Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 134



Melihat situasi yang tidak kondusif, Brian sang sekretaris langsung berinisiatif. "Nona, tuan muda memiliki taman bermain yang sangat besar ... Jika anda ingin, saya bisa menyiapkan semuanya."


Tita melihat heran ke arah Brian ... lho, kenapa dia seperti panik begitu? Aku kan hanya berbicara dengan kakak ku??


"Ah ... mami rasa bukan ide buruk jika kita berlibur bersama-sama..." kali ini sang mami pun seperti sadar akan mendung yang menyelimuti sang putra.


"Berlibur bersama?" Tita mengulang kata-kata sang nyonya mami. Kemudian seperti seolah tersadar dia melihat ke arah sang tuan suami ... Ah, pantas saja mereka bertingkah seperti itu, rupanya karena sang tuan muda benar-benar tidak dapat menyembunyikan kecemburuan nya, ha ha ... dan ini pasti salahku. Tita langsung merapatkan diri dengan suaminya, yah ... laki-laki ini memang luar biasa pencemburu, padahal apa salahnya dia mengajak kakaknya ... kakak kandungnya bersenang-senang?? Tapi Tita juga sadar, dia tidak boleh membuat laki-laki ini marah bukan?


"Oh, aku rasa berlibur bersama bukan ide yang buruk ... iyakan sayang?" Tita melemparkan pandangannya ke arah Nathan yang kini tersenyum ke arahnya. Yess, aman.


"Maaf sayang, aku tidak bisa lama-lama disini." tampak Kala sangat menyesal tidak dapat memenuhi keinginan sang adik.


"Lho, kakak kan baru saja datang?"


"Tidak ... aku sudah beberapa hari disini." Kala tersenyum, dia merasa terhibur melihat sang adik yang cemberut dan merajuk.


"Aku janji, lain kali aku akan menyediakan waktu khusus untuk mu ..."


"Baiklah,"


.***


Sepeninggal Kala, Tita bergegas merapikan diri ... ya, dia sudah janji akan pergi dengan Loudy dan Mickey.


"Kamu jadi pergi?" tanya Nathan.


"Iya, kamu kan sudah mengijinkan."


"Tidak mau berduaan denganku saja?"


"Sayang ..." Tita pura-pura merajuk.


Nathan menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang. "Jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain, mengerti?"


"Iya, aku akan terus bersama Loudy dan Mickey."


"Jangan menempel pada Mickey juga."


Tita berbalik sehingga kini mereka saling berhadapan, "Mickey pacar Loudy, tidak mungkin aku macam-macam dengannya."


"Baiklah," cup! Nathan mencium kening Tita.


"Aku berangkat ya ..." Cup! Tita membalas dengan mengecup bibir Nathan. Tapi bukan Nathan namanya jika tidak mengambil kesempatan, dia makin memperdalam ciuman


mereka hingga Tita melepaskan ciuman itu.


"Nath …" egh, "Nathan…" Tita mendorong tubuh tegap itu dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. 


Nathan hanya memandangi tingkah sang istri dengan tersenyum sambil menyeka bibirnya yang basah.


Tok … tok … "Tita!!"


"Sudah ya aku berangkat." Tita langsung membuka pintu kamarnya dan tampaklah di sana Loudy yang memandangnya penuh selidik di tambah lagi kemunculan Nathan di balik pintu itu, membuatnya makin memicingkan matanya.


"Apa yang kalian lakukan." Selidiknya.


"Bukan urusanmu." Nathan menggandeng Tita meninggalkan Loudy yang masih terpaku sendiri dengan macam-macam pikiran, eh … dengan pikiran yang macam-macam. ha ha ha.


"Hai Mickey," sapa Tita. Rupanya Mickey sudah datang.


"Hai … Selamat malam tuan Petra." Mickey sedikit membungkuk untuk memberi salam kepada Nathan.


"Loudy … jaga Tita-ku baik-baik, dan kau!" Nathan melihat ke arah Mike. "Jangan biarkan istriku di dekati siapapun."


Glek! Mike menelan ludahnya dengan susah payah, apakah ide bagus jika mengajak Tita kali ini? Dia merasa seperti pesakitan yang harus siap di eksekusi ketika melakukan kesalahan kecil.


"Aaah … senang sekali rasanya aku bisa pergi dengan kalian." Tita gembira, tentu saja … dia senang bisa keluar dari rumah terlebih kali ini dia pergi dengan Loudy dan Mickey.


Mickey tidak menanggapi ucapan Tita, dia masih takut karena membayangkan nyawanya bisa saja melayang jika melakukan kesalahan dalam menjaga wanita tersayang dari tuan Petra.


Loudy yang duduk di sebelah Mike menoleh ke belakang, menatap sang sahabat yang sedang berbahagia dengan tatapan sinis. "Kamu yang bahagia tapi kami tertekan, tau!!" 


Dan Tita tertawa lagi ketika mendapati Loudy memutar bola matanya berbarengan dengan Mickey yang melakukan hal sama melalui cermin di depannya. Ha ha ha. "Kalian lucu sekali."


Kini mereka sudah tiba di parkiran club' .. tita merapikan sedikit bajunya, sedangkan Loudy merapikan kembali make up nya.


"Tita, jangan jauh-jauh dari kami ... kamu mengerti?" Mickey merasa perlu memberikan peringatan untuk sahabatnya itu di awal.


"Iya, aku mengerti."


"Dan jangan melirik laki-laki lain?!" tambah Loudy, sedikit mengancam.


"Hei ... memang aku wanita seperti itu?"


"Ha ha ha, aku tau ... aku tau. Baiklah mari kita temui yang lainnya." Loudy dan Mickey kompak mengalungkan lengan mereka di lengan milik Tita. Rupanya mereka benar-benar serius menanggapi setiap kata-kata dari tuan Petra.


Tita pun tidak sedikitpun protes, karena dia juga tidak ingin kedua orang yang dia sayang ini mendapat masalah.


"Tita!!" seseorang meneriakkan namanya sekaligus melambaikan tangan ke arahnya. Tita, Loudy dan Mickey menghampiri teman-teman mereka.


"Hai Andin," Tita membalas sapaannya.


"Rasanya sudah lama tidak melihat kamu. Loudy dengar-dengar kamu sekarang pacaran dengan Mike?"


"Eh, iya." jawab Loudy.


Ciee .. ciee ... Loudy dan Mike mendapatkan sorakan dari teman-temannya. "Pajak jadian dong..."


"Duh ... kalian ini, baiklah aku yang bayar kali ini." Mike ingin terlihat baik dan bertanggung jawab di depan Loudy tentunya.


"Eh, jangan ... kita bayar sama-sama saja."


Dan mereka kembali mendapatkan sorakan dari teman-temannya. So sweet sekali, kan.


Mereka yang berkumpul di meja itu seakan sibuk bernostalgia, meja ini adalah meja mereka. Tempat mereka melepaskan penat setelah ujian ... tempat mereka berbagi kebahagiaan ketika ada diantara mereka yang berulang tahun atau jadian. Kini seakan mereka tengah mengulang momentum itu, Tita sungguh senang bisa berada disini.


"Loudy, aku ke toilet dulu ya."


"Tunggu, tunggu aku temani." Loudy tidak mungkin melupakan pesan sang kakak. Sekalipun dia sedang bermesraan dengan Mike.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." jawab Tita sambil berlalu meninggalkan mejanya. Namun Loudy segera berdiri dan menyusul sang kakak ipar.


"Tita, tunggu aku."


"Cepatlah, aku sudah tidak tahan." Tita berbisik.


Kini Tita sedang berada dalam bilik toilet, sedang Loudy menunggunya di depan wastafel. "Ta, kamu lihat laki-laki yang duduk di sebelah meja kita gak?"


"Laki-laki mana?" jawab Tita seraya keluar dari dalam bilik toilet.


"Yang mengenakan T-shirt biru." mata Loudy berbinar mengatakannya.


"Hei ... jangan macam-macam, kamu sudah punya Mickey." Tita mengingatkan sambil merapikan poninya.


"Ish ... aku tidak macam-macam, hanya terpesona ... tampan sekali dia, kan??"


"Hm,"


"Hm ... apa?"


"Iya, tampan."


"Nah, kan ... kamu setuju dengan ku. Kita itu memang mirip-mirip seleranya, kan?" Ha ha ha, Loudy tertawa senang karena mendapat dukungan. "Dia itu melihat ke arah mu terus dari tadi."


"Tidak mungkin, jangan mengada-ada." Tita sudah selesai dengan urusannya, dan dia bersiap untuk keluar.


Loudy mengikutinya dari belakang. "Serius, Ya. Aku kan memperhatikan dari tadi ..."


"Hai, Tita." seseorang yang beberapa detik lalu menjadi bahan perbincangan mereka, kini berada tepat di hadapan mereka.