Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 91



Tita sedang sibuk di dapur bersama Loudy ketika sang mami memergoki mereka. "Kalian sedang apa?!"


Hah!! "Mami, bikin kaget aja." jawab Loudy.


"Kalian sedang buat apa pagi-pagi begini, tidak seperti biasanya."


"Ini mi, Loudy mau bawa bekal ke kampus katanya dan aku hanya membantu saja." jelas Tita.


Lho, tumben sekali anak ini? Pikir sang mami. Karen penasaran sang mami mendekat, apa sih yang di buat sang anak sehingga membutuhkan bantuan kakak iparnya? "Ya ampuuuun, Lou. Mami pikir kamu membuat makanan apa sampai-sampai harus berdua dengan Tita." Mami tidak dapat menahan tawanya. "Kalau hanya mi instan, kamu kan bisa buat sendiri."


"Mi, walaupun mi instan juga kan ada langkah-langkah dalam membuatnya. Aku takut ada langkah yang terlewat makanya minta bantuan Tita." alasan saja.


"Alasan saja kamu, bilang saja kalau tidak bisa, ha ha ha." Duh mami seneng banget godain anaknya. "memang, untuk siapa sih bekal itu?"


"Ya untuk aku lah mi, memangnya untuk siapa lagi?"


Tepat pada saat itu Nathan muncul dengan tubuhnya yang penuh keringat. Oh, sang tuan suami habis berolahraga rupanya, dan tentu saja ditemani sekretaris yang setia.


"Nathan, kamu tidak memotong uang saku Loudy?" ish, ish, mami itu benar-benar ya ...


Nathan yang sedang minum pun menjadi bingung dengan pertanyaan sang mami, "Tidak, kenapa?" Nathan meletakkan gelas yang sudah di habiskan isinya itu. "Sayang, kemari."


"Loudy, membuat bekal untuk dia makan di kampus, tuh." sang mami melapor.


"Mamiiiii," Loudy jadi kesal, sifat manjanya keluar. "Memangnya kenapa sih kalau aku bawa bekal ke kampus?" ketika mata Loudy melihat sang mami, dia pun tertegun, pasalnya sang mami tidak lagi tertarik padanya karena lebih tertarik memperhatikan dua sejoli yang sedang bermesraan tanpa memperdulikan sekitar. Ups, ralat ... um, mungkin lebih tepatnya sang tuan yang sedang menjahili istrinya.


"Lepaskan, sayang. Jangan. Duh, lepaskan."


Apa sih yang mereka lakukan?


Nathan menarik Tita hingga duduk di pangkuannya, menempelkan tubuhnya yang bersimbah keringat dan memeluk tubuh sang istri dengan erat. Tentu saja Tita berusaha melepaskan diri, mana enak sih dipeluk sama orang yang berkeringat begitu, yaaa ... walaupun Nathan tetap harum sekalipun, tapi kan rasanya panas.


Jadi, itulah yang membuat sang mami tertarik, dasar yaa ... dia tidak pernah menyangka bahwa sang putra bisa sebegitu bucin-nya terhadap Tita, karena sang suami yang juga begitu mencintainya, tidak pernah seperti itu terhadapnya, apalagi ketika banyak orang begini. Ha ha ha.


Tita sedang menunggu sang tuan suami yang akan berangkat kerja di halaman depan, "Kak Brian. Pesta peresmian Galeri seni nanti, apakah Nathan juga akan hadir?"


"Kenapa nona?"


"Aku hanya ingin tahu saja."


"Iya, tuan mengusahakan untuk dapat hadir."


"Mengusahakan? kenapa? apa ada acara lain?"


"Iya, tuan ada jadwal rapat nona."


"Oh, baiklah."


"Kenapa?" tiba-tiba saja Nathan sudah berada dibelakang Tita, "Apa yang kamu tanyakan dengan Brian?" Brian hanya tersenyum melihat kelakuan tuanya.


"Kamu ada rapat di hari peresmian galeri?"


"Iya, tapi aku akan usahakan datang. Aku juga tidak mau kamu bebas berdekatan dengan si Arga itu."


Hei, jawaban macam apa itu ... kenapa masih saja dibahas? padahal aku sudah membayar lebih hukumanku gara-gara itu pesan yang dikirim Arga. Eh, kenapa dia membungkuk??


Tita mengingat-ingat, ah ... konyol, bahkan saking lelahnya dia sampai berjanji akan mencium sang suami setiap kali mereka bertemu. Cup. "Hati-hati suamiku." dengan senyum secerah bulan bintang dan matahari Tita melepas kepergian sang suami.


***


Terry membawa Anya ke sebuah negara yang terkenal dengan keahliannya dalam operasi plastik. Dia sudah bertekad untuk menghancurkan Nathan bagaimana pun caranya. Kerugian yang dia alami tidak sedikit, dan butuh waktu untuk memulihkan kembali Muller Groups. Salah satu caranya adalah dengan merubah wajah Anya, meski pada awalnya dia hanya ingin mengobati luka di wajah Anya ... tapi karena Anya masih saja terobsesi dengan Nathan maka mereka berkolusi dan sepakat untuk merubah seluruh wajah Anya.


"Kamu harus tahan dengan semua kesakitan itu nanti."


"Huh, rasa sakit operasi ini tidak seberapa dibanding kan dengan rasa sakit ku karena di singkirkan hanya karena gadis kampungan itu."


"Hei, Tita bukan gadis yang kampungan. Dia gadis manis yang memang patut di perjuangkan." bela Terry.


"Cih! kalau begitu perjuangkan lah gadismu itu dan rebut dia, agar jauh-jauh dari Nathan-ku."


Terry tidak suka dengan cara Anya menjelek-jelekkan Tita seperti itu. Seperti dia jauh lebih baik saja, begitu pikirnya. Tapi dia hanya menggunakan Anya sebagai alat untuk merebut Tita dan menghancurkan Nathan. Jadi, dia harus bertahan.


"Aku tidak akan menemani kamu di sini, aku akan kembali ke London."


"Never mind."


Maka berpisah lah mereka, Anya harus menjalani serangkaian treatment sejak sebelum operasi sampai dengan dokter menyatakan operasi yang dia lakukan sudah sukses dan tidak ada masalah apapun. Walau memakan waktu yang tidak sebentar, tapi karena Anya sudah bertekad maka waktu bukan lah persoalan, bukan?


***


"Zahra, kamu ikut ya ke Petra Corporate nanti sore." perintah pak Putra.


"Baik, pak." jawabnya.


Gladis menggerakkan kursinya untuk mendekati Tita, "Cie ... yang mau ketemu suami."


"Apa sih, ha ha."


"Zahra, aku kasih tau ya ... sebagai seorang wanita yang lebih berpengalaman dari kamu."


Tita hanya mengangguk-angguk mendengarkan.


"Suami kamu itu adalah laki-laki super tampan, terkenal, dan digilai banyak wanita di luar sana. Tidak sedikit wanita yang berusaha mendekati suamimu, bahkan dengan suka rela melemparkan tubuhnya hanya demi bisa dekat dengan suami kamu."


Tita masih mendengarkan, sembari berfikir arah pembicaraan ini.


"Jadi, kamu sebagai istrinya harus bisa menjaga suami kamu."


"Menjaga bagaimana?" tanyanya dengan polos.


"Duh, kamu itu benar-benar polos ya." Gladis menarik kursi Tita agar lebih rapat. "Sebagai laki-laki dewasa, apalagi sudah menikah ... laki-laki itu pasti punya kebutuhan biologis. Kamu mengerti?" Gladis menjelaskan dengan perlahan, dan Tita mengangguk. "Nah, agar suami kita tidak tergoda wanita lain di luar sana, apa yang harus kita lakukan?" Tita menggeleng. "Kita, istrinya harus bisa memuaskan hasratnya."


"Maksudnya? bagaimana pula kita tahu dia puas atau tidak?" Tita jadi berpikir, mengingat kelakuan Nathan yang tidak pernah cukup sekali itu, apakah itu artinya sang tuan suami tidak puas? Huft ini pengetahuan yang baru untuknya.


"Kamu harus berinisiatif. Biar suami kamu tidak bosan dong." haduh ... harus benar-benar nih, menjelaskan pada teman polosnya ini. "Begini, cara termudahnya... "


Haduuuh, Gladis ... ada-ada aja ya, malah memberikan edukasi bagaimana menjadi seorang istri yang di idam-idamkan suami ke Tita. Ha ha ha ... apakah Tita akan mengerti? atau bahkan langsung mempraktekkan ilmu barunya itu?