Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 27



Toko buku G, tempat Tita menghabiskan sorenya ... Sesuai dengan kesepakatan, dia pergi bersama Mike mencari referensi tentang hubungan percintaan bagi pemula. Tapi tentu rencananya ini tidak di ketahui Mikey, bisa habis nanti dia di goda dan pasti ada laporan ke sang nona muda. Tita sedang menelusuri lorong-lorong karya Fiksi ketika bahunya tersenggol seseorang. Buk! "Maaf," TIta reflek menunduk dan minta maaf meskipun sepertinya bukan dia yang salah.


"Zahra?"


Eh, kok kenal? "Oh, Mr.Kim. Sedang apa anda disini?" siapa sangka akan bertemu dengan laki-laki genit ini di sini.


"Aku sedang jalan-jalan saja."


"Saya permisi, Mr." Tita hendak melangkah namun karena gerakannya yang terburu-buru mengakibatkan tubuhnya tak seimbang, hingga dia nyaris terjatuh. Untungnya laki-laki di dekatnya ini begitu peka hingga refleks dia menangkap tubuh Tita dan menariknya, sebelum gadis itu tersungkur di lantai. Akibatnya, kini Tita berada di pelukannya. Hal yang menyenangkan baginya, tentu saja. Tapi tidak bagi Tita yang berusaha melepaskan diri dari laki-laki itu. Cekrek! Send!


"Maaf,Mr. Saya tidak sengaja. Saya permisi." Tita melarikan diri.


Laki-laki itu hanya tersenyum dengan kepergian gadisnya. "Aku akan mendapatkan kamu, Zahra."


"Dari mana sih, Ta. Aku cari-cari di atas gak ada, taunya udah di bawah aja. Gak bilang-bilang."


"Sorry, Mickey. Udah yuk, kita pulang." Tita berjalan ke kasir.


"Kamu gak kenapa-napa? Kok pucet, sih?"


"Aku tadi ketemu Mr.Kim di sana."


"Mr.Kim, klien kita?"


"Iya lah, emang Mr.Kim mana lagi yang kita kenal?"


"Trus, kamu baik-baik aja? Gak di apa-apain kan?"


Duh, susah menjelaskannya. Tadi itu termasuk diapa-apain gak sih? Karena orang itu meluk dengan sengaja kan? Ya, walaupun memang awalnya itu kesalahannya sendiri. Entahlah,malas aku memikirkannya. Dan lagi, tidak ada kabar apapun dari laki-laki yang dengan seenaknya mengajaknya menikah, yang dengan seenaknya mencuri ciuman pertama dan keduanya, dan yang dengan seenaknya sudah mencuri hatinya.


Jerman pkl 7.00


Di negara inilah sang tuan muda pertama kali menemukan cinta pertamanya, menemukan kebahagiaannya, menemukan sahabatnya, dan di negara ini pula cinta pertamanya hancur dan merasakan perasaan di khianati pertama kali. Namun, ini adalah salah satu negara dimana bisnisnya berkembang sangat pesat. Berawal dari sebuah hotel milik sang kakek yang diwariskan ke ayahnya, kini di bawah kepemimpinannya sang tuan muda tengah membangun sebuah resort di kota Seebad di distrik Rostock, Mecklenburg-Vorpommern, Jerman. Karena proyek itulah dia berada di sini sekarang, bukan mengurus pernikahannya.


Selama di sini, sang tuan muda tinggal di hotel miliknya. Dia tengah mengecek ponselnya dan menemukan satu pesan dari Tita di sana, melihat isi pesannya membuat semangat paginya berlipat ganda. Belum lagi di membalas pesan itu, Brian datang melapor. "Tuan, ada laporan dari anak buah ku." dia menyodorkan ponsel yang dipegangnya.


Rahangnya mengeras, "Apa tidak ada penjelasan!?" di genggamnya dengan kuat ponsel yang tadi di berikan oleh Brian.


"Dia tidak berada cukup dekat dengan nona, tuan. Jadi tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Sepertinya, nona kesana bersama dengan Mike, tapi saya belum tahu mengapa ada Mr. Kim disana."


Tut.. tuuuutt .."Mike, ini aku. Kemarin kamu pergi dengan Tita?"


"Anda tahu dari mana, tuan? Iya, saya pergi ke toko buku dengan Tita karena ..." Tut. tut...


Nathan mematikan sambungan teleponnya sebelum Mike menyelesaikan kalimatnya. Kadang orang yang cemburu itu pendek akal, walaupun sepintar apapun dia. "Sudahlah, kamu sarapan dulu. Aku akan bersiap." Nathan meninggalkan Brian, untuk bersiap sendirian. Dia tidak bisa menutupi kesedihannya, perasaan terluka untuk yang kedua kalinya, dengan gadis yang berbeda dan di negara yang sama. Apa aku harus menghubunginya, meminta penjelasan? Apa aku tidak boleh bahagia? Apa karena aku memaksamu untuk bersamaku, jadi kamu tidak perduli dengan perasaanku seperti ini? Huh. Nathan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sudah cukup! Aku tidak boleh terpuruk seperti ini. Fokus Nathan!


Brian yang baru saja menghubungi anak buahnya yang bertugas mengawasi Tita, langsung berdiri ketika melihat sang tuan muda keluar dengan rapi. Aura sendunya sudah berganti dengan ketegasan dan dingin. Ah, perasaanku tidak enak kalau seperti ini.


Ketika mereka di lobi dan akan keluar menuju tempat proyek ada seseorang yang memanggil sang tuan. "Nathan!"


Suara panggilan itu suskes membuat sang tuan muda berhenti. Suara yang sangat familiar di telinganya, suara yang pernah dia rindukan dan berharap menghabiskan sisa usia bersamanya. Namun sekaligus suara yang di bencinya.


"Waah .... ini benar kamu? Nathan. Aku tidak menyangka akan melihatmu lagi di sini." Mereka berhadapan, wanita itu kini berada dalam jangkauan pandangannya. Terlihat lebih dewasa, lebih cantik dan lebih seksi. Dia mengenakan seragam hotel ini. Wait. Dia bekerja di sini?


"Maaf, aku harus pergi." Sang tuan muda hendak berlalu namun lengannya di hentikan wanita itu.


"Aku bekerja di sini. Kamu tamu di sini? Kamar nomor berapa? Bagaimana kalau segelas kopi di kamarmu?"


Wah ... sungguh wanita tidak tahu malu. Namun, sang sekretaris memahami sang tuan. "Nona, singkirkan tangan anda! Mari tuan." Dan mereka berdua meninggalkan wanita itu.


"Hei, jangan melamun disini! Kamu anak baru, jangan kurang ajar sama bos. Mau kamu di pecat?"


"Hah, bos siapa pak?"


"Pria tadi, yang kamu tegur dengan sok akrab. Dia Nathan, pemilik hotel ini. Jadi jangan sembarang!"


Duaaarrrrr!! Nathan. Pemilik hotel ini?? Hotel ini sudah ada sejak mereka masih kuliah. Jadi, Nathan itu anak orang kaya? Argh! Bodoh. Bodoh. Kenapa aku lepaskan dia dan malah memilih si pengangguran yang maniak itu! Ah. Tapi tidak apa, aku bisa mulai mendekatinya lagi. Aku harus menjadi ratu di keluarga Petra kan?


"Tuan, anda mengenal wanita tadi?"


"Ya, dia gadis itu."


"Hah? Wah, aku tidak menyangka anda akan bertemu dengannya sini. Tapi, sepertinya dia masih belum menjadi wanita baik-baik, tuan."


Nathan hanya diam, enggan membahas wanita itu. Yang ada di kepalanya kini adalah Tita. Tita dan Tita. Sedang apa dia di sana, apakah dia merindukan aku, apakah dia menungguku, apakah dia mencoba mencari tahu tentang aku. Apa hanya aku yang merindukan dia, apa hanya aku yang tidak bisa berhenti berfikir tentangnya, apakah dia sudah jatuh cinta padaku. Mengapa sulit menggapai hatimu apalagi memiliki cinta kamu? Ah iya, bahkan pesan yang gadis itu kirim kemarin belum lagi di balasnya. Bukan tidak ingin, tapi dia ragu. Entah mengapa aku merasa khawatir dan takut, apa aku telpon saja ya?