Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 14



Sang tuan muda menghela nafas kasar, baru juga dia merasakan jatuh cinta, namun apakah dia harus menyerah sebelum berperang? Nathan jadi teringat laki-laki malam itu, walaupun tadi mereka bilang bukan pacar, tapi panggilan 'Mickey' itu bukan hal biasa.


Tok ... tok ... tok!! "Masuk, " Loudy menyembulkan kepalanya. "Kak, sudah mau tidur?"


"Masuklah, kenapa?"


"Kak," berdiri di depan sang kakak, menatap tak percaya. Nathan mengangkat alisnya seakan berkata, apa? "Kakak, naksir Tita?"


"Mami yang bilang?"


"Iya,"


"Iya,"


"Iya???"


"Kenapa?"


"Hah! Makanya jangan sok jual mahal!"


"Jual mahal gimana? Aku aja baru kenal."


"Kakak lupa waktu aku mau menjodohkan kakak dengan teman ku, dan kakak menolak?"


Sekali lagi Nathan terkejut. Rasanya menyesal kini, padahal ... ah, "Aku mana tau kalau teman kamu itu, Zahra."


Loudy berdiri, menepuk bahu sang kakak, "Rebut lah, sebelum janur kuning melengkung." Sungguh, anak dan ibu sangat kompak dalam mengusik kebahagiaan sang kakak.


Nathan berfikir, hm ... dia selalu mendapat apa yang dia inginkan, dia tidak suka ditolak, dan Tita ... sudah dua kali menolaknya. Di saat sedang berfikir itu ponselnya masuk pesan dari Rega : Mike, 25 tahun, Arsitektur, baru bergabung dengan Mirae Contruction. Seperti yang ada di dalam kepalamu, dia memang ada hati dengan Zahra.


Nathan tidak pernah merasakan tidak percaya diri seperti ini, bahkan dengan rekan bisnisnya selalu dia yang disegani. Tapi kali ini, bahkan mami dan adiknya tidak ada yang memberikan kemudahan jalan untuknya. Ah, baiklah sebaiknya aku tidur dulu ... besok aku akan menyusun strategi baru.


***


Tita sedang menata meja makan membantu sang ibu. Dia memang selalu melakukan itu ketika sedang menginap. "Tita, sarapan disini ya." sang nyonya mami mengajaknya. Sebenarnya, sang nyonya mami sangat senang mendengar pengakuan anaknya tadi malam, dia juga berharap bisa mempunyai menantu seperti Tita. Dia ingin anak lelakinya itu move on. Nathan masuk ke ruang makan bersama sang adik, melihat ada Tita disana muncul niat isengnya untuk menggoda sang kakak, "Ta, nanti Mike ke apartemen gak?"


"Gak tau, memang kenapa?" Nathan mendengarkan dengan seksama ocehan sang adik.


"Aku mau main ke apartemen kamu, tapi gak enak ah, kalo ada Mike. Takut ganggu,"


Tita agak bingung mencerna kata-kata Loudy, menganggu apa sih? siapa yang diganggu? biasanya bahkan mereka datang bersama?


Nathan sedang memakan sarapannya sambil menahan rasa kesalnya. Ketika bi Amel menuangkan segelas air putih untuknya, sang tuan memegang tangannya, "Bi, duduk disini saya ingin bicara,"


Bi Amel yang terkejut hanya bisa patuh dengan perintah sang tuan muda, dia duduk di kursi makan sebelah sang tuan, Tita sedang minum segelas susunya di kursi sebelah Loudy, "Ada apa, tuan?"


"Aku ingin kau merestui ku, Minggu depan aku ingin menikahi anakmu, Zahra!"


Bagaikan ada petir di sekeliling meja makan itu yang membuat semua orang disana kaget dengan pernyataan sang tuan muda, terlebih Tita si obyek, bahkan dia menyemburkan susu yang sedang di minumnya ke arah Loudy, "Aaaah ... Tita!!" Loudy.


"Aaaah ... sorry, sorry, sorry Lou," Tita panik, langsung mengelap wajah sang nona dengan tissue di depannya.


Nathan tidak menggubris sang adik, dia fokus ke calon ibu mertuanya, "Bagaimana bi? Bibi tau kan aku tidak suka ditolak?"


Sang mami yang tidak pernah mengira anaknya akan melakukan hal se ekstrim ini, tidak bisa berkata apa-apa. Bi Amel memandang ke arah sang anak yang juga sedang bingung harus menjawab apa, "Kalau bibi terserah Tita saja, tuan, karena dia yang menjalankan." jawaban bijak dari seorang ibu.


Jawaban itu dianggap sebagai angin segar oleh Nathan, karena bi Amel tidak menolak dan tidak juga tidak setuju. Nathan berdiri ketika di lihatnya Brian muncul, "Zahra, persiapkan dirimu. Minggu depan kita menikah." Setelah menggemparkan suasana ruang makan, Nathan berlalu diikuti sang sekretaris.


Tita, yang baru mengalami hal ini langsung menangis di kursinya, "hiks ...hiks ... ibu, aku harus gimana?" Loudy dan nyonya mami jadi gak tega melihat Tita seperti itu, mereka memang ada niat untuk menjodohkan Nathan dengan Tita, tapi tidak begini caranya. Sampai membuat anak gadis orang menangis.


Sang nyonya, Loudy, Bu Amel dan Tita sedang duduk di ruang tengah. Tita berada dalam pelukan sang ibu, Loudy mengusap-usap punggung sahabatnya. "Ta, udah dong ... jangan nangis lagi, aku jadi makin berasa bersalah nih. Kak Nathan emang gak ada manis-manisnya deh, mau ngelamar kok kayak ngajak perang. Kemana lagi dia pergi sekarang,"


"Jadi, bagaimana, Ta? Apa jawaban kamu?" sang nyonya mencoba meluruskan niat sang anak.


"Tita gak tau nyonya mami, bahkan aku gak tau kenapa tuan Petra mau menikahi Tita secepat ini," sambil sesenggukan, dia menjawab. "Tita bingung, Bu," menangis lagi, mengeratkan pelukannya ke tubuh sang ibu.


"Maaf, nyonya. Biar saya bicara berdua dulu dengan Tita. Pasti dia masih syok."


"Iya, Amel. Ajak Tita ke kamarmu dulu."


Setelah kepergian Tita dan sang ibu, "Mi, kak Nathan tuh gimana sih. Mau ngajak nikah apa ngajak ribut, aneh banget."


Ketik ada salah satu pembantunya yang lewat, sang nyonya bertanya, "Kamu lihat Nathan?"


"Tuan muda ada di ruang kerjanya nyonya,"


"Terima kasih ya," Sang mami menyeret Loudy ke ruang kerja sang anak sulung. Tok .. tok ... setelah pintu itu terbuka, mereka masuk, Nathan sedang mengecek beberapa berkas yang tadi di bawa Brian. "Kenapa, mi?" tanyanya.


"Jelaskan sekarang, apa yang kamu rencanakan. Setelah membuat anak gadis orang menangis, kenapa kamu kabur tanpa menjelaskan apa-apa."


"Jelasin apa lagi? Tadi kan aku sudah menjelaskan, aku ingin menikahi dia Minggu depan."


"Tapi gak begitu dong caranya sayang ... kamu bisa bilang sama mami sebelumnya, mami akan sampaikan niat baik kamu ke Amel dengan cara yang benar."


"Kelamaan mi, nanti keburu janur kuning melengkung,"


"Apa sih maksud kamu?"


Loudy menunduk, aduh! dia salah ngomong semalam. Tapi, kakaknya memang kelewatan ... bukan salahnya kalau sang kakak melakukan hal bodoh seperti itu tadi.


"Udah mi, mami bantu aku aja pilihkan gaun untuk Zahra dan acaranya mau seperti apa. Nanti urusan gedung biar Brian yang lakukan."


" Iya, iya ... pasti, urusan itu kamu tenang saja. Tapi sayang, sebaiknya kamu bicarakan berdua dengan Tita. Dia syok banget tadi,"


"Iya, kak. Tita itu juga berhak tahu kenapa kamu mau menikah dengannya. Kalian juga baru ketemu, ngobrol juga pasti jarang selain kerjaan. Kasian teman aku itu, kak!"


"Iya, iya, nanti aku ajak dia bicara."


Sementara di kamar bi Amel, Tita masih belum bisa menghentikan tangisnya. Rasanya kepala terasa berat. "Ibu. Aku takut ..."