
Tita terpaku sesaat, "Oh, hai ... " Tita menyambut tangan Terry yang mengajaknya bersalaman.
Sedangkan Loudy makin melebarkan senyumnya dan makin mendekat kearah Tita, dan sekonyong-konyong ikut mengulurkan tangannya, "Loudy. Saya Loudy ..." dan bahkan dia mengulang namanya dua kali, ckckck.
"Saya Terry." hanya sekejap Terry berbasa-basi dengan Loudy dan langsung fokus kembali ke Tita. "Sedang apa kamu disini?"
"Makan bersama teman-teman kampus. Saya duluan ya ..." pamit Tita.
"Ah, cepat sekali ... bagaimana kalau kita minum-minum dulu, kamu duduk dimana?"
Belum lagi Tita menjawab, Loudy sudah memotong ... "Kita duduk di sebelah kamu, kok." sambil memamerkan senyumnya.
"Oh ... kalau begitu kita kembali kesana." Terry menarik tangan Tita dan Loudy merangkul tang Tita yang bebas.
Oh ... terkutuk lah Loudy, sepertinya dia lupa wejangan sang kakak sebelum mereka pergi. Bahkan dia juga melupakan rasa tertekan dan was-was yang sebelumnya dia rasakan bahkan sempat dia luapkan ketika mereka sedang berada di dalam mobil. Dan saat ini, Tita lah yang was-was, karena dia tau club' ini adalah milik Thomas sahabat sang tuan suami. Bukannya tidak mungkin jika sang tuan suami tau apa yang Tita lakukan sekali pun sang tuan suami tidak ada di sini.
Sesampainya di meja mereka, Mike sudah melihat sang kekasih dan sang sahabat bersama seorang laki-laki yang terasa familiar. Mike pun terbelalak ketika dia melihat Tita di gandeng oleh laki-laki itu. Mike masih waras untuk mencerna apa yang terjadi, maka dia langsung menarik Tita hingga genggaman tangan Terry terlepas.
"Ta, kok lama sekali. Oh, halo tuan Terry ..." berusaha akting dengan natural, dia tidak mau ancaman sang tuan muda jadi kenyataan.
"Iya .. ha ha ... Terry, aku bergabung dengan mereka ya."
"Baiklah, aku di sana." Terry menunjuk sebuah meja. Dia tersenyum, berbunga-bunga hatinya karena bisa menyentuh sang pujaan hati walaupun hanya tangannya, dan dia juga bahagia bisa memanggil 'Tita' dan bukan 'Zahra' ... one step closer. Begitulah pikirnya.
"Mike, kamu kenal dengannya?" Loudy yang tidak menyangka bahwa sang kekasih mengenal laki-laki tampan itu jadi penasaran.
"Dia klien kami ... dan sepertinya Tita lebih kenal." jelas Mike.
"Dia adalah laki-laki yang aku temui ketika kita perpisahan dulu." Tita menjelaskan.
"Ah, iya .... ya ampun ... aku baru ingat." Loudy jadi senyum-senyum sendiri, ah ... laki-laki itu begitu tampan.
"Jangan genit kamu." ctak!! Mike menyentil kening Loudy.
"Aduh .... sakit." Loudy mengusap-usap keningnya. "Aku gak genit, hanya menikmati keindahan saja."
"Ih ... alasan macam apa itu?!" Mike jelas cemburu tapi gengsi mengungkapkan. Tita hanya tertawa melihat keduanya. "Dan lagi, tadi tuan Petra sudah memerintahkan kita untuk menjaga Tita, apa kamu lupa?!" masih kesal dia haha.
Loudy masih mengusap-usap keningnya, "Iya, iya ... aku ingat."
"Kalau kamu ingat kenapa kamu malah ikut-ikutan genit ke laki-laki itu?!" Loudy tidak menjawab, dia tau dia memang salah ... tapi sudah menjadi kesenangannya bisa mengagumi laki-laki tampan, kan.
"Sudah, sudah ... Mickey kalau kamu cemburu katakan saja langsung supaya Loudy tau kalau bisa cemburu." Ha ha ha ... cekatan sekali Tita.
Ketika mereka sedang bercengkrama dengan serunya, seorang wanita cantik, molek dan berpenampilan anggun berjalan melalui meja mereka. Penampilannya menyedot perhatian beberapa orang di sana termasuk Loudy.
"Hei, sepertinya dia kenal dengan Terry, lihatlah." dan mau tidak mau Tita melihat juga wanita itu, dia mencium pipi Terry bergantian.
"Waaaah ... ternyata sudah punya gandengan ya ..." celetuk Loudy.
Tita terdiam, tidak menanggapi ... iya, wanita itu memang sangat cantik dan menarik, tidak mungkin kan seorang Terry tidak tertarik.
***
Hari ini adalah hari pertama Tita kembali masuk kerja dan hari ini Nathan secara spesial mengantarnya ke kantor.
"Welcome back, sweetie." gantian Gladis memeluknya. Dan rekan-rekannya yang lain satu persatu pun menyapa dan memeluknya.
"Selamat datang kembali, Zahra." kali ini sang bos, pak Putra pun ikut menyalaminya.
"Iya, pak. Terima kasih." jawab Tita. "Sepertinya saya banyak tertinggal, ya?"
"Tidak ... tenang saja, Arga, Raka dan Candy sudah meng-handle pekerjaan mu."
"Wah, terima kasih yaa ..." satu persatu Tita memperhatikan rekan-rekan kerjanya, dia senang bisa bergabung lagi bersama mereka.
Selesai acara kangen-kangenan, mereka kembali ke meja masing-masing. Arum mendekati meja Tita dan menarik kursi untuk dia duduki. "Ya, kamu tau gak?" Awalan yang sangat baik untuk membuka percakapan bukan? haha.
"Apa?"
"Tuan Muller, sepertinya ada hati sama kamu."
"Jangan bergosip." jawab Tita.
"Eh ... serius, kamu tidak percaya padaku?"
"Tuan Muller itu sudah punya kekasih, kau tau?"
"Ya ampun Tita .... seharusnya kamu lihat dengan mata kepala mu sendiri bagaimana paniknya dia saat pak Putra mengatakan kamu mengalami kecelakaan ..."
Hah?? Tita menatap Arum dengan tanda tanya, tapi rasanya semua yang di katakan Arum adalah omong kosong. Karena beberapa waktu lalu jelas-jelas dia melihat sendiri wanita yang menjadi kekasih Terry Muller. Dan lagi pula, itu bukan urusannya kan.
***
Brian berjalan bersama dengan seorang wanita yang memiliki tinggi hampir sama dengannya. Wanita itu sungguh mempesona seperti pahatan seorang seniman, dia berjalan dengan anggun dan penuh percaya diri. Mereka tidak di depan pintu ruangan tempat bos besar mereka, tuan Petra.
Pintu kokoh itu di ketuk tiga kali sebelum di buka. Tampak lah laki-laki penguasa yang selalu terlihat tampan dimana pun dan kapanpun.
"What's up, Brian?" tanyanya, tanpa menegakkan kepalanya.
"Saya ingin memperkenalkan koordinator public relation kita yang baru, tuan." jawabnya.
Mendengar jawaban sang sekretaris, Nathan baru menegakkan kepalanya ... dia melihat dua orang yang masih berdiri tidak jauh dari mejanya. "Oh, have a sit."
"Selamat pagi, tuan. Saya Lisa." dia hendak mengajak Nathan berjabat tangan namun langsung di tahan oleh Brian. "Ah, maaf saya lupa pesan tuan Brian bahwa anda tidak suka berinteraksi dengan wanita."
"Sebelumnya bekerja dimana?" Nathan tidak menanggapi sedikit pun perkataan Lisa sebelumnya.
"Saya sebelumnya bekerja di i-cone company, Perancis, tuan."
"Oh ya? kenapa kamu lebih memilih meninggalkan i-cone dan pindah kesini?"
"Saya pindah agar lebih dekat dengan orang tua saya, tuan."
Pertanyaan basa basi sebenarnya, karena Nathan yakin Brian sudah menyeleksinya. Wanita ini akan menjadi bagian dari tim yang akan selalu menemani Nathan di berbagai kegiatan. "Baiklah, selanjutnya instruksi akan di berikan oleh Brian. Selamat bergabung, Lisa."
Wanita bernama Lisa itu seperti tersihir hanya karena Nathan menyebutkan namanya. Dia merasa namanya terdengar lebih indah saat Nathan yang mengucapkannya. Apakah laki-laki yang berada di hadapannya saat ini akan terus memanggil namanya dengan seksi seperti ini?