaan wanita, kini jadi orang yang salah tingkah padahal hanya membicarakan sang gadis dengan maminya.


"Aku kenalnya dengan nama Zahra, mi. Dia designer proyek galeri seni di kota B, dari Mirae Contruction. Pertama kali melihatnya, aku rasa aku sudah jatuh cinta," dia tersenyum mengingat pertemuan pertamanya.


"Dan itu alasannya, kamu gak mau mami jodohkan?


"Huh, mi, aku bisa menentukan pasangan aku sendiri."


Plak! gulungan koran itu mendarat di kepalanya. "Terus kenapa kamu menolak mami jodohkan?"


"Aku kan sukanya sama Zahra, mi, gak mau aku sama yang lain."


"Kalau mami bilang, gadis yang akan mami jodohkan sama kamu itu, Tita, bagaimana!"


Hah! mata Nathan terbelalak. "Kok mami gak bilang? Yaa.. trus gimana mi, tapi jadi kan mi?"


Dia menggoyangkan tangan sang mami, seperti anak kecil yang sedang minta mainan. Sang mami yang melihat anaknya dengan kelakuan tak biasa jadi ingin menggodanya lagi, "Batal!"


"Lha, kok batal, mi?"


"Kan kamu gak mau, kamu nolak, ya udah jadi dibatalin, Tita udah dijodohin sama yang lain. Makanya, walaupun kamu bos besar, bisa berdiri sendiri tanpa bantuan mami, tapi mami orang tua kamu, nurut kalo orang tua bilangin."


Sang tuan muda menghela nafas kasar, baru juga dia merasakan jatuh cinta, namun apakah dia harus menyerah sebelum berperang? Kok, rasanya author juga tak rela 😣