
"Zahra," Arga mendekatinya.
"Hai, Arga ..." Tita kembali menyapanya.
"Pantry yuk." tanpa menunggu jawaban Tita Arga menarik tangan Tita menuju pantry.
"Ga, ada apa sih ... pake tarik-tarik segala." Tita berusaha melepaskan tangannya, dia merasa tidak nyaman karena teman-teman kantornya sudah mengetahui bahwa dia adalah wanita yang sudah menikah.
"Aku tidak menyangka kalau kamu ternyata sudah menikah." to the point aja deh, pikir Arga. "Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau sudah menikah?!" ada gemuruh di dada Arga ketika mengatakan hal itu. Gadis yang di cintainya ternyata sudah dimiliki laki-laki lain.
"Kamu tuh ada-ada aja deh. Aku kan bukan artis ... jadi, buat apa aku bikin pengumuman kalau aku sudah menikah padahal tidak ada yang bertanya???" Tita menuangkan teh untuk dirinya.
"Iya, aku tahu. Tapi ..." Arga mengusap tengkuknya. "Tapi masa kamu tidak tahu kalau aku menaruh hati padamu selama ini?"
"Aku tidak tahu. Maafkan aku ya ... kamu juga tidak pernah bilang apa-apa, kan?" Tita jadi merasa tidak enak dengan Arga.
"Tidak ... tidak ... Tita, jangan merasa tidak enak seperti itu. Bukan salah kamu, aku hanya ... huft, sepertinya aku patah hati."
Speechless ... Tita tidak tahu harus bagaimana merespon laki-laki yang sedang patah hati karenanya. Untungnya Arum datang, memecah keheningan.
"Haaaiiiiii .... nyonya Petra." dengan gaya centilnya dia menyapa. "Kalian kenapa?" Ha ha ha ... "Ra, si Arga patah hati ya, ha ha ha."
Aiiish ... lemes nyaaaa. Arga.
Tita makin tidak tahu harus menanggapi seperti apa, jadi dia hanya tertawa dengan terpaksa saja.
"Ta, udah beres belum?" Mickey sudah bertengger di mejanya.
"Kenapa?" Seharian ini Tita dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang pada dasarnya dia malas menjawabnya. Inti dari pertanyaan mereka adalah, kok bisa kamu menikah dengan tuan muda Nathan? Karena siapapun tahu seperti apa tuan muda Nathan itu. Hmm ... mungkin hanya Tita yang memang tidak tahu sama sekali seperti apa Nathan sebelum menikah dengannya. Tapi di sisi lain, Tita jadi tahu bahwa suaminya itu digilai banyak wanita. Pesonanya tidak hilang meski hanya di lihat dari majalah bisnis yang ada di kantornya. Huh ... jadi dia seterkenal itu?
"Pulang bareng aku ya, Loudy ajak ketemuan."
Mendengar ajakan Mickey, cerah langsung wajahnya, "Memang mau kemana?" kini dia antusias.
"Kedai Itali." Mickey tertawa memandang wajah sahabatnya yang berbinar-binar. Yaa ... apa sih yang tidak dia ketahui tentang Tita. Walaupun gadis manis ini memiliki tubuh yang mungil tapi dia sangat suka pasta terlebih lagi lasagna. Kadang baginya satu porsi itu kurang. Ha ha ha.
Maka dengan secepat mungkin dia merapikan mejanya. "Yuk, jalan sekarang ...."
"Let's eat." Setelah berpamitan dengan teman-temannya kedua sahabat itu menuju parkiran.
"Woaaah ... kamu punya mobil?" Tita takjub, bahkan dia belum bisa kebeli mobil.
"Kredit, Ta." Mickey merendah.
"Hebat kamu, aku bahkan tidak berpikir membeli kendaraan apapun."
Mickey melihat Tita heran, tapi itu lah Tita yang dia kenal ... Tita tidak pernah memanfaatkan siapapun untuk kesenangannya. Walaupun dengan statusnya kini, Tita bahkan bisa membeli kantor tempatnya bekerja sekarang.
"Oh, mati aku ..." panik.
"Kenapa?"
"Aku lupa memberitahu Nathan." Mickey berinisiatif mematikan radio yang sedang menyala karena Tita menelpon suaminya.
"Halo, Kak Brian. Tolong sampaikan pada Nathan aku pulang bersama Mickey dan akan bertemu Loudy ya ... Iya, baik ... terima kasih kak."
"Ponsel suamimu dipegang tuan Brian?" tanya Mickey.
Tita berfikir, "Iya, lebih sering seperti itu. Sudahlah tidak usah dipikirkan, yang penting kan aku sudah ijin."
"Baiklah, nyonya." Plak! "Aish ... sakit, Ta."
"Menyetir saja yang benar!"
"Tuan, nona Tita menghubungi anda tadi siang." lapor Brian.
"Oh ya? Apa katanya?" Nathan itu memang tidak pernah bisa menyembunyikan kebahagiaannya walau sekecil apapun. Dan yang bisa membuatnya sesenang itu pun ... mungkin dilihat orang hanya karena hal yang sepele, seperti mendapat telpon dari sang istri. He he he.
"Nona pulang bersama Mike, kemudian mereka akan pergi bersama nona Loudy."
"Ya, biarkan saja mereka." masih tercetak jelas rona bahagia di wajahnya. "Aku akan membiarkannya bersenang-senang kali ini... Bukankah aku sudah menjadi suami yang pengertian?" katanya malu-malu.
"Iya tuan." Brian merapikan laporan terakhir yang telah di revisi Nathan, kemudian melanjutkan laporannya. "Menurut laporan anak buahku, tadi nona ke kedai Italia dan saat ini sedang berada di club' 8, tuan."
"Hah! Apa?? Kenapa bisa di club'?!" hahaha ... padahal belum ada satu menit dia berucap bahwa akan menjadi suami yang pengertian dan sekarang sudah naik pitam.
"Mereka baru tiba tuan."
"Oh my God. Sepertinya memang aku tidak boleh memberikan kebebasan sedikitpun." Nathan buru-buru berdiri dan keluar ruangan. "Ayo, kita jemput kucing nakal ku!"
Hah?!! Ha ha ha ... istilah macam apa itu. Brian menertawakan kelakuan sang tuan muda. Cepat sekali berubah suasana hatinya jika berkaitan dengan nona Tita dan apa tadi katanya? kucing nakal?? Ha ha ha. Huft ... untung saja aku langsung melapor tadi, kalau tidak bisa aku yang akan jadi bulan-bulanan. Pikir Brian.
"Hei, Brian ... bisa tidak lebih cepat mobil ini bergerak??"
"Bisa tuan, kalau ditarik kereta." jawabnya asal.
Duk!! Nathan menendang kursi yang diduduki Brian. "Kamu meledek aku?!"
"Mana mungkin, tuan. Aku kan hanya menjawab pertanyaan anda."
"Berani kamu ya, berkilah seperti itu? Mau aku suruh lembur agar kamu tidak bisa berkencan dengan kekasihmu itu?"
"Glek! tidak, tuan." kemudian mobil pun langsung melaju sedikit lebih cepat. "Tuan, Rega menghubungi." Brian menyerahkan ponsel Nathan.
"Nathan, kamu dimana?"
"Di jalan, kenapa?" masih kesal dia, seharusnya tadi pakai mobil sport saja.
"Aku melihat istrimu di bawah, ada Loudy juga dan sepertinya dia akan bernyanyi disana."
Makin terbakar cemburu lah sang tuan muda setelah mendengar kata-kata Rega. Terbayang olehnya bahwa istri cantiknya akan bernyanyi untuk semua orang yang ada disana, pasti ada laki-laki juga disana kan? pasti mereka akan mengagumi istrinya kan? "Jangan biarkan istriku bernyanyi atau aku tutup club' itu!!" klik. Nathan menutup sambungan itu sepihak. "Cepat Brian!"
Kalau Nathan sudah seperti itu, Brian sudah pasti tidak lagi berani menggodanya. Maka jalan satu-satunya hanyalah mempercepat laju mobil ini. Aih .. kenapa tidak pakai mobil sport saja tadi.
Ha ha ha ... bahkan sang sekretaris dan tuan mudanya memiliki pemikiran yang sama.
"Tita duet yuk... udah lama gak duet kita." Ajak Mickey.
Tita melihat ke arah Loudy. Yaa ... walaupun mereka belum pernah mengatakannya secara gamblang, tapi Tita tahu kalau mereka sama-sama punya rasa. Dan ketika melihat Loudy tersenyum maka Tita mengiyakan ajakan Mickey. Dan disinilah mereka berada kini, di hadapan pengunjung yang tengah asik menikmati waktu mereka.
"Mau nyanyi apa?" tanya Tita.
"Way back into love?" tawar Mickey.
"Cool!" Tita menyetujuinya. Mereka melakukan beberapa persiapan.
"Cek, halo ... good evening everyone, saya dan teman saya yang cantik ini akan menyanyikan sebuah lagu untuk anda sekalian, dan semoga anda terhibur."
Hampir semua mata yang ada di club' itu memperhatikan kedua orang itu, tak terkecuali Rega dan Thomas yang tidak menyangka bahwa kali ini Tita tidak hanya akan bernyanyi sendirian.
"Wah ... gawat." Rega memukul-mukul punggung Thomas.
"Gawat kenapa? Suara Tita kan bagus, kau pun tau itu. Tenang saja." ckckck ... Thomas yang tidak tahu apa-apa.
Rega menatap kasihan si pemilik club' ini. Habislah kau Thomas ... Tadi Nathan bilang akan menutup club' ini jika aku membiarkan istrinya bernyanyi. Dan entah apa yang akan dia lakukan jika melihat istrinya bahkan berduet dengan laki-laki lain.