
"Sayang ... menyingkir dulu."
"Apa? kamu mau aku jauh darimu?"
"Bukan .. maksud aku bergeser sedikit, aku tidak bisa bergerak." Kondisi Tita saat ini memang sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya, tinggal pemulihan beberapa luka saja, meskipun begitu bukan berarti dia nyaman jika sang tuan suami menempel terus seperti ini.
"Sayang," Nathan mencium tangan Tita yang terpasang infus. "Aku sudah menunggu lama, kamu tau ... aku merindukan mu, sangat." kini ciuman itu berpindah ke ceruk leher Tita.
"A ... ah, Nathan ... kita di rumah sakit. aku malu jika ada yang melihat."
"Kamu malu jika ada yang melihat kita?" TIta mengangguk. "Baiklah aku akan suruh orang berjaga di depan agar tidak ada yang masuk." duh ... tuan muda kenapa hanya informasi yang menyenangkan bagimu saja sih yang kamu cerna.
"Sayang ..." Tita menatap Nathan dengan memelas, dia bingung apa lagi yang harus di katakan untuk menolak keinginan sang suami, dia takut salah bicara lagi, huft. Dan di tengah pembicaraan yang intim dan rahasia itu tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka dan tampaklah tiga orang laki-laki rupawan yang suka tebar pesona masuk dan membuat keributan.
Axel, Brian dan Thomas. "Hai, Tita ... apa kabar manis?" Namun, langkah mereka terhenti begitu melihat posisi dua manusia di depannya yang agak mengganggu naluri lelaki mereka.
"Nathan, apa yang sedang kau lakukan dengan pasienku?" Nathan sudah seperti tengah tertangkap basah, dia menarik tangannya perlahan. Tangan yang beberapa detik lalu ada di atas yang tertutup milik sang istri. Sedangkan Tita, sudah bisa dibayangkan betapa malunya dia.
"Pasien mu itu istriku. Siapa yang berani melarang?!" akibat ingin menutupi rasa malunya, Nathan malah menjawab ketus pertanyaan dokter yang merawat sang istri, hehe.
"Ya ... tidak ada yang berani," Axel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kak Thomas, aku baik ... sudah lebih baik."
"Syukurlah. Oh ya, aku turut berduka ya ... pasti rasanya sulit sekali ya menerima kenyataan pahit itu. Aku saja yang mendengarnya sungguh sangat marah dan sedih ..."
Brian buru-buru membekap mulut Thomas yang sudah berkata dengan lancarnya. "Apa yang kamu lakukan!" bisiknya.
Tapi sayang, Tita sudah mendengar dengan amat sangat jelas kata-kata itu tadi. Bahkan Nathan yang tidak memprediksi bahwa Thomas lah yang akan membocorkan hal itu, hanya bisa tertunduk. "Maksud kak Thomas apa? berduka karena apa?" Tita makin merasa gelisah. Sejak awal dia sudah merasa bahwa ada yang hilang, tapi dia tidak tau apa. Hingga beberapa saat lalu dia mendengar kalimat 'aku turut berduka', rasanya ada hal yang berhubungan.
"Bukan apa-apa, nona." kini Brian yang menjawab.
"Kak Brian, aku tidak sebodoh itu. Aku tau ada hal penting yang di maksud kak Thomas." Tita menuntut jawaban pasti. Karena ke tiga laki-laki di hadapannya diam, dia lalu menoleh ke sang suami. Nathan, terlihat jelas keraguan dimata sang tuan suami. Tita menangkup wajah Nathan dengan kedua tangannya dengan lembut, "Sayang, katakan padaku ... apa yang di maksud tadi, kita sudah berjanji untuk tidak akan pernah ada yang di tutup-tutupi, kan?"
Nathan tidak sanggup berkata-kata, wajahnya langsung berubah sedih membuat Tita semakin bingung. Axel, sang dokter yang menangani Tita dari awal merasa bertanggung jawab untuk memberikan penjelasan kepada pasiennya.
"Tita, saat kau sampai disini ..." Axel melihat ke arah Nathan, memastikan reaksinya tapi Nathan makin menundukkan kepalanya, ah .. dia benar-benar terpukul. "Tita, kamu sudah tidak sadarkan diri ketika sampai ... ada darah segar yang mengalir di kakimu, aku sungguh tidak menyangka sebelumnya ... tapi ketika di lakukan pemeriksaan menyeluruh, kami memeriksa pula asal darah itu ... dan kecurigaan kami terbukti, kami pastikan kamu sedang dalam kondisi hamil sebelumnya. Benturan yang keras dan kondisi janin yang belum kuat karena masih trimester pertama membuat kamu harus kehilangan calon bayimu."
Shock ... tentu saja, Tita mengerti dengan jelas apa yang dimaksud oleh Axel.