
"Kamu tahu ... Aku senang kamu berinisiatif seperti ini, ya .... walau leherku sakit." goda Nathan sambil menggosok lehernya. Ha ha ha, lucu juga melihat Tita cemberut seperti itu.
"Kamu sudah tidak marah padaku?"
"Aku tidak marah," Nathan menggandeng sang istri ke tengah taman sang mami.
"Tapi ... tapi tadi kamu seperti itu,"
"Seperti itu, bagaimana?"
"Ah, lupakan saja." mengalihkan pandangan.
"Hei... katakan padaku, ayolaaaah ..."
"Tidak jadi, aaah ... Nathan, stop ... geli, ha ha ha ..."
"Hei, hei, hei ... Apa kalian tidak punya tempat yang lebih private?? harus yaa ... bermesraan ditempat terbuka seperti ini?!"
Nathan yang sedang menggelitik Tita hingga membuat Tita kegelian langsung menghentikan kegiatannya ketika ada suara yang mengganggunya. Tita yang nyaris kehilangan nafasnya karena ulah sang tuan suami dapat merasa lega karena Nathan menghentikan aksinya. Tapi, siapa yang mengganggu mereka?
"Huh ... Mau apa kalian kemari!" heran, kenapa selalu ada orang yang mengganggunya sih.
"Oh, ho ho ... santai bro, kan kamu yang meminta kami kesini tadi." Axel segera menjawab, dia tidak mau menjadi bulan-bulanan kemarahan sang tuan muda yang tengah di mabuk cinta.
Nathan berdecak, benar juga ... aku yang meminta mereka kesini tadi, jadi malu yaaaa... "Kalian kan bisa masuk ke dalam. Bukannya mengganggu aku disini." karena dia ingat, jadi di rendahkan suaranya kini.
"Sayang," Tita berbisik dan menarik pelan kaos yang di kenakan Nathan. Nathan merendahkan tubuhnya dan mendekatkan telinganya, "Kita lanjutkan nanti saja, aku ke kamar ibu dulu ya."
Blush!! entah apa yang merasuki Tita malam ini sehingga bisa bertingkah manis seperti itu. Untung saja lampu di taman temaram, jadi tidak terlalu tampak rona merah di wajahnya.
"Sudahlah, sayang ... kendalikan gairah mu itu, mari kita berbincang-bincang ... toh, gadismu itu sudah berlalu pergi." Thomas menyadarkan Nathan yang masih terpaku atas perilaku gadisnya. Dia menarik kaos Nathan seperti yang tadi Tita lakukan, membuat Brian dan juga Axel tertawa terbahak-bahak.
"Kalian menyebalkan!"
Ha ha ha ....
Ruang kerja Nathan.
"Jadi ... ada hal apa sampai anda memanggil kami kemari malam-malam, tuan?" Brian bertanya.
"Jangan bilang kalau kamu hanya ingin pamer kemesraan ..."
Nathan pun bingung apa yang mau dia sampaikan, karena tadi dia hanya sedang butuh teman. Tadi dia kesal karena teringat apa yang Tita lakukan. Tapi ketika dia menyadari bahwa kata-katanya bisa jadi membuat Tita bersedih maka dia pun menyusul Tita ... Dan siapa sangka perbuatannya itu justru membuatnya mendapatkan jackpot.
Melihat Nathan hanya terdiam membuat Thomas makin bersemangat menggodanya. "Huh ... benarkan, dia hanya ingin pamer kemesraan."
"Tidak ... bukan begitu. Aku ingin memberitahu, aku ingin berbulan madu."
"Lho, tuan ... bukannya anda tidak jadi mengagendakan itu?"
"Bagus ... bagus, itu pilihan yang bagus. Aku setuju, pergilah ... Kalian memang butuh waktu yang berkualitas agar segera mendapatkan bayi." Axel pendukung Nathan.
"Kapan rencana anda akan berangkat? Kemana tujuannya, tuan?" Brian tau dia harus mempersiapkan segala sesuatunya. Dia juga tidak ingin jadwal yang sudah tersusun menjadi berantakan dan tidak terkontrol.
"Apa kalian ada ide? Aku sendiri belum tau ingin pergi kemana?"
"Ah ... kenapa tidak kamu tanyakan istrimu?"
"Nope ... biar menjadi kejutan saja. Axel, kapan lagi Tita harus kontrol?"
"Minggu depan, aku sudah berikan jadwalnya pada Brian."
"Sudah saya masukkan dalam agenda anda, tuan. Anda akan selalu bersama nona ketika jadwal kontrol. Saya juga sudah menginstruksikan koki untuk membuat makanan khusus untuk nona."
"Good!"
"Apa ada yang aku lewati?" Thomas yang memang tidak tau kejadian itu jadi penasaran. Brian dan Axel, mereka tidak ada yang mau berkomentar. Thomas pun tidak memaksa mereka mengatakannya, sampai ...
"Tita mengkonsumsi pil kontrasepsi tanpa sepengetahuan ku."
"Berapa lama rencana anda akan bulan madu tuan?"
"Berapa lama biasanya?" kwkwkw ... pertanyaan yang aneh kan ... "Hei, jangan melihatku seperti itu aku kan belum pernah melakukannya ... wajar aku bertanya."
"Kamu pikir kita sudah pernah melakukannya? Diantara kita hanya kamu yang sudah menikah." Thomas menimpali. Teringat sesuatu, dia berkata lagi. "Um, Nathan ... Aku sudah memulangkan Anya ke London tadi pagi."
"Hm, ya ... lalu?"
"Saat ini, Terry tidak akan mengganggu Tita karena dia disibukkan dengan beberapa projectnya yang gagal disana."
"Dimana Rega?"
"Di London, dia harus membackup Kala."
Nathan merasa ada yang mengganjal tapi, apa? ah, lupakan saja. Kali ini dia harus fokus membuat bayi, ups ... honeymoon.
"Tuan, saya sarankan anda berdiskusi terlebih dahulu dengan nona ... paling tidak tentang waktu keberangkatan dan berapa lama kalian akan pergi."
"Kenapa begitu?"
"Terhitung sejak menikah, saya rasa nona sudah terlalu sering ijin dari kantornya, tuan."
"Memangnya kenapa?" keras kepala mood on.
"Nona Tita pasti merasa tidak enak dan tidak nyaman jika harus ambil libur lagi dalam waktu dekat ini, bagaimana pun dia bekerja disana dan dia memiliki bosnya sendiri."
"Kamu urus saja ijin Tita."
Speechless, kalau sang tuan muda sudah punya mau ... sulit untuk diberikan masukkan. "Bagaimana kalau setelah proyek galeri seni di kota B selesai, tuan?"
"Setelah peresmian?"
"Iya, setalah pesta peresmian. Acaranya kan hanya tinggal tiga minggu lagi?"
"Oke ... akan aku tunggu tiga Minggu lagi."
"Ha ha ha ... Nathan, padahal kamu bisa membuat bayi setiap malam, kenapa seolah-olah malah begitu berat hanya menunggu tiga minggu??" Axel meledeknya, karena dia tidak habis pikir.
Nathan yang di ledek seperti itu hanya diam, memang benar kata Axel ... hanya saja, dia juga ingin suasana yang lain. Ck, mereka mana tahu ... kan mereka belum pernah menikah. pikir Nathan.
Hmmm, memang pada dasarnya Nathan ini lebih polos jika dibandingkan dengan teman-temannya. Walaupun mereka belum menikah, tapi jam terbang mereka lebih tinggi. Ha ha ha ... begi$tupun dengan Brian.
"Nathan, aku pulang dulu ya, sudah malam." Axel pamit.
"Iya, baiklah. Brian kau pulang atau menginap?"
"Saya pulang, tuan. Kekasihku sudah tiga kali menelpon." pamer.
"Ck, posesif sekali ..." ejek Nathan.
"Itulah sebabnya saya sangat mengerti bagaimana perasaan nona Tita, jika anda bersikap posesif padanya, tuan." oow ... Brian berhasil meng-kick balik ejekan sang tuan muda, ha ha ha.
"Sudah sana pulang, dan kembali kesini pagi-pagi ..." merasa malu.
Ha ha ha. "Baiklah tuan, as you wish."
Sepeninggal teman-temannya Nathan berjalan kembali ke kamarnya. Memang aku se-posesif itu apa? Huh, Brian hanya melebih-lebihkan saja. Nathan masuk ke kamarnya dan tidak menemukan istrinya, lho ... kemana Tita? Aku pikir dia sudah kembali. Maka di raihnya telpon diatas meja, "Apa Bi Amel ada disana? Bu ... Apa Tita bersama ibu? Tidak ... dia tidak ada di kamarku? Oh, baiklah aku akan panggil sendiri. Terima kasih Bu." Klik.
Kenapa bukan diam di kamar menungguku? Malah ke kamar Loudy. Ck, kesal kan dia hehehe. Nathan beranjak ke kamar sang adik yang memang satu lantai dengannya. Ah, pintunya tidak terkunci, sepi sekali, penerangan di kamar itu cukup redup ... tapi ada sinar dari arah tempat tidur, apa itu? Nathan mendekat perlahan, ya ampun ... dengan satu tangan Nathan menarik selimut besar yang menutupi tubuh dua gadis yang sedang menonton menggunakan laptop.
"Aaaah ... kakaaak ..."
"Apa yang sedang kalian tonton?!"
Tita dan Loudy sudah seperti remaja yang tertangkap basah sedang menonton plus plus. Ha ha ha.