Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 63



"Hei ... kenapa wajahmu kusut seperti itu pagi-pagi?" Thomas menggoda Nathan, padahal dia tahu pasti kenapa sang kepala batu seperti itu.


"Mana Axel?" Nathan benar-benar sedang bad mood pagi itu.


"Belum datang, sepertinya dia sedang ada jadwal." jawab Rega. Kemudian dia menyodorkan segelas susu dan roti lapis untuk Nathan dan Brian.


"Terima kasih," Brian.


Pagi ini mereka sedang berada di apartemen Thomas ... ingin membicarakan strategi untuk nanti malam ... kencan rahasia sang tuan batu, eh, tuan muda. Tapi, melihat aura kegelapan yang di pancarkan sang umpan ... mereka jadi sanksi apakah rencana ini akan berhasil atau tidak ... salah-salah malah senjata makan tuan nanti.


"Nathan," tegur Thomas.


"Hm," dijawab malas-malasan olehnya.


Melihat tingkahnya yang seperti ABG sedang puber membuat sahabat-sahabatnya geleng-geleng kepala. Mereka adalah saksi bagaimana manusia satu ini sangat dingin dan tak berperasaan terhadap wanita-wanita yang mendekat atau bahkan di jodohkan dengannya. Dan sudah pasti tidak ada satupun yang menyangka bahwa Nathan akan menjadi seperti ini karena seorang gadis mungil bernama Tita.


"Ga, dulu ketika dengan Anya ... apa dia seperti ini juga?" tanya Thomas.


"Yang ku tahu, dia adalah tipe pacar yang berusaha menyenangi pasangannya, sangat hebat dalam menahan nafsunya, bertanggung jawab dan setia." jelas Rega.


"Memang, sekarang dia sulit untuk menahan nafsunya?" Thomas mengatakan itu sambil melihat kearah Brian, mengharapkan jawaban. Tapi yang diharapkan ternyata tidak mau membuka mulutnya, dan hanya membuang muka seolah mengatakan bahwa jangan paksa aku menjawab.


Ha ha ha ..."Pantas saja kamu uring-uringan seperti ini, sudahlah ... hanya semalam kan kamu menahannya." Thomas menepuk-nepuk pundak Nathan. "Toh, kalau istrimu sedang datang bulan ... kamu juga menahannya lebih lama, kan?" Ha ha ha ... Puas sekali Thomas menertawakan Nathan.


Mendengar ejekan Thomas, Nathan berfikir benar juga sih kata-katanya. Kalau Tita datang bulan aku pasti harus ... eh, tunggu dulu?! Teringat hal penting itu Nathan tersentak, di cekalnya tangan Thomas dengan tiba-tiba membuat Thomas kaget dan menyangka bahwa Nathan marah dengan candaannya.


"Hei, setiap wanita itu sudah seharusnya datang bulan setiap bulan, kan?" tanyanya.


"Iya, iya ... tentu saja." Thomas menarik tangannya dari cekalan Nathan. "Kenapa? Tita belum datang bulan?" pertanyaan Thomas membuat yang lain juga ikut penasaran.


"Bahkan aku tidak pernah absen melakukannya sejak pertama kali kami ..."


"Loh, jangan-jangan Tita hamil ..." seru Rega.


"Hamil?" ulang Nathan.


"Tuan yakin, tidak pernah absen satu hari pun?" Brian meyakinkan, agak malu juga dia bertanya.


"Iya, aku sangat yakin." Saat itu jantung Nathan memompa dengan lebih cepat. Antara senang dan khawatir. "Kalau istriku hamil, bagaimana?"


"Ya artinya ada anakmu di perutnya." siapa lagi yang menjawab aneh begini kalau bukan Thomas.


"Maksudku, sekarang kan dia sedang pergi. Apa aku harus menjemputnya sekarang?!"


"kalau kamu jemput lalu bagaimana rencana kita nanti malam?" teringat hal penting, alasan mereka ada di sini.


"Ah, aku jadi tidak tenang. Brian, kemarikan ponselku." makin gelisah lah sang tuan suami. Belum lagi Nathan menghubungi ternyata ada panggilan dari sang istri 'My Soulmate'. Buru-buru Nathan menekan tombol hijau "Sayang," katanya.


Sahabat-sahabatnya melihat Nathan bagaikan orang yang baru mendapat oksigen, hanya bisa tertawa.


"Sayang, aku sudah sampai." Tita memberi tahu.


"Kamu sedang apa sekarang?"


"Aku dikamar, bersama Loudy. Jadwalnya istirahat dulu setelah itu baru makan siang."


"Kamu ... baik-baik saja, sayang?" Nathan ingat bahwa ada kemungkinan sang istri sedang hamil.


"Iya, tentu saja. Jangan katakan kalau kamu mau menjemput aku, ya?!" Tita memberi peringatan.


"Iya, kegiatannya tidak menguras energi kok. Sudah ya, nanti ku telpon lagi."


"Tunggu, sayang ..." Nathan agak menjauh dari teman-temannya. "I love you ... to the moon and back." aw aw aw ... so sweet banget sih.


"Ha ha ha, dari mana kamu dapat kata-kata itu?"


"Ck, jawab saja sih ..."


"Iya, iya ... love you too, honey."


Dan panggilan pun berakhir. Nathan terlihat lebih cerah dari pada tadi, karena sudah dapat asupan energi dari sumber energinya tentu saja. Ya, ya, ya ... lakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia ya, Nathan.


"Menurut kalian, apa Tita ku sedang hamil?"


"Tuan, untuk urusan itu anda bisa tanya tuan Axel saja nanti."


"Ah, ya ... benar." Nathan menghabiskan susunya.


"Nathan, tentang rencana nanti malam. Aku sudah menyiapkan semuanya, tugasmu hanya perlu menggiringnya ke ruangan yang sudah kita persiapkan."


Nathan menghela nafas, "Bagaimana cara aku menggiringnya?" sebenarnya mudah saja, hanya Nathan memang malas berurusan dengan sang mantan.


"Anya itu sedang berusaha masuk lagi dalam kehidupanmu, kalau kamu bisa sedikit memberikan perhatian seperti dulu ... aku yakin dia pasti lengah." jelas Rega.


"Thomas, apa kamu tidak bisa menggantikan aku? Aku takut Tita tahu kalau aku kencan dengan Anya ..."


"Obsesi dia adalah menjadi nyonya Nathan, bukan nyonya Thomas ... lagipula, tipeku itu Tita bukan Anya." canda Thomas.


Bukk!! "Jangan berani-beraninya kamu berfikir untuk merebut istriku." Nathan melempar bantal sofa tepat ke kepala Thomas.


"Sabar, tuan. Dia hanya bercanda." Brian menenangkan sang tuan yang sedang kesal. Baginya sang istri bukan bahan bercandaan, karena walaupun dia tahu Thomas bercanda, tetap saja dia cemburu. "Tuan, ada laporan dari anak buah kita." Brian menyodorkan ponselnya, menunjukkan foto-foto sebuah mobil yang selalu berada dimanapun Tita berada, entah hanya kebetulan atau memang itu di rencanakan.


"Siapa itu? Mengapa dia mengikuti istriku?"


Rega mengambil ponsel itu, "sejak kapan ini?"


"Pastinya saya belum tahu, tuan. Tapi seminggu ini, beberapa kali mobil itu selalu ada di sekitar nona. Mereka berfikir ini penting, makanya mengirimkan foto-foto ini."


"Brian, kirimkan orang untuk mengawasi istriku."


"Baik, tuan." Brian langsung menghubungi bawahannya untuk melaksanakan tugasnya.


Sementara itu, satu pesan masuk ke ponsel Nathan. 'Nathan, kamu bisa menjemput aku, kan?' ... "Anya mengirimkan pesan," Nathan memperlihatkan isi pesannya.


"Jemput lah, toh kamu bersama Brian kan?"


Dengan setengah hati, Nathan membalas pesan itu ... 'Dimana kamu tinggal? Aku akan menjemputmu.'


"Yess! Lihatlah, tidak terlalu sulit membuatnya kembali padaku. Dia sejak dulu memang begitu mencintai aku." Anya memamerkan balasan pesan Nathan.


"Bagus, jangan biarkan laki-laki mu itu lolos. Kamu bisa menjadi wanita yang kaya raya jika bersamanya."


"Tenang saja, jika sudah berhasil ku kendalikan dia seperti dulu lagi ... aku pastikan perusahaanmu pasti akan mendapatkan keuntungan yang banyak. Dia tidak pernah bisa menolak keinginan ku sejak dulu." Ha ha ha.


"Oke, selamat bersenang-senang. Jangan lupa kirimkan foto-foto mesra kalian." Laki-laki itu tersenyum, kemudian pergi. Ya, sekali mendayung dua pulau terlampaui. Begitulah pikirnya.