
Pak Putra, bos Tita, memandang dirinya yang tengah menyemangati dirinya sendiri. Rupanya Tita sendiri tidak menyadari kalau yang dilakukan nya sekarang sudah menarik perhatian seseorang. Bahkan ketika Tita mengepalkan tangannya ke atas kemudian menariknya dengan kencang, itu benar-benar mengundang gelak tawa sang bos.
Tita sangat canggung karena malu, dia merutuki ke bodohnya. Tapi sang bos tetap bersikap santai, "Jangan gugup, kamu pasti bisa." ucapnya sambil menepuk-tepuk bahu anak buahnya.
"Selamat pagi, kami dari Mirae Contruction, sudah ada janji dengan tuan muda," seru pak Putra kepada wanita yang duduk di meja sekretaris Petra Corporate.
"Dengan bapak Putra?" jawabnya.
"Iya."
"Silahkan pak, Bu, ikut saya ke ruang rapat."
Sesampainya di ruang rapat, Tita dan pak Putra duduk berdampingan. Hari ini Tita menggunakan kemeja berwarna hijau mint lengan hingga siku, dipadukan dengan rok hijau tua diatas lutut dan di sempurnakan dengan stiletto berwana putih. Sesungguhnya dia memakai pakaian yang sangat nyaman, tapi kenapa terasa panas ... mungkin karena Tita sangat gugup, karena ini kali pertamanya. Huh, semoga semua berjalan lancar, pintanya.
Ketika Tita dan bosnya sedang berbincang, pintu ruang rapat terbuka. Mereka otomatis berdiri dan tersenyum. Muncul di pintu sang sekretaris, Brian, "Selamat pagi." dan di jawab dengan kompak oleh kedua orang itu. Kemudian masuklah sang tuan muda, pemilik Petra Corporate, Nathan, "Maaf pak Putra saya terlambat," Nathan mengucapkan kalimat itu untuk Putra Pratama, pemilik Mirae Contruction, tapi matanya tergoda untuk menatap wanita cantik yang mungil dan menggemaskan di sebelah sang rekan kerja. Namun, sang tuan muda mampu mengendalikan reaksi tubuhnya yang spontan itu.
"Tuan Petra, perkenalkan ini Zahra yang membuat design Galeri Seni untuk Kota B," Pak Putra memperkenalkan karyawan khususnya. Tita mengulurkan tangannya, disambut dengan Nathan tetap dengan wajahnya yang datar. Kemudian Tita berjabat tangan dengan Brian, kali ini dengan tatapan tidak suka dari Nathan. Tapi tentu tidak ada yang menyadarinya. Rapat berlangsung, Tita menjelaskan detail design-nya dengan lancar dan sempurna. Nathan yang duduk berhadapan dengan mereka, sesungguhnya tidak terlalu fokus dengan penjelasan Tita karena matanya lebih fokus memperhatikan bibir merah segar yang bergerak-gerak. Ya ampun, Nathan, fokus ... jangan menghancurkan reputasi kamu! Nathan terdengar menghela nafas, dan tanpa di komando Tita berhenti menjelaskan, "Apa ada yang salah, tuan?" tanyanya.
"Zahra, saya akan menambahkan beberapa instrumen dalam gambar," Oh, untung Nathan cepat mengendalikan situasi. Dan Brian hanya tersenyum melihat kelakuan sang tuan muda yang tak biasa itu.
"Baik." Tita membuka notebook-nya, masuk ke CAD Galeri Seni Kota B, menyambungkan dengan proyektor dan tampaklah tampilan design Galeri Seni. "Silahkan, pak."
Dahi Nathan berkerut, hah ... memang aku bapaknya apa! Namun yang terjadi adalah, "Menurut nona, apa yang kurang dari design ini?" Ketiga orang yang berada di ruang rapat itu menatap heran sang tuan muda.
Lho yang ingin menambahkan detail kan dia ... kenapa jadi balik tanya, boleh gak kalau aku jawab tidak ada yang perlu di tambahkan. Tita.
Haduh, apa yang anda lakukan tuan. Kita kan sudah membahas ini dengan serius kemarin, kenapa anda malah bercanda begini. Brian.
Pak Putra hanya tersenyum terpaksa, tidak tahu apa yang harus diucapkannya.
Nathan tersenyum, kemudian berdiri. Otomatis ke tiga orang itu juga berdiri. "Sepertinya saya kurang sehat hari ini, kita akan menunda rapat hari ini. Nanti Brian akan menghubungi untuk kelanjutannya." Kemudian dia berlalu meninggalkan ruang rapat menuju ruangannya. Meninggalkan Tita dan Putra yang dibuat bingung, "Pak Brian, apakah aku melakukan kesalahan?" tanya Tita, sungguh perasaannya tidak nyaman, terlebih ini adalah hari pertama dia bekerja.
"Tidak nona Zahra, tidak ada yang salah dengan anda dan Mirae. Silahkan, saya akan mengantarkan kalian."
Tok .. tok .. "Masuk," Brian masuk ketika sudah dipersilahkan masuk, menatap aneh kepada tuannya. "Jangan menatap aku seperti itu,"
"Ck ... ada apa dengan anda hari ini, tuan. Tidak seperti anda yang biasanya. Mengapa anda tidak menyelesaikan rapat dan malah menggantungnya?"
"Wow, Brian ... aku harus menjawab yang mana dulu?" jawabnya santai sambil memeriksa berkas yang ada di mejanya.
"Tuan," Brian sudah duduk di hadapan sang tuan, menatapnya dengan serius. "Apa karena nona Zahra?" Gotcha. Nathan tersenyum.
"Aku tidak tahan untuk tidak menyentuhnya tadi. Ha ha ha... Jantung ku berdetak cepat sekali tadi." akhirnya Nathan menyampaikan juga apa yang dia rasakan sejak pertama kali melihat Tita.
"Huh, kalau aku tahu sejak awal. Pasti aku akan mengaturnya untuk anda. Jadi anda tidak akan terlihat konyol seperti tadi, Ck."
"Hah, apa terlalu terlihat?" Tapi Brian hanya menggeleng. Anda hanya terlihat bodoh tadi, katanya dalam hati.
"Tapi kamu tahu kan kenapa aku mengundur rapat tadi? Jadi sekarang aku harus apa?"
"Tentu saja. Tidak mungkin aku berhenti seperti ini kan?"
"Kalau begitu, anda perlu masukan dari pakarnya, tuan."
"Siapa?"
"Thomas, tuan."
"Ah, iya ... sore nanti kita bertemu mereka, cepat hubungi mereka, Brian." Nathan bersemangat kali ini, bukan untuk mendapatkan keuntungan dan memperluas bisnis, tapi untuk mendapatkan perhatian dari sang gadis.
Sementara di mobil, "Pak, apakah pak Petra memang seperti itu? ataukah saya melakukan kesalahan? Saya sungguh tidak dapat berfikir." keluh Tita.
"Sebaiknya kamu panggil dia tuan Petra, dan dia itu orang yang sangat tegas jika berhubungan dengan pekerjaan."
"Tapi, tadi ..."
"Saya juga tidak tahu ada apa, tapi kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Sebaiknya kita tunggu saja kelanjutannya, oke."
"Baik, pak."
****
Nathan sedang duduk di kursi kebesarannya, di hadapan berkas-berkas yang seharusnya sudah sejak tadi di selesaikan olehnya. Namun, apa daya jika gadis mungil hijau mint yang kemarin datang ke kantornya telah menyita pikirannya. Yang ada di kepala sang tuan itu saat ini hanyalah, bagaimana cara mendekati gadis itu dan membuatnya jatuh cinta. Sudah lama sejak rasa seperti ini ada dalam hatinya, rasanya sang tuan muda sudah lupa teknik-teknik memperdaya wanita. Apalagi sepertinya jika dilihat dari penampilannya, gadis itu masih sangat muda dan mungkin seumur dengan adiknya.
Sang sekretaris, yang sudah pegal berdiri akhirnya dia duduk di sofa, menghadap sang tuan. Jangankan menyadari keberadaannya, dipanggil saja dari tadi sang tuan tidak mendengar. Aku pernah jatuh cinta, tapi tidak seperti itu juga. Pikirnya. Jadi ... dia hanya memandangi sang tuan muda, apa sih yang di pikirannya? "Ehem, tuan." tanyanya sekali lagi.
Sang tuan mengangkat kepalanya, "Oh, sejak kapan kamu ada disana?"
"Satu jam yang lalu,"
"Hah, kenapa tidak bilang?"
"Tadi itu, sebenarnya panggilan ku yang ke tujuh, tuan."
"Ck, ada apa?"
"Saya mau mengambil berkas-berkas yang kemungkinan besar belum selesai anda periksa,"
"Hei, bisa kurang ajar juga ya kamu, Brian," jawabnya sambil terkekeh. Dia tidak sakit hati, sungguh, karena memang dia salah. "Aku tidak tahu kenapa bisa tidak fokus seperti ini, huh."
"Wajar, bagi anda yang sedang kasmaran."
"Kau mau mati ya! Cinta ku bahkan belum terbalaskan, bagaimana bisa dibilang kasmaran."
Brian hanya tertawa dalam diam, dan membaca majalah bisnis di hadapannya. Nathan memperhatikan sekretarisnya itu. "Siapa sebenarnya bos disini? Aku yang bekerja, kamu hanya membaca majalah." candanya.
"Itu karena kelalaian anda, kan?" Kurang ajar memang Brian ini, tapi apalah daya karena dia memang benar, ha ha ha.