
"Apa ada keluhan, Tita?" Axel membuka percakapan.
"Tidak ada, dok."
"Tidak usah tegang begitu, santai saja." Axel mencoba membangun komunikasi yang baik dengan calon pasiennya. "Baru pertama kali kesini ya?"
"Tentu saja ... tidak usah bertanya pertanyaan seperti itu, to the point saja!" kali ini Nathan yang menjawab, karena dia tidak sabar.
"Hei ... aku harus membangun komunikasi yang baik dulu dengan pasienku agar ketika pemeriksaan nanti pasien ku bisa nyaman. Kamu diam saja sih. Aku dokter disini." Axel tidak mau kalah.
"Aku pemilik rumah sakit ini kalau kamu lupa."
"Ha ha ha ... mana mungkin aku lupa kalau kamu adalah pemiliknya. Tolong maafkan kelancangan saya, tuan. Dan ijinkan saya memeriksa istri anda tercinta." menjilat saja daripada dia keburu memanggil sekretarisnya itu. Maka Axel mulai lagi menjelaskan tentang beberapa pemeriksaan dan kegunaannya pada Tita.
"Jadi, kapan terakhir kali Anda menstruasi?" inilah pertanyaan yang di tunggu-tunggu Nathan dan yang membuat nyali Tita makin menciut.
"Aku, tidak ingat, dok." Tita menunduk. terlihat sekali dia makin gelisah dan hanya Axel yang menyadari kegelisahan Tita.
"Baik, kalau begitu ... ayo kita lakukan pemeriksaan dalam." Axel mengatakannya sambil tersenyum. "Oke, Tita kita akan periksa trans-v, ya? Suster, tolong bantu nyonya ini bersiap."
Tita berjalan ke dekat brankar untuk pemeriksaan ... Ketika dilihatnya sang istri hendak membuka celananya, Nathan langsung panik, "Hei! apa yang akan kamu lakukan?! periksa dalam apa!!" tangannya sudah mencekal lengan Axel. Suasana langsung menegang. Axel tidak kalah panik melihat perubahan sikap Nathan itu. Haduh, kenapa tadi Brian tidak ikut masuk untuk menjinakkan tuannya ini???
Tita yang melihat sang tuan suami seperti itu langsung menghampiri, "Nathan, sudah lepaskan."
"Aku hanya ingin memeriksa istrimu, Than."
"Apa harus seperti itu?!" merasa tidak terima."
"Pemeriksaan menggunakan trans-v, Bagaimana alatnya bisa masuk kalau celananya tidak di buka Nathaaaan?!" kesal juga Axel dengan kelakuan sahabatnya ini.
Nathan sedang mencerna, tentang alat itu dan cara kerjanya ... kemudian, "Ganti!!"
Axel makin bingung ... bukannya setelah dijelaskan dia harusnya paham kan?? "Ganti apa??"
"Ganti dokter, aku tidak mau kamu yang melakukan itu pada istriku." Nathan menggenggam tangan sang istri dengan kencang. "Aku mau dokter wanita!"
"Tidak bisa begitu, than." Axel kebingungan, dokter wanita siapa? dokter-dokter disini sudah punya jadwal masing-masing.
"Brian!!" Nathan memanggil sang sekretaris.
"Iya, tuan?" Brian yang memang menunggu di pintu langsung masuk ketika namanya dipanggil.
"Cari dokter wanita untuk memeriksa istriku."
"Aku carikan, sudah ... sudah ... kamu tenang saja di sini, oke." Nathan mengangguk. Huft ... siapa juga yang berani mengatakan tidak padanya. Axel menggerutu.
Tita sedang dalam pemeriksaan, Nathan sengaja dibawa keluar oleh Axel yang memang sudah mencurigai bahwa Tita mengkonsumsi pil kontrasepsi, dia sudah mengatakan kecurigaannya pada dokter Ririn yang ditugaskan memeriksa Tita. Axel ingin dokter Ririn bisa mengajak Tita berbicara tentang alasan dia menggunakan pil kontrasepsi itu, karena dia yakin seratus persen bahwa Nathan tidak mengetahui hal ini.
"Nyonya, sudah lama mengkonsumsi pil kontrasepsi?" tanya dokter Ririn seolah belum mengetahui apapun.
"Hm ... belum, dok." Jawab Tita singkat.
Sang dokter berusaha untuk bisa lebih dekat dengan pasiennya, dengan membuat Tita merasa nyaman. "Jadi, sekarang nyonya ingin mulai program kehamilan?"
"Apakah, saya baik-baik saja dok? Maksud saya, apakah pil itu akan mempengaruhi kehamilan?"
"Pil kontrasepsi yang anda minum mempengaruhi hormon anda, itu sudah pasti. Tapi jika anda dan suami ingin memulai program kehamilan, kita bisa melakukan treatment."
Ah, firasatku mengatakan pasti Nathan sudah tahu. Itulah yang dirasakan Tita, ketika sang tuan suami dipaksa untuk keluar ruangan oleh temannya itu, Tita sudah menebak bahwa dokter itu mengetahui bahwa dia mengkonsumsi pil kontrasepsi.
Di ruangan lain, seorang petugas kebersihan sedang membersihkan pecahan kaca di lantai. Axel tidak menyangka bahwa apa yang dikatakannya mengakibatkan gelas bening miliknya kini menjadi serpihan kaca. Brian tengah menenangkan Nathan. Huft, memang pilihan yang tepat untuk menarik si kepala batu ini kesini, entah apa jadinya jika aku memberi tahu hal ini ketika dia masih disana.
"Berapa persen kemungkinan Tita mengkonsumsi pil kontrasepsi itu?" tanya Nathan dengan tegas.
"Delapan puluh lima persen, karena tanda-tanda dari penggunaannya cukup terlihat jelas di lapisan kulit Tita."
"Apakah itu masuk akal? Apa yang kurang dari ku?!" Nathan melihat ke arah Brian. "Mengapa dia melakukan ini padaku?" semakin halus kata-kata yang digunakan Nathan, maka semakin tinggi level kemarahannya. "Axel."
"Iya."
"Apa istriku sudah selesai diperiksa?"
"Sepertinya, sudah selesai pengambilan sampel darah dan lendirnya."
"Berapa lama hasilnya akan keluar?"
"Sekitar dua jam, kenapa?"
"Brian bawa istriku kemari, Axel aku pinjam ruangan mu."
"Hah?? Apa yang akan kamu lakukan?" sang dokter panik.
"Memang kamu pikir apa yang akan aku lakukan, hah?!"
"Tuan, biar saya yang menanyakan hal ini ..."
"Dia istriku!! Aku yang akan mencaritahu sendiri. Cepat bawa Tita kesini!"
"Baik." Brian melaksanakan perintah sang tuan.
"Nathan ... jangan lakukan hal bodoh yang nantinya akan kamu sesali."
"Berisik!! keluar sana..."
"Nathan, ingat kata-kata ku ... istrimu itu masih kecil." Axel meninggalkan sahabatnya dan keluar. Di depan pintu dia berpapasan dengan Tita yang sudah memasang wajah lesu. "Nathan itu sangat mencintaimu, dia hanya tidak ingin kau tinggal. Jadi kalau dia mengatakan kalimat yang menyakiti hatimu, percayalah ... itu semata-mata hanya karena dia tidak mau kehilangan kamu, tapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya."
Tita tertegun dengan kata-kata Axel. Benarkah? yaa ... mari kita hadapi langsung dan melihat apa yang akan dia lakukan. Aku sudah mempersiapkan diriku. Tita memasuki ruangan itu, langsung berdiri tertunduk di depan sang tuan suami yang duduk dengan angkuhnya. Ah, dia bahkan tidak mau melihatku. Batin Tita.
"Nathan," panggilnya lembut. Hanya terdengar lenguhan keras. "Maafkan aku." toh dia juga pasti sudah tahu permasalahannya kan. Tidak ada jawaban ... bahkan Nathan belum juga menatapnya. Nyali Tita menciut. Dia lebih menyeramkan jika diam seperti ini. Aku takut.
Bruukk ... Tita berlutut di depan sang tuan suami, "Sungguh aku minta maaf... saat itu, aku sangat kecewa padamu, aku sungguh ketakutan sehingga tidak dapat berfikir dengan benar."
Ketika Tita tiba-tiba berlutut, Nathan cukup kaget ... tapi dia langsung menghilangkan keterkejutannya itu untungnya sang istri sedang menunduk. "Sejak kapan kamu meminumnya?"
"Setelah pertama kali kita melakukannya,"
Nathan mengingat-ingat kembali hari itu, "Sewaktu di London??"
"I ... iya."
Ah, terang sudah pikirannya, tersambung sudah benang merahnya. Nathan tahu dengan pasti apa alasan sang istri nekat meminum pil kontrasepsi itu. Huft ... otot-ototnya kini sudah mulai relaks, "Berdirilah, siapa yang meminta kamu berlutut."
Tita berdiri dan duduk di sebelah Nathan karena sang tuan suami memintanya. "Aku akan menanyakan ini sekali padamu, aku tidak akan memaksamu atau mengancam kamu lagi. Aku ingin kamu menjawabnya sesuai dengan keinginan kamu, mengerti?"
Tita mengangguk.
"Apakah kamu mau dan bersedia mengandung anakku sekarang?"
Mata mereka bertemu, saling berpandangan walau tanpa berpegangan tangan. Nathan menatap Tita dengan dalam, bahkan Tita bisa merasakan bahwa Nathan sangat mengharapkan jawaban 'iya' darinya. Kali ini, seolah Nathan memberikannya pilihan, semua terserah padanya apakah dia bersedia mengandung anak sang tuan suami atau sebaliknya.