Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 34



Tita sedang menyelesaikan urusan administrasi untuk keperluan wisuda, sementara Nathan menunggu di mobil. Tita sadar siapa manusia yang dinikahinya ini, bagaimana status sosialnya, bahkan setiap gerak-geriknya akan menjadi pemberitaan karena dia adalah pengusaha muda yang sangat berpengaruh. Aku ke dalam sendiri saja, tidak akan lama, aku tidak mau kampusku jadi geger karena kedatangan kamu. Begitu cara Tita berkelit tadi.


"Tuan, mengapa tadi anda tidak katakan mengenai nona Anya?"


"Hmmm, aku belum siap, Brian. Aku tidak tahu, tapi kenangan itu masih terus menghantuiku. Rasanya tidak enak, kamu tahu?"


"Itu artinya, anda masih terjebak di masa lalu. Dan itu tidak baik, jika anda ingin memulai kehidupan anda yang baru bersama nona Tita."


Hahh ... sang tuan muda menyandarkan kepalanya, memejamkan mata, membiarkan angin masuk membelai keningnya lewat kaca mobil yang terbuka sebagian. "Masih ada yang mengganjal di hatiku, Brian. Ingatan aku akan hari itu masih sangat jelas. Masih ada rasa tidak rela atau ... ya, seperti itulah. Heh, lucu ya. Padahal sudah tujuh tahun berlalu. Sepertinya memang aku yang susah untuk move on."


"Apa, aku perlu mencari tahu informasi soal nona Anya, tuan?"


Bruk! buku² yang ada di tangan Tita terlepas dari pegangannya, mengagetkan dua orang yang sedang berbicara di dalam mobil. Lebih kaget lagi ketika Nathan melihat Tita lah yang ada di sana. Ah, apa dia mendengar pembicaraan ku tadi?


"Maaf, aku lama ya." Tita langsung masuk setelah mengambil buku-bukunya yang tadi terjatuh.


"Oh, tidak. Buku siapa sebanyak itu?"


"Buku aku. Aku akan membawanya pulang karena sudah tidak bisa menggunakan locker lagi. Tuan Brian, bisa tolong ke apartemen ku dulu?"


"Baik, nona."


"Terima kasih"


Suasana di mobil itu menjadi canggung. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Ya, Tita mendengar seluruh pembicaraan Nathan dan Brian tadi. Siapa Anya?


Nathan masih belum memutuskan harus jujur akan masa lalunya atau biarkan saja. Dia juga tidak yakin, apakah Tita mendengar semua pembicaraannya dengan Brian tadi.


"Tuan, saya akan kembali ke kantor. Nanti akan saya bawakan beberapa berkas yang perlu anda tanda tangani." sang sekretaris pamit begitu sampai di depan pintu unit Tita.


"Baik, hati-hati ya."


"Kenapa kamu tidak bekerja?"


"Aku sedang cuti. Sepertinya kamu tidak suka aku ada di sini?"


"Gak juga. Hm ... Nathan, apa aku boleh tetap tinggal di sini? Kantorku lebih dekat dari sini." Tita memberikan segelas teh manis untuk suaminya.


"Aku bisa mengantarkan kamu setiap hari."


"Ah ... jangan, nanti kamu yang terlambat."


"Kamu lupa? I am the bos."


Sombongnya. Pikir Tita. "Tapi aku baru bayar sewa apartemen ini untuk enam bulan ke depan, kan sayang uangnya." Tita mencoba membujuk.


"Baiklah, aku akan meminta Brian mengembalikan uangmu."


Hah!! Maksudnya apa? "Apa hubungannya dengan Tuan Brian?"


Wah ... apa ada yang aku lupakan, ya? Bagaimana bisa kebetulan ini terjadi? Tita tidak habis pikir, pasalnya ketika itu Loudy tidak mengatakan apa-apa.


Nathan mendekat, melepas kuncir kuda Tita, mengelus rambut hitamnya. "Aku tidak suka kamu mengikat rambutmu ketika keluar rumah." Sang tuan muda setengah merajuk.


Tengkuk Tita merinding, sang suami berbicara terlalu dekat di telinganya. "Kenapa Loudy, tidak mengatakan apa-apa tentang kamu saat itu. Padahal dia membantu aku di sini?"


"Tidak ada yang tahu apartemen ini adalah milik aku, hanya Brian yang tahu."


"Kenapa?" Setelah mendengar pembicaraan Nathan dan Brian di mobil tadi Tita jadi lebih penasaran dengan kehidupan laki-laki yang jadi suaminya kini.


Nathan melihat ada keingintahuan yang besar di mata sang istri. Dari nada bicaranya pun terdengar bahwa dia sedang mengulik informasi. "Apa perlu alasan untuk aku membeli apartemen? Apa semua orang harus tahu setiap barang yang aku beli?" Maafkan aku Tita, aku belum siap memberitahu kamu.


"Iya, kamu benar." Ada guratan kecewa di wajah Tita. Namun, dia langsung berpaling agar sang suami tidak melihatnya. Kenapa dia tidak jujur padaku?


"Baiklah jika kamu ingin tetap tinggal di sini. Aku tidak masalah."


Tita sedang menimbang-nimbang, apa perlu aku tanyakan siapa Anya. Atau aku harus menunggu dia bercerita sendiri?


"Ada apa, kenapa meliahat aku seperti itu?" Nathan bersemu, baru kali ini Tita memandanginya seperti itu, dengan jarak sedekat ini. Yaaa, bisa di bilang dia ge er.


"Oh, tidak." Tita gelagapan kini. "Apa yang mau kita lakukan sekarang?" pengalihan suasana.


"Jangan memancingku dengan kata-kata itu. Aku bisa menghabisi kamu sekarang juga."


"Apa ... apa, memang aku bilang apa?" Panik.


Nathan mendekatkan wajahnya, reflek Tita memundurkan badannya. Tapi kemudian tubuhnya terkunci. "Aku rasa, aku tidak bisa menahannya lagi," Wajah Nathan memerah, matanya menatap Tita dengan pandangan tak biasa. Belum lagi Tita mencerna maksud kata-kata suaminya, tiba-tiba benda kenyal dan hangat itu menyapa bibirnya.


Tita hanya diam, mulutnya masih rapat, dia tidak tahu apa yang harus di lakukan. Antara mau dan tidak, "Buka mulutmu." Perintah sang suami. Dan Tita hanya menuruti apa yang di minta suaminya. Nathan makin gencar mengabsen setiap deretan giginya. Tidak puas di sana, sang suami menurunkan ciumannya ke telinga lalu turun lagi ke leher Tita. Nafas Nathan makin memburu ketika di dengarnya lenguhan kecil dari sang istri, waaah ... Nathan nyaris lose control. Seperti ada dorongan besar dalam dirinya yang ingin melakukan lebih dari ini, toh sang istri tidak menolak dan seperti menikmati perbuatannya. Nathan mengangkat wajahnya, nafas ke duanya beradu dalan jarak dekat. Tak mau membuang-buang waktu, di sapa lagi bibir sang istri yang kini menjadi candunya... Tita sudah belajar dengan cepat, karena tanpa di minta dia mulai menyesuaikan pergerakannya, dan sudah tentu hal itu membuat Nathan senang karena sudut bibirnya terangkat.


"Titaaaaaa,"


Gubrakk!!!


Aduh!!


"Kakak ... Tita!!"


Semua sudah duduk dengan baik kini, berkali-kali Tita memastikan pakaiannya sudah baik di posisinya. Loudy dan Mike menahan tawanya. Dan, tentu saja sang penguasa yang bermuka kesal karena kesenangannya di ganggu. Dan semua dapat melihat itu, kekesalan itu tercetak nyata di wajah tuan muda.


"Maaf kak, aku pikir hanya ada Tita di sini. Dan kita juga tidak melihat apa yang sedang kalian lakukan, beneran deh!" sang adik membela diri.


Tita yang memang duduk di sebelah suaminya, jadi tidak tega melihatnya. Dia memegang tangan sang suami dan menariknya, "Ikut aku buat minum dulu, yuk."


Nathan berdiri bersandar di meja makan, sudah seperti anak kecil yang di larang ibunya membeli mainan incarannya. Pada saat ini, Tita merasa lucu, tidak menyangka kalau laki-laki dihadapannya kini, seorang bos besar yang memiliki pengaruh kuat bisa terlihat seperti ini. Ha ha ha.