My Big Boss

My Big Boss
Untuk yang terakhir kali



Sementara Regan hanya berdecak kesal mendapati Bintang mematikan panggilannya.


Kini ia pun mulai menghubungi David untuk menghadap ke ruangannya. Tak lama David pun datang dan kini sudah berdiri di hadapannya.


" Ma'af tuan,apa ada yang perlu saya lakukan?" ucap David dengan menunduk hormat.


" Tentang surat-surat perkebunan itu, apa semua sudah siap? "


" Sudah Tuan, semua seperti perintah tuan. "


" Baiklah, bawa kesini surat-surat itu! "


David pun kini kembali ke ruangannya mengambil surat-surat berharga yang di minta Regan.


Sementara di rumah tampak Bintang tengah sibuk di dapur bersama bi inah.


" Bik, bik inah sudah lama bekerja disini? " tanya Bintang.


" Sudah Non, dari tuan Regan masih bayi. "


" Wah lama sekali ya bik.


Oh ya, bibik pasti tau kan makanan kesukaan Regan? " tanya Bintang.


" Tentu Non, tuan Regan paling suka dengan gulai ikan kakap. "


" Bantu saya memasaknya ya bik. "


" Dengan senang hati Non. "


Kini Bintang pun memasak makanan kesukaan Regan dengan bi inah yang setia membantunya.Tak lama makanan itu pun siap, Bintang pun kini menatanya di kotak bekal.


" Nona muda mau membawanya ke kantor? " tanya bi inah.


" Iya,aku bersiapp dulu ya bik. "


Bintang pun kini mulai melangkah menuju kamarnya untuk bersiap.


Tak lama Bintang kini sudah turun dengan penampilan yang sudah rapi, ia pun keluar rumah dengan tangan yang membawa makanan untuk suaminya itu.


Bintang pun mulai menghampiri pak jang yang tengah sibuk mengelap mobil di garasi.


" Pak jang, " panggil Bintang.


" Iya Non "


" Tolong antar saya ke kantor tuan ya? "


" Siap Non, " pak jang pun mulai membukakan pintu mobil untuk Bintang.


" Sebentar pak, " ucap Bintang yang mendapati blue terparkir di sana.


Bintang pun mulai menghampiri motor kesayangannya itu.


" Tuan Regan merawatnya dengan sangat baik Non, " ucap pak jang yang mendapati Bintang terus memegang motornya itu.


" Pak jang, tolong keluarkan motornya, " ucap Bintang.


" Ma'af Non, saya tidak berani. "


" Pak! " suara Bintang sedikit meninggi.


" Ma'af Non, " pak jang tetap tak mau mengikuti perintah Bintang.


" Ya sudah, saya akan mengeluarkannya sendiri, " Bintang pun mulai mengeluarkan motornya itu.


" Ma'af Non tuan Regan melarang siapapun menaiki motor ini! "


" Kecuali aku! " ucapnya yang kemudian menaiki motornya.


" Non,biar saya antar saja Non, tuan Regan pasti nanti akan memarahi saya, " ucap pak jang yang mulai panik.


" Tenanglah dia tidak akan memarahi pak Jang, aku akan memastikannya! " Bintang pun kini mulai melajukan motornya.


" Dia benar-benar merawat blue dengan sangat baik, " gumamnya sambil menaiki motornya menuju kantor Regan.


Tempo dulu,setelah David berhasil menebus motor Bintang,Regan menyuruh David untuk menyimpan motor Bintang di garasi rumahnya, semua tentu saja atas persetujuan Bintang walau atas penekanan Regan.


Dua puluh lima menit berlalu, kini Bintang sudah berhenti tepat di depan kantor Atmaja Grup. Ia pun memarkir blue dan mulai berjalan masuk.


Semua mata pun menunduk hormat padanya, Bintang yang belum terbiasa pun terlihat senyuman yang begitu canggung dari bibirnya.


Sementara Doni yang melihat bintang datang pun mulai memberi aba-aba pada teman-temanya.


" Ibu bos datang, ayo cepat berbaris,kita harus menyambutnya, " ucapnya yang mulai berdiri tegap yang di ikuti oleh Rita dan Livia.


Bintang yang melihat kelakuan ketiga temannya itupun terkekeh.


" Selamat siang bu bos, " sapa Doni sambil membungkukkan badannya di ikuti Rita dan Livia.


" Kalian enggak usah berlebihan deh, " ucap Bintang tak suka.


" Barang kali kalau seperti ini bu bos mau menaikkan gaji kami, " ucap Doni apa adanya.


" Ha.. ha.. ha..,dasar banyak modusnya! kerja sana yang rajin! " ucap Bintang memukul bahu Doni.


" Ah! kau tega sekali Bi, " dengus Doni kesal.


" Kau sehat kan Bi? " tanya Livia.


" Seperti yang kau lihat, aku sangat merindukan kalian, " ucap Bintang yang kini memeluk Livia dan Rita.


" Aku juga, " jawab Rita dan Livia bersamaan.


Mereka pun saling berpelukan melepas rindu setelah beberapa hari tak bertemu.


" Ikutan dong, aku juga rindu! " sahut Doni yang ingin ikut berpelukan.


" Setooooop! " tangan Rita pun menghentikan tubuh Doni yang siap memeluknya itu, " pergi sana! " ucap Rita lagi.


" Kau yakin ingin aku pergi? yakin tidak mau aku peluk? " goda Doni.


" Hih! najis! " ucap Rita kesal.


" Sudahlah,bilang saja jika jantung mu mulai tak nyaman saat berada di dekatku, " goda Doni lagi yang membuat wajah Rita merah merona.


" Rit, wajahmu merah, " bisik Bintang tersenyum tipis.


" Benarkah? " Rita pun semakin salah tingkah.


" Jangan hiraukan manusia itu! " ucapnya pada Bintang dan Livia.


Sementara Bintang dan Livia tersenyum melihat kelakuan temannya itu.


" Pergi sana! " ucap Rita kesal yang kini berbicara pada Doni.


" Kau ingin sekali aku pergi, " gerutu Doni yang kini memilih kembali ke mejanya.


" Kau bawa apa Bi? " tanya Livia.


" Makan siang untuk suamiku, " jawabnya tersenyum senang.


" Aaah, aku jadi iri padamu Bi, do'a kan ya semoga aku segera di lamar sama CEO muda, " sahut Rita.


" Mana ada CEO muda mau dengan wanita jadi-jadian! " sahut Doni dari mejanya.


" Sialan! " Rita pun melempar keranjang pensil yang ada di hadapannya tepat mengenai kepala Doni, hingga membuat Doni meringis kesakitan.


" Kalian itu cocok, udah jadian saja! " ucap Bintang.


" Tidak! " Doni dan Rita pun menjawab secara bersamaan.


" Tuh kan kompak, cie.. cie.. cie, " Livia pun ikut menimpali.


" Hah! sudahlah aku banyak kerjaan, " Rita pun kembali kemejanya.


Bintang dan Livia sama-sama heran dengan kelakuan dua teman mereka itu.


" Aku masuk dulu ya Vi, tuan Presdir ada di dalam kan? " tanya Bintang.


" Iya, beliau ada di dalam, ku tunggu kabar baiknya ya, " sambil memegang perut rata Bintang.


" Do'a kan saja, " Bintang pun tersenyum tipis sambil melangkah menuju ruangan Regan.


Bintang yang sudah berada di dalam pun mendapati suaminya yang begitu serius dengan berkas yang ada di tangannya hingga tak menyadari bahwa dirinya sudah berada di sana.


Bintang pun mulai berjalan mengendap-endap dan menutup mata Regan dengan kedua tangannya dari belakang.


Sementara Regan yang tau jika itu adalah kelakuan istrinya pun langsung menarik tangan Bintang dan menjatuhkan tubuh Bintang di pangkuannya,membuat Bintang terkejut dan membelalakkan matanya.


" Kau tau jika itu aku? " tanya Bintang yang kini berada di pangkuan suaminya itu.


" Tentu saja. "


" Kau tidak melihat ku masuk, bagaimana kau tau? "


" Aku sangat mengenal aroma tubuhmu, " jawabnya tersenyum tipis.


" Sungguh? "


" Hmmmm. "


" Aku membawakan mu makan siang. "


" Benarkah? harusnya kau tak perlu membawanya kesini, biar aku saja yang pulang. "


" Aku ingin membuat kejutan untuk mu. " ucapnya tersenyum manis.


Regan pun tersenyum bahagia mendengar jawaban istrinya itu, kini ia pun mencium bibir mungil istrinya itu.


" Sayang sudah, ini di kantor! " ucap Bintang sambil mengmbil nafas.


" Memangnya kenapa? " Regan pun kembali mencium bibir manis Bintang.


Kini Bintang pun hanya pasrah dan mengikuti permainan suaminya itu,hingga kini hasrat mereka untuk melakukannya pun sama-sama semakin tak bisa di bendung.


Kini Regan pun mulai menggendong tubuh Bintang dan membaringkannya di ruang istirahat nya.Ruangan kecil yang berada di dalam ruang kerjanya,ruangan yang hanya dan ada almari kecil dan ranjang berukuran kecil di dalamnya.


Kini mereka pun kembali berciuman, dan entah sejak kapan pakaian mereka berserakan di lantai,kini permainan panas itupun di mulai hingga jeck berhasil mengeluarkan lava panasnya,kini tampak tubuh mereka yang sama-sama tergulai lemas.


Siang yang begitu menggairahkan bagi pasangan pengantin yang masih segar itu.


" Sayang, aku lapar, " ucap Regan.


" Ya sudah ayo makan, tapi mandi dulu. "


" Baiklah, mandi berdua kan? " ucapnya dengan senyuman menyeringai.


" Sayang? " Bintang pun melotot ke arah Regan.


" Iya,kau mandi duluan, " ucapnya lesu.


Kini Bintang pun mulai turun dari ranjangnya dan melangkah ke kamar mandi.


Setelah sama-sama selesai mandi,kini Bintang pun mulai menyiapkan makanan buatannya untuk Regan.


" Aku membuaatkan makanan ke sukaanmu,kau harus memakannya sampai habis, " ucapnya sambil menyuapi Regan.


" Tentu saja, tapi di bantu bik inah sih, " tersenyum garing.


" Kau ini! " mengacak-acak rambut Bintang.


" Enak tidak? " tanya Bintang.


" Enak, ini lebih enak dari rumah makan yang sering aku kunjungi. "


" Benarkah? "


" Iya. "


Bintang pun tersenyum senang,namun di dalam hatinya ia masih mengingat foto yang tadi ia temukan.


" Apa aku perlu menanyakan foto itu? " benaknya dalam hati.


" Sayang, kau kenapa? " tanya Regan yang mendapati Bintang terus terdiam.


" Hah! tidak aku tidak papa, " jawabnya tersenyum manis.


" Kau juga harus makan, sini biar aku menyuapi mu, " Regan pun dengan tulus menyuapi Bintang makan.


Bintang bisa melihat ketulusan dari suaminya itu, ia pun kembali tersenyum dan menghilangkan fikiran buruk yang dari tadi menghantuinya itu.


" Apa kau benar-benar mencintaiku? "


" Kenapa kau masih menanyakan itu? "


" Ya, aku hanya ingin mendengarnya saja sekarang, " ucapnya tersenyum garing.


Regan pun menatap hangat istrinya itu.


" Aku sangat sangat mencintaimu Bintang Ariana Putri, " ucapnya penuh penekanan.


" Terimakasih, " Bintang pun terlihat lebih lega saat mendengar ucapan Regan.


" Kau ini kenapa sih sayang? " tanya Regan yang sedikit heran dengan sikap Bintang.


" Aku tidak papa, ayo makan lagi, kau harus makan yang banyak, " ucapnya yang kini mulai menyuapi Regan makan.


Kini mereka pun menghabiskan makanan mereka dengan saling suap.


" Apa kau akan langsung pulang? tanya Regan.


" Tidak, aku ingin menunggu mu disini,mama pergi arisan dan akan pulang malam, aku tidak ada teman di rumah, " jawab Bintang sambil membereskan kotak bekalnya kembali.


" Baiklah, aku akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan ku. "


" Aku bantu ya? "


" Tidak perlu kau duduk manis saja di sini, oh ya, apa kau menyuruh pak jang menunggu mu? " tanya Regan yang berfikir Bintang di antar oleh supir nya itu.


" Tidak, aku ke sini sendiri. "


" Sendiri? naik apa? "


" Motor, " jawab Bintang tanpa sadar.


" Apa! " wajah Regan pun seketika berubah merah padam.


Bintang yang baru menyadari ucapnya pun kini membelalakkan matanya menatap suaminya yang kini tengah menahan amarah itu.


Sebelum Regan memamarahinya Bintang bergegas mencium bibir suaminya itu dengan lembut, Bintang pun kini tersenyum garing sambil mengangkat kedua jarinya di hadapan Regan.


" Apa nona Regan fikir akan lolos dari kemarahan tuan Regan? " ucap Regan penuh penekanan.


Bintang yang mendengar kata-kata dari suaminya itupun kembali mencium lembut bibir suaminya,sementara Regan tersenyum senang menerima kelakuan istrinya yang mencoba membuatnya tidak marah itu.


" Permisi Tuan, " ucap David yang kini tak berkedip melihat pemandangan di hadapannya itu.


Sementara Bintang, kini wajahnya merah merona bak udang rebus, ia pun melepaskan ciumannya dan memilih membalikkan badan memunggungi David.


" Kan tadi sudah ku bilang jangan ciuman di kantor, " bisik Regan yang tengah menggoda istrinya itu.


Bintang pun hanya mengerucutkan bibirnya kesal.


" Ada apa Dav! " ucap Regan yang kini bertanya pada David.


" Ma.. ma'af tuan, saya akan kembali ke ruangan saya, " ucapnya terbata.


" Kenapa kau harus kembali? kemarilah, bawa kesini yang kau pegang! " ucap Regan yang melihat David membawa beberapa berkas di tangan nya.


David yang kini melihat rambut Regan dan Bintang masih sedikit basah pun bertanya-tanya dalam benaknya.


" Kenapa rambut Tuan Regan dan nona Bintang sekarang basah? apa mereka.., "


" Dav! " suara Regan yang menghentikan lamunan David.


" Iya Tuan kenapa? "


" Apa kau tidak ingin memberikan berkas-berkas itu padaku! "


" I.. iya tuan, ma'af, ini tuan, " ucapnya terbata sambil menyodorkan berkas penting dan surat berharga yang tadi Regan minta.


Kini Regan pun mulai memeriksa berkas-berkas yang di berikan David, sementara David masih berdiam diri menatap rambut Bintang dan Regan yang masih sama-sama basah dengan otaknya yang mulai travelling kemana-mana.


" Apa kau akan terus berdiri di situ! " ucap Regan tak suka.


" Ma.. ma'af Tuan, saya permisi, " ucapnya yang kemudian melangkah pergi.


Bintang yang merasa David sudah keluar dari ruangan Regan pun membalikkan badannya, ia pun kini bisa bernafas lega setelah dari tadi menahan rasa malunya.


Kini Bintang pun duduk di hadapan suaminya itu.


" Kenapa nona Regan masih menaiki motor! " ucap Regan sambil memukul pelan kepala Bintang.


" Kenapa kau selalu marah jika aku menaiki motor,jika kau takut aku kecelakaan, naik mobil pun aku juga bisa kecelakaan bukan? semua itu sudah ada yang mengatur,kita tidak akan pernah tau takdir kita seperti apa, " ucapnya membela diri.


" Apa nona Regan mau jadi istri durhaka? "


" Kau selalu saja begitu! " decak kesal Bintang.


" Jadi tetap mau naik motor? "


" Iya, iya tidak! " ucapnya terpaksa.


Kini Regan pun mendekati Bintang.


" Sudah jangan cemberut kau jelek jika seperti ini! " memegang wajah Bintang.


Bintang pun kini tersenyum kecil.


" Sudah, cepatlah selesaikan pekerjaan mu, aku akan menemanimu di sini, " ucapnya pelan.


" Aku mencintaimu,jangan lakukan hal-hal yang membuat ku khawatir, " ucap Regan yang kemudian mencium kening Bintang dan kembali ke meja kerjanya.


" Mungkin dia punya trauma dengan motor, sekarang aku harus belajar mengerti keadaannya, " gumam Bintang dalam hati.


Tak terasa hari semakin sore,Regan yang sudah menyelesaikan pekerjaan nya pun kini tengah berjalan pulang bersama Bintang.


" Ayo naik, " ucap Regan yang sudah berada di atas motor Bintang.


" Hah! " Bintang pun terkejut karena mendapati suaminya menaiki motornya itu.


" Cepatlah, sebelum aku berubah fikiran. "


Bintang pun bergegas naik di jok belakang.


" Sayang, kau yakin? " ucapnya masih tak percaya.


" Ini untuk yang terakhir kalinya! "


Bintang pun tersenyum senang.


" Terimakasih sayang, " ucapnya lembut.


" Mana kuncinya? " tanya Regan.


" Ini, " Bintang pun memberikan kunci motornya.


Kini Regan pun mulai melajukan motornya, Bintang yang berada di belakang pun melingkarkan tangannya di perut Regan.


Pemandangan yang tidak pernah di temukan,pemandangan yang membuat David dan semua karyawan yang


ada di sana tertegun melihatnya.


Di dalam perjalanan Regan dan Bintang begitu menikmati momen berdua mereka itu,mereka sama-sama menikmati indahnya sore hari.


Tampak langit cerah berwarna jingga yang mulai menyapa,angin sepoi-sepoi dan dedaunan kering yang berjatuhan membuat suasana sore ini begitu indah.


Walau jalanan begitu ramai tak membuat mereka terusik,Regan tetap dengan santai melajukan motornya walau hari sudah semakin gelap,hingga akhirnya setelah tiga puluh menit kini mereka sampai di rumah.


Sesampainya di rumah Regan dan Bintang langsung naik keatas menuju kamar mereka.


Saat Regan membuka pintu ia begitu terkejut dengan penampilan kamarnya saat ini.


" Kenapa sekarang kamarku mirip kamar barbie? " benaknya dalam hati mendapati kini kamarnya bernuansa biru dan pink.


Regan pun kini membuang nafasnya kasar.


" Aku merubahnya, apa kau suka? " tanya Bintang.


" Hmmmm.. iya, " ucapnya dengan terpaksa.


" Indah bukan? "


" Iya, indah sekali, " ucapnya lagi dengan senyuman kecut, " kau tidak akan mengajakku main berbie-berbiean kan sayang? " ucapnya lagi sambil memperhatikan kamarnya yang sudah seperti istana berbie itu.


" Kelihatannya itu ide yang bagus! " goda Bintang.


" Hah! " wajah Regan pun datar tanpa ekspresi.


Bintang pun kini tertawa cekikikan melihat suaminya itu.


" Kau tidak suka ya? " tanya nya.


" Aku kan laki-laki sayang, mana mungkin aku main berbie-berbiean! " protesnya.


" Bukan itu, kamarnya? "


" Owh, aku hanya belum terbiasa saja. " ucapnya sambil merangkul bahu Bintang.


" Terimakasih, " Bintang pun menatap lekat suaminya itu.


" Untuk apa? "


" Karena sudah memilihku, " ucapnya yang membuat Regan tersenyum senang mendengarnya, kini Regan pun menarik pinggang Bintang hingga kini tidak ada jarak diantara mereka,kini ia pun kembali mencium lembut bibir manis istrinya itu.


" Sayang,mama ada oleh-o....," mama nita pun diam membisu mendapati Bintang dan Regan yang tengah berciuman itu.


Sementara Regan dan Bintang yang terkejut pun seketika menatap mama Nita dengan wajah datar mereka.


" Ma'af mama ganggu ya, lain kali jangan lupa kunci pintu dulu ya? " ucap Mama nita lagi yang kemudian menutup pintu dan berlalu pergi.


" Oh tidak! tadi David, sekarang mama, besok siapa lagi! " batin Bintang yang menahan rasa malunya.