Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 98



Nathan, dimana pun dia berada memang


selalu mencolok dan mencuri perhatian siapa saja. Begitu pula kali ini, ketika


dia menggandeng Tita-nya memasuki pusat perbelanjaan di karenakan letak bioskop


yang akan mereka tuju ada di lantai tiga pusat perbelanjaan itu. Tita bukannya


tidak menyadari bahwa mata kebanyakan pengunjung disana mengarah pada suaminya,


hanya saja dia enggan untuk mengomentari bahkan membahasnya. Tapi entah mengapa


yang terjadi malah sebaliknya, yang pada awal masuk mereka hanya bergandengan


tangan ... tapi kenapa sekarang Nathan melepas genggaman tangannya, dan


digantikan dengan rangkulan di pinggang Tita.


“Jangan seperti ini, aku malu ...” protes


Tita.


“Sudah diam saja, aku tidak suka


kamu jadi pusat perhatian ... huh, kenapa Brian malah membawa kita kesini sih?!”


Lho, lho ... haloooow, yang jadi


pusat perhatian itu bukan aku tapi kamu. Tita membulatkan sebulat-bulat matanya


dengan keanehan perilaku suaminya ini. Lagipula yang kebanyakan melihat itu kan


wanita, yaa kali mereka melihat padaku.


“Tuan, kita naik lift ini.” Kata Brian.


Ketika di dalam lift, barulah Nathan


mengungkapkan kekesalannya, “Lain kali tidak usah ke tempat ramai seperti ini,


aku tidak suka Tita-ku dilihat banyak orang begitu.”


Uhuk.. Aaaa .... kenapa dia seperti


itu sih, aku kan malu. Tita.


Waaah ... tuan muda ternyata


orangnya romantic seperti ini ya. Ana.


“Apa perlu saya mem-booking satu


studio, tuan?” woaah ... sang sekretaris yang sangat tau keinginan sang


tuannya.


“Tidak perlu, kak.” Tita menyela,


kemudian dia melihat ke arah Nathan, “Kalau kamu lakukan itu, aku pulang dan


tidak mau menegurmua.” Ah, Tita bisa mengancam juga rupanya.


“Tapi, sayang ...”


“Aku tidak mau bicara denganmu ...”


“Oke, oke, baik ...” Nathan malah


memeluk Tita, “Jangan mendiamkan aku begitu, kamu tau aku tidak bisa kalau kamu


marah padaku.” Merajuk.


Ana, yang baru kali ini melihat


langsung interaksi kedua insan itu pun sudah beberapa kali di buat


terkaget-kaget dengan sikap sang tuan muda yang selama ini selalu tampak tegas,


dingin dan tidak pernah mentolelir kesalahan. Tapi, apa ini?? Apakah sang tuan


mudanya ini memiliki dua kepribadian?


“Jangan menatap mereka seperti itu,


aku bisa cemburu.” Bisik Brian yang ternyata juga memperhatikan sang kekasih


yang sejak tadi senyum-senyum sendiri di pojokan lift.


Brian bertugas membeli tiket, jadi


dia sekarang sedang mengantri untuk membeli tiket empat orang. Ya, hanya empat


orang. Nathan tidak mau Tita marah dan tidak menegurnya, maka dia mengalah. Hanya


Tita yang bisa membuatnya mengalah.


“Sayang,” Tita mengampit lengan


Nathan, acting manja, hehe.


Walau hanya seperti itu, tetap saja


membuat wajah Nathan merona. “Kenapa sayang?” jawabnya tidak kalah lembut.


“Aku mau caramel popcorn dan burger.”


“Iya, nanti biar Brian yang belikan.”


“Ish, suamiku itu kamu atau kak


Brian?!”


“Aku, tentu saja aku. Tunggu ya, aku


“Baik, tuan.”


Sepeninggal Nathan, Tita langsung mengajak


Ana mengobrol. Sudah sejak tadi dia ingin mengobrol dengan Ana, penasaran dia


hehe. “Kak Ana, sudah berapa lama kenal dengan kak Brian?”


“Ah, nona tolong panggil Ana saja. Saya


kenal dengan Brian sudah lama, tapi kalau nona penasaran dengan hubungan kami


... kita mulai berhubungan itu awal tahun lalu.” Jawabnya.


“Oh, kalian teman sekolah?”


“Bukan, nona. Saya bekerja di Petra


Coorporate di bagian keamanan ring 2.”


“Oh, kamu karyawan di sana juga? Ah,


romantic juga ya ... jatuh cinta karena terbiasa, begitu?”


“Ha ha ha, tidak seperti itu, nona.


Tidak seindah novel-novel drama.” Nona Tita begitu polos ternyata, beruntung


sekali tuan muda.


"Sayang ..." Nathan kembali dengan senyum mengembang, kedua tangannya penuh dengan caramel popcorn dan salty popcorn, sementara Brian membawa minuman dan hotdog.


"Terima kasih ya ..." Tita mengambil salty popcorn dan memberikannya kepada Ana. Menggandeng tangan Nathan yang bebas untuk masuk ke dalam bioskop. Ah, mudah sekali membuat laki-laki ini bahagia ... lihat saja, sekarang dia yang menggenggam erat tangan ku.


"Kenapa kursinya seperti ini?" Nathan menggerutu.


"Apakah anda tidak nyaman, tuan? Mau ganti tempat duduk?" Brian langsung merasa bersalah. Apapun yang membuat Nathan tidak nyaman, dia pasti akan berfikir kinerjanya tidak baik.


"Kalau kursinya seperti ini, bagaimana aku memeluk Tita-ku?"


Blush! oh, Nathan ... kenapa mengatakan hal itu, aku malu. Tita.


Ya ampun, jika aku tidak melihat dan mendengar langsung aku tidak akan pernah percaya bahwa tuan muda memiliki sisi seperti ini. Ana.


Aduh, tuan ... kenapa anda seperti ini, saya yang akan susah ... lihatlah bahkan kekasih saya ikut tersenyum melihat tingkah anda. Brian.


"Maaf, tuan. Di bioskop ini hanya tersedia kursi seperti ini." jawab Brian pada akhirnya.


"Sudah tidak apa-apa, kita kan bisa bergandengan ..."


"Aku akan memangku kamu, kemarilah."


"Jangan aneh-aneh, ini tempat umum."


"Sayaaaang ..."


"No!"


"Please ... baby, let me ..." berbisik.


"We just holding on!" ikut berbisik.


Kalah, pada akhirnya Nathan mengalah, dia duduk dan hanya memegang tangan Tita dan sesekali oh seringkali mencium tangan yang dia genggam itu, hehe.


"Apakah tuan muda memang seperti itu?" tanya Ana sambil berbisik kepada Brian.


"Simpan itu untuk dirimu sendiri." Ana mengangguk. "Dan ... jangan terus memperhatikan mereka, aku bisa cemburu."


Ana tersenyum mendengar kata-kata Brian, Cup. Dia mencium pipi sang kekasih.


Ah, what a double date.


*Mansion Petra*


"Nathan memberi tahu aku bahwa dia akan membawa Tita pergi berbulan madu." sang nyonya mami terlihat sedang mengobrol dengan besannya.


"Kemana mereka akan pergi?"


"Aku juga belum tau."


"Mereka sudah menikah, dan tuan muda sangat bertanggung jawab atas Tita. Jadi saya rasa tidak masalah mereka berpergian, jangan khawatir."


"Aku harap kita segera menimang cucu,"


"Iya, aku juga berharap seperti itu."


Obrolan mereka terhenti karena seorang pelayan yang berlari menghampiri. "Maafkan saya nyonya, di depan tuan muda ..."


Ke dua orang tua itu bergegas ke depan.


"Nathan, ada apa?!" teriak sang mami.


Nathan bercucuran keringat, wajah tampannya tercetak ketakutan yang nyata. Dia menggendong Tita bergegas ke kamar.


"Saya sudah menghubungi tuan Alex, nyonya." jelas Brian.


"Ada apa dengan Tita!" ibu Tita ikut panik melihat sang menantu yang membopong anaknya dengan wajah ketakutan seperti itu.


Belum sempat Brian menjawab, teriakan Nathan menggema dari kamar atas. "Sayang!! Brian, Brian!!"


Sontak mereka yang berada di bawah berlari ke arah sumber suara. Brian Shock dengan apa yang di lihatnya, Mami dan Ibu yang sebelumnya tidak tau apa-apa ikut menjadi khawatir. Tita meringkuk di tempat tidurnya, Nathan menangis dan bingung melihat kondisi istrinya.


"Sayang, sayang jangan seperti ini ... sayang ... bertahanlah Axel sedang kemari." Dia menggenggam tangan Tita yang berangsur dingin. "Jangan tinggalkan aku sayang ... jangan tinggalkan aku ..." Nathan tidak dapat menahan tangisnya, membuat semua yang ada disana ingin mendekat.


"Nath ..." Tita berbisik lirih.


"Jangan ... jangan katakan apapun, jangan buang energinmu, tunggulah sebentar."


Tita memegangi perutnya, peluhnya bercucuran. "I ... ibu,"