
Tita baru saja menyelesaikan sarapannya ketika ada satu pesan masuk ke ponselnya.
"Hai, Zahra ... apa boleh aku mengundang kamu untuk makan siang hari ini?" Terry. Tita belum lagi membalas pesan itu ketika di dengarnya suara yang sangat dekat di telinganya.
"Siapa yang mengirimkan pesan pagi-pagi begini?"
"Ah, um ... temanku." kaget aku.
"Temanmu siapa?" tanya Nathan sambil memeluk Tita dari belakang.
"Namanya Terry."
Jleb!! lengan Nathan mengeras. Apa katanya tadi? Terry?? "Ehm, Terry siapa? Aku baru mendengar kamu punya teman yang bernama Terry."
"Aku hanya tahu namanya Terry, orangnya baik dan ..." Tita berhenti berbicara, nyaris saja keceplosan.
"Dan ... dan apa?"
"Dan tampan kaaaak.... tampan sekali, bahkan katanya Tita akan kesulitan membandingkan ketampanan kalian berdua ..." si lemes Loudy, hanya Tuhan yang tahu dari mana manusia satu ini datang dan ikut berkomentar.
"Oh ya ..." Nathan berkacak pinggang melihat sang istri yang sudah pucat pasi. "Jadi ... dia lebih tampan dari aku?!"
"A ... aku tidak bilang seperti itu."
Nathan melihat ke arah si biang kerok, minta penjelasan, "Aku melihat sewaktu acara perpisahan, kak ..." lho ... aku kan ingin menjahili Tita, kenapa jadi aku yang tertekan seperti ini???
Tita menatap Loudy kesal, seakan berbicara lewat tatapan matanya, awas kamu yaaa nanti!!
"Sepertinya, kamu sangat bersenang-senang yaaa ... senang sekali banyak penggemar ..." cemburu tingkat dewa.
"Mana ada sih ... kamu kan penggemar nomor satu ku," Ha ha ha ... Tita tertawa garing, terlihat dia berusaha meredam kecemburuan sang tuan suami.
"Kalau aku nomor satu ... berarti ada yang nomor dua, tiga, empat ... begitu?!"
Aish, kenapa jadi melebar begini sih?? 'Sayang ... Loudy hanya bercanda saja, kok." Tita melihat ke arah Loudy meminta dukungan karena bagaimanapun dia lah biang keladi kekacauan kali ini.
"Iya, kak ... aku hanya bercanda tadi ..." ketika sang kakak menatapnya dengan tajam, Loudy jadi ciut, "Aduh ... aku sedang nyeri menstruasi, perutku sakit, aku duluan yaaa ..."
Wah, menyebalkan sekali Loudy ... setelah melemparkan bola panas kini dia pergi begitu saja, hiks hiks ... bagaimana nasibku sekarang. Tita.
Mendengar ucapan sang adik membuat Nathan teringat sesuatu. Ah iya ... dia tidak pernah melihat sang istri menstruasi. Alih-alih marah-marah, justru sekarang wajahnya berseri, sepertinya pikiran akan kemungkinan Tita hamil lebih menyenangkan.
Tita lah yang kebingungan, kenapa sang suami malah berseri seperti itu? "Kamu kenapa?" tanyanya.
"Yuk berangkat, aku akan mengantarmu." lebih bersemangat daripada tadi.
"Selamat pagi, tuan, nona Tita." sapa Brian, hangat seperti biasa.
"Selamat pagi kak Brian." seperti biasa hanya Tita yang menjawab.
"Brian, buatkan jadwal dengan Axel." perintah sang tuan.
"Ada apa tuan, apa anda sakit?"
"Kamu sakit, Nath?"
"Tidak, aku sehat. Aku hanya ingin memeriksamu." makin berseri wajahnya.
"Aku tidak pernah melihatmu menstruasi selama kita menikah, jadi ... mungkin saja kamu hamil, kan sayang?"
Duaarrr!! Tita kaget dengan perkataan sang tuan suami. Bagaimana dia bisa lupa. Seketika rasa takut dan penyesalan menyerangnya. Memang sudah satu minggu ini dia tidak lagi mengkonsumsi pil itu. Tapi dia juga tidak yakin apakah akan berefek pada kesuburannya. Apa yang harus aku katakan.
Tita terdiam di meja kerjanya, pikirannya berkeliaran ... bagaimana cara menjelaskan kepada sang suami. Huft ... penyesalan memang selalu datang terlambat.
"Zahra, ini .... ku bawakan untuk kamu." Arga meletakkan sebuah lasagna berukuran sedang dengan wangi yang sangat menggoda cacing-cacing di perut Tita.
"Kamu ... dapat darimana ini?" tanya Tita.
"Aku sengaja delivery, untuk kamu." yess ... sepertinya Zahra memang menyukainya.
Lasagna, makanan khas dari Italia ini memang merupakan salah satu makanan favorit Tita. Dia bisa melupakan segalanya jika sudah dihadapkan dengan makanan yang satu ini, karena ketika sesendok lasagna sudah masuk ke dalam mulutnya fokusnya adalah menikmati setiap gigitan dan lumer keju bercampur daging yang merupakan isian dari lasagna itu. Begitu juga kali ini, lasagna di depannya sudah sangat menggoda ... "Serius ini untuk aku?" tanyanya basa basi.
"Iya, tentu makan saja ... itu ada sendok di dalamnya."
Maka tanpa di pinta dua kali pun Tita langsung mengambil sendok dan menyuap sesendok lasagna, uuum .... enaknyaaaa.
Melihat gadis yang di suka memakan makanan pemberiannya, membuat hati Arga menghangat, kemudian dia menarik kursi lain agar bisa duduk berdekatan dengan Tita, "Kamu sesuka itu ya dengan lasagna?"
Tita baru menjawab ketika sudah mengosongkan mulutnya. "Iya, suka sekali. Kamu tau darimana aku suka ini?" di sendok lagi makanan itu dan mendarat mulus di mulutnya.
"Aku hanya menebak saja, aku senang kalau kamu suka pemberian aku." Arga menatap Tita dari jarak sedekat ini, merupakan hal yang membahagiakan untuknya.
"Hei ... kalian berdua pacaran ya?" tiba-tiba saja Arum berada di depan mereka.
Arga langsung kikuk seperti sudah tertangkap basah, tapi lain halnya dengan Tita yang masih santai menghabiskan suapan terakhir lasagna nya.
"Eh, Arum ... kenapa?" tanya Tita.
"Aku curiga, kalian jadian ya??" Arum mengulang pertanyaannya.
"Tidak kok. Kenapa kamu berfikir begitu?"
"Belakangan ini kalian terlihat sangat akrab dan sering berduaan. Kalau memang jadian ya ... gak apa-apa, bagus."
"Bagus apanya?" Arga sudah ge er.
"Yaaa, bagus ... kita kan jadi bisa makan gratis karena kalian traktir," ha ha ha. Semua teman-teman Tita yang ada di situ ikut tertawa dan menyukai gagasan Arum, kecuali Mickey tentunya.
"Siapa yang kamu maksud jadian!!" Tiba-tiba saja ada suara yang menganut mereka semua. Dan lebih terkejut lagi ketika mereka melihat siapa orang itu.
"Tuan Petra?!" Sontak mereka semua berdiri dan menunduk dengan hormat, begitupun dengan Tita dan Arga yang masih berdiri bersebelahan.
"Aku tanya sekali lagi, siapa yang jadian?!" aura Nathan sangatlah menyeramkan, bahkan Brian pun hanya berdiri di belakangnya tanpa ada niatan untuk meredam emosi sang tuan. Nathan melihat ke arah Arum, menuntut jawaban.
Apa? Kenapa tuan Petra melihat ke arahku? Aku salah apa? "Ini tuan, teman kami ..." bingung dia, haruskah aku menjelaskan??
Tita tidak berani melakukan apapun, ingatannya tentang kesalahan yang dia lakukan tanpa sepengetahuan sang tuan suami kembali mendominasi seketika.
Nathan makin kesal, Brian yang sadar akan hal itu berjalan ke tempat Arum berdiri, "Tuan saya ingin tahu nona, siapa orang yang anda maksud tadi?"
"Oh ... ini teman saya Arga, tuan, sedang pendekatan dengan Zahra ... dan kami tentu tidak keberatan jika mereka jadian. Begitu maksudnya, tuan."
Hah?? Gila ... kenapa sih hari ini ... tadi pagi Loudy yang berulah, sekarang Arum. Pasti aku yang harus menanggung dan membayar kelemesan mulut mereka. Batin Tita.