My Big Boss

My Big Boss
Kantin



Tak terasa jam makan siang pun tiba,Livia, Bintang dan Rita kini telah berada di kantin untuk makan siang, mereka begitu menikmati makanan masing-masing.


" Aish! kantor sekarang sudah seperti kebun bunga, " gerutu Doni yang baru saja datang dan bergabung di meja mereka.


"Kau benar Don, akhir-akhir ini Tuan Regan tu suka aneh,bener gak sih! " ucap Rita.


" Hmmmm... iya kau benar Rit,dulu buat peraturan pake sendal jepit sekarang kantor di ubah bak kebun bunga entah besok apa lagi, semoga aja tu bunga mawar gak di ganti bunga bangkai, " sahut Livia kesal.


" Hahahahah... kalau itu jangan sampai deh Vi, " gelagak tawa Rita saat mendengar ocehan Livia,Rita yang melihat Bintang dari tadi senyum-senyum sendiri pun melirik ke dua temannya, " Ssttt.. ssttt..., " bisiknya seakan mengkode kedua temannya untuk melihat Bintang yang dari tadi senyum-senyum sendiri.


Kini mereka bertiga pun memperhatikan Bintang yang terus tersenyum.


" Bi, kau sehat? " tanya Rita namun tak di tanggapi oleh Bintang yang tetap melamun dan senyum-senyum sendiri.


" Aish! aku tau kenapa dia senyum-senyum sendiri, " ucap Rita kesal.


" Emang kenapa Rit? " tanya Livia.


" Disini yang paling suka bunga siapa? Bintang kan? ya pasti karena itulah dia sekarang senyum-senyum sendiri karena begitu bahagia melihat kantor sekarang bak kebun bunga, " ucap Rita yang mulai di cerna oleh Livia.


Livia yang memikirkan sesuatu di otaknya pun menatap Bintang penuh arti, disusul Rita yang kini juga menatap Bintang penuh arti karena ia tau apa yang ada di otak Livia.


Bintang yang ditatap kedua temanya itupun mulai tak nyaman.


" Kenapa kalian menatap ku seperti itu! " ucap Bintang datar.


" Jangan bilang semua ini tuan Regan lakukan untukmu! " ucap Livia dan Rita bersamaan karena itulah yang ada di otak mereka dari tadi.


Bintang pun hanya bisa tersenyum saat kedua temanya itu mulai menerka-nerka.


" Kenapa kau malah tersenyum? apa itu artinya iya? " ucap Rita memastikan.


Bintang pun menganggukan kepala dengan senyum yang mengembang di pipinya.


" Aish! kau benar-benar sudah memenangkan hati tuan Regan, " goda Rita sambil menyenggol tubuh Bintang.


" Sudah kuduga, " celetuk Doni sambil mengangguk-anggukan kepala.


Bintang yang mendengar godaan Rita pun mulai salah tingkah, " Apaan sih Rit, " ucapnya sambil membuang muka.


" Tinggal nunggu traktirannya nih..,ya gak Rit? " sahut Livia yang ikut menimpali.


" betul! " Jawab Rita sambil mengacungkan jempolnya.


" Kenapa aku harus mentraktir kalian? " ucap Bintang bingung.


" Ya kan kau sekarang sudah jaaa...," ucapan Rita pun terhenti karena melihat regan yang kini sudah berada di depannya, " ja..jadi kurasa kita duluan ya Bi, " ucapnya yang tidak jadi meneruskan kata-katanya tadi, kini Rita pun melangkah pergi sambil menarik tangan Livia.Ritapun berusaha mengkode Doni dengan mengkedip-kedipkan mata namun karena Doni yang kurang peka malah membalasnya dengan memasang muka jeleknya.


" Ehem, " suara batuk Regan yang seketika membuat wajah Doni datar.


Doni yang duduk di dekat Bintang pun langsung beranjak dari kursinya,ia pun mengelap kursi yang ia tempati untuk Tuannya itu,


" Mari,silahkan Tuan, " ucapnya mempersilahkan Regan duduk dengan senyum garingnya. Doni pun bergegas pergi sebelum Regan mengulitinya.


Dasar monyet! kenapaa ngasih kodenya pake kedip-kedip mata, kan aku nggak ngeh!


Kini Regan dan Bintang pun duduk bersebelahan.Regan yang tak pernah menginjakkan kakinya di kantin pun menjadi sorotan semua mata yang ada di sana.


" Cepat pesan kan aku makan, " ucap Regan yang kini duduk tegap di sebelah Bintang.


" Hah, " ucap Bintang yang masih belum percaya Regan kini ada di dekatnya.


Regan pun kini menoleh ke arah Bintang yang dari tadi bengong melihatnya.Regan yang melihat wajah Bintang pun tersenyum tipis.Kini ia pun mendekatkan wajahnya.


" Jangan pernah melihat laki-laki lain seperti ini, kau mengerti! " ucap Regan sambil memegang wajah Bintang dengan kedua tangannya,membuat wajah Bintang seketika merah merona,Bintang pun hanya menjawab dengan anggukan kepala, " Aku lapar, cepatlah pesan kan makanan untuk ku! " ucapnya lagi yang membuat wajah Bintang seketika datar.


" Bukankah tuan ada janji makan siang bersama client? "


" David sudah mengurusnya,sekarang aku ingin makan siang bersamamu,"


" Tuan tidak akan suka makanan kantin, " ucap Bintang datar.


" Kata siapa? aku suka dengan makanan yang sedang kau makan, jadi pesankan itu untukku, " ucap Regan berbohong padahal ia sama sekali belum pernah makan makanan yang kini Bintang makan.


" Baiklah, " ucap Bintang yang mulai memesankan makanan untuk Regan dan tak lama makanan yang ia pesan pun datang.


" Silahkan Tuan, " ucap Bintang dengan senyum manisnya.


Regan pun memperhatikan makanan yang kini ada di hadapannya.


" Apa ini enak? " tanya Regan yang mulai ragu dengan rasa makanan yang kini sudah ada di hadapannya,jujur saja ini pertama kalinya Regan makan di kantin selama lima tahun menjadi presdir Atmaja Grup.


" Bukankah tadi tuan bilang suka dengan makanan yang aku makan, kenapa tuan sekarang kelihatannya ragu untuk memakannya? "


" Kata siapa, maksudku ini pasti rasanya enak, " Ucap Regan yang terpaksa berbohong lagi hanya karena ingin mengambil hati Bintang.


Semoga lidahku bisa berbohong untuk ini, mulai menyendokkan satu suapan di mulutnya dengan gemetar.


Regan pun kini mulai melahapnya,


" Lumayan tidak begitu buruk, " gumamnya dalam hati yang sedang merasakan makanannya.


Sedangkan Bintang dari tadi terus memandang wajah tampan Regan, entah kenapa hari ini ia ingin terus dan terus menatapnya.


" Apa kau tidak makan, " suara Regan yang membuat Bintang terkejut dan salah tingkah hingga membuat sendoknya hampir saja jatuh.


" Ma.. makan kok, " jawabnya gelagapan.


" Apa yang kau suka dari makanan ini? "


" Tentu saja ikannya, "


Regan pun mengambil ikan miliknya dan menaruhnya di atas sendok Bintang. Bintang yang melihatnyapun hanya bisa diam,tertegun.


" Makanlah, " ucap Regan dengan senyum manisnya.


Kini hati Bintang pun benar-benar meleleh, ia pun melahap makanannya dengan senyum manis di bibirnya.


Merekapun menghabiskan jam makan siang bersama.