Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 52



Setelah mendapat surat tugas untuk melakukan survey bersama dengan Mickey, mereka berangkat menuju Petra Corporate dengan menggunakan motor untuk menghemat waktu.


"Tita, sudah lama ya kita tidak boncengan seperti ini."


"Iya, kangen juga rasanya keliling kota untuk mendinginkan kepala setelah ujian, ya." Ha ha ha. "Dan, kamu masih menyimpan helm-ku di jok motormu? Ckckck ... kamu memang terbaik!" teriak Tita sambil mengacungkan jempolnya kearah spion, dan Mickey tersenyum senang.


"Gila, ternyata lebih parah daripada aku!" Cekrek, cekrek, cekrek. "Sayang sekali Nathan bisa menikah dengan perempuan kampungan dan murahan seperti itu, so disgusting."


Hadeeeh wanita tidak tahu diri itu yaaa. Author.


"Nanti kamu hubungi aku saja kalau sudah selesai, oke."


"Siap, do'akan aku yaa..."


"Cih, memang kamu mau perang."


Tita setengah berlari masuk ke gedung megah ini. Oh iya, ini kali kedua dia kesini. Kalau tidak salah ingat letak kantornya Nathan itu di ....?


"Selamat siang, Saya Zahra Ratifa dari Mirae Contruction ... saya sudah ada janji dengan Tuan Petra." Tita menunjukkan id card nya. Dia lupa dimana ruangan sang tuan suami, daripada mencari-cari lebih baik langsung tanya saja.


"Silahkan ikuti saya nona Zahra."


"Terima kasih ya."


Ting. Lift berhenti di lantai sang tuan suami berada. Dia hanya perlu berjalan mengikuti lorong ini kan? "Selamat siang?" sapanya kepada kedua orang asisten sekretaris Brian. Dan salah satunya mengenal Tita sebagai istri bosnya.


"Ah, nyonya selamat siang." jawabnya dengan sopan.


"Aku ingin bertemu tuan Nathan."


"Silahkan masuk saja, nyonya."


"Terima kasih, ya Clara."


Kemudian Tita membuka pintu ruangan sang tuan suami. Namun, yang dilihatnya justru pemandangan yang membuatnya terpukul.


"Sayang kamu kok cepat sekali kembali, sih? Ah, maaf ... saya pikir Nathan." katanya dengan senyum mengembang.


Yap, yang dilihat Tita adalah Anya, yang sedang mengancingkan kemejanya dengan ikatan rambut yang berantakan. Dia kemudian memakai kembali blazer nya, membenarkan ikat rambutnya. "Ada yang bisa saya bantu, nona? Tuan Nathan baru saja keluar karena ada rapat."


Tita berusaha menahan rasa kecewanya. Oh, Tuhan ... aku harus apa?


"Maaf, apakah anda baik-baik saja, nona?" Anya menunjukkan simpatinya.


"Aku ... tidak apa-apa." jawab Tita.


"Apakah anda mau menunggu, atau ...?"


"Aku akan menunggu," jawab Tita.


"Baik, mau minum apa, nona?"


"Tidak perlu, terima kasih."


"Baik, saya tinggal dulu ... permisi." Anya keluar dengan perasaan yang senang.


Tita duduk di sofa, perasaannya hancur, dia ingin menangis, dia ingin marah. Tidak ... aku tidak bisa menunggu disini. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan kamu menganggap ku bodoh. Baik, jika kamu ingin bermain. Aku akan ikuti permainanmu. Dasar orang kaya sombong, arogan. Tidak akan ku biarkan kamu mempermainkan perasaanku semudah itu. Tita sudah bertekad, akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada laki-laki yang sudah seenaknya mempermainkan perasaannya. Aku bukan gadis yang cengeng dan lemah.


"Aku disini karena memenuhi janjiku, apa aku harus ijin dulu kalau mau kesini?" jawab Tita ketus. Maaf ya aku tidak bisa menahan rasa kesalku.


Nathan memeluk sang istri, pikirnya, kenapa dengan Tita? seingatnya tadi pagi masih baik-baik saja. Apa dia sedang PMS? karena Loudy akan berkali-kali lipat mengesalkannya kalau lagi PMS. "Tidak, sayang. Kamu bisa datang kesini kapanpun kamu mau, siapa yang berani melarang?"


Tita menyikut perut Nathan ketika sang tuan suami ingin menciumnya, tapiiiii .... sadar kelakuannya itu akan memancing sang tuan suami marah, maka diapun beralasan ... "Aku mau duduk." Sepertinya aku jadi terlihat sangat menyebalkan ya? batin Tita tidak enak. Tapi, biarlah ... biar dia tahu aku bukan perempuan yang bisa seenaknya dipermainkan!


"Jadi, kenapa kamu memintaku kesini? Aku harus sudah kembali ke kantor sebelum jam tiga."


"Kenapa terburu-buru?"


"Aku kan tidak enak kalau ijin terus, Nath."


Brian masuk dengan membawa makan siang, "Tuan, nona ... silahkan di makan dulu sebelum makanannya dingin."


"Lho, kok cuma dua? Punya kak Brian mana?" tanya Tita lebih ramah dibanding ketika berbicara dengan sang suami. Dan itupun tak luput dari perhatian Nathan.


"Saya akan makan di ruangan saya, nona."


"Kenapa tidak makan bersama saja?"


"Brian, aku tidak mau di ganggu!"


Iya, Brian pun tahu, dia sadar bahwa sang tuan bisa juga cemburu padanya. Maka demi menyelamatkan dirinya, bonusnya, dan kesejahteraan bersama, lebih baik dia menyingkir.


Tita menyiapkan makanan sang suami, gelas minumannya, kemudian baru memakan makanannya. Nathan juga memperhatikan itu, walaupun tadi sang istri sangat ketus tapi dia tetap menyiapkan makanannya.


"Enak, ya???" teriak Tita senang. Ha ha ha, tanpa sadar dia bereaksi seperti itu. Yah, mau bagaimana lagi? memang pada dasarnya Tita kan anak yang ceria, terbuka.


"Kamu suka?" karena makanan moodnya langsung baik seperti ini?? Pikir Nathan.


"Iya, rasanya menyatu di mulutku, sayang."


Nathan, tentu sangat senang. Dia jadi benar-benar berfikir mungkin istrinya benar-benar sedang PMS. "Ini lasagna, salah satu makanan khas dari Italia. Dan termasuk jenis pasta." Nathan menjelaskan.


Tita menghabiskan suapan terakhirnya, aduh ... sayang sekali, sudah habis. Dia benar-benar menikmati lasagna itu hingga rasa yang tertinggal di sendoknya pun tak disia-siakan. Menatap dengan sedih piringnya yang sudah bersih. Dan langsung berbinar ketika Nathan mengarahkan satu sendok penuh lasagna miliknya tepat di depan wajah sang istri.


"Mau? Punyaku masih banyak." katanya dengan senyum yang sangat maniiiiiiiis sekali.


Dan tanpa malu-malu dilahapnya sesendok lasagna itu, tentu saja. Creamy saosnya berpadu dengan gurih keju, aroma daging asap dan pasta yang lembut, benar-benar memanjakan lidah Tita.


Suapan kedua sudah siap di depannya, ketika mulutnya kosong. Tita melihat ke arah sang tuan suami yang tampak sesenang itu, "Kamu tidak makan?"


"Aku sudah kenyang melihatmu makan." katanya sambil tertawa.


Maka, tanpa ragu-ragu Tita pun tidak menolak suapan kedua yang diberikan suaminya. Dan dengan sendoknya, dia mengambil lasagna itu dan ikut menyuapi sang suami. Hati Nathan menghangat, kehadiran Tita disini benar-benar membuat siangnya menyenangkan. Mereka berdua jadi saling menyuapi dengan senyum merekah di wajah keduanya.


Setelah dipikir-pikir, itu hanya karena lasagna ya ... kekesalan, rasa kecewa yang dirasakan Tita sebelumnya langsung buyar, he he. Sementara tapi.


Setelah mereka menghabiskan makanannya, Tita menumpuk piring bekas makan mereka di meja. Setelah selesai, Nathan mendorongnya agar bersandar di sofa dan, "Aku mau membersihkan mu," Tita menahan nafasnya karena yang dimaksud Nathan dengan 'membersihkan' adalah dengan menciumi bibirnya. "Bernafas, sayang." sadar karena sang istri menahan nafasnya.


Uhuk, uhuk, uhuk ... "Kenapa malah di cium tiba-tiba?


"Aku kan sudah bilang, mau membersihkan mu." pembelaan sang tuan suami.