
Oh, rasanya sudah lama aku tidak merasakan tidur yang berkualitas seperti ini. Tapi ... tunggu?? di raba-raba kasur di sebelahnya, keras? Apa ini???
Tita langsung bangun dari posisi tidurnya. "Kenapa kamu ada disini?!!"
Nathan mengerang, "ugh ... sayang," susah payah dia membuka matanya, menyandarkan punggungnya pada bantal-bantal yang lebih tinggi agar hilang pusing kepalanya. "Kenapa?"
"Kamu yang kenapa? Kenapa kamu bisa ada disini?!"
"Kemarilah, jangan duduk di pinggir nanti kamu jatuh." Nathan menjulurkan tangannya, namun Tita hanya diam. "Kalau aku dorong sedikit saja kamu pasti jatuh kebawah."
Dan sepertinya ancaman itu berhasil, karena sang istri bergerak maju.
"Semalam Loudy menghubungi ku, mengatakan kamu belum sampai di rumah. Jadi, aku berfikir kamu pasti disini dan disinilah aku sekarang." cih, padahal Axel yang memberinya saran, kan?
"Aku sedang ingin sendiri." jelasnya.
Sang tuan suami memejamkan matanya sebentar. Ah, jadi semalam itu dia benar-benar sedang tidak sadar ya. "Oh, jadi ceritanya kamu kabur?"
"Aku tidak kabur, aku hanya ingin sendirian." jawabnya masih saja ketus.
"Setidaknya kamu kabari aku. Atau Brian, atau Loudy, atau mami, atau ibu ... Apa kamu tidak tahu? kamu sudah membuat mereka khawatir?" padahal yang sebenarnya adalah, Loudy hanya bertanya. Wah, sang tuan suami memang hebat dalam hal ini.
Tita menundukkan kepalanya, "Tapi kamu tidak khawatir," Tita menggerutu.
"Hei, hei ... kalau bicara yang jelas. Jangan seperti kumur-kumur begitu. Aku tidak dengar."
"Lupakan, aku mau mandi." belum lagi kakinya menginjak lantai, "Aaaaa, apa sih!"
"Maafkan aku," Deg. Nathan masih melingkarkan tangannya di perut Tita, memeluknya dari belakang. Menangis lagi dia. "Padahal aku sudah berjanji tidak akan membuat kamu menangis. Tapi aku malah membuatmu menangis hingga pergi dari rumah. Salahku karena tidak langsung meyakinkan kamu." Nathan mengeratkan pelukannya. "Sayang ... yang kamu lihat itu tidak benar sama sekali. Aku bahkan tidak tahu dia masuk ke ruangan, karena aku rapat seharian itu. Aku selalu bersama Brian, kau tahu?"
"Kenapa kamu baru menjelaskan sekarang? Apa kamu tidak berfikir seperti apa perasaanku kemarin? Aku ..." Tita mengatur sedikit emosinya ... emosi yang menyesakkan dadanya. "Kita menikah begitu cepat, aku bahkan tidak mengenalmu dan aku yakin kamu juga tidak tahu seperti apa aku. Kepergian ku kemarin, menyusul kamu jauh-jauh ... apa tidak kamu anggap sebagai bentuk rasa cintaku?"
"Aku tahu, sayang."
"Maka perlakuan aku sebagai orang yang kamu cintai juga. Kamu bisa jujur menceritakan segala hal padaku, jika aku membuatmu tidak nyaman kamu juga bisa bilang ... aku bersedia menunggu, asal jangan kamu perlakukan aku seperti kemarin. Karena aku malah merasa aku yang merecoki hubungan kalian..." huhuhu ... Tita menangis tersedu-sedu.
"Maafkan aku. Jangan menangis lagi, sayang. Aku sangat-sangat mencintai kamu, bahkan hanya mendengar suara mu aku sudah jatuh cinta."
"Aku takut, Nath. Kamu akan kembali padanya dan meninggalkan aku."
"Aku kan sudah bilang alasan Anya ada di sini? Jadi jangan kamu khawatir soal itu, aku tidak mungkin kembali padanya."
"Mana ada laki-laki yang menolak jika disuguhi pemandangan seperti itu setiap hari?!" mengingat wanita itu dan penampilannya sungguh membuat Tita kesal.
"Lho, ada kok. Aku. Aku tidak tergiur sedikit pun." Nathan menghirup dalam aroma yang keluar dari tubuh sang istri. "Tubuhku hanya bereaksi padamu ... apa kamu tidak merasakannya?" dikecup tengkuk sang istri. Tentunya membuat si empunya merinding.
"Aku mau mandi," berusaha melepaskan, tapi ... jangan harap.
"Diam saja,"
"Aku harus pergi kerja. Jangan .... aku belum gosok gigi."
"Lalu kenapa?"
"Gak mau ..." Tita menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Sayang ...." memelas. "Hm, baiklah jika itu mau kamu." Nathan turun dari tempat tidur, tapi kemudian mengangkat tubuh sang istri dengan mudah.
"Aaaaaah.... Nathaaan."
Dua jam berlalu, saat ini mereka sedang duduk di meja makan ... Brian membawakan sarapan untuk mereka. Dan menyaksikan tingkah dua manusia ini yang bertolak belakang. Hm, tampaknya mereka sudah akur.
"Sayang, makan yang banyak supaya kamu ada tenaga ..." Sang tuan suami dengan tidak tahu dirinya menggoda sang istri.
"Kak Brian, sudah sarapan? Makan sekalian saja."
"Tidak nona, saya makan di kantor saja." tolaknya sopan.
Oh, rupanya sang tuan suami yang sudah memberikan kode agar sekretarisnya pergi. Hm, baik ... karena tadi dia sudah mengerjai aku habis-habisan, maka akan aku balas. "Sayang, biarkan kak Brian sarapan bersama kita ya .... kasihan, kan? dia sudah membantu kita banyak ..." haha ... Tita melancarkan rayuannya, huh .. sang tuan suami pasti hanya fokus pada kata 'sayang' dan 'kita'.
"Iya, benar." maka dia berpaling ke sekretarisnya. "Duduklah, kita sarapan sebelum berangkat." katanya dengan senyuman.
Wah, mereka sedang main drama apa sih? Menjebak aku? Jika aku menolak, habislah aku. Jika aku duduk, tidak selamat juga.
"Kak, duduklah. Ayo ... nanti kalian terlambat."
Maka mereka sarapan bertiga, sang tuan suami tidak mungkin menolak permintaan istri kesayangannya, walaupun ... ya, sesekali diliriknya sang sekretaris.
Habislah aku. Brian.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak, aku naik ojek saja"
"Kamu lebih memilih berpelukan dengan Abang ojek daripada denganku?!"
"Apa sih, siapa yang berpelukan dengan Abang ojek?" aneh sekali sih manusia ini. Namun, daripada tambah lama waktu yang habis sia-sia karena perdebatan un-faedah, maka ... "Oke, baik. Tolong antar kan aku ya, sayang." Kan senyum dia.
Di dalam mobil, sang tuan muda yang sedang berbunga-bunga hatinya makin tidak bisa dikondisikan tingkahnya.
"Sayang, hentikan ..." Tita harus menahan tangan sang tuan suami yang sudah jalan kemana-mana.
"Katanya kamu mencintaiku?" merajuk.
"Iya, aku mencintaimu." malas ribut, biar cepat selesai saja.
"Aku juga mencintaimu. Dengarkan Brian ... kami saling mencintai."
Ck ... Pamer!! Brian. Tita.
"Lho ... kamu mau kemana?" tanya Tita bingun, karena sang tuan suami mengikutinya masuk ke Mirae Contruction.
"Tuan muda ada rapat dengan Mr. Putra, nona." jelas sang sekretaris.
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Kamu tidak bertanya?" jawabnya, seenaknya.
"Oh, baik." kesal juga Tita mendengarnya. "Aku juga tidak akan bilang-bilang kalau kamu tidak tanya ya." Huh, biar tahu rasa. Memang hanya dia saja yang bisa mengancam.
Eh, sayang ... tidak seperti itu. Tadi aku hanya menggoda kamu saja. Aku lupa, kemarin kan banyak yang aku pikirkan. Jangan marah, ya." bujuknya ketika mereka sudah berada di dalam lift. "Sayang ...."
Hahaha ... pemandangan yang menyenangkan, melihat sang tuan muda bisa tunduk seperti itu. Dasar bucin.
"Selamat pagi ..." sapa Tita kepada rekan-rekan kerjanya.
Ya ampun, Tuan Petra yaaa ... tidak ada yang menjawab sapaan Tita, karena mereka sudah terpesona dengan sosok rupawan yang berdiri di belakang Tita.