My Big Boss

My Big Boss
terlambat datang



Mereka berempat pun masuk ke mobil yang sama.


mereka menjadi akrab walau baru mengenal Bintang,karena Bintang sangat mudah bergaul.


Tak lama mereka sampai di tempat tujuan.


" Kalian mau makan apa ? "


tanya Livia sambil melihat buku menu yang diberikan pelayan.


" Gurami bakar, udang saus tiram, ayam lada hitam, sop iga bakar, nasinya empat porsi ya mbk? "


sahut Doni memesan makanan ke pelayanan.


" Kau yakin akan menghabiskannya? "


tanya Bintang tak percaya dengan apa yang di pesan Doni.


" Kau jangan khawatir Bi.. dia tu kingkong makanya banyak jadi kau jangan kaget jika sedang bersamanya, " sahut Rita terkekeh menjawab pertanyaan Bintang.


" Seenaknya kau bilang aku kingkong! aku hanya sedang kelaparan biasanya juga makan ku sedikit, " sahut Doni sambil menjitak kepala Rita.


" Aawww...kau menyakitiku! Dasar kingkong! "


ucap Rita ingin memukul Doni tapi ia urungkan karena ocehan Livia.


" Hei sadar kalian sudah pada tua kenapa kelakuan masih kaya anak SD? bisa tidak sehari saja kau biarkan aku menikmati makanan tanpa melihat kalian bertengkar, "


ucap Livia kesal melihat tingkah temannya itu yang setiap hari bertengkar.


Akhirnya Doni dan Rita pun duduk anteng.


sedangkan Bintang hanya terkekeh melihat tingkah teman-teman barunya itu.


" Bi apa kau betah jadi sekertaris Tuan Regan ? "


tanya Livia pada Bintang.


" Aku butuh pekerjaan ini jadi ya harus aku betah-betahin, "


jawab Bintang tenang.


" Kenapa bukan aku yang jadi sekertaris Tuan Regan, "


sahut Rita sambil mbayangkan wajah tampan Regan.


" Mana mau Tuan Regan sama makhluk jadi-jadian, " ucap Doni cuek.


" Kau ini! "


ucap Rita dengan menendang kaki Doni karena kesal.


" Sudahlah jangan mulai lagi! tu makanan kita sudah datang, "


ucap Livia kesal karena geram melihat ulah kawannya itu.


Mereka berempat pun mulai menikmati hidangan yang ada.


" Eh..! siapa yang akan bayar semua makanan ini!? "


tanya Bintang bingung.


" Biasanya kita patungan setiap makan tapi karena sekarang yang memesan Doni, dan yang makan paling banyak juga Doni jadiiii... Doni yang akan membayar semua.. ayo bi..! "


ucap Rita menggandeng tangan bintang berlari meninggalkan Doni yang masih duduk di meja sendiri.


Livia pun ikut berlari meninggalkan Doni mereka semua tertawa senang karena sudah bethasil mengerjai Doni.


" Hei,makanmu juga banyak tadi! kenapa aku yang harus membayar semua?sungguh ini tidak adil! "


gerutu Doni sambil membayar semua makanan tadi.


Kini Bintang dan kawan-kawan sudah menunggu Doni di samping mobil.


" Apa kita tidak Keterlaluan? ".


tanya Bintang tak enak hati kepada Doni.


" Sudahlah bi.. kau jangan khawatir dia tak kan jatuh miskin hanya karena membayar makanan tadi "


ucap Livia menjawab pertanyaan Bintang.


Doni berjalan dengan ekspresi kesalnya ia menuju mobilnya .


" Ku kutuk kalian semua jadi batu! "


ucap Doni ketus.


" Aawww... kakiku tiba-tiba tak bisa di gerakan, ku rasa kakiku mulai membatu! "


ucap Rita bergurau sambil tertawa.


" Jariku juga mulai tak bisa di gerakan! "


sahut Livia tak mau kalah.


Bintang yang melihat tingkah kawan-kawan nya itu tertawa lepas.


" Sialan kau! "


ucap Doni kesal.


Mereka pun akhirnya kembali ke kantor bersama ,masih dengan bercanda di dalam mobil.


Tak lama akhirnya sampai di tempat mereka bekerja.


" Gawat kita sudah telat 5 menit, "


ucap Bintang berlari menuju ruangannya.


" Semoga Tuan Regan belum ada di tempat, "


Ucap Rita mengikuti Bintang.


" Pasti kita akan kena masalah sekarang! ini karena makanmu terlalu banyak Don! "


ucap Livia menyalahkan Doni.


" Kenapa kau menyalahkanku? kau juga makan banyak tadi! "


" Sudahlah,perdebatan kalian itu tak kan menolong kita,berdo'a saja semoga Tuan belum ada di tempat! "


Ucap Bintang berlari sekencang mungkin.


Semua mata memandang ke arah empat manusia ini yang sedang berlarian.


akhirnya mereka pun sampai di ruangan dengan nafas ngos-ngosan.


" Kenapa kalian bisa terlambat datang ? "


tanya pak radit datar.


" Ma'af pak tadi kita kena macet, "


jawab Doni berbohong.


Laki-laki tua ini sangat menyebalkan!


gumam Doni dalam hati.


" Tuan Regan sudah ada di tempat ,kalian sudah di tunggu di dalam,entah apa yang akan dilakukan kepada kalian! ".


Ucap pak Radit dengan nada kesaal.


" Benarkah? "


tanya Doni memastikan.


" Iya.. kalian sungguh senang membuat ku dalam masalah! "


ucap pak radit ketus karena tadi sebelum Bintang dan kawan-kawan datang pak Radit lah yang kena semprot Regan.


" Ma'af kan kami pak, "


ucap Bintang merasa bersalah.


Kita benar-benar dalam masalah sekarang!


ucap Doni sedikit berbisik.


Mereka berempat pun berjalan ke arah ruangan Regan.


Tok.. tok.. tok..


suara ketukan Pintu.


" Ma'af Tuan bolehkah kita masuk? ".


tanya Bintang dengan suara ketakutan.


" Masuklah! ".


jawab Regan singkat dengan nada emosi.


Cekreek..


suara pintu terbuka, mereka berempat berjalan masuk dengan wajah tertunduk tanpa berani menatap wajah Regan.


Plok.. plok.. plok


suara tepukan tangan Regan.


" Bagus ! kalian sudah berani datang terlambat sekarang! "


suara Regan menggema memenuhi ruangan.


" Ini pasti karena pengaruh dari Nona Bintang Ariana Putri, karena sebelum ini kalian tidak pernah telat sedikitpun! "


ucap Regan sambil terus berjalan mengelilingi empat manusia tadi. langkah kaki Regan menambah susana menjadi sangat menegangkan.


Tak ada yang berani bersuara di sana, mereka semua sibuk dengan fikiran masing-masing. begitupun Bintang.


Kenapa harus aku yang di salahkan?


sungguh suara langkah kakinya ingin membuat jantungku keluar dari sarangnya , bagaimana dengan wajahnya sekarang? pasti di sudah berubah jadi iblis yang begitu menyeramkan ".


gumam Bintang dalam hati yang masih terus menundukkan wajahnya.


" Kalian bertiga boleh keluar kecuali kamu Nona! "


ucap Regan marah sambil menunjuk Bintang.


Doni, Livia, dan Rita hanya mendongakkan kepala dengan ekspresi bingung .


Apa yang akan Tuan lakukan pada Bintang?


gumam mereka bertiga dalam hati.


Mereka keluar dengan menatap wajah Bintang , mereka merasa bersalah karena tak bisa membela Bintang tadi, tapi Bintang tau maksud dari teman-teman nya itu, ia pun membalas tatapan itu dengan senyuman tanda bahwa dia akan baik-baik saja.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan? "


tanya Livia pada teman-teman nya di luar ruangan.


" Yang bisa kita lakukan hanya mendoakan Bintang, "


jawab Doni berjalan ke mejanya.


" Kenapa tadi bukan aku yang di pilih Tuan Regan untuk tetap tinggal di sana? aku rela menyerahkan jiwa raga ku untukmu Tuan, "


ucap Rita masih terus membayangkan wajah tampan Tuannya.


" Kau ini sudah benar-benar gila! "


sahut Livia meninggalkan Rita yang masih berdiri di dekat ruangan Regan.


" Apa kau tak tau bagaimana wajah Tuan Regan tadi? saat dia marah itu sangat menggemaskan..., "


ucap Rita berlari kecil mengejar Livia.


" Kau memang benar-benar tak waras! wajah mengerikan kau bilang menggemaskan? akan ku antar kau ke psikiater! "


ucap Livia tanpa menoleh.


" aku tidak gila ! aku hanya sedang jatuh cinta, " ucap Rita menuju mejanya.


Rita memang sangat tergila-gila pada Regan entah itu cinta atau hanya terobsesi, yang jelas semua sikap Regan itu tampak manis di matanya.