Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 141



Terlihat jelas suasana hati sang tuan muda yang sedang berbahagia, kalau mau menuruti ego-nya, dia sebenarnya tidak mau keluar dari kamar ini karena ingin berlama-lama dengan Tita. Akan tetapi, karena dia sudah terlanjur berjanji akan bersama dengan sang istri untuk pamit dengan mami dan mertuanya ... mau tidak mau dia harus kelaur juga dari kamar. Lagipula, dia tidak mau bertengkar lagi dengan Tita, rasanya runtuh dunianya. Dan disini lah dia, duduk disalah satu sofa dimana anggota keluarga yang lain juga ada di sana.


"Kak, jangan menempel seperti itu kenapa sih?" protes Loudy yang jengah karena melihat sang kakak duduk menempel dengaan Tita, dan sempat-sempatnya dia mencium-cium rambut Tita yang masih tampak lembab.


"Kenapa, kamu iri?"


Hah ... jawaban apa itu? menyebalkan. Loudy.


"Sudah ... sudah, jadi ada apa Nathan?" tanya sang nyonya mami.


Nathan membenarkan duduknya walau tidak juga bergeser sejengkal pun dari posisi awalnya. "Saya dan Tita mau pamit mi, kami akan tinggal di apartment ku."


Mendengar kata-kata yang baru saja di ucapkan sang tuan suami membuat Tita menoleh ke sang tuan suami. Hah?? apa seperti itu ijin kepada orang tuanya? ckckck ... dasar tuan muda.


"Iya, bukannya kamu sudah bilang sebelumnya?" Mami menanggapi.


"Iya, aku sudah bilang pada Tita bahwa aku sudah mengatakan kepada mami, tapi istriku ini bersikeras mau mengatakannya lagi ... bahkan kami sempat bertengkar apa mami tahu?" tentu saja penyampaian informasi atau mungkin bisa dibilang anak yang sedang mengadu pada orang tuanya ini, membuat orang-orang yang ada di situ ikut tertawa ... karena dalam sejarahnya seorang Nathan Petra tidak pernah mengadu seperti ini. Ha ha ha.


"Maaf tuang muda, Tita memang seperti itu. Dia selalu bilang jika mau pergi kemana pun ... jadi saya rasa, pasti putri saya tidak tenang hatinya karena harus pergi begitu saja. Walaupun kepergiannya itu karena ikut suaminya. Jadi, tolong dimengerti tuan."


Ah, sang ibu sangat peka sekali ... tanpa sadar Tita jadi meneteskan air matanya. Ibu memang yang terbaik, paling tahu apa yang aku pikirkan walaupun aku belum mengatakannya.


"Nah, kakak ku yang paling tampan se-dunia ... sudah dengar kan, jadi jangan lagi semena-mena. Tita-ku itu bukan karyawanmu yang bisa kamu suruh-suruh se-enakmu." keluh Loudy, tidak lupa dia mengerlingkan sebelah matanya kepada sahabatnya itu dan membuat Tita tersenyum.


"Tita, apa ada yang mau kamu sampaikan? Apa kamu nyaman hanya tinggal berdua dengan Nathan?" tanya sang nyonya mami.


"Lho, kok mami ..." belum selesai Nathan protes mami sudah memotong.


"Tita juga berhak memberikan pendapatnya."


"Aku sebenarnya tidak kebaratan tinggal dimanapun kalau memang Nathan maunya seperti itu. Hanya saja, kemarin aku sama sekali belum mengetahui reencana ini, mi. Jadi, memang kami sempat bertengkar kemarin. Dan sekarang kami disini karena ingin meminta ijin untuk tinggal di tempat yang sudah di pilih Nathan." Tita menghela nafas dengan pelan, "Ibu, Mami ... Tita akan sering-sering berkujung kesini."


Sang ibu memandang putrinya dengan lekat, sang putri yang makin dewasa, "Ibu mengijinkan tentu saja, tempatmu memang di sisi suamimu."


Suasana haru itu tiba-tiba harus berakhir cepat manakala celetukan sang mami yang membuat seorang Nathan Petra mati kutu, "Kalian sempat bertengkar?" Tita dan Nathan mengangguk bersamaan. Sang nyonya mami mengalihkan pandangannya ke arah Brian, "Brian, Nathan tidak menghancurkan kantornya kan tadi pagi?"


Ha ha ha. Siapa yang sangka, alih-alih menjawab pertanyaan Brian malah tertawa terbahak-bahak. Dia jadi teringat, pasalnya bukan kantornya yang hancur tapi mental para karyawan ikut rapat pagi ini.


***


"Selamat pagi tuan Petra?" Sapa Lisa dengan manis. Pagi ini Lisa tampak begitu segar, dia memakai blazer warna hijau dipadukan dengan rok pendek berwarna putih. Namun, sapaannya tidak digubris oleh Nathan karena dia sibuk mengiimkan pesan singkat kepada sang istri yang baru saja berpisah dengannya sekitar dua puluh menit yang lalu. Lisa sudah terbiasa dengan sikap Nathan yang seperti ini, walaupun kesal tapi dia harus tetap bersabar.


"Tuan, saya berangkat sekarang?" pamit Brian.


"Oke, berikan laporan kepadaku segera."


"Baik, tuan muda."


Menurut jadwal, pagi ini Brian harus menggantikan Nathan bertemu salah satu klien. Dan Lisa, sudah tentu mengetahui rencana ini ... itulah sebabnya dia berdandan lebih cantik. Dia merasa, tidak mungkin Nathan tidak memperhatikan penampilannya. Karena dulu, ketika mereka masih bersama, Nathan sendiri pernah mengatakan bahwa dia menyukai kaki jenjangnya.


"Lisa, bawakan berkas yang ada di meja Clara." perintah Brian.


"Baik, tuan."


"Iya, kamu sudah mengatakannya berkali-kali tadi." jawab Nathan.


"Tuan, ini dokumen yang anda minta." Lisa menyerahkan dokumen untuk di bawa Brian. Cih, laki-laki ini bosy sekali. Gumamnya.


"Jangan lupa brunch tuan muda dan makan siangnya nanti, tidak boleh telat. Kamu mengerti?"


"Baik, tuan Brian. Saya akan mengingatnya dengan baik." Lisa menjawab.


"Tuan muda, saya pergi." Pamit Brian.


"Iya, pergilah dan jangan lupa pesanku."


Brian menundukkan kepalanya dan keluar dari ruangan sang tuan muda.


"Kamu juga bisa keluar sekarang dan kerjakan pekerjaanmu." tegur Nathan kepada Lisa.


"Ah, iya ... baik Tuan Nathan," Lisa melemahkan suaranya. "Apa ada yang tuan inginkan sekarang?" sesungguhnya Lisa mengucapkannya setengah menggoda.


"Tidak, keluarlah." perintah sang tuan muda tanpa menoleh kepada Lisa.


"Baik tuan, permisi." Lisa menggerutu dalam hati. Sial, kenapa sih Nathan tidak melihatku sedikit saja! Ck ... bagaimana aku bisa membuatnya terpukau dengan pesonaku kalau dia tidak melihat kearahku sama sekali. Lisa berjalan menuju tangga darurat, setibanya disana dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, sesuai rencana ... iya dia sudah pergi tadi, aku akan berusaha ... semoga kamu juga berhasil." Klik.


Lisa memoles kembali lipstick pink nya, dia hafal sekali Nathan tidak suka warna lipstick yang terang ... dia lebih suka yang terlihat natural. Baiklah, kesempatan emas ini tidak boleh aku sia-siakan.


Lisa melihat pantulan dirinya di cermin, perfect!


Clara yang sedang mengetik di mejanya tetap memantau pergerakan rekan kerjanya yang satu ini, "Lisa, kamu mau kemana?" ketika dilihatnya Lisa berjalan bukan ke meja kerjanya melainkan kearah ruang sang tuan muda.


"Aku mau menanyakan tuan muda mau camilan atau tidak." jawabnya santai.


"Kamu dapat email dari tuan Brian, sebaiknya cek sekarang daripada kamu kena marah nanti. Soal snack tuan muda sebaiknya serahkan OB saja." duh ... ****** ini tidak boleh sering-sering masuk kesana, apalagi penampilannya hari ini cih ... bahaya ... bahaya.


"Ya sudah aku akan memberitahu OB dulu." Sialan Clara itu, sudah seperti satpam aja. Tapi dia tidak begitu cerdik daripada aku ternyata.


Lisa mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan mencampurnya dengan salad buah yang disiapkan untuk sang tuan muda. Dia memanggil OB setelah itu agar OB membawakan salad dan minuman untuk Nathan.


Tok ... tok ... tok


"Masuk."


OB masuk membawakan salad buah dan orange juice untuk sang tuan muda, "silahkan, tuan."


Nathan melirik sekilas, "Bawa kemari,"


OB meninggalkan ruangan ketika dilihatnya sang tuan muda sudah mulai menyantap salad yang dia bawa.


Sementara itu Lisa yang melihat OB sudah keluar dari ruangan sang tuan pun mulai menghitung waktu bubuk yang sudah dia campurkan kedalam salad mulai bekerja. Tenang Anya, jangan gegabah ... kali ini tidak boleh gagal.