My Big Boss

My Big Boss
Amputasi



Bintang hanya menjawab dengan anggukan Kepala.


Davit pun langsung bergegas keluar dari ruangan Regan.


sedangkan Regan masih saja tidak mengalihkan pandangannya dari Bintang.


" Apa kau sudah meminum obatnya? "


tanya Regan ketus.


" Sudah Tuan "


jawab Bintang singkat.


" Kenpa kau tidak mengoleskan minyaknya? "


ucap Regan lagi dengan tatapan mautnya.


Aish..! dari mana dia tahu kalau aku belum mengoleskannya?


gumam Bintang dalam hati.


" Ma'af Tuan semalam saya ketiduran, "


jawab Bintang asal, karena sejujurnya semalam Bintang lupa untuk mengoleskan minyak itu.


" Dasar gadis bodoh! jika kau mengoleskanya kakimu tak akan sebengkak itu! "


ucap Regan kesal.


" Apa kau sudah ke dokter ? "


imbuhnya.


" Nanti jam istirahat saya akan pergi ke dokter tuan, "


Jawab Bintang menahan kekesalannya.


" Apa!


jadi kau belum ke dokter!


kenapa kau mengabaikan semua perintah ku!"


ucap Regan yang mulai emosi.


" Ikut aku! "


imbuhnya lagi.


Regan pun melangkahkan kakinya berjalan keluar ruangan, tanpa menjawab satu kata pun Bintang terus mengekori Regan, ia berjalan tertatih tanpa alas kaki.Semua teman-temanya memandangya penuh tanda tanya.


Livia yang melihatpun bertanya pada Bintang tanpa suara.


" Apa yang terjadi?


Kemana sepatumu? "


tanya Livia tanpa bersuara.


" Nanti akan kuceritakan "


jawab Bintang yang juga tanpa suara.


Bintang melihat punggung Regan yang sudah berada jauh di depannya, ia pun mulai mempercepat langkahnya walau dengan tertatih,Bintang memilih menahan rasa sakitnya dari pada ia harus kena marah di depan semua karyawan yang kini melihatnya.


Sedangkan Regan yang sudah berada jauh di depan Bintang pun geram,ia kembali melangkahkan kakinya menghampiri Bintang yang begitu lama berjalan.


" Aishhh..!


kenapa kau lama sekali ! "


ucap Regan marah dan tanpa permisi ia langsung menggendong Bintang ala bridal stayle.


Regan berjalan dengan wajah datarnya tanpa menghiraukan semua karyawan yang melihatnya.


Bintangpun terkejut dengan kelakuan Regan, ia membulatkan kedua matanya menatap Regan dengan mulut menganga.


Dasar bos gila! apa yang kau lakukan?


gerutu Bintang dalam hati yang malu karena sekarang menjadi pusat perhatian.


" Tuan,tolong turunkan saya, "


ucap Bintang namun tak di hiraukan oleh Regan.


" Tuan, tolong biarkan saya berjalan sendiri, "


imbuh Bintang lagi karena ucapanya tadi tak di hiraukan Regan.


Regan pun yang sedari tadi hanya fokus melihat depan mulai menatap Bintang tajam.


" Diamlah!


jika kau terus bicara akan ku jatuhkan kau sekarang juga, " ucap Regan penuh penekanan.


Bintang pun bergidik ngeri mendengarnya.


Kau tidak hanya membuat kakiku terkilir bahkan kau juga akan mematahkan tulang ekorku , kenapa aku bisa bertemu dengan orang sekejam dirimu


gumam Bintang dalam hati.


Bintang pun mulai mengeratkan peganganya, ia mengalungkan tangannya ke leher Regan karena ia benar-benar takut jika Regan benar-benar akan menjatuhkannya.


sedangkan Regan pun hanya tersenyum tipis, ia merasa senang karena gertakannya mampu membuat Bintang takut.


" Semua ucapan yang keluar dari mulutku adalah perintah untuk mu! kau mengerti!"


ucap Regan yang tetap fokus berjalan.


Bintang hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Bintang yang merasa malu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Regan.Semua mata tak lepas memandang Bintang dan Regan,sekarang semua karyawan sedang berbisik dan membicarakannya.


" Apa sekarang Tuan ada hubungan sepesial dengan sekertaris Bintang? "


tanya salah satu karyawan dengan suara berbisik pada rekannya.


" Entahlah, tapi setahuku ini pertama kalinya Tuan Regan menyentuh Perempuan, kau tau kan setelah sepeninggalan Nona Tania, Tuan tak pernah dekat dengan wanita manapun apalagi sampai mau menggendong seperti itu! "


ucap karyawan lain menjawab.


" Semoga saja mereka benar-benar berjodoh, semenjak kehadiran sekertaris Bintang sikap Tuan Regan sedikit berubah, tidak sering marah-marah seperti dulu, "


ucap karyawan lain menimpali.


Sedangkan Rita yang mendengarnya pun menatap kesal ke arah Bintang.


kini ia yang berpapasan memilih menundukkan kepalanya.


Bintang yang tau pun merasa tak enak hati, karena ia tahu pasti Rita sekarang sudah salah paham padanya.


Regan pun sudah berjalan keluar kantor menuju mobilnya. sedangkan pak Jang yang selalu standby di mobil pun bergegas membukakan pintu untuk Tuanya.


" Ma'af Tuan, kenapa lagi dengan Nona Bintang? "


tanya pak Jang sambil membukakan pintu mobil.


" Dia lupa cara berjalan! "


ucap Regan datar tanpa ekspresi.


Bintang hanya diam mendengar ucapan Regan, dari raut wajahnya tampak Bintang menahan kekesalannya.


sedangkan pak jang dengan ekspresi bingung masih mencerna perkataan Tuanya sambil berlari masuk kedalam mobil.


Kenapa kata-kata mu dari kemarin tak bisa kucerna dengan baik Tuan.


gumam pak jang yang sudah berada di bangku kemudi.


ucap Regan yang sudah duduk di bangku belakang bersama Bintang.


" Baik Tuan, "


ucap Pak jang yang langsung melajukan mobilnya walau ia masih bingung dengan sikap tuanya.


" Ma'af Tuan,untuk apa kita kerumah sakit?"


tanya Bintang yang bingung dengan ucapan Regan.


" Untuk mengamputasi kakimu! "


ucap Regan datar tanpa menoleh.


" Apa! "


ucap Bintang membulatkan matanya sempurna dengan mulut yang masih menganga, Bintang terkejut dengan ucapan Regan.


" Kenapa sekarang kau sering melototiku! "


jawab Regan dengan sorot matanya yang tajam.


" Ma'af Tuan, bukan maksud saya seperti itu, saya hanya terkejut dengan ucapan Tuan, kakiku baik-baik saja kenapa harus di amputasi ?"


ucap Bintang sambil menatap wajah Regan.


" Kau tak bisa merawat kakimu dengan baik, jadi untuk apa kau punya kaki? "


ucap Regan yang sibuk dengan ponselnya.


Dasar bos gila! hanya karena aku tak ke dokter sekarang kau ingin memotong kakiku!


gerutu Bintang dalam hati.


" Ma'af kan kesalahan saya Tuan, "


ucap Bintang memelas namun tak di hiraukan Regan.


Sedangkan pak Jang yang mendengar percakapan Tuanya hanya tersenyum tipis.


Bilang saja jika kau khawatir dengan Nona Bintang Tuan, kenapa dari semalam kau terus membuatku bingung dengan kata-kata mu.


gumam pak Jang dalam hati.


Kini suasana menjadi hening,Pak jang yang tetap fokus menyetir dan Regan yang tetap sibuk dengan ponselnya sedangkan Bintang masih saja dengan raut wajah kesalnya.


Di tempat lain Davit sedang memasang raut wajah kesal setelah membaca pesan singkat dari Regan.


Kenapa aku yang susah jika kau yang sedang kasmaran Tuan, kenapa kau terlalu gengsi untuk memperlihatkan kepedulian mu pada Nona Bintang! semalam kau menyuruhku mencari sepasang sepatu di jalanan dan sekarang kau menyuruhku menyimpan sepatu yang sudah ku buang! kenapa kau harus menyuruhku membuangnya jika sekarang kau ingin aku menyimpannya!


asal kau tau Tuan,semalam aku harus menebus mahal sepatu itu dari pemulung.


gerutu Davit yang ngomel-ngomel di depan layar handphone nya.


flashback,


semalam saat perjalanan pulang Regan mengirim pesan singkat pada Davit untuk mengambil sepatu Bintang yang ia buang, Regan mengirim nama jalan,warna sepatu dan ciri-cirinya.


Davit pun langsung berangkat ke tempat TKP setelah mendapat pesan dari Regan.Tak butuh waktu lama,Davit pun sampai di alamat yang diberikan Regan.


Davit turun dari mobilnya dan terus mencari, ia menyelusuri jalan dan mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Davit bahkan rela bertanya ke setiap orang yang lewat namun masih saja tak ditemukan. Hingga pandangannya tertuju pada pemulung yang sedang membawa gerobak tak jauh darinya.


Davit pun berlari dan menghampiri Pemulung itu.


" Permisi Tuan, boleh saya melihat isi gerobak Tuan, "


ucap Davit sopan.


" Ma'af Tuan, kenapa Tuan ingin melihat isi gerobak saya? "


tanya pemulung itu bingung.


" Saya sedang mencari sepatu dengan ciri-ciri seperti ini,tadi terjatuh di kawasan depan restaurant itu, "


ucap Davit sambil menjelaskan ciri-ciri sepatu Bintang.


Pemulung menatap Davit,ia terus memperhatikan penampilan Davit dari atas hingga bawah.


" Dari penampilan mu kau orang kaya Tuan, tapi kenapa kau mencari sepatu itu, kau bahkan bisa membeli yang baru, "


ucap pemulung itu heran.


" Itu sepatu kesayangan adik saya Tuan, apa Tuan tadi melihatnya? "


ucap Davit yang terpaksa berbohong ia tak mungkin mengatakan yang sejujurnya.


" Oh, iya Tuan, tadi saya menemukannya di sana, Tapi ma'af Tuan, ini sekarang sudah menjadi milikku, "


ucap pemulung itu berharap Davit akan menebusnya.


" Baiklah, boleh saya melihatnya sekarang, "


ucap Davit yang masih saja ramah padahal ia tau kalau pemulung itu akan manfaatkan sepatu itu untuk mendapatkan uang yang banyak darinya.


Pemulung itupun mengambil sepatu itu dari gerobaknya,ia pun menunjukkan pada Davit.


sedangkan Davit yang melihatnya pun langsung mengambil foto untuk ia tunjukan ke Regan lewat pesan gambar. Tak lama Reganpun membalas pesan Davit dan mengatakan bahwa itu benar sepatu milik Bintang.Akhirnya Davit pun memutuskan untuk membeli sepatu itu dari pemulung.


" Saya akan membelinya dari Tuan, berapa yang Tuan inginkan, "


ucap Davit sopan.


" Tuan harus membayarnya dengan harga satu juta, "


ucap pemulung itu asal, ia sengaja memanfaatkan momen itu untuk mendapatkan uang yang banyak dari Davit.


Tanpa pikir panjang Davit pun langsung mengambil uang satu juta dari dompetnya dan ia berikan pada pemulung itu.


Kini Davit pun kembali ke mobilnya dengan membawa sepasang sepatu.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


ma'af sedikit typo,


hari ini Author kasih bonus,


Up dua episode ya😁


ini untuk kalian yang udah setia baca novelku🤗demi kalian...Author sampai begadang nulisnya😌..


jadi jangan lupa terus dukung novel ini 😇kasih Vote, like, dan saran kalian supaya Author terus semangat menulis....😘


Terimakasih.. 😚😘


Happy Reading😊