Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 12



"Duh, gadis incaran kamu itukan belum pernah punya pacar, jadi jangan ekstrim gitu dong. Kamu harus lembut, lakukan dengan perlahan." Axek menanggapi ke amatiran sahabatnya.


"Iya, siapa juga yang tidak kaget kalau kamu tiba-tiba ada di depan wajahnya, sabar bro!"


"Aku sudah berusaha menahannya, tapi tidak bisa. Ketika melihat kuncir kuda itu, aku makin tidak bisa menahan diriku tadi ..." jujur Nathan. "Tapi aku marah ketika dia menolak ajakan makan malam dengan ku, karena aku pikir dia sudah punya pacar." Nathan menghela nafasnya.


"Ck, kenapa tidak kamu mencari tahu dulu siapa dia?" Axel menatap ke arah Brian.


"Aku sudah melakukannya," bela Brian. "Nona Zahra belum pernah punya pacar karena fokus dengan pendidikannya, dia sudah tidak mempunyai ayah, dia satu kampus dengan nona Loudy, dia ..."


"Apa!" Nathan terkejut. "Kenapa tadi kamu gak bilang?"


"Maaf, tuan, mungkin karena tadi saya terkejut mendapati kenyataan bahwa anda di tolak oleh nona Zahra," seketika ruangan itu dipenuhi oleh tawa orang-orang di dalamnya, kecuali sang tuan muda yang jengkel dengan sang sekretaris.


Nathan berdiri, menarik ujung jas yang dia kenakan agar rapi kembali, "Ayo, pulang. Aku ingin berbicara dengan adikku," katanya semangat.


ketika Nathan dan Brian sampai di lantai 1, "Tuan, itu sepertinya nona Zahra." Nathan menghentikan langkahnya untuk melihat ke arah yang ditunjuk Brian. Terlihat olehnya sang gadis pujaan sedang dirapikan rambutnya oleh seorang laki-laki kemudian mereka masuk mobil dan menghilang dari pandangan. Rahang Nathan mengeras karena cemburu. Dia hanya diam di dalam mobil yang membawanya pulang ke mansion. Dan sang sekretaris tahu apa kesalahannya. "Saya akan menyelidiki laki-laki tadi, tuan." ujarnya tanpa di perintah.


"Apa kamu kini sudah kehilangan keahlian kamu?'


"Maaf, tuan." hanya itu yang bisa dia jawab.


Sampai di rumahnya, Nathan di sambut sang mami. "Mi, Loudy mana?"


"Dia menginap di tempat temannya, kenapa?"


"Ada yang mau aku tanyakan ..."


"Apa?" sang mami penasaran


"Aku menyukai seseorang, dan sepertinya dia teman kampus Loudy, mi," tepat pada saat itu bi Amel meletakkan secangkir teh hangat untuk sang tuan muda, jadi dia mendengar yang di katakan sang tuan. Sang mami melirik sahabatnya, ada rasa tidak enak karena dia yang punya ide untuk menjodohkan Tita dengan Nathan.


"Kamu yakin, sudah jatuh cinta pada gadis itu?" sang tuan muda mengangguk sambil menyeruput tehnya. Sang mami menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, menghela nafas. "Padahal mami berencana menjodohkan kamu dengan gadis yang sudah mami pilih."


"Mami, kita sudah membahas ini sebelumnya." kenapa maminya tidak pernah menyerah menjodohkan anaknya? "Aku ke kamar dulu mi, gerah." sang mami hanya mengangguk.


Sepeninggal anaknya, sang mami menuju dapur. Di lihatnya Amel sedang mempersiapkan menu untuk besok, "Mel,"


"Sebaiknya, kita jangan memaksa keinginan kita pada anak-anak," bi Amel sudah tahu apa yang akan sahabat sekaligus majikannya ini katakan. Dan sang nyonya terlihat bersedih, karena dia berharap Tita akan menjadi menantunya.


Tut... tuut .."Halo, Lou,"


"Apa kak?"


"Kamu dimana?"


"Di rumah teman, aku menginap."


"Kamu kapan pulang?"


"Kenapa, kak?"


"Ada yang ingin aku tanyakan,"


"Iya, apa? sekarang kan bisa ...


"Kamu di rumah siapa?"


"Teman aku, Tita. Kenapa? apa yang mau kakak tanya?" Loudy sedang makan kripik bersama Tita, yang pulang tadi di jemput oleh Mickey.


"Em, kamu punya teman kuliah yang namanya Zahra?"


"Hah, gak tuh. Kenapa?"


"Iya lah. Lebih tau aku atau kakak sih?"


"Ah, ya sudah lah ... bye," klik.


Idih, kenapa sih Nathan, pikir Loudy. Dia kembali mengingat-ingat. Memang dia tidak punya teman bernama Zahra, kan? Tapi sebenarnya ada apa sih dengan kakaknya itu.


"Kenapa kakak kamu?" tanya Tita.


"Ta, memang aku pernah cerita kalau aku punya teman namanya Zahra?" tanyanya untuk lebih meyakinkan dirinya.


"Aku, nama depan ku kan Zahra," jawab Tita polos.


"Hah, masa??" Loudy terkaget. Iya. Karena keseringan memanggil dengan nama Tita, dia bahkan lupa kalau nama asli Tita adalah Zahra Ratifa. Apa aku kasih tau sekarang ya? tapi udah malem ah, besok aja di rumah, pikir sang nona. Kemudian kedua gadis itu melanjutkan kegiatan mereka, menonton drama Korea yang menjadi agenda mereka bersama.


***


"Tuan, lusa jadwal kita mengecek pembangunan hotel di Inggris." Nathan menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap sang sekretaris. "Sebaiknya jangan membatalkannya kali ini, tuan." Brian meyakinkan.


"Baiklah, ajak Rega juga."


"Baik." Brian sudah akan keluar, ketika sang tuan kembali memanggil nya.


"Tunggu, jika tidak ada jadwal aku ingin pulang cepat hari ini,"


"Baik, saya akan siapkan mobil."


Hari ini ada acara makan-makan kecil di rumahnya. Sang adik semata wayangnya berulang tahun, tidak ada pesta mewah layaknya ulang tahun anak-anak orang kaya. Karena ini juga keinginan Loudy, karena dia ingin suasana yang intim dengan keluarga dan beberapa sahabatnya. Makan-makan itu di adakan di taman samping, dengan sebuah meja panjang yang penuh dengan berbagai makanan dan minuman.


"Aduh... kamu cantik sekali nona ..." Tita.


"Ck ... apa sih, ha ha ha..." Tita sedang membantu Loudy bersiap, dikamarnya. Terdengar beberapa suara dari taman yang berarti sudah ada keluarga yang datang.


"Sepertinya mereka sudah datang," seru Tita.


"Iya, aku sudah siap." dan ketika akan jalan, tangan Tita ditarik sang nona. Dia mengoleskan lipgloss ke bibir Tita, "Biar makin segar bibir kamu,"


"Hah, apa sih." ha ha ha ... dan mereka turun menuju taman.


Yang hadir di pesta kali itu adalah kerabat dekat orang tuanya, teman-teman sang kakak, dan Mike yang kini semakin dekat dengannya, sebagai teman. Ketika Loudy sampai di taman, acara ulang tahun sederhana itu dimulai. Banyak ucapan selamat dan do'a yang dia terima. Membuat sang nona bersyukur karena hidup diantara orang-orang baik ini. Karena menjadi bagian dari anak dan adik semata wayang pengusaha sukses di negeri ini, Loudy sangat mempersempit lingkup pertemanannya. Dia sangat tidak menyukai orang berteman dengannya hanya karena latar belakang keluarganya. Satu persatu tamu-tamu undangan menyerahkan kado yang istimewa untuk Loudy. Sang bungsu keluarga Petra.


"Terima kasih ya, kak. Aku suka sekali kadonya." Loudy bergelayut manja di lengan sang kakak. Para tamu sedang menikmati makanan sambil bersenda gurau. Dan teringat sesuatu, Loudy menegakan punggungnya. "Kak, aku lupa mau memberitahu sesuatu,"


"Apa?" jawab sang kakak.


"Pertanyaan kakak tempo hari, aku lupa ..." ketika akan mengucapkan informasi yang dia miliki untuk kakaknya, Loudy mendapatkan ucapan dari Tita yang kini sudah ada di depannya.


"Lou, selamat ulang tahun yaaa.. aku cuma bisa memberimu ini," katanya seraya menyerahkan kado kecilnya.


Mendapatkan perlakuan yang manis dari sahabatnya, Loudy langsung memeluk Tita, "Thank you, so much." kayanya tulus. Sejurus kemudian dia ingat kakaknya. "Oh ya, kak, ini teman aku namanya ..."


"Zahra?" Nathan sangat terkejut, mendapati gadis yang tidak pernah hilang dari fikirannya, kini ada di depannya, di acara ulang tahun adiknya.


"Tuan Petra?"


"Kalian, sudah saling mengenal? Kakak kenal teman ku?" sang kakak beralih ke adiknya. "ini yang mau aku kasih tau kakak tadi, teman kuliah ku ada yang namanya Zahra, ya ini orangnya."


"Ta, ini kakak aku, Nathan."


"Hah?" Tita bingung, menatap sahabatnya itu. "Tuan Petra, kakak kamu?"


"Iya, namanya Nathan."