
Prank!
"Tuan, ada apa?" asisten Terry masuk tergesa-gesa karena mendengar pecahan kaca yang cukup keras dari dalam ruangan bosnya. Wah, berantakan sekali.
"Carikan aku orang yang handal untuk menyusup ke Petra Corporate."
"Tuan, kita sudah melakukan itu sebelumnya dan ketahuan."
"Lakukan saja apa yang aku perintahkan!"
"Baiklah, tuan." sang asisten pergi meninggalkan Terry. Haduh ... berapa banyak lagi aku harus mengorbankan anak buahku.
Pagi itu Terry kesal, dia cemburu karena tanpa sengaja melihat potongan video yang memperlihatkan kemesraan Nathan dan Tita di pinggir jalan malam itu. Unggahan itu mendapatkan banyak like dan comment yang beragam dari para netizen. "Sial! aku akan membiarkan kamu bersenang-senang kali ini, tapi tunggu ketika saat itu tiba, aku akan membuat kamu menderita!" Terry memandangi sebuah lukisan yang belum lama ini terpasang di ruang kerjanya, seorang gadis manis yang sedang tersenyum secerah mentari, lukisan yang juga merupakan obat kerinduannya.
***
Di dalam mobil yang mengantarkan tim Mirae Contruction menuju Petra Corporate. Mickey duduk di depan bersama pak Putra, sedangkan Tita duduk di belakang sendiri.
Tita sedang memikirkan kata-kata Gladis tadi, kalau banyak wanita yang selalu berusaha menarik perhatian Nathan memang wajar saja karena sang tuan suami adalah laki-laki penuh daya tarik baik fisik maupun kemampuan otaknya. Jika terus dia fikir kan, jadi kesal sendiri. Tapi rasanya sulit juga kalau tidak memikirkan nya. Pertanyaan di kepalanya adalah, apakah Nathan bisa tahan dengan godaan-godaan itu? Eh, tapi bisa jadi ya ... karena kemanapun dia berada pasti selalu di temani kak Brian, kan? begitulah yang Tita pikirkan. Tapi .... kak Brian saja playboy, kan? Ah! kesal sekali.
"Ta, Tita!"
"Hah apa?" kaget aku. Tita di kejutkan dengan panggilan Mickey.
"Ha ha, kamu melamun kan apa, Zahra?" tanya pak Putra.
"Tidak, Pak. Maaf saya melamun, ada apa?"
"Pak Putra bilang, kalau nanti kamu mau pulang bareng tuan Petra akan di ijinkan." Ha ha ha. Iseng banget Mickey.
Hari ini di Petra Corporate terjadi sedikit kehebohan. Karena apa? sudah tentu karena video yang beredar tentang bos mereka. Mungkin bisa di bilang itu hari patah hati nasional. Dan Nathan sudah di beritahu perihal ini oleh Brian, dan hanya di tanggapi dengan santai. Dan dia juga sudah melihatnya, namun ketika dia sudah memastikan wajah Tita tidak terekspos ... dia biarkan saja dan mungkin bisa dibilang bangga dengan title 'pria romantis' yang kini di sandangnya.
"Brian, menurut kamu .... apa Tita sudah melihat video itu?"
"Entahlah, tuan." jawab sang sekretaris. "Tuan, Sabtu ini jadwal nona kontrol."
"Oke. Jam berapa?"
"Pukul 3 sore, tuan." Brian mengambil berkas-berkas yang sudah di selesaikan Nathan. "Dan Mirae sedang dalam perjalanan kesini, anda mau menerimanya mereka diruang rapat atau disini?"
"Apakah menurut mu aku tidak bisa profesional?!"
"Maafkan saya, tuan. Akan saya siapkan ruang rapat." setelah membungkuk, Brian meninggalkan Nathan sendiri.
"Kalau aku menerima mereka semua disini, akan sulit untuk aku berduaan dengan istriku disini, kan? Dasar tidak peka."
aiiish ... ternyata ada udang dibalik batu. Ckckck.
"Selamat datang, nona, tuan Putra, tuan Mike. Langsung ke ruang rapat?"
"Mari, tuan Brian." pak Putra, walaupun jabatannya lebih tinggi dari pada Brian, dia tetap sungkan karena siapapun yang bergelut di dunia bisnis pasti tahu sepenting apa keberadaan Brian.
Mereka masuk ke ruang rapat, masih sepi. Kemana Nathan? Tita memilih duduk di antara Mickey dan bosnya, sudah tentu.
"Selamat sore." Sapa Nathan dengan senyum mengembang.
Namun senyum yang tadi dipamerkan Nathan seketika menghilang begitu dia melihat Tita-nya berdiri diapit kedua laki-laki, yaa... walaupun dia tau mereka adalah rekan kerja istrinya, tapi dia tetap tidak suka. Dan ekspresi sang tuan muda jelas terbaca oleh semua yang ada disana. Apa yang salah? pikir mereka.
Hingga si tuan ahli pembaca keinginan sang tuan muda mulai bersuara, "Nona, mungkin anda bisa bertukar tempat dengan tuan Mike?"
Oh, ya ampuuuun ... maka bertukar lah Mike dengan Tita. Lihat, lihat .. langsung senang lagi kan wajahnya.
Dasar ... belum ada satu jam sejak dia mengatakan tentang profesionalisme. Brian.
rapat pun dimulai, Tita mempresentasikan keseluruhan hasil pekerjaan, dan Mike memberikan rundown acara secara garis besar tentang pesta peresmian sekaligus pembukaan galeri seni yang akan di adakan nanti. Tita memperhatikan Nathan yang begitu fokus, ah ... dia memang tampan dan ketampanannya meningkat berkali-kali lipat ketika sedang memimpin seperti ini.
Ditengah rapat, Brian menginterupsi. "Tuan, perwakilan walikota B, sudah tiba."
"Oh, persilahkan masuk."
Seorang wanita tinggi semampai dengan kaki jenjang sengaja terekspos karena rok yang dikenakan hanya menutupi separuh pahanya dipadukan blazer yang pas di tubuhnya yang ramping, Clair, perwakilan wali kota B memasuki ruang rapat menyapa Nathan dengan segala kelembutan yang di milikinya.
"Maaf tuan Petra, saya terlambat. Saya tidak menyangka bahwa lalu lintas disini cukup padat." bahkan ketika tertawa pun dia tampak anggun.
"That's ok. Have a sit, please."
"Thank you, Mr. Petra."
Tita memperhatikan mereka, ups ... lebih tepatnya wanita bernama Clair itu, sangat terlihat jelas dia sangat tertarik dengan suaminya. Tiba-tiba kata-kata Gladis terngiang-ngiang di telinganya, 'banyak wanita yang tergila-gila dengan tuan Petra, bahkan bersedia melemparkan tubuhnya ...' dan itu membuat Tita merinding.
"Perkenalkan, mereka tim dari Mirae Contruction yang mengerjakan proyek ini." Nathan memperkenalkan.
"Oh, halo ... pekerjaan kalian luar biasa. Jika tuan Petra saja bisa mempercayakan pekerjaan ini kepada kalian, sudah pasti hasilnya tidak akan mengecewakan." manis sekali kata-katanya.
"Terima kasih pujiannya, nona Clair."
Rapat di lanjutkan dengan pembahasan rundown acara peresmian pembukaan galeri seni, yang akan melibatkan wali kota B beserta jajarannya, Petra Corporate, Mirae Contruction, dan tamu penting. Dan sebagai perwakilan dari wali kota B, Clair, menyampaikan bahwa mereka akan menyediakan kamar-kamar di hotel tidak jauh dari lokasi galeri untuk Petra Corporate dan Mirae Contruction yang memang berada di beda kota.
Ketika pembahasan sedang berlangsung, Tita beberapa kali menangkap wanita itu tengah menatap penuh kekaguman pada suaminya. Dan sepertinya tidak mungkin jika Nathan tidak mengetahuinya, tapi sang suami bersikap biasa saja.
Rapat akhirnya selesai, pak Putra dan Mike sedang menikmati makanan kecil yang telah di sediakan Petra, begitupun dengan Tita. Jika dipikir-pikir, Nathan tidak mengajaknya berbicara secara personal sejak tadi.
"Tuan Petra, saya menginap di hotel 7, bagaimana kalau anda menemani saya makan malam?" Clair melancarkan aksinya. Dia tidak mau terlalu tampak tertarik, tapi juga tidak mau terlalu cuek.
Tita mendengar ajakan itu dengan sangat jelas dan dia berusaha mati-matian menahan emosinya. Mickey pun mengerti bagaimana perasaan Tita, maka diapun berinisiatif mengalihkan perhatian Tita dengan cara memberikan sepotong cake blueberry miliknya untuk Tita.
"Makan ini," katanya dengan agak keras.
"Untuk aku?"
"Iya, daripada nanti kamu minta mampir ke toko kue untuk membeli cake ini, hehe." Mickey memang sahabat yang sangat perhatian.
"Ha ha ha, ada-ada saja kamu." jawab Tita, tapi tetap saja dia memakan kue itu tanpa sungkan.
Rupanya Clair memperhatikan mereka berdua, "Kalian pasangan kekasih, ya? romantis sekali." katanya.
Glek! Tita, Mike, dan pak Putra langsung menegang, karena biasanya Nathan akan langsung bereaksi. Eh, tapi ... tidak, Nathan tidak ikut berkomentar. Kenapa?