
Mereka berempat pun masuk ke mobil yang sama.
mereka menjadi akrab walau baru mengenal Bintang,karena Bintang sangat mudah bergaul.
Tak lama mereka sampai di tempat tujuan.
" Kalian mau makan apa ? "
tanya Livia sambil melihat buku menu yang diberikan pelayan.
" Gurami bakar, udang saus tiram, ayam lada hitam, sop iga bakar, nasinya empat porsi ya mbk? "
sahut Doni memesan makanan ke pelayanan.
" Kau yakin akan menghabiskannya? "
tanya Bintang tak percaya dengan apa yang di pesan Doni.
" Kau jangan khawatir Bi.. dia tu kingkong makanya banyak jadi kau jangan kaget jika sedang bersamanya, " sahut Rita terkekeh menjawab pertanyaan Bintang.
" Seenaknya kau bilang aku kingkong! aku hanya sedang kelaparan biasanya juga makan ku sedikit, " sahut Doni sambil menjitak kepala Rita.
" Aawww...kau menyakitiku! Dasar kingkong! "
ucap Rita ingin memukul Doni tapi ia urungkan karena ocehan Livia.
" Hei sadar kalian sudah pada tua kenapa kelakuan masih kaya anak SD? bisa tidak sehari saja kau biarkan aku menikmati makanan tanpa melihat kalian bertengkar, "
ucap Livia kesal melihat tingkah temannya itu yang setiap hari bertengkar.
Akhirnya Doni dan Rita pun duduk anteng.
sedangkan Bintang hanya terkekeh melihat tingkah teman-teman barunya itu.
" Bi apa kau betah jadi sekertaris Tuan Regan ? "
tanya Livia pada Bintang.
" Aku butuh pekerjaan ini jadi ya harus aku betah-betahin, "
jawab Bintang tenang.
" Kenapa bukan aku yang jadi sekertaris Tuan Regan, "
sahut Rita sambil mbayangkan wajah tampan Regan.
" Mana mau Tuan Regan sama makhluk jadi-jadian, " ucap Doni cuek.
" Kau ini! "
ucap Rita dengan menendang kaki Doni karena kesal.
" Sudahlah jangan mulai lagi! tu makanan kita sudah datang, "
ucap Livia kesal karena geram melihat ulah kawannya itu.
Mereka berempat pun mulai menikmati hidangan yang ada.
" Eh..! siapa yang akan bayar semua makanan ini!? "
tanya Bintang bingung.
" Biasanya kita patungan setiap makan tapi karena sekarang yang memesan Doni, dan yang makan paling banyak juga Doni jadiiii... Doni yang akan membayar semua.. ayo bi..! "
ucap Rita menggandeng tangan bintang berlari meninggalkan Doni yang masih duduk di meja sendiri.
Livia pun ikut berlari meninggalkan Doni mereka semua tertawa senang karena sudah bethasil mengerjai Doni.
" Hei,makanmu juga banyak tadi! kenapa aku yang harus membayar semua?sungguh ini tidak adil! "
gerutu Doni sambil membayar semua makanan tadi.
Kini Bintang dan kawan-kawan sudah menunggu Doni di samping mobil.
" Apa kita tidak Keterlaluan? ".
tanya Bintang tak enak hati kepada Doni.
" Sudahlah bi.. kau jangan khawatir dia tak kan jatuh miskin hanya karena membayar makanan tadi "
ucap Livia menjawab pertanyaan Bintang.
Doni berjalan dengan ekspresi kesalnya ia menuju mobilnya .
" Ku kutuk kalian semua jadi batu! "
ucap Doni ketus.
" Aawww... kakiku tiba-tiba tak bisa di gerakan, ku rasa kakiku mulai membatu! "
ucap Rita bergurau sambil tertawa.
" Jariku juga mulai tak bisa di gerakan! "
sahut Livia tak mau kalah.
Bintang yang melihat tingkah kawan-kawan nya itu tertawa lepas.
" Sialan kau! "
ucap Doni kesal.
Mereka pun akhirnya kembali ke kantor bersama ,masih dengan bercanda di dalam mobil.
Tak lama akhirnya sampai di tempat mereka bekerja.
" Gawat kita sudah telat 5 menit, "
ucap Bintang berlari menuju ruangannya.
" Semoga Tuan Regan belum ada di tempat, "
Ucap Rita mengikuti Bintang.
" Pasti kita akan kena masalah sekarang! ini karena makanmu terlalu banyak Don! "
ucap Livia menyalahkan Doni.
" Kenapa kau menyalahkanku? kau juga makan banyak tadi! "
" Sudahlah,perdebatan kalian itu tak kan menolong kita,berdo'a saja semoga Tuan belum ada di tempat! "
Ucap Bintang berlari sekencang mungkin.
Semua mata memandang ke arah empat manusia ini yang sedang berlarian.
akhirnya mereka pun sampai di ruangan dengan nafas ngos-ngosan.
" Kenapa kalian bisa terlambat datang ? "
tanya pak radit datar.
" Ma'af pak tadi kita kena macet, "
jawab Doni berbohong.
Laki-laki tua ini sangat menyebalkan!
gumam Doni dalam hati.
" Tuan Regan sudah ada di tempat ,kalian sudah di tunggu di dalam,entah apa yang akan dilakukan kepada kalian! ".
Ucap pak Radit dengan nada kesaal.
" Benarkah? "
tanya Doni memastikan.
" Iya.. kalian sungguh senang membuat ku dalam masalah! "
ucap pak radit ketus karena tadi sebelum Bintang dan kawan-kawan datang pak Radit lah yang kena semprot Regan.
" Ma'af kan kami pak, "
ucap Bintang merasa bersalah.
Kita benar-benar dalam masalah sekarang!
ucap Doni sedikit berbisik.
Mereka berempat pun berjalan ke arah ruangan Regan.
Tok.. tok.. tok..
suara ketukan Pintu.
" Ma'af Tuan bolehkah kita masuk? ".
tanya Bintang dengan suara ketakutan.
" Masuklah! ".
jawab Regan singkat dengan nada emosi.
Cekreek..
suara pintu terbuka, mereka berempat berjalan masuk dengan wajah tertunduk tanpa berani menatap wajah Regan.
Plok.. plok.. plok
suara tepukan tangan Regan.
" Bagus ! kalian sudah berani datang terlambat sekarang! "
suara Regan menggema memenuhi ruangan.
" Ini pasti karena pengaruh dari Nona Bintang Ariana Putri, karena sebelum ini kalian tidak pernah telat sedikitpun! "
ucap Regan sambil terus berjalan mengelilingi empat manusia tadi. langkah kaki Regan menambah susana menjadi sangat menegangkan.
Tak ada yang berani bersuara di sana, mereka semua sibuk dengan fikiran masing-masing. begitupun Bintang.
Kenapa harus aku yang di salahkan?
sungguh suara langkah kakinya ingin membuat jantungku keluar dari sarangnya , bagaimana dengan wajahnya sekarang? pasti di sudah berubah jadi iblis yang begitu menyeramkan ".
gumam Bintang dalam hati yang masih terus menundukkan wajahnya.
" Kalian bertiga boleh keluar kecuali kamu Nona! "
ucap Regan marah sambil menunjuk Bintang.
Doni, Livia, dan Rita hanya mendongakkan kepala dengan ekspresi bingung .
Apa yang akan Tuan lakukan pada Bintang?
gumam mereka bertiga dalam hati.
Mereka keluar dengan menatap wajah Bintang , mereka merasa bersalah karena tak bisa membela Bintang tadi, tapi Bintang tau maksud dari teman-teman nya itu, ia pun membalas tatapan itu dengan senyuman tanda bahwa dia akan baik-baik saja.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? "
tanya Livia pada teman-teman nya di luar ruangan.
" Yang bisa kita lakukan hanya mendoakan Bintang, "
jawab Doni berjalan ke mejanya.
" Kenapa tadi bukan aku yang di pilih Tuan Regan untuk tetap tinggal di sana? aku rela menyerahkan jiwa raga ku untukmu Tuan, "
ucap Rita masih terus membayangkan wajah tampan Tuannya.
" Kau ini sudah benar-benar gila! "
sahut Livia meninggalkan Rita yang masih berdiri di dekat ruangan Regan.
" Apa kau tak tau bagaimana wajah Tuan Regan tadi? saat dia marah itu sangat menggemaskan..., "
ucap Rita berlari kecil mengejar Livia.
" Kau memang benar-benar tak waras! wajah mengerikan kau bilang menggemaskan? akan ku antar kau ke psikiater! "
ucap Livia tanpa menoleh.
" aku tidak gila ! aku hanya sedang jatuh cinta, " ucap Rita menuju mejanya.
Rita memang sangat tergila-gila pada Regan entah itu cinta atau hanya terobsesi, yang jelas semua sikap Regan itu tampak manis di matanya.