Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 116



Muller Groups.


"Wah ... shiny banget ya kantornya." Cindy mengomentari interior Muller Grooups.


"Hush, jangan norak begitu dong, Cin." Raka mengomentari temannya itu.


"Ih, memangnya kenapa? Kan hanya ada kita saja disini, lagipula memang kantor ini terlihat indah jadi wajar kalau aku memujinya."


"Ehm, oke sudah cukup keributannya ... kita harus menjaga wibawa kita." Pak Putra pada akhirnya berkomentar melerai pertengkaran kecil anak buahnya.


Tita dan Mickey hanya tertawa saja melihat kedua temannya itu, karena siapapun sudah tahu bahwa Cindy dan Raka jika sedang bersama tidak mungkin tidak ada keributan yang mereka ciptakan. Entah siapapun yang memulainya duluan. Pernah suatu hari ketika CIndy dan Raka sedang beradu mulut, Tita yang selama ini drama addict tanpa rasa berdosa mengatakan, "kalian lucu deh ... kenapa tidak memulai untuk berpacaran saja?" Sontak saja kata-kata Tita yang sebenarnya diucapkan dengan sungguh-sungguh memancing gelak tawa teman-teman lainnya. Dan bukan main kesalnya Cindy kala itu, cih, siapa juga yang mau punya pacar usil dan tidak mau mengalah seperti Raka ini.Tapi tidak dengan Raka, dia justru hanya diam dan memperhatikan Cindy dengan dalam walaupun dalam diam. Hah ... cinta memang penuh misteri.


TIba di ruang rapat Muller Groups, meraka tidak kalah takjub karena ruangan ini cukup besar dan nyaman. Seorang sekretaris mempersilahkan mereka untuk duduk dan menunggu, karena rapat baru akan di mulai tiga puluh menit kemudian. Beberapa minuman ringan dan makanan kecil di sediakan, agar mereka tidak bosan menunggu.


"Nona maaf, dimana toiletnya ya?" TIta bertanya karena dia ingin buang air kecil.


"Oh, mari saya antar." si sekretaris mengantarkan Tita ke salah satu toilet yang ada di sana.


Tita seorang diri di dalam toilet itu, sebagai seorang designer dia pun tidak bisa memungkiri arsitektur bangunan ini dan interior yang melengkapinya memang mempunyai sentuhan yang high class. Toilet untuk tamunya saja sebagus ini, aku saja bisa betah jika harus menunggu di toilet, hehehe. Ketika selesai dengan urusannya, Tita melihat ada paggilan masuk di ponselnya, ah ... tuan suami. Tita memang belum mengganti nama kontak Nathan di ponselnya.


"Halo, sayang ..."


"Sayang, kok kamu terdengar lemas sekali. Kamu sakit?"


"Tidak, aku baik-baik saja ..."


"Aku akan mengusahakan pulang secepatnya, maaf aku jarang menghubungimu. Pekerjaanku disini banyak sekali dan aku harus menyelesaikan dengan cepat jika ingin cepat pulang."


"Iya, aku mengerti. Aku merindukanmu ..."


"Apa"


"Kamu kan sudah dengar tadi ..." Tita cemberut.


"Sekali lagi ... katakan sekali lagi ... please?" TIdak biasanya sang istri mengatakan kata-kata rindu.


"Aku merindukanmu,"


"Aku juga, sayang. Sangat merindukanmu ... Apa aku kabur aja sekarang dan langsung menemuimu?" Hah ... ide gila sang tuan suami.


"Jangan aneh-aneh, nanti makin lama kamu di tahan kak Brian."


Ha ha ha ha ... Duh, istri ku lucu sekali. Dapat pemikiran dari mana dia kalau aku di tahan Brian disini? "Siap sayang, tunggu aku ya ... aku akan segera pulang."


"Hati-hati ya disana."


Nathan terdiam, kata-kata biasa sebenarnya ... tapi sejak mimpi itu, Nathan menjadi sensitif apalagi kali ini Tita langsung yang mengatakannya. "Sayang, kamu yang hati-hati ... jangan pergi sendirian, oke?" Nathan mengatakannya dengan sungguh-sunggu, dan terdengar suaranyanya yang bergetar.


Ketika kembali ke ruang rapat, Tita berpapasan dengan seorang wanita. Dia memakai stilleto yang cantik sehingga menyempurnakan penampilannya. Wah ... cantik sekali, pikirnya. Tidak terpikir oleh Tita siapa wanita itu, karena dia harus segera kembali ke ruang rapat.


"TIta, disini." Mickey melambaikan tangannya agar Tita duduk di sebelahnya. Dan tanpa siapapun menyadarinya, perlakuan Mickey itu menarik perhatian Terry, pemilik perusahaan ini.


"Terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang anda berikan, kami akan menjadwalkan kembali meeting kita selanjutnya setelah poin-poin tadi kami penuhi." Pak Putra.


"Baiklah, saya juga mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya." Terry menyalami pak Putra, begitu pun dengan staf yang lain.


"Iya, ada apa?"


"Aku mau mengajakmu makan siang, bagaimana?"


"Um, maaf tapi aku sudah ditunggu teman-temanku." Tita menolaknya secara halus. Dia pun tidak ingin membuat laki-laki ini tersinggung dan tidak nyaman.


"Oh, baiklah ... Tapi lain kali jangan menolak ya?"


"Baiklah. Aku pamit ya Terry. Eh, Tuan Terrry." kebiasaan, TIta lupa kalau laki-laki di depannya adalah orang penting.


"Jangan seperti itu, panggil Terry saja. Itu lebih nyaman bagiku, kita kan sudah kenal sebelum proyek ini."


"Ha ha ha, baik baik. Nah, aku pergi ya."


Nathan dan Terry adalah laki-laki tampan yang menjadi dambaan kaum hawa namun bagaikan dua sisi mata uang. Kalau Nathan dingin dan tidak pernah peduli dengan wanita manapun sedangkan Terry adalah sosok yang hangat dan bahkan sangat ramah terhadap wanita apalagi yang di sukainya, seperti TIta.


"Ra, kamu kenal baget ya sama tuan Terry?" hehe .. rupanya ada yang penasaran juga.


"Kenal secara kebetulan sebenarnya, dan itu sudah beberapa bulan yang lalu."


"Aduh ... Zahra, kamu beruntung banget sih. Udah punya suami tuan Petra yang ganteng, tajir dan sekarang lagi di dekati bos besar juga."


"Hei ... enak aja, aku cuma teman ya ... Jangan bicara yang bukan-bukan." Tita tidak suka Cindy mengatakan hal itu, toh dia memang menganggap Terry teman biasa saja.


"Ah, he he he ... sorry Zahra, aku hanya bercanda." Cindy mengeluarkan jari kelingkingnya tanda permintaan damai. Dan Tita pun mengaitkan jari kelingkingnya juga.


Sementara itu di salah satu sofa yang terdapat di lobi, seorang wanita duduk dengan memamerkan kaki jenjangnya. Dia seolah sedang membaca sebuah tabloid bisnis yang memang ada disana. "Zahra Ratifa, huh, gadis kampunan dan sok cantik. Aku heran apa yang kamu gunakan sehingga banyak laki-laki tampan dan kaya yang suka padamu. Dasar wanita tidak tau diri, wanita sepertimu tidak pantas hidup dalam kemewahan sepert itu."


***


Ketika waktu menunjukkan pukul empat sore, para karyawan yang tidak lembur sudah bersiap untuk pulang. Begitu pun dengan Tita dan teman-temannya. Proyek yang akan mereka tangani masih dalam taham pra-perencanaan, jadi mereka belum lagi di sibukkan dengan berbagai macam buku, kertas, gambar-gambar dan seala macam hitungan.


"Tita, jadi pulang bareng?" Mickey bertanya.


"Jadi, kamu sudah siap?"


"Aku di pantry dulu ya,"


Tita hanya mengangguk sebagai bentuk jawaban. Dan Mickey meninggalkannya menuju pantry. Tidak lama ada satu pesan masuk ke ponsel Tita, nomor yang tidak di kenalnya si pengirim hanya menulis 'Hai, cantik.'


Ih orang iseng dari mana ini. Maka Tita tidak menggubris pesan tersebut dan menganggapnya sebagai pesan nyasar. Namun, tidak lama kemudian masuk satu pesan lagi, 'Tita, tidak apa kan aku memanggilmu TIta?'


JIka orang ini tau panggilan akrabnya, pasti dia adalah orang yang aku kenal juga, tapi siapa sih? Belum lagi Tita bertanya, pesan itu datang lagi dan menjawab rasa penasarannya, 'Aku Terry, ini nomor pribadiku.'


Hah, Terry ... pantas saja aku tidak mengenalnya, nomor ponselnya berbeda dari sebelumnya.


'Hai, pantas saja namamu tidak muncul, ha ha.'


'Jangan kamu sebarkan nomorku yang ini, ya. Aku khusus memberikannya padamu.'


Setelah itu, Tita tidak lagi menggubris beberapa panggilan pesan yang masuk karena sesungguhnya dia hanya menunggu pesan dan telepon dari sang suami. Huft, aku baru merasakan rindu itu berat ... rasanya hari-hari ku ini hampa, tidak ada pelukan, tidak ada ciuman, tidak ada malam yang panjang ... rasa kesal karena sang tuan suami pergi tanpa pamit tidak lebih besar dari rasa rindunya, dan sialnya kerinduan itu bertambah setiap harinya.