
"Sayang, kamu tadi kesini naik apa?" tanya Nathan yang tengah bersandar di bahu Tita.
"Aku diantar Mickey, naik motor."
Mendengar sang istri diantar laki-laki lain dan naik motor, pikiran sang tuan suami pun langsung berkeliaran. "Kenapa gak naik mobil saja? Kenapa harus boncengan dengan Mickey mouse itu?!"
"Kalau naik mobil aku bisa telat, dan lagi tadi aku alasan ke pak Putra pergi survey bareng Mickey. Jadi aku bisa kesini. Seharusnya kamu itu terima kasih sama Mickey, bukan malah mengejeknya."
"Kamu kan bisa minta aku menjemputmu?"
"Hah, kamu kan sibuk dengan Anya-mu ... mana ada waktu kamu jemput aku!" akhirnya ada waktu untuk membahasnya.
"Maksud kamu apa, sayang." Ada penekanan dalam kata-kata yang dilontarkannya. Itu artinya dia tidak suka sindiran yang diucapkan Tita.
Tita melihat kearah jam tangannya dan berfikir, apakah harus diselesaikan sekarang? tapi waktunya? aku harus segera kembali. Dan sang tuan suami mengerti apa yang dipikirkan sang istri, dia memang teramat jeli.
"Aku tidak mengijinkan kamu pergi sebelum kamu menjelaskan maksud perkataan kamu tadi!"
"Tapi aku harus kembali, Nath." Tita mulai gelisah.
"Kalau kamu hanya takut pada bosmu, aku bisa menghubunginya sendiri sekarang dan mengatakan kamu sedang bersamaku, Tita."
Wah, sepertinya aku cari mati. Dia marah sekali. "Jangan, aku akan katakan, aku katakan." Tita menelan ludahnya susah payah.
Nathan masih menunggu dengan kemarahan yang belum mereda, karena baginya dengan Tita lebih memilih untuk tidak mengatakan ke bosnya sama saja dengan Tita lebih mengutamakan sang bos daripada dirinya, suaminya.
"Aku tadi, ketika aku masuk keruangan mu. Aku melihat Anya dengan pakaian dan rambutnya yang berantakan, sedang mengancingkan bajunya, dan memanggilmu 'sayang'."
"What!! are you seriously?!" Nathan seperti tidak percaya dengan kata-kata sang istri. Ya, tentu saja ... dia tahu jelas kemana arah pikiran Tita. Dan dia sedang rapat sejak pagi.
"Aku serius, tidak mungkin aku bercanda. Apa kamu tidak tahu betapa kesalnya aku sekarang?!" balas Tita.
Nathan terdiam, hanya memandangi sang istri. Dan Tita juga membalas tatapan sang tuan suami.
"Kamu tidak percaya padaku?" kalimat itu yang diucapkan Nathan untuk istri tercintanya, bukan pembelaan atau alasan-alasan.
"Buktikan kalau aku bisa mempercayai kamu."
"Aku sudah mengatakan semuanya, aku sudah menjelaskan seperti apa persoalannya."
Ya, Nathan memang benar ... dia sudah mengatakannya, tapi Tita juga tidak bisa mengabaikan perasaan kesal dan marahnya melihat wanita lain di ruangan suaminya dengan berpenampilan seperti itu.
"Keadaan yang membuat aku sulit percaya, apa kamu mengerti?" jelaskan padaku kalau kamu tidak berhubungan dengannya.
"Tita ... semua yang kamu lihat itu tidak benar. Aku sedang rapat tadi, kamu bisa mengeceknya dengan Brian." Nathan merendahkan suaranya.
Suasananya sungguh sangat tidak mengenakkan bagi keduanya. Nathan yang kembali terjebak masa lalunya dan Tita yang mengalami krisis kepercayaan terhadap suaminya. Siapa yang salah diantara keduanya? masing-masing menganggap sikap mereka sudah benar. Mereka menganggap luka yang mereka rasakan paling sakit, hingga mereka lupa bahwa sebenarnya mereka bisa saling mengobati.
Merasa tidak ada gunanya lagi dia berlama-lama disini, Tita berdiri dari duduknya. "Sebaiknya aku kembali ke kantorku, sekarang."
"Iya, hati-hati."
Tita keluar dari ruangan itu. Tadi dia marah karena aku di antar Mickey, sekarang malah dia tidak menawarkan diri mengantar aku. Tita sungguh kesal, maunya apa sih.
Hm, ya .... pergi saja, tinggalkan saja suamimu seperti itu dan jangan berbaikan lagi. Karena aku ... akulah yang akan menggantikan posisimu itu. Aku lah yang lebih pantas menjadi pendamping Nathan. Ha ha ha.
Tita, tidak kembali bersama Mickey. Dia memesan ojek online. Dia tidak sedang ingin bertanya, tidak sedang ingin ditanya, dia ingin sendiri. "Pak, saya turun disini saja. Maaf ya," dia menyerahkan uang, dan berjalan sendiri menelusuri trotoar pejalan kaki yang tidak terlalu ramai dengan pejalan kaki yang lain. Ah, hampir lupa ... dia mengeluarkan ponselnya, mengetikkan sebuah pesan kepada sahabat setianya 'Mickey aku tidak kembali ke kantor, maafkan aku ya', hanya itu. Mickey pasti mengira dia sedang bersama suaminya. Biarlah, dia butuh sendiri.
Kakinya tiba di sebuah taman kota, ditengah taman itu terdapat sebuah area untuk berlari berbentuk lingkaran dan di tengah lingkaran itu adalah lapangan yang dapat dipergunakan untuk olah raga bulu tangkis atau voli. Di sisi lainnya juga terdapat sarana olahraga climbing, dan juga ring basket. Ada juga taman buatan yang menghadap ke sebuah danau, terdapat beberapa bangku taman untuk pengunjung duduk-duduk. Pohon-pohon tinggi dan rimbun yang membuat taman ini menjadi sejuk dikala pagi dan sore hari. Jika hari libur, selain pengunjung ... taman ini juga akan dipenuhi pedagang. Namun saat ini tempat ini cukup sepi, ada tampak beberapa orang sedang berlari dan duduk-duduk. Tapi sepertinya hanya Tita yang sendiri, dia menikmati kesendiriannya sambil melihat seorang anak yang mengejar bola dengan tawa riang bersama ayahnya?
Melihat hal itu membuat Tita makin murung, mungkin pilihannya untuk mengkonsumsi pil kontrasepsi itu adalah tepat. Dia juga bisa merasakan bahwa sang tuan suami mencintainya, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan rasa khawatirnya bahwa sang tuan suami masih memiliki perasaan yang dalam terhadap mantan kekasihnya, kan?
Baiklah, kita tenangkan fikiran terlebih dahulu.
"Hai ... aku ijin duduk ya?"
Tita menoleh ke arah datangnya suara, laki-laki blasteran yang tidak kalah tampan dari sang tuan suami, menggunakan Hoodie biru tua, celana training, peluh bercucuran di sekitar wajahnya, nafas yang agak berat. Sepertinya dia habis berlari. Namun, Tita tak menjawabnya dan mengarahkan lagi pandangannya ke anak tadi.
"Kamu sendirian saja? Tidak masalahkan kalau aku duduk di sini?" tanyanya lagi.
Karena merasa tidak enak maka Tita menjawab, "Silahkan saja, ini masih menjadi tempat umum, kok."
"Ha ha ha, kamu lucu ya ternyata."
Alamaaaak ... seandainya saja dia menyaksikan pahatan indah manusia ini bernama Loudy, hm .... pasti menyenangkan. Ups! Kalem Tita, ingat ... kamu bersuami!
"Orang yang kebanyakan melamun itu, artinya dia sedang ada masalah. Kamu sedang dalam pelarian ya?" tebaknya.
"Jangan sok tahu, orang asing." jawab Tita.
"Aku tidak sok tahu, tapi aku benar. Tidak sulit bagiku untuk mengetahui masalahmu, karena semua terlihat jelas dari raut wajahmu."
Kaget juga Tita mendengarnya. Dia cenayang ya? "Kamu, dukun?"
"Ha ha ha ... Hei gadis ... kamu itu sungguh menyenangkan ya, kamu lucu. Dan aku yakin aku tidak akan pernah bosan jika bersamamu."
Tita melihat manusia tampan ini dengan keheranan. Apa sih manusia sok kenal ini?
"Aku buka orang yang mudah bergaul sebenarnya. Tapi baru beberapa menit ada di dekatmu, aku merasa nyaman. Aku mau berteman denganmu." Dia mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, namaku Terry." katanya dengan senyum seperti iklan pasta gigi.