
Sang mentari sudah bersinar. Pagi ini Bintang sudah bersiap untuk memeriksakan kandungannya dan akan di temani oleh suami tampannya.
" Bintang berangkat ya ma, pa, " pamitnya pada kedua mertuanya.Tak lupa Bintang pun mencium kedua tangan mertuanya itu.
" Iya sayang, hati-hati ya.Rey kamu jaga istrimu baik-baik. " Kali ini mama Nita bicara pada Regan.
" Iya ma.Siap!Kami berangkat ya, " Regan pun berpamitan pada kedua orang tuanya,dia beranjak keluar setelah mencium kedua tangan orang tuanya.
" Seneng ya ma lihat mereka, " ucap tuan Williams yang terus melihat kepergian anaknya itu.
" Iya pa.Rasanya Adem aja gitu lihat mereka.Apalagi bayangin bentar lagi kita punya cucu, udah deh gak bisa di ungkapin pakai kata-kata. " Mama Nita pun merangkul pinggang suaminya menyandarkan kepalanya ke bahu tuan Williams.Mereka berdua tampak begitu bahagia,sejatinya kebahagiaan orang tua adalah ketika mereka melihat kehidupan anak-anaknya bahagia.
Regan dan Bintang kini sudah berada di dalam mobil.
" Gak ada yang ketinggalan kan sayang? " Regan memastikan, takutnya ada barang Bintang yang tertinggal.
" Enggak kok yank. "
" Ya sudah, kita jalan Dav! " Regan pun menyuruh David menjalankan mobilnya.Tak butuh waktu lama mereka pun sampai kerumah sakit di mana Bintang biasa memeriksakan kandungannya.
Saat di halaman parkir hal tak terduga terjadi.Mereka bertemu dengan teman kecil Regan yang tak lain adalah Stella.Bintang dan Regan pun berhenti saat Stella menghadang jalan mereka.
" Bintang,aku senang masih di berikan kesempatan bertemu denganmu. " Stella berbicara sambil meraih tangan Bintang. Tubuh yang terlihat lemas di atas kursi roda itu terlihat begitu menyesal.
" Ma'af kan aku atas segala perbuatan ku padamu Bintang.Sekarang aku sadar bahwa apa yang tidak ditakdirkan untuk kita,sekeras apapun kita berusaha memilikinya tetap kita tidak akan dapat memilikinya.Aku menyesal sudah pernah berbuat jahat padamu.Sekarang aku sudah menanggung akibat dari apa yang aku perbuat dulu padamu.Bisakah kau mema'afkan ku Bintang? " Stella begitu tulus meminta ma'af, Bintang bisa merasakan itu, ia pun mengusap lembut bahu Stella.
" Sudah sejak lama aku mema'afkan mu Stella,setelah ini jadilah pribadi yang lebih baik, " tutur Bintang.
Stella pun tersenyum lega, " terimakasih Bintang, " ucapnya lembut.
Kini Stella pun menatap Regan yang tampak begitu mengacuhkannya.
" Aku tau Rey kau tidak akan mudah memaafkan aku.Aku sadar kesalahan ku begitu besar padamu.Aku hanya minta tolong jangan tutup hatimu, " ucapnya namun tak mendapatkan respon apapun dari Regan.Regan tetap acuh tanpa melihat Stella sedikitpun.
" Sayang sudah kan? Ayo kita masuk, " Regan malah mengajak bicara Bintang membuat Stella sadar Regan begitu membencinya.
" Stella, kita masuk dulu ya, " Bintang pun berpamitan dengan begitu lembut, dia tau suaminya tidak suka dengan kehadiran Stella.
" Iya, terimakasih Bintang. "
Regan pun langsung merangkul bahu Bintang dan mulai menuntunnya pergi.Berlalu begitu saja di hadapan Stella.Sementara Stella terlihat begitu kecewa, rasa sedih terus menyelimutinya,sudah telat jika harus menyesali perbuatannya.
" Dav, bantu biaya pengobatan nya, " Regan berbicara begitu dinginnya.
" Baik tuan. " Tanpa di jelaskan lagi David mengerti siapa orang yang di maksud Regan.
Sementara Bintang terlihat tersenyum tipis menatap wajah suaminya yang masih sedikit masam.Walaupun hati suaminya sekeras batu tapi dia yakin batu itu akan terkikis sedikit-demi sedikit, tergantung apakah air yang mengikisnya mampu bertahan atau tidak.Menurutnya Stella harus banyak bersabar untuk mendapatkan ma'af dari suaminya.
Kini Bintang dan Regan tampak duduk mengantri.Setelah mendaftarkan diri Bintang dan Regan di suruh untuk menunggu giliran mereka masuk.Reganpun tampak begitu tidak terima.
" Sayang! Kenapa kita harus mengantri sih! Apa mereka tidak tau siapa aku? " ucapnya dengan emosi.
" Sepertinya tidak.Emang kamu siapa? " Bintang malah mengompori suaminya hingga membuat Regan begitu kesal.
" Aku pengusaha ternama di kota ini.Aku yang membantu negara menaikan nilai perekonomian rakyat, " Regan langsung menyombongkan diri membuat Bintang memajukan bibir bawahnya, " seharusnya mereka tidak boleh memperlakukan ku seperti ini!ya kan? " ocehnya kini.
" Sudahlah sayang, duduk manis saja disini. " Bintang berusaha menenangkan suaminya.Dia terus mengusap lembut bahu suaminya itu.
" Tidak!Aku harus menemui mereka! " Regan pun kekeh,dia tidak terima jika harus di suruh mengantri.
" Sayang tapi anakmu pingin ngantri. " Bintang merengek sambil mengelus perutnya.
" Apa? " Regan tampak tak percaya namun jurus jitunya itu berhasil menghentikan langkah suaminya yang akan melakukan demo kecil itu.
" Sudah duduk aja ya," ucapnya sembari tersenyum manis, ia pun meraih tangan suaminya untuk kembali duduk.Regan pun langsung takhluk,ia pun kini kembali duduk di samping istrinya.
" Eh, bener? Dia mau ngantri? " Regan masih menolak untuk percaya.
" Iya sayang, udah ya duduk aja. " Bintang tersenyum melihat suaminya yang tunduk begitu saja.
Sementara David yang dari tadi setia mengikuti terlihat tersenyum melihat kelakuan tuannya.
Cukup lama menunggu akhirnya seorang perawat memanggil nama Bintang seketika Regan pun berdiri saking antusiasnya.
" Emm, ma'af. Yang saya panggil nonya Bintang, " intruksi dari perawat itu yang membuat Regan tampak sewot.
" Saya tau!Saya suaminya, " jawabnya yang begitu ketus.Terlalu lama menunggu membuat emosinya mudah sekali tersulut.
" Ayo sayang, " ucapnya kini sambil meraih tangan Bintang.
Bintang pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Regan.Ia pun kini memasuki ruangan bersama suami tampannya itu.
Di dalam Bintang pun melakukan serangkaian pemeriksaan hingga selesai dan hasil pemeriksaan begitu menggembirakan.Calon bayinya begitu sehat,ibunya sehat dan yang paling menggembirakan adalah apa yang di inginkan Regan terwujud.Bayi laki-laki berada di sana,hidup di dalam kehangatan perut istrinya.Regan tak sanggup berkata-kata,dia terus menciumi kening Bintang tanpa melepas rangkulannya.
" Terimakasih sayang. " Dua kata itulah yang bisa keluar dari mulutnya,ia pun bertubi-tubi menghujani Bintang dengan sebuah ciuman.Bintang pun tersenyum bahagia.
Setelah acara pemeriksaan selesai kini mereka beranjak pulang. David yang dari tadi setia menunggu kini mulai mengikuti atasannya itu.Dia ikut tersenyum saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Regan.Tanpa di beri tahu dia yakin hasil pemeriksaan tak mengecewakan.
" Sayang aku ke toilet dulu ya.Kamu tunggu di mobil dulu, " pamit Regan yang mulai melepas rangkulannya.
" He'em jangan lama-lama. "
" Oke " Regan menjentikkan tangannya dan kemudian bergegas pergi.
Sementara Bintang dan David kembali melangkahkan kaki mereka.Banyak sekali orang berlalu lalang hari ini hingga membuat David dengan ekstra menjaga nyonyanya jangan sampai tersenggol atau tertabrak orang lain.Sangat berlebihan menurut Bintang, tapi apa boleh buat dia tidak bisa protes karena ini adalah salah satu perintah suaminya.Bintang pun berjalan dengan santainya,dia acuh walaupun banyak orang yang terlihat membicarakan nya hingga sesuatu tak menyenangkan terjadi.
" Eh, kamu Bintang kan? " Seorang wanita tiba-tiba menarik tangannya dan Bintang pun segera menipisnya.
" Selly? " Bintang tak menduga dia akan bertemu lagi dengan musuh bebuyutannya ini.
" Iya aku,pasti kamu terpesona banget kan ngelihat aku yang sekarang? " Selly mulai membanggakan dirinya, wajahnya yang semakin cantik,tubuhnya yang sedikit berisi, dada yang terlihat begitu mengembang dan perut yang sedikit membuncit.
Huuuuuek... Bintang ingin sekali muntah di hadapan wanita ini begitu juga dengan David.
" Kebetulan sekali ya kita ketemu disini.Oh ya Aku dengar kamu di peristri sama bos kamu sendiri ya? Si pangeran buruk rupa?Pffffttt...," Selly mulai mengejek dengan tawa sinisnya, " selamat ya kalian tuh cocok banget lo, " ejeknya lagi sembari menyalami tangan Bintang.Bintang hanya acuh dia malas sekali meladeni wanita di hadapannya ini.
" Oh ya,kenalin nih suami aku, dia tuh model internasional lo dia juga pengusaha sukses.Aku lagi mengandung anaknya.Kita serasi banget kan? " Selly kembali membanggakan diri,namun Bintang kembali tak merespon nya.
Jika di lihat-lihat mereka memang tampak serasi, yang satu cantik dan yang satunya juga super tampan tapi masih kalah jauh sih sama suamiku. Bintang hanya bergumam di dalam hati, dia benar-benar malas meladeni musuhnya dari jaman leluhur itu.
" Gak usah di jawab.Aku tau kamu pasti iri banget sama aku. " Selly kembali mengoceh sementara Bintang hanya menatapnya jengah.
Sementara dari arah lain tampak Regan yang baru saja dari toilet, dia menghampiri Bintang dan langsung merangkul istri mungilnya itu.
" Kenapa masih disini? " Tannyanya tanpa menghiraukan wanita dihadapannya yang tengah melongo,menatapnya dari atas sampai bawah tanpa berkedip.
" Iya lagi dengerin burung emprit ngoceh. " Bintang menjawab sambil memeluk tubuh Regan dan dengan manjanya menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya itu.Dia sengaja ingin membuat Selly kebakaran jenggot.Sementara Regan langsung menyambut dengan menghadiahkannya sebuah kecupan kecil di ujung kepalanya.Dan ini pun berhasil membuat Selly kepanasan.
" Kamu benar Regan? " tanya Selly sambil menutup mulutnya.Dia tidak percaya Regan bisa sembuh dan setampan ini bahkan ketampanannya seribu kali lipat lebih tampan dari suaminya yang menurutnya super tampan.
Sementara Regan hanya diam sambil memperhatikan Selly.
" Bukannya kamu punya luka di wajahmu? Kenapa bisa hilang? "
" Nona lupa bagaimana kekuatan uang? "
Selly terdiam.
Benar juga batinnya.
Aaaaaarrrrghhhh...
Dia tidak boleh kalah dari Bintang.
Sellypun menjerit dalam hati.Regan jelas lebih tampan dan lebih kaya dari suaminya.
Ini tidak boleeeeeh!
" Ayo sayang, " ajak Regan pada Bintang dan kini mereka berjalan dengan saling berangkulan berlalu begitu saja di hadapan Selly yang sedang kesal tingkat kabupaten.
" Kamu kenapa sih honey? " tanya suami Selly karena melihat istrinya begitu kesal.
" Aku gak mau tau! Kamu harus lebih tampan dari dia!besok kita ke Korea! "
" Eh, ngapain? "
" Oprasi plastik! " Selly pergi begitu saja. Dia kesal.Dia tidak boleh kalah dari Bintang.Dia harus membuat suaminya lebih tampan dari Regan.
Sementara di sisi lain Bintang begitu senang. Dia terus tertawa mengingat ekspresi Selly saat pertama melihat suaminya.
" Kamu tau gak sih yank,tadi dia tuh ngatain aku iri sama dia karena suaminya lebih tampan dari kamu, terus juga ngatain kamu pangeran buruk rupa tapi begitu lihat kamu mulutnya mangap gak bisa mingkem.Matanya juga mau keluar ngliatin kamu sampe gak kedip.Hahahah.. Puas banget aku! Pasti dia kesel banget deh sekarang. "
" Untungnya aku tadi datangnya pas banget kan? "
" Hu'um, makasih sayang ku. " Bintang pun mencubit kedua pipi suaminya gemas.
" Gak dapat hadiah nih? " Regan pun menaik-naikan alisnya.
" Udah deh gak usah berharap yang aneh-aneh!Sekarang kita pulang packing besok langsung terbang ke rumah mama. "
" Hmmmm, baiklah. " Regan pun menurut begitu saja.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba,hari ini Bintang akan pergi kerumah mamanya tapi sayang sepertinya keinginannya untuk naik blue ataupun pesawat tidak bisa terpenuhi.
" Sayang kamu jangan ileran ya,kita gak mungkin kerumah nenek naik blue atupun pesawat. Okey! " ucapnya sembari mengelus perut ratanya, berharap bayi yang ada di kandungannya mengerti.
Bintang pun berjalan keluar dengan koper kecil yang ia bawa.
" Ma'af non,ini ada kado buat nona, " ucap Neni sembari memberikan sebuah kotak yang berbungkus kertas kado berwarna pink.
" Kado? Dari siapa Nen? " Bintang mulai mencari nama pengirim namun tidak ada.
" Saya juga tidak tau non,itu tadi pak satpam nerimanya dari anak kecil katanya buat non Bintang, " jelas Neni.
" Oh, ya sudah makasih ya Nen. " Bintang pun kini duduk di ruang tamu dan perlahan mulai membuka kado yang tenyata berisikan sebuah rajutan yang berbentuk penutup kepala untuk bayi.Di dalamnya pun terdapat sepucuk surat.
*Aku akan mencari kebahagiaan ku sendiri.Semoga kau selalu dalam keadaan bahagia.
Tolong terimalah hadiah ini sebagai tanda permohonan ma'af dariku.
Tania*.
Bintang pun tersenyum.Akhirnya Tania sadar dan ancamannya dulu hanyalah sebuah peringatan baginya.Terlalu baik memang tidak boleh.Kita harus pintar dan bijak dalam mengambil sikap agar orang lain tidak memanfaatkan kebaikan kita.
Regan yang baru turun dari lantai atas pun menghampiri istrinya.
" Ada apa? " tanyanya.
Bintang pun memperlihatkan surat dari Tania dan sekejap Regan terdiam.Dia pun kini melihat istrinya.
" Sudah ayo berangkat, " ajaknya dengan senyuman manisnya, Regan pun ikut tersenyum dan mencium kening istrinya.
" Lets go sayang! " ucapnya sembari merangkul bahu istrinya, mereka pun berjalan bersama dan mulai berpamitan pada orang tua mereka. Setelah itu Regan membawa istrinya berjalan ke atap rumah.
" Sayang kamu mau membawaku kemana? " Bintang mulai bingung, " mobil kita ada di bawah, kamu lupa? "
" Tidak.Aku punya kejutan untuk mu di atas sana. " Regan bicara sambil menunjuk atap.
" Eh beneran?Apa? " Bintang mulai penasaran.
" Kamu akan tau diatas nanti. "
Bintang pun hanya mengikuti suaminya yang terus membawanya naik keatas. Sesampainya di atas Bintang begitu terkejut.Angin yang begitu kencang dari sebuah baling-baling menerpa semua yang ada di sana termasuk Bintang.
" Sayang,kamu beli helikopter?" tannya nya tak percaya.
" Tidak, sudah kubilang aku tidak sekaya CEOmu di novel. Aku menyewanya untuk mu, " tuturnya.
Bintang pun terharu.
" Terimakasih sayang, " ucapnya sembari memeluk erat suami tampannya itu.
" Apapun akan ku lakukan untuk mu.Ya sudah, ayo naik jangan sampai anak kita ileran. "
Merekapun bersiap masuk kedalam helikopter,Regan menyewa helikopter itu sampai istrinya merasa puas menaiki helikopter. Tak sedikit uang yang harus ia keluarkan, untuk lima belas menit saja dia harus membayar sewa sekitar tujuh juta lima ratus jika di hitung satu jamnya sekitar dua puluh delapan juta.Cukup fantastis bukan jika Regan menyewanya sampai akhir liburan mereka dirumah mamanya .
Bintang dan Regan pun di bawa berkeliling menikmati pemandangan dari atas dan baru setelah itu mereka di bawa ke tempat tujuan mereka.Tak butuh waktu lama kini mereka sudah diturunkan di sebuah tanah lapang yang berada tak jauh di depan rumahnya dulu. Bintang dan Regan pun bergegas turun dan mulai berjalan masuk.Banyak tetangga Bintang yang berkerumun untuk melihat mereka,ada yang mulai bergunjing satu sama lain.Ada yang bilang Bintang beruntung ada juga yang bilang Bintang pamer harta suaminya, ya wajarlah mulut tetangga lebih tajam dari pada silet.Bintang tak menghiraukan itu semua,dia tetap berjalan dengan santainya kearah bu Dewi dan teman-temannya yang sudah menunggunya.
" Eh kenapa mereka semua ada disini? " Regan terkejut melihat Rita, Livia, Doni, David, Maura dan Rafa.
" Kan aku sudah bilang mau ajak temen-temen. "
" Eh, kapan? " Regan rak merasa.
Bintang berlalu begitu saja meninggalkan suaminya yang masih tampak bingung.
Regan pun kini hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hari semakin terik,teman-temannya yang sudah lebih dulu sampai sudah membantu menyiapkan makan siang dan minuman yang begitu segar.Mereka pun kini makan bersama.
" Eh, Bi. Kapan sih suamimu akan kelihatan jeleknya! " ucap Rita yang tak menemukan sisi yang membuat wajah tampan bos besarnya itu terlihat jelek.
" Emmmmm, kapan ya? Kayaknya gak akan pernah deh! Hahaha.., " jawaban Bintang dengan tawa renyahnya.
" Aku iri banget tau gak sih! " Rita mulai memanyunkan bibirnya.
" Ih! Kan ada aa' Doni. " Bintang pun menyenggol bahu Rita.
" Ih apaan! Dia mah gak ada bagus-bagusnya. "
" Awas nanti jatuh cinta lo. "
" Enggak lah ya. " Rita pun pergi meninggalkan Bintang yang tengah terkekeh.
Haripun semakin gelap.Terlihat mereka semua berada di pinggiran danau yang ada di halaman belakang rumah bu Dewi.Mereka semua sedang sibuk menyiapkan bahan dan peralatan untuk acara pesta babeqiu kecuali Regan dan David mereka tengah sibuk di pojokan dengan laptop mereka.
" Ini mama buatkan susu jahe untuk kalian, " Ucap Bu Dewi sembari meletakkan dua cangkir susu jahe hangat untuk Regan dan David.
" Mama kenapa repot begini? " Regan mulai tak enak hati.
" Mama gak repot kok, cepat di minum mumpung masih hangat. "
" Terimakasih ma. "
Regan dan David pun mulai menikmati susu jahe buatan bu Dewi.
" Mama tau kamu sebenarnya sibuk tapi menyempatkan waktu untuk menuruti kemauan istri mu bukan? "
Regan hanya terseyum.
" Terimakasih ya nak, kamu sudah memberikan kasih sayang yang begitu melimpah untuk anak mama," Bu Dewi pun mengusap lembut bahu Regan," Mama masuk dulu ya,jangan terlalu sibuk, sempatkan waktu untuk bergabung dengan mereka, " ucap Bu Dewi lagi yang mulai beranjak pergi.
" Sebentar Ma ada yang mau Regan omongin. "
Bu Dewi pun langsung menghentikan langkahnya.
" Iya ada apa nak? " tannya nya.
" Selama ini Bintang selalu mengkhawatirkan mama,jika perut Bintang sudah mulai membesar Regan tidak mungkin membawa Bintang sering-sering kesini,maukah mama tinggal bersama kami? "
Bu Dewi pun tampak berfikir. Benar juga yang di ucapkan Regan.Beliau juga tidak mau anaknya terus kesana kemari di saat perutnya sudah membesar.
" Baiklah mama akan tinggal bersama kalian. "
Regan pun tampak begitu bahagia, akhirnya usahanya membawa mertuanya untuk tinggal bersamanya berhasil. Dia bisa menepati janjinya pada Bintang tempo dulu.
" Terimakasih ma, Regan akan segera membicarakan ini pada Bintang, " ucapnya sembari memeluk erat ibu mertuanya itu.
" Iya,ya sudah mama masuk dulu. "
Regan tampak begitu bahagia.Dia tidak menyangka akan mudah merubah keputusan ibu mertuanya yang memiliki sifat sama persis dengan istrinya itu.Keras kepala.
Sementara di sisi lain canda dan tawa menyelimuti kebersamaan Bintang,Livia,Rita Doni dan Rafa.Momen yang jarang-jarang bisa mereka lalui bersama.
" Eh abang Doni mau nyumbangin suara emasnya loh, " tiba-tiba Rita bercuit membuat Doni menatapnya tajam.
" Kapan? " ucapannya kesal.
" Tadi kan? " Rita mulai mengada-ada, dia senang sekali menyiksa temannya ini.
. " Nyanyi.. Nyanyi... Nyanyi..., " soraknya yang kemudian di ikuti Bintang, Livia dan Maura.
" Nyanyi apa? Aku gak bisa nyanyi! " Doni mulai protes.
" Jangan gitu dong Don, pelit amat sama kita.Aku tau kamu punya suara emas! " Rita terus memojokkan.
" Oke.. Oke.. " Doni tidak mungkin bisa lolos dari jebakan teman-temannya ini.
Doni pun meraih gitar yang memang ia siapkan,dia memang berniat untuk bernyanyi bersama agar suasana semakin seru.
" Jreeeeeeeng...., "'suara petikan gitar Doni.
" Tariiiiik siiiiis....," teriakan Rita yang membuat suasana semakin riuh.Bintang, Livia dan Maura pun terpingkal-pingkal melihat kelakuan Rita.
Mereka pun kini mulai diam mendengarkan Doni yang siap bernyanyi.
Kau gadis ku yang Manis...
Coba lihat aku disini...
Disini ada aku. . .
Yang sayang padamu...
Doni bernyanyi sambil terus menatap Rita. Hingga membuat Rita tersipu malu.
Cie... Cie...
Suwit.. Suwit...
Suara teriakan dari Bintang, Maura dan Livia.
Rita pun berhasil di buat salting oleh Doni.
" Ganti ganti Don! Apaan sih nyanyinya gak enak banget! " protesnya.
" Uhuuuuy... ada yang salting nih! " cuitan Livia yang tengah sibuk membalik sosis dan daging yang ia bakar.
" Apaan! Siapa yang salting coba! " Rita pun mengela tapi wajahnya yang merah merona tak dapat lagi berbohong.
" Udah kalau cinta bilang aja! " Bintang ikut menimpali, " jadian aja udah! " Bintangpun mulai memprovokasi.
" Apaan sih Bi! " Rita yang dari tadi di dekat Doni pun beralih mendekati Bintang.
" Gimana nih Rit, mau enggak? " Doni pun mulai menggoda Rita.
" Aku lempar sepatu nih! " Rita mulai kesal.Tapi entah kenapa hatinya begitu bahagia.
" Sepatu rasa cinta itu Don! Udah terima aja kalau di lempar! " Kini Rafa pun ikut bicara.
Semua yang ada di sana pun terkekeh melihat wajah Rita yang memerah.
" Kalian gak seru ah! " gerutunya kesal.
Sementara Regan yang dari tadi sibuk dengan laptopnya sesekali tersenyum melihat keriuhan istrinya dan teman-temannya,namun kini ia langsung beranjak bangun saat melihat istrinya memijat bahu Rafa yang dari tadi sibuk di bagian kipas-kipas.Regan pun langsung berjalan menghampiri istrinya.
" Aduh sayang, aku capek banget nih! " ucapnya sembari memindahkan tangan Bintang dari bahu Rafa ke bahunya.Regan pun berakting bahwa dia benar-benar lelah.
" Kamu sih! Udah tau kita kesini itu mau liburan,kamu malah bawa pekerjaanmu kesini. " Bintang mengomel sambil memijat bahu suaminya.
" Ya kan kamu tau beban yang di pikul suami mu ini gak bisa di tinggal begitu saja. "
" Iya, iya aku mengerti. "
Bintang terus memijat dengan lembut suaminya,membuat Regan kini merasa menang di atas Rafa.Ya walaupun Rafa tidak pernah berusaha merebut Bintang darinya tapi tetap Rafa adalah sebuah ancaman baginya.Kini ia pun tersenyum jumbawa di hadapan Rafa, sementara Rafa hanya tersenyum remeh, dia menganggap sikap Regan terlalu kekanak-kanakan.
Mereka pun kini mulai menikmati hasil bakaran mereka,ada sosis bakar,daging bakar,cumi bakar, jagung bakar dan banyak lagi yang lain.Dibawah sinar rambulan dan gemerlapnya Bintang mereka menikmati kebersamaan ini.
" Kamu mau yang mana tuan? " Maura mulai menawari David yang masih sibuk dengan laptopnya.Dia membawa beberapa hasil bakar membakarnya ke hadapan David.
David pun kini menutup laptopnya dan menatap Maura.
" Kalau mau kamu boleh? " jawabnya yang membuat Maura begitu terkejut.Maura tak bisa berfikir,ucapan David membuat otaknya seketika blenk.David pun tersenyum melihat Maura yang diam seperti patung.
" Jika aku menginginkanmu untuk menemani hidupku,menjadi ibu dari anak-anak ku kelak.Apa kau bersedia? " ucapnya lagi yang membuat Maura kesulitan menjawab.Untuk membuka mulut pun Maura tak sanggup.Hatinya begitu bahagia mendengar ucapan David. Ini yang dia harap-harapkan dari dulu.Air matanya pun mengalir begitu saja.
" Hei, kenapa menangis? " David pun seketika menangkup wajah Maura dan mulai menghapus dengan lembut air mata yang membasahi wajah cantik itu.Ia juga menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Maura.
" Will you marry me? " ucapnya lagi yang membuat Maura semakin tersedu,dia begitu bahagia, dia tak sanggup berkata.Maura pun mengangguk dan langsung memeluk tubuh pria di hadapannya.
Ini adalah pengalaman pertama David di peluk oleh seorang wanita, rasa aneh pun menjalar keseluruh tubuhnya.Apalagi rasa yang di berikan oleh ukuran dada Maura yang cukup besar membuat suhu tubuhnya seketika naik.
" Maura bisakah kau lepas dulu? Aku merasa ada yang aneh pada tubuhku, " ucapnya yang membuat Maura seketika melepas pelukannya.
" Kenapa? " Maura pun bingung.
" Tidak tau! Tidak bisa di jelaskan. " David juga bingung bagaimana menjelaskannya.
" Kamu sakit? " Maura mulai cemas.
" Tidak,aku merasa tubuhku panas saat kau memelukku.Apa menurut mu aku perlu ke dokter? "
Maura pun terkekeh mendengar jawaban David. Laki-laki di hadapannya ini entah polos atau bodoh.
" Kamu tidak perlu ke dokter kamu hanya perlu kekamar bersama ku, " bisiknya nakal.
" Ke kamar bersama mu? Untuk apa? "
" Mendinginkan tubuh mu. "
Maura terus terkekeh melihat David yang masih bingung dan tidak mengerti.Laki-laki dihadapannya ini benar-benar bodoh.
" Ayo kita gabung bersama mereka, " ajak Maura yang kini menarik tangan David.Membawanya bergabung dengan Bintang,Regan,Rita dan Doni yang sedang berbaring di atas hamparan rumput menikmati keindahan langit.
Sementara di sudut lain terlihat Rafa yang tengah memperhatikan sahabatnya dari kejauhan. Dia terlihat tersenyum bahagia melihat sahabat yang ia cintai itu hidup dengan limpahan kasih sayang dari suaminya.
Terkadang takdir memang begitu menyakitkan,kita ditakdirkan untuk mencintai tapi tidak di takdirkan untuk saling memiliki.Rafa pun tersenyum kecut mengingat nasibnya.Takdir ini memang begitu jahat padanya.
" Kamu juga harus bahagia,jangan terus tersenyum melihat kebahagiaan orang lain,tersenyumlah karena kebahagiaan mu sendiri. " Suara Livia yang mengejutkannya. Rafa pun kini menoleh kearah asal suara itu.
" Aku selama ini selalu memperhatikan mu,aku tau kamu sangat mencintai Bintang.Benar kan? "
Rafa hanya diam, dia tidak menyangkal ataupun membenarkan ucapan Livia.
" Aku tuh bangga banget sama kamu.Kamu mempunyai hati yang lapang,kamu bisa menerima takdir yang begitu pahit ini.Sekarang harusnya kamu sudah mulai mencari kebahagiaan mu karena Bintang sudah menemukan kebahagiaannya. " Livia terus berbicara namun Rafa hanya diam tanpa menghiraukannya.
" Ayo ikut aku! " Livia mulai menarik tangan Rafa.Membuat Rafa seketika tersentak.
" Kau akan membawaku kemana? " Akhirnya Rafa pun berbicara, ya walaupun dia berbicara karena Livia yang tiba-tiba saja menariknya.
" Membawamu mencari kebahagiaan bersama ku. " Jawaban Livia yang membuatnya kini berhenti dan mulai menarik tangan Livia hingga Livia terjatuh kedalam pelukannya. Rafa menatap Livia begitu dalam,mereka tidak begitu mengenal satu sama lain,mereka juga jarang bertemu tapi kenapa wanita ini bisa tertarik padanya?
" Jangan terlalu di fikirkan, aku akan memulainya perlahan. " Livia berbicara sambil tersenyum lembut di hadapan Rafa.
Ia pun kembali menarik tangan Rafa untuk bergabung dengan Bintang dan yang lain.
Mereka semua pun kini menghabiskan malam bersama di bawah sinar rembulan dan gemerlapnya Bintang.
~ The end ~