My Big Boss

My Big Boss
meringis kesakitan



Tak terasa sekarang pukul sudah menunjukkan jam tujuh malam.


Regan yang baru bangun dari tidurnya mulai mencari Davit, ia baru ingat bahwa Davit tadi pulang bersamanya. Regan pun turun dari kamarnya yang berada di lantai dua.


" Bik,Davit mana?"


tanya Regan sambil mengambil minum dari kulkas.


" Tuan Davit sudah pulang dari tadi sore, Tuan besarlah yang menyuruhnya pulang, "


Jawab bi inah yang sedang menyiapkan makan malam.


" Owh.. bawa makanan ku ke kamar bik, "


ucap Regan membawa segelas air dan kembali ke kamarnya di lantai atas.


Mama Nita yang baru keluar untuk makan malam melihat bi inah yang akan mengantar makanan untuk Regan.


" Tunggu bi, biar saya yang mengantarnya, "


ucap Mama Nita mengulurkan tangannya.


" Baik Nyonya, "


jawab bi Inah sambil memberikan nampan yang berisi makanan untuk Regan kepada Mama Nita.


" Jika Tuan datang suruh Tuan makan duluan bik, "


ucap Mama Nita mulai menaiki tangga.


" Baik Nyonya, "


jawab bi Inah kembali ke dapur.


Tok.. tok.. tok..


suara ketukan pintu Mama Nita,


" Sayang.. boleh Mama masuk? "


tanya Mama Nita dari luar pintu.


" Ya! "


Jawab Regan singkat.


Cekreek...


suara pintu mulai terbuka, Mama Nita mulai berjalan masuk.


" Ini makananmu sayang.., "


ucap Mama Nita menaruh makanan di meja yang ada di kamar Regan.


" Kenapa bukan bi Inah yang mengantarkannya? "


ucat Regan datar tanpa ekspresi.


Bukanya tadi kau sudah mulai ramah sayang, kenapa sekarang kau bersikap dingin lagi seperti biasa ? memang benar ucapan Davit kalau sikapmu mudah berubah-ubah.


gumam Mama Nita dalam hati.


" Mama yang sengaja ingin mengantarnya, Mama kangen ingin mengobrol dengan mu, kau terlalu sibuk hingga tak ada waktu untuk Mama, "


ucap Mama Nita yang memang benar-benar merindukan anaknya itu.


" Katakan apa yang ingin Mama tanyakan, "


ucap Regan yang masih dengan sikap dinginnya.


Mama Nita membuang nafas kasar.. ia begitu kecewa dengan sikap Regan yang tak pernah bisa berubah walau sedang bersama orang tuanya sendiri.


" Apa sikap mu akan terus seperti itu! Mama tau kau menyimpan luka yang begitu dalam tapi kenapa kami yang berada di sekeliling mu yang harus menerima pelampiasan kekesalan mu! seakan kami yang salah atas meninggalnya Tania, kau bersikap dingin kesemua orang! kau acuhkan Mama kau acuhkan semua orang yang menyayangimu! Mama mohon kau buka hatimu, jangan biarkan hatimu mati Regan, "


ucap Mama Nita yang tak sadar airmatanya mulai membanjiri pipinya.


Regan yang tau Mamanya mulai menangis pun mendekap erat tubuh Mama Nita.


" Ma, Regan tau sikap Regan selama ini salah, tapi Regan tak pernah sedikitpun berniat untuk mengacuhkan Mama, ma'af kan Regan jika selama ini sikap Regan membuat Mama sedih, "


ucap Regan penuh penyesalan.


" Untuk melupakan Tania, Regan masih butuh waktu Ma,tolong biarkan Regan mengatasi masalah ini sendiri.Regan tau Regan sudah dewasa,Mama dan Papa ingin secepatnya Regan menikah.Mama tenanglah Regan masih normal, Regan juga ingin punya pasangan hidup, Mama bersabarlah itu semua butuh proses tidak semudah membalikan tangan, "


ucap Regan mencoba memberikan pengertian pada Ibunya.


" Iya sayang,ma'af kan Mama dan Papa yang selama ini selalu memaksamu.kau makanlah nanti keburu dingin. Mama kebawah dulu, "


ucap Mama Nita berjalan keluar.


" Iya Ma, "


ucap Regan tersenyum tipis.


Mama Nita pun mulai meninggalkan kamar Regan dan berjalan menuju meja makan.


" Papa sudah makan? "


tanya Mama Nita kepada Tuan Williams yang sedari tadi sudah duduk di meja makan .


" Belum Ma, "


jawab Tuan Williams yang masih sibuk dengan ponselnya.


" Apa tadi bi Inah tidak memberi tahu papa? "


tanya Mama Nita yang mulai mengambilkan nasi untuk suaminya.


" Sudah , Papa sengaja menunggu Mama, "


ucap Tuan Williams dengan senyum manisnya.


Mama Nita pun hanya tersenyum mendengar Jawaban suaminya. ia mulai mengambilkan lauk untuk suaminya dan mereka pun makan malam bersama.


Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa kini sudah mulai jam masuk kantor.


" Selamat pagi Tuan, "


sapa Bintang saat Regan datang.


Seperti biasa Regan hanya berlalu dan Davit lah yang selalu membalas sapaan Bintang walau hanya dengan anggukan kepala.


Bintang pun mulai melakukan tugasnya seperti biasa.Bintang pun tak lupa membawa jas milik Regan yang kemarin ia kenakan.


" Permisi Tuan, ini sarapan Tuan dan ini saya kembalikan jas milik Tuan, Terimakasih telah meminjamkannya, "


ucap Bintang sambil menaruh makanan dan jas di atas meja.


"Hmmm...


bawa ke sini kopinya! "


ucap Regan datar tanpa ekspresi.


" Ini Tuan, "


ucap Bintang memberikan secangkir kopi pada Regan.


Regan pun mulai meminumnya,baru saja sedikit ia meminumnya Regan meringis kesakitan.


" Aaw.., "


ringis Regan memegangi perutnya yang sakit.


" Tuan kenapa? apa Tuan sakit? "


tanya Bintang yang reflek memegang kedua bahu Regan.


Regan yang tak suka pun hanya melirik tajam ke arah tangan Bintang.


Bintang yang mulai sadar pun segera melepas kedua tangannya.


" Ma'af Tuan saya hanya khawatir dengan kondisi Tuan, "


ucap Bintang mulai melangkah mundur.


" Aku tidak papa, kau kembalilah ke mejamu! "


ucap Regan datar sambil menaruh cangkir yang masih ia pegang ke mejanya.


" Ma'af Tuan jika ucapan saya ini lancang tapi ini untuk kebaikan Tuan, lebih baik Tuan kurangi minum kopi, itu tidak baik untuk lambung Tuan, "


ucap Bintang bergegas keluar.


Regan hanya diam mencerna ucapan Bintang.


" Saya rasa ucapan Nona Bintang itu benar Tuan, "


ucap Davit yang sedari tadi masih berdiri di ruangan Regan.


" Apa tadi dia benar-benar mengkhawatirkan ku? "


tanya Regan yang masih mengingat sikap Bintang padanya tadi.


" Saya rasa Nona Bintang tadi benar-benar mengkhawatirkan anda Tuan, "


ucap Davit yang mulai bingung dengan sikap Tuan nya.


Kenapa kau tadi bersikap tidak suka saat Nona Bintang menghawatirkan mu Tuan? sekarang untuk apa kau menanyakan itu padaku!


gumam Davit dalam hati.


" Gadis itu sangat pintar berpura-pura manis dihadapanku jadi kau jangan mudah percaya dengan wajah sok manisnya itu, "


ucap Regan datar.


Terserah kaulah Tuan, sebenarnya apa maumu! aku sudah pusing memikirkan sikapmu yang tak jelas ini!


gerutu Davit dalam hati.


" Apa Tuan sekarang baik-baik saja? apa perlu saya panggil dokter Rian ke sini? ini bukan pertama kalinya Tuan mengeluh sakit di perut, "


ucap Davit yang mengkhawatirkan Tuannya itu.


" Aku tidak papa, aku hanya butuh istirahat, kau bawa semua berkas ini keruanganmu! "


ucap Regan datar.


" Baik Tuan saya permisi, "


ucap Davit undur diri sambil membawa tumpukan berkas di tangannya.


Sebelum kembali ke ruangannya Davit menghampiri meja Bintang.


" Nona Bintang, ini kunci motor anda, "


ucap Davit sambil menyerahkan kunci kepada Bintang.


" Terimakasih Tuan, "


ucap Bintang dengan wajah yang berseri-seri.


" Motor Nona sudah ada di depan, "


ucap Davit berjalan menuju ruangannya.


" Terimakasih banyak Tuan, "


ucap Bintang lagi karena ia begitu bahagia karena motornya bisa kembali padanya.


Tak apalah aku harus menunggu lama, yang jelas kau sekarang kembali padaku, aku tau pasti si iblis itu sengaja mengulur-ulur waktu untuk mengembalikan mu padaku.


ucap Bintang yang terus menciumi kunci motornya.


jangan lupa tinggalkan jejak ya 😁


happy Reading😊