Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 11



Tita sedang duduk di meja kerjanya, sambil bertukar cerita dengan Arum, rekan kerjanya, ketika pesawat telpon di mejanya berdering, "Iya ... bagaimana pak? oh, baik, iya ... saya bersiap dulu pak," klik. "Rum, aku rapat dulu ya."


"Emang ada jadwal rapat hari ini?"


"Seharusnya sih gak ada, tapi pak bos tadi infoin klien kita sudah datang" jawabnya sambil mengangkat bahu.


Tita menenteng notebook-nya, masuk keruang rapat, eh ... kosong. Tita melangkah masuk, mempersiapkan notebook hingga siap di gunakan. Karena dia tidak tahu berapa orang yang akan ikut rapat, maka di menyiapkan empat air mineral di atas meja dengan posisi saling berhadapan. Tanpa dia sadari, gerak geriknya diperhatikan sepasang mata elang yang hendak menerkam mangsanya, ha ha ha, ya, Nathan ada di belakangnya memperhatikan gerak-gerik sang gadis. Hm, gadis yang cekatan.


Berdasarkan instruksi dari Thomas, hari ini Nathan melancarkan aksinya melakukan pendekatan dengan sang gadis dengan pesonanya. Nathan melangkah perlahan, dia tergoda untuk menyentuh rambut sang gadis yang selalu di kuncir kuda. "ah!" Tita setengah menjerit karena kaget. "Ada apa tuan Petra? maaf, saya kaget tadi," sambil menetralkan debaran jantungnya.


Dari jarak yang begitu dekat, Nathan makin tidak bisa mengontrol keinginannya untuk merengkuh gadis di depannya ini. Bahkan dengan Anya, dia tidak pernah lepas kontrol. "Ehm," Nathan mundur selangkah, mengendalikan dirinya. "Iya, apakah semua sudah siap?"


"Sudah tuan, kita tinggal menunggu pak Putra,"


"Oh ... kita akan meeting berdua, tidak masalah kan?" sang tuan langsung duduk di sebelah kursi Tita. Tita yang setengah bingung ikut duduk. Mereka memulai agenda mereka. Nathan, sungguh sangat totalitas ketika melakukan apapun, begitupun ketika tengah berusaha mengejar gadis di sebelahnya. Tita menjelaskan kembali designnya, dan sang tuan muda menatapnya dengan intens.


Wah, laki-laki ini memang multitasking, matanya menatap sang pujaan hati, menikmati setiap kontur wajah sang gadis, namun telinganya mendengarkan dengan cermat apa yang bibir merah segar itu ucapkan. Dan sang gadis, yang memang minim kepekaan untuk urusan laki-laki dan hanya fokus pada pekerjaannya, "Jadi, di bagian mana yang akan anda tambahkan?" mata mereka beradu, menimbulkan getaran di dada Nathan. Tapi tidak berlaku bagi Tita.


"Over all, saya menyukai design kamu. Tapi, aku ingin ada semacam coffee shop di sudut galeri untuk pengunjung bersantai sekaligus menikmati keindahan di depannya," satu senyum yang amat langka lolos dari bibir Nathan.


"Ada lagi tuan?" Tita bertanya sambil mencatat untuk bahan revisi design nya.


"Apa kamu ada waktu malam ini?"


"Kalau ada lagi yang perlu di perbaiki dan di tambahkan, bisa kita selesaikan sekarang tuan,"


"Ah, tidak ... saya hanya ingin mengajakmu makan malam, bagaimana?"


"Maaf tuan, saya tidak bisa, " Tita menolak dengan sopan.


"Kenapa? Apa kamu sudah punya pacar?"


"Apa hubungannya dengan pacar?"


Ah, apa sekarang aku sudah di tolak? Dia sudah punya pacar? Argh! kenapa tidak aku selidiki dulu. Aura muka Nathan sudah kaku, dia seperti kalah sebelum berperang, tidak tau harus seperti apa menanggapi omongan Tita. Tiba-tiba Nathan berdiri, "Selamat siang." dengan menahan rasa kesalnya sang tuan meninggalkan Tita sendiri. Tita bengong, salah aku apa?? Dia... marah padaku?? iih, dasar orang aneh!


Brian melihat mendung di wajah sang tuan, sangat bertolak belakang auranya dengan saat dia pergi. "Apa yang terjadi tuan?" daripada dia menerka-nerka lebih baik tanya langsung, pikirnya.


Tanpa melihat Brian sang tuan muda berkata, "Cari tahu apakah gadis itu sudah memiliki kekasih!" titahnya.


"Belum, tuan. Nona Zahra, bahkan belum pernah punya pacar." lanjutnya.


Sang tuan muda tampan yang sempat galau tadi langsung berbinar, "Kamu yakin?"


"Yakin, tuan!"


"Lalu kenapa tadi dia menolak aku?" kembali kesal, dengan kenyataan bahwa dia ditolak oleh seorang gadis.


Ckiiit!!! Brian menginjak rem tiba-tiba, untung mereka sudah memasuki kawasan Petra Corporate, "Kok bisa??"


"Ck! kamu saja merasa aneh kan? apalagi aku!"


"Tuan, maaf sebelumnya. Tapi apa yang anda bicarakan dengan nona Zahra?"


"Apalagi? aku melakukan sesuai instruksi Thomas." Dan sepanjang perjalanan menuju ruangannya, Nathan menceritakan detail kejadian saat dia berduaan dengan Tita.


"Mungkin kita perlu mengganti strategi, tuan." usul sang sekretaris.


***


"Pak, maaf. Tapi saya benar-benar gak enak, karena tadi Tuan Petra pergi begitu saja," Tita sungguh sangat menyesal. Terlihat jelas dari raut wajahnya. Dan sang bos sungguh tidak dapat menjelaskan apa-apa pada anak buahnya yang baru dua hari bergabung dengan perusahaannya. Teringat kata-kata sang sekretaris Brian, "Tuan Petra jatuh hati dengan nona Zahra, dan sedang mengejarnya. Jadi tolong dibantu ya, proyek jalan. Tapi tolong, rahasiakan ini dari nona!" dengan penekanan dari setiap kata-katanya, pak Putra sudah sangat paham apa yang harus dilakukan untuk memuluskan jalan sang tuan. Dengan kata lain, sang tuan senang maka proyek pun aman.


"Biar saya urus, kamu tidak usah berfikiran yang aneh-aneh tentang tuan Petra. Dia orang yang profesional, tadi saya sudah mendapatkan salinan kontrak baru dari sekretaris Brian. Sekarang kamu kembali bekerja saja, ya?"


"Baik, pak. Permisi."


Sampai di kubikel-nya, rekan kerja Tita menghampiri. "Ra, Zahra,"


"Hei, kenapa?"


"Nanti pulang kerja kita hangout yuk, Arga mau traktir." Tita melihat ke arah Arga, tersenyum, "Oke," katanya.


Sesuai kesepakatan, Tita dan teman-teman barunya pergi ke sebuah tempat makan yang memang cukup terkenal dan insta-able. Tempat makan itu menyajikan banyak makanan khas Jepang. Mereka memilih tempat di sebelah taman dan di penuhi kelap kelip lampu berwarna warni. Mereka pergi berlima, Tita, Arum, Candy, Raka, dan Arga.


Sejak pertama kali bertemu Tita, Arga sudah jatuh hati pada gadis mungil dan manis itu. Arum dan Raka sudah tahu, makanya mereka membantu Arga untuk bisa lebih dekat dengan Tita secara natural. "Zahra, kamu itu udah punya pacar belum sih?" tanya Arum.


"Belum, kenapa?" Arga langsung tersenyum senang serasa mendapatkan angin segar.


"Ya gak apa-apa, siapa tahu nanti ketemu jodoh di kantor, kan? Ha ha ha..."


"Iya, bisa jadi ... ha ha ha," jawab Tita, tanpa canggung, karena memang itu salah satu harapannya.


"Wah... jadi kamu sedang cari pacar?" Arga semangat. Duk! tiba-tiba kakinya di tendang oleh Raka. Kalem Ga!


"Arga, kamu kenapa?" Candy terkejut melihat Arga yang tiba-tiba kesakitan.


"Ah, gak apa-apa,"


"Rencananya sih, memang aku mau punya pacar. Eh kalau kalian sudah punya pasangan?"


"Aku pacaran dengan dia," Arum menunjuk ke arah Raka, malu-malu. Raka jumawa.


"Ah, masa?" Tita tidak yakin. "Kok gak seperti orang pacaran?" lanjutnya.


"Emang kita harus bagaimana supaya terlihat seperti orang pacaran?" kali ini Raka yang menjawab. Tapi Tita hanya menatapnya bingung.


"Ra, jangan-jangan kamu belum pernah pacaran ya?" tebak Candy.


"Iya, belum pernah." temannya menatap Tita seakan tidak percaya, tapi lain halnya dengan Arga, dia sangat senang mengetahui kebenaran ini langsung dari sumbernya.