Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 79



"Apa kamu bilang?!" makin rendah ucapan Nathan, maka makin berbahaya situasinya. Dan Tita menyadari hal itu.


"Tidak ... saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Arga." Tita memotong dan menjelaskan dengan hati-hati.


Semua orang memperhatikan Tita, kenapa? ada apa? tingkahnya jadi aneh. Apa Zahra menyukai tuan Petra dan lebih memilih tuan Petra dari pada Arga?


"Zahra, kamu kenapa?" tanya Arum yang juga merasa heran dengan tingkah Tita.


Arga yang merasa tadi Tita baik-baik saja sebelum tuan Petra datang pun merasa aneh. Apa Zahra gadis yang matre juga? Dia lebih memilih tuan Petra? "Zahra, aku memang menyukaimu sejak lama dan ingin menjalin asmara denganmu." dengan lantang dan berani Arga menyatakan juga perasaannya, dia berharap Tita mau melihat ketulusannya tidak hanya hartanya. Dia tidak boleh kedahuluan dari siapapun.


pernyataan yang dilakukan Arga tentu membuat heboh seisi ruangan itu dan membuat kemarahan Nathan meningkat levelnya. "Berani-beraninya kamu mengajak istriku menjalin kasih di depanku!!"


Jika tadi mereka merasa terkejut dengan reaksi Tita yang seakan lebih memilih sang tuan kaya dari pada Arga, kini mereka makin terkejut dengan pernyataan sang tuan Petra bahwa Zahra, adalah istrinya. Begitupun dengan Arga yang speechless, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Zahra, gadis manis yang sudah sejak lama dia kejar ternyata sudah menikah?? Menikah?!!


Kini Nathan sedang berada di ruang pak Putra, "Maafkan saya tuan Petra, saya tidak bisa mengendalikan staf saya. Mereka tidak ada yang tahu jika Zahra adalah istri anda." Pak Putra membujuk Nathan. Saya juga tidak mungkin mengurusi percintaan mereka kan?


Sang tuan muda sedang berbahagia karena dia sangat mengharapkan sang istri benar-benar sedang hamil. Kehamilan Tita dianggap sebagai jaminan bahwa sang istri tidak akan pergi meninggalkannya. Oleh karena itu, Nathan sudah membuat janji dengan Alex hari ini kemudian sengaja ke Mirae Contruction untuk menjemput sang istri. Namun sesampainya disana dia malah mendengar seorang laki-laki, teman kerja istrinya, ingin menjalin asmara dengan sang istri. Siapa juga yang tidak marah, coba?


"Aku kan tidak menerimanya, Nath." Tita mencoba membujuk suaminya. "Sudah ya, jangan seperti ini."


"Coba kalau aku tidak datang, apa yang akan terjadi?"


"Maksud kamu? kalau kamu tidak datang, aku akan menerima dia? begitu?!"


Sang tuan suami masih sangat kesal, tapi dia juga tidak membenarkan perkataan sang istri.


"Sayang ... kita kan sudah menikah. Kamu tidak percaya kalau aku mencintaimu?" sabar Tita ...


"Aku ... tidak percaya dengan laki-laki itu!" Duh keras kepalanya kumat.


"Kamu menikah dengan aku atau dengannya?" sebenarnya Tita kesal, tapi karena sedikit banyak dia sudah tau bagaimana karakter sang tuan suami maka diredam juga emosinya.


Cup!


Blush!!


"Apa? Kenapa ...?" selalu ... inisiatif yang dilakukan Tita selalu berhasil membuat Nathan blushing dan terperdaya, hehe.


"Tidak ... aku hanya gemas saja dengan kamu yang cemburu begitu."


Kali ini bahkan telinga sang tuan suami ikut memerah. Dia tidak pernah menyangka dan bahkan baru menyadari bahwa sedikit godaan dari gadis mungil ini mampu meruntuhkan kemarahannya begitu saja. Entah karena sang gadis yang memang perayu ulung atau memang dia yang lemah mengahadapi gadis ini.


Brian yang sejak tadi mengamati situasi atas konflik tuan mudanya, merasa inilah timing yang tepat untuk membawa mereka keluar dari gedung ini, dan memberikan pemiliknya, Pak Putra, untuk bisa bernafas dengan lega. "Tuan, sebaiknya kita berangkat sekarang ... Alex pasti sudah menunggu."


Nathan menggenggam tangan Tita, menautkan jemarinya di antara sela-sela jemari Tita. Perasaannya jauh lebih ringan, tentu saja. "Ayo, berangkat, sayang. Mr. Putra, saya permisi."


"Tunggu!" Tita menahan tangannya. "Aku belum waktunya pulang kerja." jantung Tita kembali berdebar cepat. Nathan hanya melihat ke arah pak Putra.


"Tidak apa, Tita. Pergilah. Suamimu sudah meminta ijin tadi." Pergilah, kumohon. Tuan Petra senang, proyeknya akan aman. Ha ha ha.


"Zahra," Arum mendekat Ndan berbisik. "Sejak kapak kamu menikah?"


"Sudah lama, nanti saja ya aku ceritakan." Tita melambaikan tangan ke arah teman-temannya.


"Mickey, aku duluan ya ..."


"Kamu baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


"Aku baik kok, tenang saja." Tita ingin bercerita dengan Mickey tadi sebelum Arga merapat padanya. Dia butuh masukan dari Mickey, tapi sebelum dia melakukannya ... niatnya itu sudah berantakan karena pernyataan Arga dan kecemburuan suaminya. Oh, firasat ku tidak baik.


"Sayang, kamu kenapa gelisah begini?" Nathan memeluk Tita dengan hangat.


"Tidak, rasanya aku biasa-biasa saja."


"Sayang ... aku mau lagi dong?"


"Mau lagi? apa?"


"Ck ... yang tadi kamu lakukan padaku." mengingatkan dengan memberikan clue.


"Apa sih?" Tita memang tidak kepikiran apa yang di maksud sang tuan suami.


Nathan melepas pelukannya, melihat dengan serius ke arah sang istri, memastikan apakah sang istri sedang berpura-pura atau tidak. Oh, sepertinya dia benar-benar melupakannya. "Baiklah biar aku saja yang melakukannya, aku tidak keberatan sama sekali," katanya dengan wajah bersinar.


"Eh, eh, eh ... mau apa??" Tita berusaha menahan tangan Nathan yang sudah mulai berjalan kian kemari.


"aku hanya ingin membuat kamu rileks, sayang." belanya, kemudian meneruskan kecupan-kecupannya.


Rileks?? Bagaimana aku bisa rileks kalau kamu tidak bisa berhenti. Dan lagi, bagaimana bisa kak Brian tetap fokus dan tetap setenang itu sih?? Benar-benar ya mereka berdua, benar-benar klop! Pada akhirnya Tita pasrah, melawan pun percuma saja, kan?


Ketika mobil yang ditumpangi Nathan merapat ke lobi, Alex dan dua orang perawat sudah siap menyambut.


"Ah, Nathan, Tita ... selamat datang." sambutnya dengan ceria.


"Sesenang itu kau melihatku disini?" tanya Nathan.


"Oh, tentu saja." Ha ha ha ... dan aku bisa melihat Tita dari dekat. he he.


"Tita, silahkan periksa dulu. Suster tolong di bantu." perintah Axel.


Tita hanya di ukur berat badannya dan tensi darah. "Nyonya, jangan tegang. Hm, tensi anda lumayan tinggi." suster itu mencatat beberapa keterangan dan menyerahkan semuanya kepada Axel.


Dalam ruangan Axel. "Tita apa yang sedang kamu pikirkan? tensi nya tinggi sekali. Tita hanya tersenyum sambil meremas jemari Nathan. Apa yang akan terjadi nanti, dia akan terima saja, toh tidak mungkin dokter ini tidak akan mengetahui rahasia terbesarnya, kan?


"Oke, Tita kita akan periksa dalam, ya? Suster, tolong bantu nyonya ini bersiap."


Ketika dilihatnya sang istri hendak membuka celananya, Nathan langsung panik, "Hei! apa yang akan kamu lakukan?! periksa dalam apa!!" tangannya sudah mencekal lengan Axel. Suasana langsung menegang. Axel tidak kalah panik melihat perubahan sikap Nathan itu. Haduh, kenapa tadi Brian tidak ikut masuk untuk menjinakkan tuannya ini???