
Disisi lain, bu Dewi,Bintang dan Regan sedang berada di meja makan untuk makan siang.
" Bi, setelah ini kau bersihkan kamarmu agar calon mantu mama bisa segera beristirahat,kasian calon mantu mama ini pasti sangat kelelahan, " ucap bu Dewi yang seketika membuat Bintang tersedak.
" Uhuk...! " suara batuk Bintang karena tersedak, " Kenapa harus di kamar Bintang Ma? kan ada kamar sebelah nanti biar Bintang bersihkan, " ucapnya sambil meminum air putih.
" Kamar sebelah sudah mama jadikan gudang, kalau kamu mau bersihkan ya sudah tapi jangan merepotkan orang lain, "
" Tenang,Bintang sanggup bersihin sendiri, " ucapnya yang kemudian beranjak dari kursinya, " Dari pada dia harus tidur di kamar ku, aku rela deh kalau harus angkat-angkat barang, " batin Bintang yang tau pasti Regan nanti akan menghina kamarnya.
" Sebenarnya Regan istirahat di sofa juga nggak papa bi,biar Regan bantu Bintang, " ucap Regan yang mulai beranjak dari kursinya.
" Tidak perlu Tuan, nanti juga dia kembali kesini, "
" Panggil saja saya Regan bi, Maksud bibi apa? "
Belum juga bu Dewi menjawab,Bintang sudah berada di tengah-tengah mereka.
" Ma, kenapa kamarnya penuh dengan barang? " ucap Bintang kesal karena kamar yang akan ia bersihkan penuh dengan barang dan tak mungkin dia mengangkat semuanya.
" Ya kan mama sudah bilang kalau kamarnya sudah mama jadikan gudang, "
" Ya Bintang fikir nggak sebanyak itu barangnya, " ucap Bintang yang mulai mengerucutkan bibirnya.
" Sudahlah kau bersihkan saja kamarmu, apa kau tidak kasihan calon suamimu ini, pasti dia sangat lelah setelah mengemudi, " ucap bu Dewi yang mulai geram dengan putrinya itu.
Sedangkan Regan malah tersenyum menang mendengar ucapan calon mertuanya itu,ia pun melirik Bintang dengan senyum menyeringai.
" Iya.. iya, " ucap Bintang yang kemudian beranjak pergi.
Kini tinggal Regan dan bu Dewi yang ada di meja makan itu.
" Mungkin setelah ini keluarga saya akan datang kesini untuk menemui bibi, " ucap Regan pelan.
" Apa secepat itu nak? "
" Lebih cepat lebih baik kan bi? "
" Iya, kau benar nak, niat baik jangan di tunda-tunda, " ucap Bu Dewi yang semakin yakin jika Regan memang benar-benar serius pada putri semata wayangnya itu.
Tak lama Bintang pun kembali bergabung dengan kedua orang yang masih berada di meja makan itu.Baru saja Bintang duduk Bu Dewi sudah menyuruhnya lagi.
" Mama bereskan ini semua,kau antarlah calon mantu mama ke kamar untuk istirahat, " ucapnya sambil menumpuk piring kotor.
Bintang pun mendengus kesal,karena baru saja ia duduk tapi ibunya sudah menyuruhnya lagi,dengan wajah yang cemberut Bintang pun kembali beranjak dari kursinya.
"Mari Tuan, " ucapnya yang berjalan lebih dulu.
Regan pun beranjak dari kursinya.
" Regan istirahat dulu bi, " ucapnya menunduk hormat pada bu Dewi.
" Ya beristirahatlah, kalau perlu mintalah Bintang untuk memijatmu nak, oh ya.., jangan panggil bibi lagi, mulai sekarang panggil saja mama , " ucap bu Dewi dengan senyum yang mengembang di pipinya.
" Mama jangan ngada-ngada, nggak ada pijit-pijitan! " teriak Bintang yang masih bisa mendengar ucapan mamanya itu.
Regan pun hanya tersenyum tipis, ia begitu senang karena calon mertuanya itu memperlakukannya dengan sangat baik.Kini Regan pun mengikuti Bintang.
" Silahkan masuk Tuan, " ucap Bintang sambil membuka pintu kamarnya untuk Regan.
Regan pun masuk dan mulai mengedarkan pandanganya kesegala sudut ruangan itu, ia pun mulai duduk di atas ranjang Bintang.
" Bagaimana bisa kau tidur di ranjang se keras ini, ini bahkan lebih keras dari pada batu, kamar mu juga kecil sekali,ini membuat ku susah bernafas, aku tidak bisa tidur di tempat seperti ini, " ucapnya yang mulai tiduran di atas ranjang Bintang.
" Benar kan.. benar kan... kapan tobatnya tuh mulut "! gerutu Bintang kesal, karena ia sudah mengira bahwa Regan akan menghina kamarnya.
" Kalau Tuan tidak suka Tuan tidur saja di MOBIL MEWAH TUAN itu ! " ucapnya ketus dengan penuh penekanan,kini Bintang pun membuang mukanya.
Bintang yang tak kunjung mendengar Regan menjawab pun meliriknya,ternyata orang yang tengah ia ajak bicara itu mulai tertidur.
" Aish! katanya nggak bisa tidur! terus ini apa namanya..! " gerutu Bintang kesal.
Bintang pun mulai membuka jendela kamarnya agar udara segar bisa masuk, ia pun kini mulai memandang wajah calon suaminya yang menjengkelkan itu, Bintang sebenarnya sangat menyayangi Regan namun ia masih gengsi dan canggung untuk memperlihatkannya karena mulut Regan yang lebih sering membuat nya jengkel. Kini Bintang pun menatap wajah calon suaminya itu lekat-lekat sambil menata rambut Regan yang menutupi wajah tampannya.
Dengan wajah yang merah merona Bintangpun langsung bergegas keluar dari kamarnya,ia begitu malu karena Regan tau jika dirinya dari tadi sedang memperhatikannya.Regan pun tersenyum tipis melihat kelakuan calon istrinya itu.
Sedangkan di luar kamar, Bintang terus memegang dadanya yang sekarang sedang bergemuruh,antara senang dan malu campur aduk di fikirannya.
Waktu berjalan begitu cepat kini hari semakin sore, Bintang yang sudah rapi pun mulai keluar dari rumahnya bersama bu Dewi, Regan yang baru saja bangun melihat Bintang dari jendela kamar Bintang.
" Mau kemana? " tanya Regan dari balik jendela.
" Makam papa, Tuan kalau mau mandi handuk baru ada di almari sebelah kanan, " ucap Bintang yang kemudian mulai menyusul bu Dewi yang sudah berjalan lebih dulu.
" Tunggu, aku ikut, " ucap Regan yang bergegas ke kamar mandi.
Bintang pun kini duduk di bangku yang ada di samping rumahnya menunggu hingga Regan keluar.
Tak lama kini Reganpun keluar, mereka pun kini berjalan bersama hingga pemakaman, tampak bu Dewi yang lebih dulu sampai di sana, beliau tampak sedang khusuk membaca do'a. Kini beliau mulai menaburkan bunga di atas makam suaminya.
" Pah,anak kita sekarang sudah dewasa, dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, bahkan sekarang sudah ada seseorang laki-laki yang melamarnya, laki-laki yang tampan,sopan, dan juga sangat baik.Berkat didikan papa selama ini sekarang dia tumbuh menjadi gadis yang sangat pemberani,kuat dan mandiri,mama yakin papa di sana pasti bahagia melihat anak kita sekarang, " ucap bu Dewi yang tanpa sadar airmatanya mulai membasahi pipi.
Bintang yang dari tadi berdiri di belakang ibunya pun langsung memeluknya, air mata yang dari tadi ia tahan kini mulai tumpah, namun ia tetap berusaha untuk menahannya.Ia tak mau jika mamanya akan semakin sedih jika melihatnya menangis.
" Ma, sudah jangan menangis, papa akan sedih jika melihat kita menangis,Bintang yakin papa di sana bahagia melihat kita, " ucap Bintang yang mencoba menenangkan mamanya itu walau hatinya sendiri sekarang sedang kalut.
" Kau benar sayang, sekarang kau berdoalah, mama pulang dulu, " ucap bu Dewi yang tak bisa menahan airmatanya jika terus berada di pusaran suaminya itu, kini beliau pun beranjak pergi karena tak mau Bintang melihatnya terus bersedih.
Kini Bintang dan Regan pun sama-sama sedang khusuk berdo'a di samping pusaran ayah Bintang. Regan tau betul bagaimana perasaan Bintang sekarang karena ia juga pernah merasakan di tinggal oleh orang yang ia sayangi untuk selama-lamanya.
Bintang pun kini mulai menaburkan bunga di atas pusaran ayahnya sedangkan Regan mulai memegang batu nisan yang tertulis nama almarhum ayah Bintang.Tampak Regan begitu serius menatapnya.
" Assalamu'alaikum Om Rahmad yang sebentar lagi juga menjadi ayah saya,saya Regan laki-laki yang mencintai dan menyayangi putri Om, saya juga laki-laki yang sebentar lagi akan meminang putri Om, saya tidak berjanji pada putri Om untuk dunianya, saya juga tidak bisa berjanji bahwa kehidupan kita nantinya akan mudah,tapi saya berjanji akan menjadi suami yang terbaik untuknya,saya akan menjaganya seperti Om menjaganya, saya akan melindunginya walau nyawa saya taruhannya, semoga Om merestui niat baik saya ini, semoga Om bahagia di alam sana, " ucap Regan yang kini mulai merangkul Bintang yang menangis karena melihat ketulusan hati Regan.
" Berhentilah menangis, kau jelek sekali jika seperti ini, " ucapnya yang sengaja mengejek Bintang agar berhenti menangis.
" Saya tidak menyangka Tuan bisa mengucapkan kata-kata semanis itu dari mulut Tuan yang pedasnya nggak ada obat, itu membuat saya terharu, " ucap Bintang sambil sesenggukan, di saat seperti itu Bintang masih saja sempat mengejek Regan.
Regan pun kembali mencubit hidung Bintang, kini mereka pun mulai berjalan meninggalkan makam.
" Tuan, apa yang membuat tuan tertarik pada saya, " ucap Bintang yang tetap fokus berjalan.
" Tidak ada, " jawab Regan yang seketika membuat Bintang menoleh ke arahnya.
" Lalu kenapa tuan mau menikah dengan saya! " ucapnya ketus yang membuat Regan tersenyum tipis.
" Karena kau yang membuatku tau bagaimana rasanya menatap seseorang dan tersenyum tanpa alasan, " ucapnya yang kini menatap lekat Bintang, " terimakasih sudah mewujudkan impian ku, " ucapnya lagi sambil menyibakan rambut bintang yang menutupi wajah cantiknya.
" Impian apa? "
" Menikah dengan wanita cantik,berbudi baik seperti mu, "
" Saya mungkin tidak akan selalu menjadi istri yang baik,tapi saya berjanji akan terus mendampingi Tuan, "
Regan pun kini mendekat kan wajahnya membuat jantung Bintang mulai bergemuruh.
" Berhentilah bicara formal padaku dan berhentilah memanggilku Tuan, " ucap Regan sambil menyentil kening Bintang,Reganpun kini meninggalkan Bintang,sedangkan Bintang masih diam mematung karena ia mengira Regan akan menciumnya.Kini ia pun mulai mengejar Regan yang sudah berjalan jauh di depannya sambil mengelus keningnya yang sedikit sakit.
_
_
_
_
_
_
Jangan lupa jempolnya say.... 😁
Happy Reading 😊
Please... Vote nya jangan lupa, ma'af author sedikit memaksa 😁🙏