
Setelah pengakuan Nathan di acara penyerahan galeri seni kota B, hubungan suami istri itu makin mesra dan menggemaskan. Ada rasa tenang dalam hati Nathan karena semua orang pasti sudah tau siapa Tita, istrinya.
"Tuan, sepertinya anda senang sekali akhir-akhir ini?"
"Ha ha ha ... apakah kamu harus menanyakan hal yang sudah kamu tau jawabannya?"
Ha ha ha, Brian tertawa juga ... dia adalah salah satu orang yang ikut mendapatkan kesenangan dari hal baik yang di alami sang tuan mudanya. Ya, tentu saja senang ... karena semua pekerjaan tidak ada yang tertunda, semua berjalan sesuai agendanya. "Ah, tuan ... saya dengar siang ini Mirae akan menandatangani kontrak kerja dengan salah satu perusahaan asing."
"Oh ya? Bagus kalau begitu."
"Apakah anda ingin memajukan jadwal bulan madu sebelum nona Tita di sibukkan dengan proyek barunya?" waaah ... Brian peka sekali.
Nathan terlihat berfikir, benar juga ... "Oke siapkan semuanya."
"Baik, tuan." maka Brian berlalu meninggalkan Nathan.
Nathan beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke arah jendela besar yang menyajikan pemandangan kota di sekitar Petra Corporate. Dia tampak memainkan ponselnya dan, "Halo, sayang dimana? Kenapa mendadak sekali? baiklah, hati-hati ya ... hubungi aku jika sudah selesai ... love you, sweetie." Klik.
***
"Tita, kamu sakit?" Mickey menghampiri meja kerja Tita.
"Kepala ku pusing, Mickey."
"Istirahat dulu saja, ya ... masa kamu mau paksain ikut meeting dengan kondisi begini?" Mickey tidak bisa membiarkan Tita, karena saat ini Tita terlihat sangat pucat.
Arga yang mendengar pembicaraan mereka pun ikut menghampiri, "Zahra, kamu belum sarapan, ya?" Tita menengadahkan kepalanya dan menggeleng. "Ya ampun, kebiasaan deh." Maka Arga memberikan bekal makannya agar dimakan oleh Tita.
"Arga ... ini enak sekali," tampak Tita yang dengan lahap memakan makanannya.
"Aku membuatnya sendiri," dengan bangganya Arga mengakui keterampilan memasaknya.
"Apa seenak itu?" Mickey yang sejak tadi mengamati Tita jadi ikut tergoda ingin mencicipi apa yang sedang di makan Tita. Tita menyerahkan sesendok makanan itu dan hap ... rasanya biasa saja, gumam Mickey.
Ah, sepertinya tubuhku telah di charge ulang, lebih segar sekarang. Tita berjalan ke dalam ruang rapat, dimana tim nya sudah menunggu. Tita sempat termenung sejenak ketika melihat seseorang yang duduk di ujung meja berhadapan dengan bosnya. Dan seseorang itu, tersenyum manis sekali manakala dia menyadari bahwa Tita sedang melihat ke arahnya.
"Baiklah, karena semua yang akan terlibat dalam proyek ini sudah berkumpul ... mari kita mulai." seru pak Putra. Memulai rapat kali ini, dia memperkenalkan tim nya dan tugas masing-masing orang yang terlibat. Rapat berjalan mulus dan profesional. Pak Putra meyakini bahwa proyek kali ini adalah imbas dari keberhasilan perusahaannya menyelesaikan proyek dengan Petra Corporate dengan sempurna. Perusahaannya kini memiliki nilai saing yang patut di perhitungkan.
Setelah rapat selesai satu per satu orang meninggalkan ruangan itu, begitu pula dengan Tita yang keluar bersama dengan Mickey.
"Ta, nanti pulang bareng aku aja ... aku ada perlu dengan Loudy."
"Hm, ada perlu apa?"
Mickey kikuk mendapat pertanyaan seperti itu, "oh ... hanya ada yang ingin di bahas saja soal tugasnya."
Tita menatap Mickey penuh curiga, membahas tugas?? cih, padahal biasanya juga dia minta tolong padaku. Tapi belum sempat Tita mengatakan hal itu tiba-tiba,
"Zahra!" Tita melihat ke arah datangnya suara. "Long time no see ..." lanjutnya.
"Hai, Terry ... maaf aku belum menyapa kamu dengan benar tadi."
"Tidak masalah, kamu apa kabar?"
"Aku, baik ..." Mickey memperhatikan interaksi ke duanya, dia merasa sepotong wajah tampan ini agak familiar ... dia yakin pernah melihatnya, tapi di mana?
"Bisa aku minta nomor ponselmu? nanti kita akan lebih sering berhubungan untuk membahas proyek ini." laki-laki ini benar-benar bisa melakukannya dengan sangat natural.
"Baiklah, Zahra. Aku pamit, aku harus kembali ke kantor." Tita mengangguk, Terry hendak melangkah pergi tapi kemudian, "Rapat berikutnya akan di adakan di kantor ku, kamu harus datang ya ... ada yang ingin aku tunjukkan padamu."
"Apa?" tanya Tita penasaran. Karena ... mereka tidak sedekat itu sebenarnya.
"Surprise, see you soon, bye." Terry benar-benar berlalu kali ini, meninggalkan Tita yang masih mematung memperhatikan langkah kaki laki-laki itu. Terry itu termasuk ke dalam kategori laki-laki tampan dan memikat menurut Tita, pesonanya lain, misterius. Ah! Tita ... kamu sudah memiliki suami yang super super tampan dan baik hati. Tita mengingatkan dirinya sendiri.
"Ya, yuk jalan sekarang." Mickey menghampiri Tita karena mereka akan pulang bersama.
"Iya sebentar."
"Zahra, besok pagi mau aku bawakan sarapan buatan ku?" Arga menawarkan dirinya.
"Aku juga mau dong Arga ..." Candy yang menjawab. Ha ha ha.
"Zahra sedang tidak enak badan." elak Arga.
"Hahaha ... Arga tidak perlu repot-repot, aku sudah sehat sekarang. Terima kasih ya."
Saat ini Tita dan Mickey sudah dalam perjalanan. Tita sudah menghubungi sang tuan suami bahwa dia pulang bersama Mickey dan kini sudah dalam perjalanan.
"Ta, kamu sepertinya sudah kenal lama dengan tuan Muller, ya?"
"Ah tidak juga, hanya beberapa kali ketemu tidak sengaja. Tapi karena orangnya supel dan enak di ajak ngobrol jadi aku senang saja berteman dengannya."
Sampai di mansion Petra, Loudy sudah menunggu mereka di depan pintu. "Kenapa kalian lama sekali." dia bosan menunggu rupanya.
"Maaf yaaa ... tapi kita pulang tepat waktu, tuh. Itu salahmu sendiri yang menunggu lebih awal, wle!" Tita menggoda sahabat sekaligus adik iparnya.
"Eh, enak saja ... siapa yang menunggu??" kikuk Loudy mendapatkan ejekan dari Tita. Mickey yang mendengar nya tersenyum bahagia. "Sudah ah, yuk masuk."
"Sayang." Nathan langsung menghampiri begitu melihat Tita masuk. "Kenapa lama sekali sampai di rumah? Mampir kemana dulu sih?"
Tita, Mickey dan Loudy yang mendengar protes Nathan tanpa di komando tertawa berbarengan. Ha ha ha.
"Kenapa kamu malah tertawa? Kamu mengolok-olok aku?" Nathan tidak terima di tertawa kan sang istri.
"Tidak, ha ha ... bukan begitu. Hanya saja ... aku semakin yakin kalau kalian adalah saudara kandung. Ha ha ha." Tita tidak bisa menahan tawanya. Sifat ke dua orang ini benar-benar mirip.
"Wah, wah, wah ... seru sekali, ada apa sih?" sang nyonya mami datang karena dia mendengar suara tawa renyah dari arah depan. Dan benar saja, sepertinya mereka sedang menertawakan putranya yang kini tengah memasang wajah tidak senang.
"Selamat sore, nyonya." sapa Mickey dengan hormat.
"Selamat sore, nyonya mami." Tita juga ikut menyapa sang mertua. "Tita ke atas dulu, ya." capek sekali ... dia ingin mandi dan berganti baju.
"Aku temani sayang. Mi, aku naik dulu." pamit Nathan.
Tinggal lah ke tiga orang itu di ruang tamu, Mickey agak gugup. Padahal, ini bukan kali pertama dia datang ke rumah ini, dan bukan pertama kali pula dia bertemu dengan sang nyonya mami.
"Mi, aku mau minta bantuan Mike menyelesaikan tugasku." terang Loudy terkait keberadaan Mike bersamanya.
"Iya, selesai kan tugasmu." kemudian beralih ke Mike. "Mike nanti sekalian makan malam di sini, ya."
"Baik nyonya, terima kasih." deg deg, deg deg.