
Dengan wajah kesalnya Bintang mengikuti langkah suaminya, kini mereka berdua pun mulai memasuki mobil yang akan di kemudikan oleh David, setelah semua siap kini mobil pun mulai melaju ke tempat meeting.
Tak lama kini mobil yang di tumpangi Bintang dan Regan berhenti di salah satu pusat perbelanjaan di sana.
Regan, Bintang dan David pun kini berjalan menuju resto yang ada di sana, karena di sanalah mereka akan mengadakan meeting dengan rekan bisnis mereka.
" Selamat siang Tuan Regan, " sapa seorang laki-laki muda, tampan dan tampak sangat berwibawa.
" Siang, " jawab Regan.
" Mari silahkan duduk Tuan, " ucap laki-laki itu lagi.
" Terimakasih, " Regan pun duduk di ikuti David dan juga Bintang.
" Saya senang Tuan mau menerima kerja sama ini, oh ya, apa ini sekretaris Tuan ?" tanya laki-laki itu melirik Bintang dengan senyuman hangatnya.
" Bukan, dia istriku! " ucapnya sambil merangkul bahu Bintang.
" Ma'af saya tidak tau, " ucap laki-laki itu yang mulai canggung.
" Sebaiknya kita langsung membahas kerja sama kita,karena saya tidak punya banyak waktu, " ucap Regan yang mulia tak nyaman dengan sikap laki-laki di hadapannya yang terus memperhatikan istrinya itu.
" Oh ya ma'af Tuan, jadi kita akan memperluas pusat pembelanjaan ini, kita akan menggunakan lahan yang ada di sebelah sana untuk mendirikan bangunan nya, kita berencana menambah arena bermain di sana,Tuan tidak perlu khawatir saya pastikan kerja sama ini akan memberikan keuntungan yang besar untuk perusahaan Tuan, Tuan bisa melihatnya sendiri kan bagaimana strategisnya lokasi ini, dan saya pastikan pengunjung akan lebih ramai dari sekarang, " jelas laki-laki itu.
Kini Regan pun tampak berfikir, ia mulai mengamati sekeliling.
" Bisa kita tinjau lokasinya? " ucap Regan.
" Tentu saja Tuan, " laki-laki itu pun mulai beranjak dari kursinya, di ikuti Regan dan juga David.
" Sayang kau tidak ikut? " tanya Regan pada Bintang yang masih tetap duduk itu.
" Tidak, aku mau toilet,nanti aku tunggu kalian lagi di sini, " ucapnya sambil menahan rasa sakit di perutnya.
" Baiklah, aku pergi dulu. "
Kini Regan, David dan laki-laki muda itupun mulai melangkah pergi, sementara Bintang dengan wajahnya yang sedikit pucat mulai berjalan menuju toilet.
Empat puluh lima menit berlalu, kini Regan, David dan laki-laki muda yang ternyata bernama Frans itu pun kembali.
Regan yang mendapati Bintang belum ada di sana pun mulai sedikit khawatir, ia pun kini mulai melirik jam tangannya.
" Dav, kau urus semuanya aku pergi dulu, " ucapnya yang kini mulai melangkah pergi.
David pun kini mulai membahas kerja sama tadi sementara Regan mulai menyusul Bintang ke toilet wanita.
Regan yang tidak mungkin masuk pun memilih menghubungi Bintang melalui ponselnya, namun saat ia melihat ponsel nya ternyata sudah ada pesan singkat dari Bintang.
" Sayang, cepat hubungi aku setelah kau selesai dengan meeting mu, " suara Regan pelan saat membaca pesan Bintang.
" Apa terjadi sesuatu padanya?" gumam Regan yang mulai panik.Kini Regan pun bergegas menghubungi Bintang.
" Sayang,kau dimana?apa kau masih di dalam? apa kau baik-baik saja? " ucapnya khawatir saat panggilannya sudah tersambung dengan Bintang.
" Aku tidak papa, aku masih di dalam. "
" Baiklah aku akan menyusulmu ke dalam, " ucapnya mulai melangkah masuk.
" JANGAN! " teriak Bintang yang menghentikan langkah Regan.
Regan pun kini melangkah sedikit menjauh dari toilet wanita,ia baru sadar jika dari tadi semua mata di sana terus memandangnya.
" Apa yang kau lakukan selama itu di toilet? apa terjadi masalah dengan pencernaan mu? " tanya Regan khawatir.
" Ah, tidak,aku hanya, hanya... emmm,sedang datang bulan, kau bisa membelikan ku pembalut? " jawabnya sedikit canggung.
" Baiklah. "
Tanpa pikir panjang Regan pun kini bergegas membelikan bintang pembalut, walau dirinya sebenarnya belum tau apa itu pembalut.
" Ma'af Tuan, ada apa? kenapa Tuan terburu-buru, apa terjadi sesuatu pada nona Bintang? " tanya David yang melihat Regan berjalan cepat.
" Hmmm iya, kau bisa
membantuku dimana bisa mendapatkan pembalut? "
" Hah! pembalut? " David pun mengingat kisah memalukan dirinya bersama pembalut tempo dulu.
" Yang Tuan maksud pembalut untuk wanita menstruasi ? " tanyanya memastikan.
" Bukan untuk itu, tapi untuk datang bulan, dia bilang sedang datang bulan tadi, " ucapnya sambil terus berjalan menyusuri pusat pembelanjaan itu.
David pun manggut-manggut.
" Syukurlah bukan untuk menstruansi, " gumamnya dalam hati.
Kini dua manusia itu pun sibuk mencari sebuah pembalut untuk datang bulan, bukan untuk menstruansi ya, hhee...
" Ma'af Tuan, apa Tuan tau wanita datang bulan itu seperti apa? " tanya David.
" Tentu saja tidak, mendengarnya saja baru hari ini! "
" Lalu bagaimana kita tau bentuk pembalut untuk datang bulan ? " tanya David lagi yang mulai lelah dari tadi terus berputar-putar mengikuti langkah Regan.
" Sekarang kau tanya kan saja pada petugas di mana tempatnya, " ucap Regan yang juga putus asa.
" Baik Tuan. " David pun kini bertanya pada salah satu petugas, dan petugas itu pun memberikan petunjuk di mana tempatnya.
Regan dan David pun langsung berjalan mengikuti petunjuk dari petugas itu.
Kini akhirnya mereka berdua pun sudah berada di lorong yang berisikan berbagai macam merk dari pembalut.
" Dav, kita ambil yang mana? " tanya Regan bingung.
" Sepertinya kita salah tempat Tuan, " ucap David dengan suara pelan, ia mulai tak nyaman karena saat ini semua mata melihat kearah mereka.
" Maksudmu apa! "
" Ini semua pembalut untuk wanita menstruansi,bukan untuk datang bulan Tuan, " bisik David.
" Kau tampaknya sangat berpengalaman, " ucapnya tersenyum sinis, " Bintang pasti sudah menunggu lama, kau tanya saja pada pengunjung wanita itu, " ucapnya lagi sambil menunjuk wanita yang tengah berbelanja tak jauh dari tempatnya.
" Baik Tuan, " David pun kini mulai menghampiri wanita itu.
" Permisi nona,bisa tolong tunjukkan dimana saya bisa mendapatkan pembalut untuk datang bulan? " ucap David pada wanita itu.
Wanita itu pun tampak terkejut dengan ucapan David.
" Oh, pasti istrinya sedang menstruansi ya, ini semua pembalut untuk wanita menstruansi, Tuan bisa memilihnya sesuai selera istri tuan, " jawab wanita itu sambil menujuk ke arah semua pembalut.
" Yang kita maksud bukan pembalut untuk menstruansi tapi pembalut untuk datang bulan nona! " sahut Regan kesal.
Wanita itu malah tertawa cekikikan mendengar ucapan Regan.
" Menstruansi dan datang bulan itu sama saja Tuan, " ucap wanita itu yang kini berlalu pergi sambil terus tertawa.
Sementara Regan dan David pun kini saling pandang dengan wajah datar mereka.Dua manusia itupun kini sama-sama menahan malu.
" Ambil yang mana dav? " tanya Regan datar.
" Semua saja Tuan, " jawabnya juga datar.
" Sebanyak ini! " tanya Regan tak percaya.
" Iya, dulu saya juga membelikan nona Bintang semuanya. "
" Apa! " Regan pun seketika menarik kerah David dengan tatapan membunuh.
" Ssa..saya bisa jelaskan Tuan, dulu waktu kaki nona Bintang sakit saya membantunya untuk belanja di supermarket, " jelas David.
Regan pun kini melepas tangannya dari kerah David.
" Baiklah, sekarang kau yang ambil, aku tunggu di luar! " ucapnya berlalu pergi.
" Apa! " Kini wajah David pun datar tanpa ekspresi.
" Bintang juga mau jamu datang bulan, kau ambilkan sekalian, " ucap Regan setelah melihat pesan dari istrinya itu, " cepat aku tunggu di luar! " ucapnya lagi yang mulai berlalu pergi.
" Arrrggghhh...nasib...nasib..," gerutunya meratapi nasib.
David pun mulai mengambil semua pesanan Regan dengan menahan rasa malunya, dan kini ia harus kembali menahan malu saat harus mengantri di kasir karena semua orang menahan tawa saat melihat semua barang belanjaannya berupa pembalut dan jamu datang bulan.
" Ah! sial! andai aku punya kantong ajaib,akan ku keluarkan pintu kemana saja dan pergi menghilang dari sini! " ucapnya putus asa.