
"Bos, wanita itu memberikan ini untuk campuran minuman tuan muda." pramusaji itu melapor kepada Thomas.
Thomas mengambilnya menyerahkan kepada Axel, "Apa ini?" tanyanya.
Axel membuka bungkusan kecil itu, merasakan sedikit di ujung lidahnya dan langsung meminum sekotak susu untuk menetralisir efek obat itu. "Gila! Dia mau memberikan obat perangsang ke Nathan!" jelas Axel.
"Apa?! Kurang ajar sekali wanita itu!" Brian tidak terima, dia ingin keluar menyelamatkan sang tuan.
"Brian, tahan ..." cegah Thomas. Dia kemudian melakukan panggilan telepon ke Nathan sambil memperhatikan layar dari kamera pengawas. "Nathan, Anya mau mencampurkan obat perangsang di minuman kamu ... Iya, bersikaplah biasa ... orang ku akan memastikan minuman kamu aman ... oke, tenang ... kami terus mengawasi, pancing dia agar buka mulut."
Setelah panggilan berakhir, Anya sudah berada di dekatnya. "Kamu menelpon siapa?"
"Thomas," jawabnya sambil menunjukkan caller id. Dahulu, memang Nathan tidak pernah menyembunyikan apapun dari Anya. Dan sikap Nathan itu diartikan hal yang baik.
"Oh, aku kira kamu menghubungi istri mungil mu?" sindir Anya.
"Tita sedang pergi bersama teman-temannya."
"Ha ha ha, karena istrimu pergi jadi kamu bisa bebas pergi bersamaku, begitu?"
"Maksudmu?!" ah, nyaris saja aku yang terpancing. Keluh Nathan.
Obrolan mereka terjeda ketika pramusaji itu masuk, Anya melirik kearahnya dan pramusaji itu mengangguk. Dia menyerahkan satu gelas soda ke arah Anya, dan satu gelas lagi untuk Nathan, kemudian meletakkan makanan mereka. "Silahkan dinikmati, tuan dan nyonya."
Tentu saja kata-kata manis sang pramusaji membuat Anya melambung.
"Ayo Nathan di minum," Anya mengangkat gelasnya dan meminum sebagian isinya. Dilihatnya Nathan juga meminum minumannya dengan tenang. Ya ... minumlah seperti itu, dan jatuhlah kepelukanku.
Mereka menikmati makanan yang terhidang di meja, sambil mengobrol ringan. Ehm, sebenarnya hanya Anya yang selalu memancing pertanyaan.
"Nathan, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Anya meletakkan garpu dan pisaunya, menyeka bibirnya dengan tissue.
"Katakan," Nathan menghabiskan minumannya. Kapan sandiwara ini akan berakhir. "Apa yang ingin kamu bicarakan?" Nathan memberi perhatian saat Anya berbicara.
"Bisakah kita memulai semua dari awal?" dengan ekspresi malu-malu.
"Maksudmu apa?"
"Aku masih mencintaimu, merindukan kamu, sayang."
Jika dulu Nathan akan luluh dengan sikap Anya yang seperti ini, tapi sekarang dia melihat Anya sama seperti wanita-wanita yang selalu mengejarnya ... menjijikkan. "Aku sudah menikah." Nathan melakukan perannya dengan sangat baik.
"Menikah?!" ada kesan meremehkan dalam kata-katanya. "Aku tahu kamu menikah karena di jodohkan oleh ibumu."
Satu kenyataan yang membuat Nathan makin menajamkan matanya. Dia masih mendengarkan apa yang akan dikatakan Anya.
"Kamu tidak perlu kaget seperti itu, aku tahu," Anya menggeser kursinya mendekat, "Kamu terpaksa menikahinya, kan?" Dia menggenggam tangan Nathan, memberikan senyuman terbaiknya ... berharap sang tuan kaya raya ini takluk.
"Darimana kamu tahu aku di jodohkan?" Penasaran juga dia, dari mana gosip seperti itu berasal. Tidakkah mereka tahu seperti apa susahnya aku menaklukkan gadis itu??? Huh.. dijodohkan?!
"Beberapa orang pegawai mu membicarakannya, bahkan sebagian besar dari mereka tidak mengetahui bahwa kamu sudah menikah." ha ha ha. "Aku mengerti, aku akan menjaga mulutku dan tetap merahasiakannya kalau kamu memang menginginkannya. Memang tidak enak rasanya jika kita harus hidup bersama orang yang tidak kita cintai, bukan begitu, Nathan." Anya mengelus-elus punggung tangan Nathan.
"Huft ... ternyata banyak sekali ya yang bergosip tentang kehidupan aku." terlihat wajah Nathan yang kesal karena gosip murahan seperti itu.
Waah, Anya benar-benar wanita yang tidak tahu malu ... tidak tahukah dia seperti apa yang ada dipikiran Nathan? Huh, dia mengira laki-laki itu kesal karena berita pernikahannya tersebar.
"Nathan, aku ingin kembali padamu. Pertemuan kita di hotel itu menjadi hal yang membahagiakan untukku. Tidakkah kamu masih mencintai aku?"
"Anya, kita sudah berpisah hampir 8 tahun. Tidakkah kamu berfikir perasaanku padamu sudah hilang?"
"Tidak, buktinya ... tidak ada satu wanita pun yang mampu menarik perhatian kamu, mengisi kekosongan hatimu. Iya kan?"
"Setelah kamu mengkhianati aku malam itu, sekarang kamu ingin aku kembali?"
"Tidak seperti itu, sayang. Malam itu aku juga tidak tahu mengapa aku bisa jadi seperti itu, sepertinya laki-laki itu memasukkan sesuatu di minumanku sehingga membuatku hilang kendali. Aku tidak bisa menahan hasrat ku ..." Anya memelas.
Liar. Nathan.
"Kamu tahu kan, aku hanya ingin melakukan itu denganmu?" luar biasa acting mu Anya.
"Kenapa kamu tidak menjelaskannya padaku?"
"Nathan, bagaimana aku bisa menjelaskannya sementara kamu langsung pergi begitu saja meninggalkan aku?"
"Jadi kamu pikir aku harus menonton pertunjukan mu?" oke, kita ikuti permainanmu.
"Tidak seperti itu ... Aku ingin menemuimu, menghubungi kamu, tapi aku merasa kotor dan tidak pantas untuk bertemu lagi denganmu. Kamu tahu, aku hampir gila karena mendengar kamu kembali kesini dan meninggalkan ku sendiri disana." Anya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, menangis. Dahulu, Nathan paling tidak bisa melihatnya menangis.
"Sudahlah, lupakan saja."
Yess, dia masih seperti dulu ... tidak sanggup melihatku menangis. "Jadi, kamu memaafkan aku kan?" Anya memperlihatkan matanya yang basah. Nathan hanya mengangguk.
"Oh, ya ... kamu dekat dengan Terry Muller?"
Anya sedikit kaget, tapi bisa cepat mengembalikan keadaannya. "Iya, kenapa? Kamu kenal?" Anya mencoba menebak kearah mana pembicaraan Nathan, dia harus waspada.
"Kamu pacaran dengannya? Aku melihatmu dengannya beberapa waktu lalu di mal."
"Ha ha ha, Aku dengan Terry? Tentu tidak, kamu tidak usah khawatir. Aku, sama sekali bukan tipe yang disukai Terry." Anya tertawa bahagia, menyangka Nathan cemburu.
"Aku pikir kalian berhubungan, karena aku melihat kalian seperti sangat akrab."
"Aku akan beri kamu satu rahasia ... Terry itu sedang mengincar seorang gadis manis dan ceria yang dia temui di acara wisuda. Gila kan, dia mengincar daun muda."
Deg!! Perasaan Nathan langsung tidak enak. Dia kepikiran istrinya. Dia melihat saat Terry yang hadir sebagai donatur menyalami sang istri.
Thomas, Rega, Axel dan Brian yang ikut menyaksikan dan mendengar semua yang dikatakan Anya sangat tahu apa yang ada di kepala sang tuan muda. Mereka berdoa agar Nathan tetap fokus pada misinya. Brian langsung menghubungi bawahannya yang ditugaskan mengawasi Tita, hanya untuk memastikan sang nona dalam keadaan baik-baik saja.
"Apa Terry tidak tergoda oleh pesona yang kamu miliki. Semua laki-laki pasti mengakui bahwa kamu sangat seksi."
"Ha ha ha ... Nathan ..." Anya sudah setengah mabuk. "Aku ... seksi ... sudah sejak dulu, kamu ... kamu, hanya kamu yang tidak bisa melihat pesonaku." Anya meracau, dia mabuk.
"Aku bukan tidak bisa melihat pesona kamu ... aku hanya tidak mau merusakmu karena dulu aku mencintaimu." Nathan tahu dengan pasti Anya sudah setengah mabuk tapi masih bisa diajak berbicara, dan yang terpenting dia juga ingin mencari tahu tentang rencana Terry.
"Nathan, sayang ... tidak usah munafik ... mana ada laki-laki yang bisa menolak ajakan seperti itu ... jujur saja, kamu memang hanya tidak ingin kan?!"