
"Aku akan panggil kakak, mi." berlalu lah Loudy meninggalkan sang mami menuju kamar sang kakak. Calon Tante itu tampak sangat riang, baru membayangkan ada makhluk kecil yang memanggilnya 'onti' sudah membuatnya sangat bersemangat. Asiiik pintu kamarnya tidak dikunci ...
"Kakak .... aaaaaaaaaa."
Jika kalian pikir Loudy berteriak histeris dan kemudian menutup matanya karena melihat sang kakak dan sahabatnya berciuman, no no no ... salah! Adik tersayang ini malah menghampiri kedua insan itu, membuat sang kakak bangun karena kelas.
"Kakak! seharusnya di kunci dong pintunya kalau mau begitu." protesnya.
Nathan menjentikkan jarinya di kening sang adik, "Kenapa kamu tampak senang melihatnya? dan kenapa tidak mengetuk pintu dulu!" tidak habis pikir dengan adiknya.
"Pintunya kan tidak dikunci," si jahil ini mendekati Tita yang kini duduk di pinggir tempat tidur. Kini tangannya di lingkarkan ke bahu Tita, "Lagipula, sebelum menikah denganmu ... gadis ini adalah partner ku ketika menonton drama romantis khususnya yang ada laki-laki tampannya." bangga sekali dia mengatakannya.
Glek! duh ... seneng banget sih membuatku dalam masalah ... "Tapi itu dulu, kok. Aku sudah jarang nonton drama-drama seperti itu lagi." Tita membela diri. Karena dia melihat Nathan sudah merubah mimik wajahnya.
"Kenapa kamu kesini?"
"Oh iya, sampai lupa aku... Dipanggil mami kak, sudah waktunya makan malam."
"Iya, nanti kami turun."
"Kenapa tidak sama-sama saja?" Loudy melihat dengan heran ke Nathan. "Oh, mau meneruskan yang tadi?? ha ha ha ... silahkan."
Tita hanya diam melihat kepergian Loudy. Dih ... ada apa dengan anak itu, makin aneh saja pikirannya. Tita sudah hendak berjalan ketika Nathan menegurnya.
"Mau kemana?!"
"Eh, mau turun ... makan ... aku lapar." jawabnya kikuk, kenapa tidak dipakai sih bajunya?
"Urusan kita belum selesai." Tita tertunduk malu-malu ... Nathan menariknya duduk di kursi. Lho, kok di kursi. "Apa yang kamu pikirkan?! dasar mesum." Nathan mendorong kepala Tita dengan telunjuknya.
Duh! malu juga ... aku pikir mau melanjutkan apa?? "Aku tidak memikirkan apa-apa?!" terlanjur malu, tapi gengsi. Ha ha ha.
Nathan menarik sudut bibirnya. "Aku masih belum membuat perhitungan denganmu karena sudah berada meminum pil kontrasepsi itu di belakang ku."
Glek! Tita ciut melihat tatapan Nathan seperti itu. Dia membahasnya lagi? dia memundurkan sedikit tubuhnya karena takut.
"Hei, jangan kamu pikir aku tidak akan melakukan apapun atas perbuatan mu itu, ya." kali ini telunjuk lentik itu mendorong bahu Tita.
"I, iya ..." Tita memberanikan diri menjawabnya. Dia pasrah, toh memang itu kesalahannya. Tapi hukuman apa yang akan di berikan sang tuan suami?
"Diam disini jangan kemana-mana, aku mau mandi." Tita mengangguk, patuh, tidak mengatakan apapun. Dia takut dengan Nathan yang seperti ini. Aura penguasa yang dapat melakukan apapun begitu terpancar hanya dari tatapannya. Ketika Nathan sudah menghilang di balik pintu kamar mandi, Tita baru bisa rileks. Ada rasa sedih, ketika dia di perlakukan seperti tadi oleh Nathan .. tapi Tita tahu itu karena salahnya juga. Hm, padahal sebelumnya aku benar-benar dibuat terpesona olehnya, pikir Tita sambil memandang pintu kamar mandinya. Kenapa sekarang aku dibuat jadi ketakutan begini? Dan apa hukuman yang akan diberikan untukku?
Suasana di meja makan itu kali ini cukup hening, Tita tidak berani mengatakan apapun. Dia hanya fokus menghabisi makanannya. Nathan sudah menghabiskan suapan terakhirnya, meletakkan sendok dan garpu nya, menyeka mulutnya, dan membuat pengumuman.
"Mami, aku akan pergi bulan madu."
Uhuk! Uhuk! huk! Tita tersedak.
"Sudah, ehm ... terima kasih." jawab Tita.
"Yakin, sudah tidak apa-apa?"
"Iya, aku sudah tidak apa-apa." Tita meyakinkan.
"Kakak yang membuat Tita tersedak seperti itu." terang Loudy.
"Mau pergi bulan madu ke mana?" tanya sang mami.
"Belum tau, akan aku pikirkan."
"Coba tanya istrimu, kemana kalian ingin pergi?" sang nyonya mami melihat ke arah menantunya yang seperti ... kebingungan??
Ya ... bagaimana tidak bingung, dia saja tidak tau apa-apa soal keinginan suaminya untuk bulan madu. Itulah Kenapa dia tersedak tadi.
"Aku sudah memiliki beberapa pilihan destinasi, mi." Nathan melanjutkan.
"Lebih baik kalian putuskan berdua, kan? Jadi bukan madu kalian akan terasa lebih indah."
"Iya, benar! apalagi kalau aku bisa ikut ... pasti tambah seru." Ha ha ha.
"Aku mau bulan madu, bukan traveling. Dan fokus saja pada kuliahmu, selesaikan segera." Jleb banget ya sang kakak kalau lagi menyebalkan. "Lagipula, Tita hanya perlu ikut kemanapun aku pergi kan mi."
Eh, ada apa dengan anaknya yang satu ini? Insting seorang mami bekerja. Dari kata-kata sang putra terselip kesan bahwa tidak penting sang istri terlibat dalam menentukan destinasi mereka. Nathan nya tidak seperti itu, apakah ada sesuatu yang terjadi? Ketika sang nyonya mami mengalihkan pandangannya ke arah sang menantu. Tita sudah akan beranjak dari meja makan.
"Nath, aku mau menemui ibuku dulu, ya?" ijinya.
"Iya. Aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan, nanti kamu langsung ke kamar saja."
Tita mengangguk, dingin, dia tidak pernah sedingin ini padaku. Maka Tita berlalu meninggalkan meja makan. Ternyata bukan hanya sang mami yang menyadari keanehan sang putra, Loudy yang sebelumnya memergoki mereka berciuman pun tidak habis pikir dengan kakaknya. Kenapa bisa berubah begitu cepat? Tapi dia diam saja, karena tadi dia sudah kena omel sang kakak.
Tita menelusuri jalan yang dulu sering dia lalui ketika akan menemui sang ibu di mansion ini. Angin malam yang menggerakkan rambutnya membuatnya enggan melanjutkan langkahnya. Dia berdiri menghadap hamparan taman bunga sang nyonya mami yang kini menjadi mertuanya. Bahkan dulu dia tidak pernah berpikir akan menjadi bagian penting dari keluarga ini, walaupun sudah sejak pertama sang nyonya mami dan nona rumah ini selalu menganggap dua dan ibunya sebagai keluarga. Dia juga tidak pernah berencana untuk jatuh cinta dengan tuan muda dari keluarga ini, karena bahkan kenal pun tidak. Takdir yang membawanya sampai sejauh ini, berawal dari keterpaksaan menerima pinangan laki-laki itu, hingga dia benar-benar merasakan jatuh cinta yang entah kapan terjadinya. Tiba-tiba penyesalan itu datang, kenekatan yang dia lakukan karena membeli pil kontrasepsi itu ... karena rasa kecewa dan kecemburuannya, karena tidak berfikir panjang dan mengkonfirmasi langsung. Jika aku, waktu itu tidak meminumnya ... mungkinkah aku sedang hamil sekarang? Air mata mengalir di pipinya, terasa dingin karena hembusan angin. Dadanya sesak menahan tangis, perlakuan Nathan tadi sangat jelas membuktikan bahwa laki-laki itu kecewa. Dia tidak bisa menyalakan siapa-siapa karena semua itu terjadi karena kesalahannya. Maka dibiarkan saja tangis itu keluar, agar lega perasaannya. "Maaf kan aku ..." kata itu yang di ucapkan Tita ... mengeluarkan emosinya, biarlah angin yang mendengar kesedihannya.
Tapi siapa sangka ada tangan hangat memeluknya, "Aku memaafkan mu karena ternyata kamu benar-benar menyesalinya ... Maafkan aku juga, sayang ..." dan makin pecahlah tangisnya ketika menyadari siapa yang memeluknya. Tita membalik tubuhnya, menatap wajah penuh pesona miliknya, yang kini sedang tersenyum ... Rasa sedih yang
tadi menghampirinya hilang seketika berganti rasa hangat yang disalurkan laki-laki ini. Tanpa pikir panjang Tita mengalungkan tangannya pada leher sang suami dan di detik berikutnya Tita menariknya dan mencium sang suami di bawah sinar sang rembulan.
"Woaah ... kakak terkutuk ... kakak sudah merubah sahabatku yang pemalu menjadi liar seperti itu."
Plak!! mami memukul lengan kiri Loudy.
"Sakit, miiiii." sambil mengusap-usap lengannya. Ya ... mereka memang sedang mengamati Nathan yang bersikap aneh kepada Tita, ketika Nathan berjalan keluar alih-alih keruang kerjanya ... anak dan ibu itu diam-diam mengikutinya, hah ... siapa sangka mereka malah mendapat tontonan yang romantis seperti ini. "Mi, do'akan aku yaaa ... dapat satu laki-laki yang seperti kak Nathan, he he he."