My Big Boss

My Big Boss
Berangkat bersama



David yang sedari tadi mencari sosok Bintang akhirnya bisa menemukannya,David pun mengikuti ojol yang membawa Bintang sampai rumahnya tentunya tanpa sepengetahuan Bintang.


David yang melihat Bintang sudah memasuki rumahnya pun segera menelfon Tuanya, ia memberikan informasi bahwa Bintang sampai dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.Kini David pun putar balik dan melajukan mobilnya menuju kediamannya.


Tak butuh waktu lama untuk David sampai di rumahnya,kini mobil yang ia kemudi berhenti tepat di depan rumahnya,David melemparkan kunci mobil pada penjaga rumah,untuk memasukan mobilnya pada garasi,sedangkan David dengan wajah kusut dan penampilan yang acak-acakan berjalan masuk rumah menuju kamarnya, David yang sudah berada di kamarnya pun langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjangnya yang empuk hanya dalam hitungan detik kini David sudah terlelap tidur, tak lupa ia mematikan ponselnya untuk menghindari panggilan dari Regan.


Waktu berjalan begitu cepat, kini sinar mentari mulai menyapa, Bintang yang sudah bangun dari tadi mulai sibuk di dapur, ia sedang membuat bubur kacang hijau.Bintang sengaja membuat untuk ia berikan kepada Regan, ia berniat untuk mampir dulu ke kediaman Regan baru kemudian ia berangkat kerja. Bintang yang sudah selesai membuat bubur pun segera ia siapkan di mangkuk, kemudian Bintang bergegas untuk mandi.


Beberapa menit kemudian,


Bintang sudah keluar dengan penampilannya yang begitu cantik,rambut yang ia biarkan terurai dengan kemeja berwarna cream yang ia padupadankan dengan bawahan rok pendek lengkap dengan belahan yang ada di belakang, tak lupa dengan high heels yang menunjang penampilannya,Bintang mulai memakai helm,ia menaruh bubur yang akan ia berikan pada Regan di kantong plastik dan ia kaitkan di bagian depan motor, Kini Bintang pun mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Tak lama Bintang pun sampai di kediaman Regan.


"Pagi pak.., " sapa Bintang dengan senyum manisnya pada satpam yang membukakan gerbang untuknya.


Satpam itu pun menjawab sapaan Bintang,menunduk hormat dan tersenyum ramah.


Kini Bintang memarkir motornya tepat di depan pintu masuk rumah Regan, Bintang pun mulai mengetuk pintu dan tak lama Neni membukakan pintu untuknya.


" Pagi Nona Bintang.., " sapa Neni dengan senyum semeringahnya.


" Pagi juga Nen, oh ya, Tuan sudah bangun belum? "


" Sudah Non, ayo Non, masuk, "


Bintang pun masuk dan berjalan menuju dapur.


" Nona bawa apa? " tanya Neni yang kepo saat Bintang mulai membuka mangkuk Taperw*r yang ia bawa tadi.


" Bubur kacang ijo untuk Tuan, tolong ambilkan mangkuk bersih Nen, "


Neni pun segera mengambil mangkuk dan ia taruh di depan Bintang,kemudian Bintang pun segera menuang bubur yang ia bawa ke mangkuk baru itu.


Regan yang hendak turun, melihat Bintang yang sibuk di dapur bersama Neni, ia pun segera duduk di meja makan tanpa Bintang dan Neni sadari.


Bintang yang sudah selesai menyiapkan bubur untuk Regan pun berniat langsung berangkat kerja.


" Nen, kau antarkan bubur ini pada Tuan ya, jangan sampai beliau telat makan, obatnya juga jangan lupa kau siapkan, " ucap Bintang ramah.


" Kenapa tidak Nona sendiri yang mengantar, pasti Tuan akan lebih bersemangat memakannya, "


" Hahaha..


Kau bisa saja Nen, aku harus segera berangkat ke kantor, jangan sampai lupa pesanku tadi, " ucap Bintang yang kemudian membalikan badan, terkejut ternyata orang yang ia bicarakan ada di meja makan menatap nya tanpa berkedip.


" Tu...Tu..Tuan, Tuan ada disini?


Tuan rapi sekali, mau kemana? " tanya Bintang gelagapan.


" Yang harusnya bertanya itu aku, untuk apa kau sepagi ini kesini? bukankah aku sudah bilang kau tak perlu lagi merawat ku! "


" Saya hanya mau memberikan bubur kacang ijo untuk Tuan, tapi kalau Tuan tidak mau biar Neni saja yang makan, " ucap Bintang dengan senyum sebelah.


Neni yang mendengarnya pun tersenyum lebar.


" Kau bawa saja ke kantor, aku akan memakannya di sana, " ucap Regan berjalan keluar.


" Ke kantor? bukankah dokter menyarankan Tuan harus beristirahat selama satu minggu?


Tidak... tidak..., Tuan tidak boleh betangkat, " ucap Bintang menghadang Regan dan mendorong Regan kembali ke meja makan.


"Kenapa kau sekarang berani sekali padaku!"


" Bukan seperti itu,saya sebagai sekretaris Tuan sangat peduli dengan kesehatan Tuan,jadi lebih baik Tuan istirahat dulu di rumah, seperti saran dokter, " ucap Bintang dengan senyum manisnya.


" Benarkah? "


" Hmmmm... "


" Kalau begitu Tuan makan dulu, dan minum obatnya, " ucap Bintang memaksa Regan duduk dan mulai menyiapkan makan untuk Regan dan juga menyiapkan beberapa obat yang masih harus di minum Regan.Reganpun hanya diam dan duduk dengan wajah datarnya memperhatikan Bintang.


Kini Bintang sudah menyiapkan semua di hadapan Regan.


" Apa ini kau yang memasak? "


" Iya Tuan, "


Reganpun mulai memakan bubur buatan Bintang,terlihat Regan begitu menikmatinya.


" Aku tidak suka susu, kenapa kau membuatkan aku susu! "


" Tuan tidak boleh minum kopi, jadi mulai hari ini dan seterusnya saya akan menyiapkan susu untuk Tuan, "


" aku tidak akan meminumnya, ambilkan aku air putih, "


" Tidak, Tuan harus tetap meminumnya," ucap Bintang tetap memaksa Regan meminum susu.


Regan yang tak mau meminum susu itu segera beranjak dari kursinya namun di ikuti juga dengan Bintang yang dari tadi duduk di sampingnya, hingga posisi mereka kini saling berhadapan dan hampir tak ada jarak diantara tubuh mereka.


Regan menatap mata Bintang penuh arti begitupun dengan Bintang, Hingga tatapan mereka kini saling beradu.Regan yang melihat bibir mungil Bintang pun ingin sekali mengecupnya, entah kenapa kini bibir Bintang seakan menjadi candu baginya,Reganpun mulai mendekatkan wajahnya namun sekilas ia mengingat kejadian saat Bintang keluar dari mobil sport Rafa yang membuatnya kini mengurungkan niatnya dan membuang muka, Bintangpun yang dari tadi sport jantung menjadi sedikit lebih tenang.


Regan berusaha untuk menenangkan dirinya yang sedang kesal,hingga tanpa sadar ia meneguk susunya hingga habis,Regan pun menaruh gelas yang sudah kosong dengan kasar hingga suaranya terdengar keras,itu membuat Bintang yang melihatnya tersenyum tipis.


" Kenapa kau tersenyum? " tanya Regan acuh.


" Tidak Tuan, ini obatnya sekalian di minum, " ucap Bintang dengan senyum manisnya.


Reganpun segera meminum obatnya, ia kemudian berjalan keluar berlalu begitu saja di hadapan Bintang.


Bintang pun mengekorinya, sambil melambaikan tangan pada Neni yang sedang berada di dapur.


Di luar rumah Regan mulai berjalan menuju mobilnya sambil memperhatikan Bintang yang mulai memakai helm dan hendak menaiki motornya.Bintang yang menggunakan rok pendek membuat paha putihnya sedikit terekspos saat duduk di jok motornya,membuat Regan yang melihatnya kembali kesal.


" Tunggu! " suara Regan yang menghentikan Bintang.


" Ya Tuan, ada apa? "


" Turun, " ucapnya dengan tatapan tajam.


Dasar manusia aneh, ada apa lagi dengannya?


gerutunya Bintang dalam hati, namun tetap menuruti perintah Regan.


" Apa yang kau fikirkan, menaiki motor dengan rok sependek itu! cepat masuk! " ucap Regan marah, menyuruh Bintang masuk kedalam mobilnya.


" Tapi Tuan, "


Regan menatap tajam Bintang, hingga Bintang tak berani lagi menolak. Akhirnya mereka berdua berangkat bersama ke kantor.


Di perjalanan.


" Tuan, boleh mampir ke toko bunga sebentar? "


" Kita mampir ke toko bunga yang ada di depan pak! " ucap Regan tetap fokus pada laptopnya.


" Baik Tuan, " jawab pak Jang.


Bintang yang tak suka dengan sikap Reganpun hanya memutar bola matanya dan menaikan sebelah sudut bibirnya.