Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 54



Aku mau berteman denganmu." Dia mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, namaku Terry."


Tita berdiri, ingin pergi karena tidak nyaman. Tapi laki-laki itu menahan tangannya. "Hei! Lepaskan. Anda tidak punya sopan santun, ya?!" hardiknya.


"Maaf, cantik. Aku hanya ingin kita berteman."


"Saya tidak mengenal anda dan tidak berminat berteman dengan anda. Permisi."


"Tunggu. Jika suatu hari kita bertemu kembali, tolong ... jangan menolakku." Katanya, melepas kepergian Tita.


Haiiish, orang yang aneh. Apakah zaman sekarang laki-laki tampan itu memiliki kepribadian yang aneh??


"Kenapa lagi sih, Than? Cemberut aja, jangan-jangan ... gak di kasih jatah ya sama Tita?" Ha ha ha. Thomas yang memang sangat tahu luar dalam Nathan menggodanya. Karena sejak tiba di club' Nathan sangat terlihat tidak bersemangat.


Axel yang memang jarang berkumpul dengan mereka, melihat ke arah Brian ... berharap ada sedikit informasi. Tapi Brian hanya diam, tidak memberikan clue apapun.


Hening tercipta, hanya lantunan lagu yang terdengar. Lagu ini, lagu yang membuka hatiku untuk lebih mengenalmu. Pikir Nathan. "Tita ke kantor tadi, dan dia menuduhku berselingkuh dengan Anya." sontak pengakuan Nathan membuat sahabat-sahabatnya kaget. Terlebih Brian, karena dia yang menemani sang tuan muda sepanjang hari, kecuali jika sang tuan sedang bersama dengan istrinya.


"Kalian jangan melihatku seperti itu, ini hanya salah paham. Aku meeting sejak pagi ..." Brian mengangguk. "Jadi tidak mungkin."


"Lalu ... atas dasar apa Tita menuduhmu?"


"Ketika dia masuk ruangan ku, Anya sedang mengancingkan bajunya dan rambut yang berantakan ... kalian mengerti, kan? Dan dia memanggilku dengan kata 'sayang' ... begitu yang dilihat istriku."


"Keadaan yang sebenarnya kan tidak seperti itu, tuan. Anda bisa menjadikan saya jaminan kebenaran anda, kan?" tanya Brian.


"Iya, tapi dia tidak percaya padaku."


"Mustahil." Rega angkat bicara. "Kamu sudah mencoba meyakinkan Tita?!"


"Kamu tahu bagaimana aku." Nathan menatap Rega dengan pandangan yang hancur. Ya ... ketika Tita lebih memilih tidak percaya padanya dan mengira Nathan melakukan sesuatu yang menjijikkan ... Nathan seperti ditarik kembali di masa itu, kenangan kelam yang sangat membekas dan merubah pandangannya tentang wanita dan cinta. Sahabat-sahabatnya inilah yang menyaksikan sulitnya Nathan 'sembuh'. Pebisnis sukses yang tak tersentuh dengan wanita, tapi bisa dengan mudahnya takluk dengan pesona gadis mungil bernama Zahra Ratifa.


"Than, sorry ... seharusnya kita lebih mengerti kamu. Tapi, aku yakin Tita juga tidak akan menolak kalau kamu jelaskan." Rega meyakinkan lagi.


"Iya, benar. Pembuktiannya mudah ... kamu berikan saja rekaman CCTV."


"Saya bisa menyediakan segera, tuan."


Rega ... satu-satunya orang yang menyaksikan kenangan pahit itu menghampiri Nathan, memeluknya, menguatnya, "Tita berbeda dari Anya, Nath. Jangan takut, jangan sampai pikiran buruk itu menguasai mu ... jangan sampai Tita terlepas hanya karena ketakutan-ketakutan mu." Perlahan syaraf Nathan yang menegang mulai mengendur, dia lebih rileks. Dampak psikis yang dialami Nathan karena melihat Anya yang bercinta dengan laki-laki lain di hari dia ingin melamarnya, memang menimbulkan dampak yang luar biasa di dalam diri Nathan. Dari segi percintaan, dia sangat rapuh.


"Jelaskan pada istrimu sekarang, dia pasti juga menunggu penjelasan kamu." kata axel.


"Tuan muda, nona Loudy menghubungi," Brian menyerahkan ponselnya.


"Iya Lou, aku di club' Thomas. Ada apa? Tidak, aku tidak sedang bersamanya. Tadi dia ke kantorku dan kembali ke kantornya. Mungkin sebentar lagi. Kamu sudah menghubungi ponselnya? Iya, oke." klik. Nathan memandangi sahabatnya satu persatu. "Brian tolong hubungi Mike, Tita belum pulang ke rumah." kemana dia, apakah lembur?


Duaaarr!!!


"Apa?!" panik? Tentu saja, Tita keluar kantornya pukul dua siang. Sekarang jam delapan malam, artinya sudah enam jam. "Brian, hubungi anak buahmu." Dengan sigap Brian menghubungi anak buahnya untuk mencari Tita. Sial. Aku lalai, seharusnya aku biarkan saja mereka terus mengikuti nona.


"Halo, cari nona Tita. Sekarang!" perintahnya.


Thomas mengeluarkan tabletnya. "Berapa nomor ponsel Tita, Than?" tanyanya. Nathan mendekat memasukkan sederet nomor ponsel. Thomas berusaha melacak email Tita melalui riwayat nomor ponsel itu.


Sang tuan suami fokus ke arah layar di depannya, dengan perasaan yang berdebar-debar. "Sayang, kamu dimana?" katanya. Membuat sahabatnya makin iba.


Sampai pada Axel menanyakan pertanyaan sederhana, "Apa Tita-mu punya tempat tinggal lain selain rumahmu? Sebelum dia menikah dengan kamu, mungkin?"


"Apartemen!! Brian ayo." Nathan berlari di susul Brian. Bahkan sahabat-sahabatnya tidak sampai mengucapkan sepatah katapun.


Tiba di depan pintu, jantungnya berdetak sangat cepat, kekasihnya ada di dalam. Di netralkan dahulu deru nafasnya. "Brian, kamu tidur saja di atas. Aku akan bermalam disini."


"Baik, tuan. Semoga ... terselesaikan semuanya malam ini." sambil menepuk bahu sang tuan, menyalurkan semangat.


Ceklek. Nathan masuk, ruangan itu begitu dingin dan sunyi ... dia terus berjalan menuju satu-satunya ruang tidur. Istrinya tengah meringkuk disana, tertidur dengan nafas yang teratur. Blar! lampu kamar menyala ... perlahan Nathan mendekat ke tempat tidur, membuka jasnya, melepaskan dasinya, melepaskan kancing lengan dan kancing teratas kemejanya. Menaiki tempat tidur dan memposisikan diri tepat di sebelah sang istri. Sayang, kamu menangis sampai tertidur?


"Sayangku .... Tita sayang." panggilnya. Disentuhnya pipi sang istri, lembut. "Maafkan aku, kamu menangis karena aku." di kecup kening sang istri, disingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajahnya. "Sayang, aku disini." Dicium mata sang istri yang tertutup. "Tita ... sayang,"


Mata itu terbuka, terlihat jelas sisa-sisa tangisan disana, bahkan matanya sudah sembab. Mata itu berkedip. Ah, apa aku bermimpi? Tita melihat wajah rupawan sang suami yang tersenyum menatapnya penuh sayang.


"Maafkan aku," katanya lagi.


Tangan Tita bergerak mengelus pipi sang tuan suami, bergeser ke hidungnya, turun ke bibirnya. Dan Nathan menikmati sentuhan lembut sang istri, untuk yang pertama kali.


"Nathan ..."


"Hm,"


"Jangan pergi ..."


"Don't worry!"


"Aku sudah jatuh cinta padamu ... jangan sakiti aku,"


"Sayang ..." Nathan bergeser mendekat, membenamkan sang istri dalam pelukannya. Hatinya merasakan sakit yang dirasakan sang istri. Hingga terdengarlah dengkuran halus, "Eh, tidur??" Baiklah, kita sama-sama lelah hari ini, tidurlah. Setidaknya, aku tahu Sekarang ... kita sama-sama takut kehilangan. Nathan mengangkat kepala sang istri, menjadikan lengannya sendiri sebagai bantal kepala istrinya. Hhh, dia sungguh beruntung ... dia merasa lega ... karena mendengar kata-kata jujur dari Tita, meskipun mungkin Tita mengatakan hal itu dalam keadaan setengah sadar.


Pelukan hangat sang suami makin menenggelamkan Tita dalam mimpi indahnya. Memang sangat nyaman ketika kita tidur dalam pelukan seseorang yang membuat kita nyaman, kan?


Kenyamanan itu dirasakan Tita hingga pagi menjelang, kehangatan yang didapat membuat si empunya mata enggan untuk membuka mata. Oh, rasanya sudah lama aku tidak merasakan tidur yang berkualitas seperti ini. Tapi ... tunggu?? di raba-raba kasur di sebelahnya, keras? Apa ini???