
Didalam perjalanan pulang Regan terus memikirkan jawaban yang Bintang berikan atas pertanyaannya,entah kenapa ia masih merasa bahwa Bintang terjatuh ke kolam bukan murni kecelakaan.
Tak lama kini mobil Regan berhenti tepat di depan rumahnya, Regan pun turun dari mobil dan bergegas masuk.
" Baru pulang Rey? " tanya mama Nita yang kini sedang duduk di ruang tamu.
" Mama, " ucap Regan yang terkejut, " Sudah malam kenapa mama belum tidur? " ucapnya lagi.
" Mama sengaja menunggu mu, ada yang ingin mama tanyakan, "
" Ada apa ma? "
" Soal pesta tadi,mama yakin kau punya alasan kenapa kau mendadak ingin bertunangan hari ini, apa ada yang kau sembunyikan dari Mama? " ucap Mama Nita yang kini memegang bahu Regan.
" Tidak ada ma, "
" Entah kenapa Mama tidak yakin dengan jawaban yang kau berikan, tapi Mama tidak memaksa jika kau memang tidak ingin Mama tau alasan mu yang sebenarnya, " ucapnya sambil tersenyum tipis, " sekarang cepatlah beristirahat kau pasti sangat lelah hari ini, " ucapnya lagi sambil mengelus bahu anak laki-laki nya itu.
" Ma, tidak ada yang Regan sembunyikan dari Mama, Regan pernah gagal menikah karena calon istri Regan pergi meninggalkan Regan untuk selamanya, Regan hanya takut itu terjadi lagi pada kehidupan Regan, " jawaban Regan yang paling tepat untuk sekarang,karena ia tidak mungkin menceritakan masalah yang sebenarnya yang akan merusak hubungan baik mamanya dengan Bu mayang.
" Kau tidak bisa melawan takdir sayang, jika Bintang memang ditakdirkan untukmu, apapun yang terjadi dia tetap akan menjadi milikmu dan kalian pasti akan bersatu, tapi jika Bintang tidak di takdirkan untukmu, apapun yang kau lakukan kau tidak akan pernah memiliki Bintang seperti kau tidak bisa memiliki Tania,ingatlah sayang semua itu sudah ada yang mengatur, "
" Regan hanya berusaha agar takdir berpihak pada ku ma, "
" Mama hanya ingin kau belajar untuk ikhlas sayang, ikhlaskan apa yang pernah terjadi di masa lalu dan jadikan itu pelajaran, jangan membuat masalalu mu itu terus menghantui kehidupan mu dan membuatmu terus hidup dalam ketakutan,ingat sebentar lagi kau akan menikah,jangan buat pasangan mu nanti merasa tidak nyaman karena kau terus memikirkan masalalumu itu, "
" Regan tak lagi hidup dengan bayangan masalalu Regan, Regan sekarang hanya berusaha mencegah apa saja yang akan membuat Regan terpisah dengan Bintang, apa itu salah Ma ? "
" Kau tidak salah sayang, mungkin mama yang terlalu takut jika kau masih terus memikirkan masa lalumu,sekarang istirahatlah, mama juga mau istirahat, " ucap mama Nita yang kemudian berlalu pergi.
Regan pun kini hanya bisa membuang nafasnya pelan, ia tak tau bagaimana menjelaskan sifat Stella yang sebenarnya pada ibu dan semua keluarganya.
Kini Regan pun berjalan menuju kamarnya, ia yang kini sudah berada di dalam kamarnya memilih membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk, banyak hal yang bergelut di dalam fikirannya saat ini namun semua itu hilang saat ia menatap wajah cantik Bintang di layar ponselnya yang ia ambil diam-diam.Kini ia pun mulai menghubungi Bintang melalui sambungan vidio call, tidak seperti biasa kini ia harus menunggu sedikit lama, karena Bintang tak kunjung mengangkat panggilannya.
" Apa dia sudah tidur? " ucap Regan yang berasumsi sendiri.
Sedangkan di tempat lain, Bintang yang berada di kamarnya sedang menyisir rambutnya,menaburkan bedak pada wajahnya dan memakai lipstik yang senada dengan warna bibirnya agar tampak fresh ,ia yang memang tadi sudah tidur terbangun karena mendapat panggilan video call dari Regan dan entah kenapa sekarang ia dandan dulu sebelum menerima panggilan itu.
" Ini sungguh konyol, aku dandan hanya karena mau ngangkat vidio call darinya? " gumam Bintang sambil ketawa sendiri, kini ia pun mulai menggeser tombol hijau pada ponselnya.
" Kenapa lama sekali sayang, apa kau sudah tidur? " suara dari seberang sana.
" Iya, kau mengganggu tidurku, " jawab Bintang kesal.
" Benarkah kau sudah tidur? bagaimana bisa rambutmu tetap rapi seperti itu? " mulai curiga.
" Mana mungkin aku bilang kalau aku dandan dulu sebelum mengangkat vidio call nya, bisa-bisa besar kepala tuh orang, " batin Bintang.
" Aku ingin melihat wajah mu, "
" Sekarang tataplah sepuasmu,satu menit lagi aku tutup sambungannya,aku mengantuk! " jawab Bintang ketus.
" Sedikit sekali satu menit! " protes Regan, " sekarang tidurlah tapi jangan putuskan sambungan ini, aku akan melihat mu dari sini, " ucapnya lagi.
" Konyol sekali, aku tidak mau! " tolak Bintang dengan ketus nya, karena ia tak mungkin bisa tidur jika Regan terus menatapnya walau itu hanya lewat sambungan vidio call.
" Ini perintah dari atasanmu! " ucap Regan penuh penekanan.
" Bodo amat! " jawab Bintang yang masih kekeh menolak permintaan Regan.
" Jadi ibu sekretaris sudah berani menolak perintah atasan! mau di hukum apa besok? "
" Lupa ya kalau mulai besok ibu sekretaris ini sudah tidak bekerja lagi? " ucap Bintang tersenyum menang.
" Baiklah kau menang hari ini,sekarang tidurlah, jangan lupa baca doa dan sebut namaku tiga kali, " ucap Regan yang mulai pasrah dengan kekalahannya karena tak berhasil mendapatkan keinginannya.
" Kenapa harus menyebut namamu tiga kali? " tanya Bintang dengan mengerutkan dahinya.
" Agar aku bisa hadir dalam mimpimu, " tampak senyuman yang mengembang di pipi Regan.
" Dia akan membuatku gila jika terus mengikuti kemauannya yang aneh-aneh, " batin Bintang
" Ya sudah aku mau tidur, "
" Sebut namaku dulu, "
" Iya.. iya.. aku akan menyebutnya nanti, " jawabnya malas.
" Ya sudah, selamat malam sayang, mimpi indah, i miss you, " ucap Regan
" Hmmm..iya, " jawab Bintang dengan malasnya.
" Jawab yang benar,jawaban apa seperti itu! " ucap Regan tak suka.
Bintang yang ada di seberang sana pun mendengus kesal, ia pun seketika meralat jawabannya, jika tidak sampai besok sambungan itu tidak akan terputus.
" Miss you too sayang...,jangan lupa hadir di mimpi ku, " ucap Bintang dengan senyum manisnya dan kemudian memutus sambungan vidio call nya bersama Regan.
" Aaaaaa....kenapa aku bahagia sekali ...," ucapnya yang terus tersenyum sambil memeluk ponselnya," huft....sekarang aku benar-benar tertular sifat genitnya , " ucapnya lagi.
Sedangkan di seberang sana Regan pun tersenyum sendiri mengingat sikapnya barusan yang jauh sekali dari sikapnya yang selama ini dingin.
" Ha..ha..ini sungguh konyol, " ucapnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu berajak menuju kamar mandi.