
"Pagi Zahra," sapa Arum.
"Hai ... sarapan yuk, aku lapar nih."
"Kamu datang jam berapa tadi?
"Jam 6,"
"Hah ...pagi banget, non. Kamu pegang kunci pintu lobi?" Ha ha ha.
"Lagi pengen aja jalan pagi-pagi, jadi mau sarapan gak?"
"Ya udah ...yuks." Mereka turun bersama menuju kantin. Tita terpaksa jalan pagi-pagi, bukan karena sok rajin. Tapi untuk menghindari laki-laki arogan itu. Hanya karena dia mendapatkan sebuah pesan masuk di ponselnya, "Aku akan antar kamu bekerja". Satu kalimat dan itu membuat Tita malas, pasalnya siapa juga yang mau berangkat bareng dia? apa kata orang-orang kantor kalau aku turun dari mobilnya? Aku gak mau mendengar gosip-gosip yang gak enak ditempat kerjaku. Itulah sebabnya, pagi itu dia buru-buru mandi, buru-buru berangkat agar tidak bertemu dengan sang tuan muda.
"Zahra," Arga menghampiri Tita dan Arum.
"Hai ... sarapan, Ga."
"Udah tadi ... kamu cantik banget hari ini, Ra,"
"Modus kamu, Ga." Arum menyahut. Tita hanya tertawa. "Gak apa-apa kan, Ra? Namanya juga usaha, ya kan?" ha ha ha. Tita menoleh ke arah Arga. Dia lagi merayu aku? pikirnya.
****
"Tuan, kita dapat email dari Hamburg. Terkait pembangunan Petra Palace, sepertinya anda harus melakukan perjalanan kesana, Tuan."
"Apa tidak bisa ditunda? Aku kan akan menikah?" Brian hanya terdiam tidak menanggapi, karena jawabannya pasti akan membuat sang tuan kesal. "Mam, bagaimana pernikahan ku?" akhirnya sang tuan muda menghubungi sang mami. Nathan juga tahu, proyeknya di Hamburg sangat penting bagi perusahaannya, keberangkatannya juga sudah di planning sejak jauh-jauh hari. Namun, karena pertemuan tak terduga dengan gadis mungil menggemaskan yang telah mengalihkan dunianya, sesaat dia lupa ada perjalanan ini.
"Sayang, nanti kamu pulang jemput Tita, ya. Kita bicarakan dirumah saja."
"Oke, mam." klik. "Apa nanti aku ada jadwal lain?"
"Tidak, Tuan."
"Oke, nanti kita ke Petra." Brian mengangguk dan undur diri.
Sementara itu di Petra Corporate, mereka sedang menyambut karyawan baru, Mike, biasa dipanggil 'Mickey' hanya oleh Tita. Mike resmi bergabung dengan Petra Corporate per hari ini, dia satu bidang dengan Tita, tentu hal ini sangat membahagiakan bagi Mike dan Tita. Arga yang memang memperhatikan keakraban diantara Mike dan Tita pun jadi penasaran, "Zahra, kamu sepertinya dekat banget ya sama Mike?"
"Oh, dia teman kuliahku. Kenapa?"
"Oh, kirain teman dekat kamu ..." Arga sedikit lega.
"Ra, kamu emang gak tau, kalo Arga suka sama kamu?"
"Ah, gak. Kata siapa?"
"Bukan kata siapa, Ra. Tapi keliatan banget dari sikapnya ke kamu." Hah, Tita memang tidak pernah memperhatikan ada yang berbeda dari perlakuan Arga padanya. Tapi ketika Arum mengatakan hal itu, bisa dibilang Tita jadi memperhatikannya. Seperti sore ini ketika pulang, dia baru sadar ternyata Arga memang selalu berusaha untuk dekat dengannya. Namun, kali ini karena ada Mike, wajah Arga langsung bete sekalipun dia tahu Mike adalah teman kuliah Tita. "Ra, aku antar pulang ya?" kata Arga. "Oh, aku bareng Mickey ... kamu mau bareng kita juga?"
Ah. Ya gak mungkin lah aku mau jalan bertiga, pikir Arga. "Oh ... memangnya kalian searah?" Tita mengangguk. "Oke deh, aku duluan aja ya, Ra. Sampai besok." Tita pun mengangguk.
"Duluan, dia pergi duluan,"
Di lobi, "Tuan, apa tidak sebaiknya kita naik saja?" Brian.
"Tidak usah, kita disini saja. Kalau dia keluar aku bisa melihatnya." Berdasarkan perintah sang Mami, Nathan datang untuk menjemput Tita. Dia memilih untuk menunggunya di mobil saja sambil mengamati. "Tuan, itu nona," tunjuk Brian kearah lobi. Saat itu tampak Tita keluar bersama teman-temannya, namun tiba-tiba Arga menghampiri dan menggenggam tangan Tita, menggiringnya ke sisi kiri dan terlihat mereka membicarakan sesuatu. Nathan terusik melihat pemandangan itu, dadanya nyeri, walaupun dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. "Brian, bawa Tita kemari."
"Baik, Tuan." Brian keluar, menghampiri dua orang yang tengah berbicara. Dia melihat wajah Tita yang agak terkejut dan langsung gugup ketika Brian memanggilnya, "Nona," terlihat jelas sikap Tita tidak biasa.
"Aku akan menelpon mu nanti, kamu bisa menjawabnya nanti. Bye." Arga pergi setelah melihat kedatangan Brian.
"Ah, tuan Brian. Ada apa?"
"Saya menjemput anda, Nyonya ingin bertemu." tegas Brian. Setelah pamit dengan Mike dan Arum, Tita menuju mobil Nathan. Tita tidak berpikir Nathan ikut, karena tadi dia tidak melihatnya. Tapi ternyata, "Oh, selamat sore, tuan Petra?" dan hanya dijawab dengan anggukan. Hah, kenapa ada dia sih! "Permisi ya, Tuan." Tita mengambil tempat dan duduk di sebelah Nathan, tapi tetap berjarak.
Mobil sudah melewati pelataran, namun dua insan dibelakang itu masih dalam kesunyian, hingga, "Kenapa tadi pagi kamu tidak menunggu ku?"
"Oh, ah, itu ... saya baru lihat pesan anda begitu sudah dijalan," Tita menunduk.
"Bukan karena kamu ingin menghindar dariku?" Jleb! kok pas banget sih tebakannya, tapi ... "ah, gak kok, tuan. Mungkin memang karena kebetulan saja."
"Lalu, apa yang dibicarakan laki-laki tadi?" Nathan penasaran, kini dia tengah membetulkan posisi duduknya agar dapat melihat lekat gadis disebelahnya.
"Hah," Tita menimbang-nimbang, haruskah aku beritahu yang sebenarnya?
Dan sialnya, gelagatnya dibaca dengan jelas oleh Nathan, "Awas ya, kalau sampai aku tahu kau berbohong, aku bisa dengan mudah menghancurkan semua kebahagiaan kamu."
Glek! Tita menelan liurnya susah payah. Gila.. laki-laki ini kenapa seram sekali sih ... "Dia, teman kantorku. Tadi dia memintaku untuk jadi kekasihnya," dengan hati-hati Tita menyampaikan kepada manusia dihadapannya ini.
"Hah! Kekasih? kamu akan menikah denganku, jadi hilangkan angan-angan menjalin kasih dengan pria manapun selain aku! Kamu mengerti!" Nathan menunjuk-nunjuk kening Tita. Dan yang ditunjuk hanya memejamkan matanya. Aduh! serem banget sih ini orang.
"Kamu dengar aku gak!"
"I...iya..iya, saya dengar. Saya kan juga belum menerimanya, tuan."
"Oh! Jadi kamu berniat menerimanya?" makin geram Nathan.
"Gak.. gak kok, aku ..." berfikir Tita ... "Aku menolaknya." Hah... kata itu keluar begitu saja, jadi bohong kan aku. Hah... ini orang termasuk spesies apa sih, galak banget.
"Dengar ya, bukan karena aku yang mengajak kamu menikah lalu kamu bisa seenaknya menjalin kasih dengan laki-laki lain dibelakang aku. Aku akan tahu sekalipun kamu berbohong." sang tuan muda marah dan cemburu.
"Kita sudah sampai, tuan." Brian, yang menjadi pendengar setia kemarahan sang tuan, dan rasa tertekan sang nona, tidak dapat ikut campur. Brian membukakan pintu untuk sang tuan, karena kesal Nathan meninggalkan Tita dibelakang.
"Tuan mu itu kenapa sih? lagi PMS ya?" tanya Tita ke Brian, dan dijawab dengan, "Sabar nona," Tita menyusul Nathan masuk ke dalam, dan langsung mendapatkan pelukan dari Loudy, "Titaaaa ... kangen," He he he... "Yang sudah-sudah kalau kamu bilang kangen, artinya mau ajak aku hangout, ya kan?" Ha ha ha.. tepat.
Tita menyalami sang Ibu, kemudian menyalami nyonya mami. "Baiklah, karena kita sudah berkumpul, mami akan menyampaikan sesuatu ..." Ketika mereka diruang tengah sedang rapat keluarga, dari arah depan masuk seorang laki-laki tinggi, tegap dan sedikit kurus, "Tita, sayang!" panggilan itu tentu membuat mereka yang ada di sofa menoleh ke asal suara.