
Dasar laki-laki aneh, dipikirnya semua orang harus tunduk dan melakukan apapun yang dia inginkan? Dasar sombong, arogan, gak punya hati!! Setelah tangisnya reda, mulai muncul lah amarah, emosi, "Bu, aku harus bicara sama orang aneh itu ..."
"Hush, jangan sembarang bicara, nak. Tuan muda itu orang yang baik, keluarganya baik, mereka tidak pernah memperlakukan kita dengan buruk."
"Tapi Bu, aku juga punya impian, aku juga punya keinginan. Bahkan baru beberapa hari yang lalu aku berkeinginan punya pacar di tempat kerja aku,"
"Hah, kamu ... ada yang kamu taksir di kantor?"
"Yaaa, belum Bu. Itu baru rencana aku," jawab Tita malu.
"Ibu serahkan semua keputusan padamu, sayang. Karena tuan muda juga orang yang baik. Ibu belum pernah melihatnya dekat dengan wanita manapun sejak ibu disini,"
"Ck, mungkin karena dia gak suka wanita kali Bu," Ha ha ha.
Sang ibu memukul lengan Tita, "Aduh!"
"Jangan sembarang kalau bicara, nanti ada yang dengar, ibu tidak enak, Tita. Kamu kan tahu ..."
"Iya, iya, Tita tahu Bu,"
"Pokoknya kamu pikirkan dulu, kalau memang kamu merasa perlu berbicara dengan tuan muda, lakukan lah. Nanti ibu bicarakan dengan kakak kamu."
"Bicarakan apa? Ibu kok yakin banget kalau aku gak akan nolak?"
Pembicaraan mereka terputus, ketika ponsel Tita berdering, "Iya, Lou?"
"Keruang kerja ku, sekarang!" ternyata itu suara si egois, batin Tita.
"Tuan Petra, Bu." Tita memberi tahu sang ibu. "Pergilah,"
Sementara itu di ruang kerja Nathan, "Nih," Nathan menyerahkan ponsel Loudy. "Ya udah sana, aku mau berbicara empat mata dengan calon kakak ipar kamu." sang tuan mengusir adiknya yang saat ini bertindak sebagai pelindung sang sahabat.
"Kak, please ... jangan macam-macam sama Tita, bicara yang benar ... gak semua orang setipe dengan kak Brian atau kak Rega,"
"Iya, bawel." sambil mendorong sang adik ke luar ruangan, dan menutup pintu itu kembali.
Ketika akan naik tangga, Loudy berpapasan dengan Tita, "Ta, jangan tegang ya ... kakak aku itu baik kok, ganteng lagi." sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ih, aku udah biasa aja sekarang, do'akan aku ya.." Tita berlalu meninggalkan Loudy.
"Iya aku do'akan kamu jadi ipar aku," setengah berbisik sang nona menatap kepergian sahabatnya.
Tok ... tok ..."Masuk." Duh, suara aja udah mencekam gini, batin Tita.
Gadis itu masuk, ruang kerja yang cukup besar, ada satu meja kerja di hadapannya kini, satu sofa panjang yang sangat nyaman di sebelah kanannya, meja berbentuk oval sebagai pasangan sofa, beberapa rak buku yang menempel di dinding dan dipenuhi buku-buku, teropong bintang yang teronggok di sudut ruangan dekat jendela, gorden biru tua untuk menutupi jendela-jendela di ruangan itu, penerangan yang agak redup untuk ukuran ruang kerja ... atau memang sengaja di redup kan?
"Kemarilah," bahkan Tita tidak menyadari sang tuan sudah duduk dengan nyaman di sofa. Tita pun duduk di satu-satunya sofa diruang itu, dengan memberi jarak agar tidak terlalu dekat dengan sang tuan. "Kenapa kamu duduk jauh begitu?"
"Ah, tidak apa-apa, tuan Petra, saya nyaman seperti ini." padahal degup jantungnya tidak nyaman. Ini adalah kali pertama dia bersama dengan sang tuan tanpa urusan pekerjaan.
"Baiklah senyaman kamu saja,"
"Aku kan belum mendengar jawaban mu,"
"Tuan, kita kan baru kenal. Kenapa tuan malah ingin menikah dengan aku?"
"Karena aku ingin," Duh, aku ingin memeluknya. Nathan.
"Tapi, tuan, sepertinya ada tahapan yang dilupakan," Tita mencoba bersikeras.
Nathan menatap manik mata Tita, "Tahapan apa maksud kamu?"
"Yaa, biasanya kan ada kenalan dulu, rasa suka satu sama lain, jalan bareng, kenal dengan keluarga masing-masing, lamaran, baru menikah."
"Aku bukan orang yang biasa, untuk apa kita mengulur waktu kalau pada akhirnya kita tetap akan menikah? Kamu kenal baik mami dan adikku, aku juga kenal ibu mu, kalau untuk jalan, kencan, kita bisa lakukan itu setelah menikah,"
Hah, dasar orang aneh! pemikiran macam apa itu? "Tapi tuan, aku tidak mungkin menikah dengan orang yang tidak aku cinta?" keluarlah unek-unek Tita.
Cukup mengejutkan bagi Nathan mendengar pernyataan Tita. Tapi bukan Nathan kalau bisa digoyahkan hanya karena hal kecil itu. "Nanti kamu juga akan mencintai aku. Dan, Zahra, um, maksudku Tita," Nathan menggeser duduknya mendekati Tita, "kamu tidak sedang berada di posisi yang bisa menolak atau negosiasi, kamu tahu?" sang tuan muda melancarkan aksi mengintimidasi.
"Kenapa?" Tita memundurkan tubuhnya karena takut, tapi sebisa mungkin dia menjaga agar suaranya tidak bergetar.
Nathan melepas kunciran rambut Tita seraya berkata, "Karena yang dipertaruhkan adalah pekerjaan dan ibumu," dia melihat kedua bola mata sang gadis yang terbelalak, seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar. Justru semakin membuat sang tuan muda terpesona. Cantik.
"Tuan, apakah anda tidak merasa keterlaluan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan?"
"Tidak, aku sudah katakan kalau aku tidak suka penolakan." Nathan mengelus rambut yang sering di kuncir kuda itu, menimbulkan bentuk gelombang. "Kamu seharusnya bersyukur, karena yang akan menjadi pendamping hidupmu adalah aku, ha ha ha."
"Eh, eh ... tuan, jangan deket-deket dong," Tita menahan bahu sang tuan yang sudah membuatnya tidak nyaman sejak tadi.
"Aku kan tidak melakukan apa-apa," Nathan menahan tubuhnya, dia merasakan desiran aneh saat tangan mungil Tita menyentuh bahunya. Dan disaat mereka pada posisi yang menyenangkan bagi Nathan dan merugikan bagi Tita, ceklek! pintu ruangan itu terbuka, mereka kaget, tapi tidak lebih kaget dari seseorang yang kini berdiri di pintu, "Kalian ngapain!!"
Tita sontak berdiri, "ah ... tidak melakukan apapun, nyonya!" Tita panik, tentu saja dia merasa seperti orang yang sedang tertangkap basah. Dan sang tuan muda, hanya tertawa kecil melihat reaksi sang gadis. Bagaimana aku bisa tahan kalau dia menggemaskan seperti ini ...sang tuan muda masih berkutat dengan fikirkannya.
Sang mami memandang kesal kepada anaknya, menghampiri, "Nathan mami tahu kamu ingin cepat-cepat menikah, tapi gak begini juga caranya ... tahan dulu, setelah kalian menikah kamu mau enak-enak juga gak masalah,"
Tita yang merasa aneh disini, sepertinya ada kesalahan, kenapa kesannya jadi tadi itu mereka mau enak-enak ya? "Eh, nyonya mami .. tadi itu gak seperti itu kok, tadi hanya salah paham ..."
"Iya, sayang, mami gak nyalahin kamu kok. Kamu pasti dirayu-rayu sama Nathan ya, gak apa-apa sayang," sang nyonya mami mengedipkan mata ke anak sulungnya, "Sekarang kamu tidur ya, biar Nathan urusan mami,"
Dan dengan berat hati Tita pergi dari ruangan itu. Bukan berat karena harus pergi meninggalkan Nathan, gak! tapi karena dia belum meluruskan kesalahpahaman tadi, dan sang tuan muda pun memang terlihat tidak berniat meluruskan nya.
Tinggal lah sang tuan muda dan ibunya. Dengan tidak tahu malunya sang tuan muda tertawa bahagia, melihat Tita yang kikuk dan malu. Sang mami, memperhatikan anak sulungnya dengan hati yang bahagia. Ya, sudah lama sejak kejadian itu keceriaan tidak lagi dimiliki sang putra, dia meyakini bahwa Tita adalah pilihan yang tepat. "Seneng ya kamu, ngerjain anak orang kaya gitu,"
"Ha ha ha, mami liat tadi ... lucu kan, mi. Gimana aku gak gemes coba,"
"Mami, bantuin kamu kali ini. Mami siapin semuanya sesuai keinginan kamu. Tapi, kamu jangan bikin Tita nangis, ngerti!"
"Of course, mami ... thank you," Nathan menghadiahi pelukan dan ciuman dikedua pipi sang mami. Bahagia, dia sangat bahagia ... Tita, kamu pasti akan jatuh cinta padaku, akan ku buat kamu jatuh cinta padaku, batinnya.