My Big Boss

My Big Boss
Merasa mual



Setelah hampir tiga jam perjalanan akhirnya Regan dan Bintang kini sudah sampai di depan rumah bu Dewi.Udara sejuk di pedesaan membuat Regan dan Bintang begitu menikmati perjalanan mereka.


Pintu rumah bu Dewi yang kini terbuka lebar menandakan bahwa pemilik rumah sedang ada di rumah,kini Regan dan Bintangpun bergegas masuk ke dalam rumah di ikuti Pak jang yang membawa beberapa barang bawaan mereka.


Bintang yang kini melihat mamanya itu tengah sibuk menyulam pun tersenyum tipis. Ia pun mulai berjalan mengendap-endap dan kini menutup mata bu Dewi dengan kedua tangannya.


" Rafa!jangan terus ganggu bibi!nanti bibi sunatin lagi mau! " ucap Bu Dewi yang mengira bahwa Bintang adalah Rafa.Bintang dan Regan pun kini tampak mengerutkan dahinya.


" Kok Rafa sih ma! emang tangan Rafa selembut tangan Bintang! " ucap Bintang dengan nada kesalnya.


Bu Dewi pun kini langsung beranjak dari tempat duduknya dan membalikkan badannya.


" Sayang,kenapa tidak memberitahu mama kalau kalian mau kesini? " bu Dewi pun kini langsung memeluk Bintang dan Regan bergantian.


" Bintang sengaja ingin memberi mama kejutan,oh ya kenapa mama tadi mengira Bintang Rafa? memangnya Rafa ada di sini? " tannya Bintang kini.


" Iya tadi mama suruh ngambilin benang sulam di rumah neneknya tapi belum balik-balik makannya mama fikir kau tadi Rafa. "


" Owh. " Bintang pun kini manggut-manggut saja.


" Oh ya, ayo duduk sayang,kenapa mama sampai lupa menyuruh anak mantu mama yang ganteng ini duduk? " ucap bu Dewi yang kini mulai menuntun Regan untuk duduk.Bintang yang melihat sikap mamanya sedikit berlebihan pun mengerutkan dahinya.


" Ma, dia bisa sendiri kenapa harus di tuntun segala? " protesnya kini yang mulai duduk di kursi empuk yang ada di ruang tamu itu.


" Sudah kau diam saja!sekarang buatin minum buat suamimu sana! mama mau bicara penting sama mantu mama! "


Bintang pun kini berdecak kesal.


" Tuh kan lupa sama anaknya sendiri! " gerutu Bintang yang kini mulai beranjalan menuju dapur.


Sementara Bu Dewi kini mulai menatap Regan penuh arti.


" Bagaimana nak sudah berhasil belum? " tannya nya kini yang membuat Regan menjadi bingung.


" Maksud mama berhasil apa ? "


" Sudah berhasil buat Bintang hamil belum? " jelas Bu Dewi kini.


" Owh itu, belum ma, " jawabnya tersenyum masam.


" Kalian tidak menundanya kan? "


" Tentu saja tidak ma,Regan sudah cukup berumur jadi kalau bisa ingin secepatnya punya anak. "


" Ya sudah kau jangan capek-capek,bintang juga tidak boleh capek-capek biar mama cepet dapat cucunya. "


" Iya ma. "


Sementara Bintang yang baru saja kembali dari dapur pun kini tertunduk lesu setelah mendengar penuturan suaminya itu.Ternyata suaminya juga sangat menginginkan anak bukan hanya mertuanya saja dan kini ibunya juga berharap cepat mendapatkan cucu.Kini ketakutan Bintang pun kembali muncul, bagaimana kalau ternyata dirinya tidak bisa memberikan seorang anak ?


Bintang pun kini berjalan ke arah suaminya dengan segelas teh di tangannya,wajahnya muram dan tampak begitu tak besemangat.


Regan yang melihatnya pun mengerutkan dahinya.


" Kau kenapa sayang? tidak ikhlas buatin aku teh? " tannya nya.


" Ikhlas kok. " Bintang pun menjawab dengan lesunya.


" Aku kebelakang dulu, kau taruh saja tehnya di situ, " ucap Regan yang kini mulai berjalan ke belakang.


Dengan lesunya Bintang pun kini menaruh teh buatnya itu di atas meja.


" Sayang, mama ke warung dulu ya, nanti kalau mau istirahat kamarnya bersihin lagi soalnya mama terakhir bersihin kemarin. "


" Iya ma, " Bintang pun menjawab masih dengan lesunya.


Kini Bintang mulai duduk di kursi empuk itu, ia menaruh kepalanya di atas meja dengan kedua tangannya yang berada diatas meja sebagai tumpuan nya.Bintang mulai memikirkan kenapa dirinya belum juga hamil, ucapan mama dan suaminya tadi benar-benar membuat nya kepikiran.


Sementara di luar tampak Rafa yang kini mulai memasuki rumah bu Dewi.


" Ma'af ya bi, Rafa lama, " ucapnya saat memasuki rumah karena berfikir bu Dewi masih duduk di ruang tamu.


" Eh, mana bi Dewi? " ucapnya kini saat tak mendapati bu Dewi di sana.Rafa yang kini melihat wanita yang tengah menidurkan kepalanya diatas meja pun tersenyum tipis,ia pun kini berjalan menghampiri nya.


" Kau disini Bi? mana suami mu? " tannya nya karena tak mendapti Regan ada di sana.


" Dia sedang di belakang, " jawab Bintang masih dengan suara yang sangat lesu.


" Owh, lalu kenapa kau tiduran di sini? "


Bintang pun kini menatap Rafa dengan wajahnya yang tampak begitu sedih.


" Aku ingin hamil Fa, " rengeknya manja pada sahabat yang sudah ia anggap seperti kakanya sendiri itu.


" La kenapa bilang sama aku? kau mau aku sumbangin benih? " jawab Rafa yang kini mendapat satu pukulan dari Bintang.


" Jaga bicara mu! kalau Regan denger bisa-bisa kau di bunuh sekarang juga! " gerutu Bintang kesal.


" Ya habisnya kau bicara ingin hamil di depan ku, bilang sama suami mu sana biar di hamilin! " Rafa pun kini tampak kesal sendiri.


" Aku tiap malem udah di hamilin Fa, tapi gak hamil-hamil, kenapa ya fa aku gak hamil juga? "


" Jangan tanya padaku! tanyakan pada suamimu sana bagaimana kinerjanya selama ini, kenapa gak bisa buat kau hamil juga! " Rafa pun semakin kesal, bagaimana bisa Bintang malah curhat begituan di depannya.


" Kenapa kau malah marah-marah sih Fa, kau tidak kasihan kalau sampai aku gak bisa hamil terus nanti aku ditinggal Regan nikah lagi, hiks.. hiks.. kau jahat sekali sih Fa! " Tiba-tiba saja Bintang bersedih karena membayangkan Regan menikah lagi dan kini ia pun mulai menangis sesenggukan membuat Rafa kini serba salah.


" Tenanglah Bi, kalau Regan nikah lagi aku siap menampung mu. " Rafa pun mencoba menenangkan Bintang.


" Jadi kau mendoakan Regan nikah lagi!kau jahat sekali Fa! hikss.. hiks.. " Tangis Bintang pun kini semakin pecah membuat Rafa semakin bingung.


" Kenapa nih mulut enggak bisa di jaga! " Rafa pun mengutuki dirinya sendiri.


" Maksudku bukan seperti itu Bi, sudah jangan menangis kalau bibi tau aku bisa di bunuh! " ucap Rafa yang kini tampak semakin bingung menghadapi Bintang.


Bu Dewi yang baru kembali pun kini bergegas menghampiri Bintang yang tengah menangis.


" Kau apakan Bintang Fa!kenapa kau membuatnya menangis? " tanya bu Dewi kini.


" Bu..bukan aku bi " Rafa pun kini membela diri.


Bu Dewi pun kini mendekati putrinya.


" Kau kenapa sayang? apa Rafa menjailimu! " ucap bu Dewi yang kini bertanya pada Bintang.


Bintang pun kini menggelengkan kepala membuat bu Dewi mengerutkan dahinya.


" Lalu kenapa? "


" Bintang sedih ma kenapa Bintang tak juga hamil? " ucap Bintang kini.


" Owh itu, tenanglah mama punya solusinya, sekarang ayo kita kedapur bantu mama masak bahan-bahan yang akan membuatmu cepat hamil, " tutur bu Dewi.


" Mama beneran? "


" Iya. "


Bintang pun kini bisa tersenyum lebar.


" Kau kenapa lama sekali Fa? " ucap bu Dewi yang kini bertanya pada Rafa.


" Ma'af Bi,nenek sudah pikun jadi tadi cari benangnya butuh perjuangan,ini bi benangnya, " Rafa pun kini mememberikan benang sulam yang sudah ia ambil dari rumah neneknya pada Bu Dewi.


" Owh, ya sudah terimakasih, kau makan siang di sini ya, sekarang ayo ikut bibi ke dapur kau juga harus bantu bibi, " tutur bu Dewi yang kini mulai melangkahkan kakinya kedapur.


" Rafa tidak bisa masak bi, Rafa nanti bantuin apa? "


" Sudah ayo jalan saja! "


Rafa pun kini hanya mengikuti saja perintah bibinya itu.


" Sudahlah, itung-itung latihan jadi suami siaga,kalau istri mu sakit atau habis melahirkan kau bisa mamasak untuknya," ucap Bintang kini.


" Huh! seharusnya suami mu juga ikut bukan aku saja! " protesnya kesal.


" Dia kan sedang di kamar mandi, nanti pasti dia juga nyusul kok. "


Rafa yang kini sudah ada di dapur pun mulai duduk di meja makan yang ada di sana.


" Ini tolong bantu ambilin kulit kecambahnya ya Fa, " ucap bu Dewi sambil menaruh satu mangkuk besar kecambah di depan Rafa.


" Ini semua bi? tanya Rafa tak percaya.


" Iya semuanya, nanti kalau Regan sudah selesai dari kamar mandi kau minta bantuan saja padanya, " tutur Bu Dewi yang kini berjalan kearah pintu belakang itu.


Rafa pun kini hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sementara Regan yang tampaknya baru selesai mandi itu pun kini ikut bergabung di dapur.


" Kau lama sekali sayang, kau habis mandi? " tanya Bintang kini.


" Iya, tubuhku lengket jadi aku mandi sekalian. "


" Kenapa tadi tidak bilang? aku kan bisa ambilin kaos dalam untuk mu,jadi kau tidak memakai kaos dalam itu lagi ! "


" Aku sudah ganti kaos dalam sayang,hanya saja warnanya sama. "


" Owh. " Bintang pun kini memperhatikan tubuh kekar suaminya yang memang lebih suka menggunakan kaos dalam saat berada di rumah.


Sementara Regan yang kini melihat Rafa ada disana pun memicingkan matanya.


" Kau ada di sini! " tanya nya ketus.


" Kau sudah melihat ku ada disini kenapa masih bertanya! " sahut Rafa tak kalah ketusnya.


" Kau kesini pasti karena tau Bintang akan kesini bukan? "


" Aku disini sudah enam hari lebih lama darimu! "


" Awas saja jika kau kesini karena ingin mencari-cari cara untuk mendekati Bintang, aku akan menghabisimu dengan tangan ku sendiri! "


Rafa pun tersenyum sinis,


" sudah jangan sibuk mengancamku! lebih baik kau sekarang bantu aku mengupas cambah ini! " ucapnya kemudian.


" Tidak! " Regan pun kini duduk menjauh dari sisi Rafa.


" Bi,mantu bibi enggak mau bantuin Rafa ngupas kecambah nih ! " Rafa pun kini sengaja mengadu pada bu Dewi yang baru saja masuk dari pintu belakang itu.


" Ma'af ma Regan tidak bisa,Regan tidak suka bau kecambah, " tolak nya karena memang dirinya sangat benci dengan bau kecambah.


Emang kecambah baunya kek gimana sih dro!


" Mulai sekarang kau harus suka kecambah,sekarang bantu Rafa biar cepat selesai! " perintah bu Dewi lagi.


" Tapi ma_ "


" Tidak ada tapi-tapian! " bu Dewi pun tetap memaksa Regan.


Regan pun kini hanya bisa berdecak kesal,tidak mungkin dirinya terus membantah ibu mertuanya itu.


Sementara Rafa kini sengaja berpindah tempat dan kini duduk di sebelah Regan.


" Kau kenapa pindah kesini! " protes Regan yang kini bergegas menutup hidungnya.


" Kau tidak dengar tadi bibi bilang apa! kau harus membantuku memisahkan kecambah ini dari kulitnya,kalau aku duduk disana dan kau duduk disini kan kejauhan," ucap Rafa yang sebenarnya sengaja ingin mengerjai Regan.


Sementara Regan kini mulai membantu Rafa walau dengan malas-malasan, ia lebih fokus menutup hidungnya dari pada memisahkan kecambah dari kulitnya.


" Setelah ini aku akan membuat perhitungan padamu ! " ancamnya kesal.


Rafa pun malah terkekeh mendegar ancaman Regan.


" Fokus saja pada kecambahmu jangan sibuk mengancamku! " ucapnya kemudian.


Sedangkan Bintang yang dari tadi mendengar dua manusia itu terus berdebat pun kini mulai menghampiri.


" Kalau kalian terus berdebat kapan selesainya! " ucapnya emosi.


" Sahabat mu tuh mulai duluan! " ucap Regan.


" Bukannya kau yang mulai duluan! " Rafa pun tak mau kalah.


" Kau! " Regan pun kini mulai emosi.


" Apa! " sementara Rafa malah nantangin.


Prrrraaaaaaaang...


Bintangpun memukulkan sepatula yang ia pegang ke meja.


" Ayo! berantemlah di depan ku sekarang! " ucapnya emosi.


" Tidak sayang. " Regan pun kini diam sambil menatap Rafa tajam.


Sementara Rafa kini hanya diam menundukkan kepalanya.


" Cepat selesaikan, aku akan segera memasaknya! " Bintang pun kini menyusul bu Dewi yang masih sibuk memasak.


" Kau ini apa sih Bi,kenapa pakai marah-marah? " ucap bu Dewi tak suka.


" Habisnya mereka ngeselin ma, mama juga kenapa malah nyuruh mereka misahin kulit kecambah coba! mama kan tau Regan gak suka sama Rafa, mereka tuh gak akur ma! "


" Ya karena mama tau mereka gak akur makanya mama suruh mereka misahin kulit kecambah bersama. "


" Mama tuh caranya salah, tuh yang ada kecambah mama jadi korban, " Bintang pun kini menunjuk dua laki-laki yang kini saling lempar-lemparaan cambah itu.


Bu Dewi pun kini membuang nafasnya kasar.


" Ya sudah kita pakai kecambah ini, tadi mama udah bersihin,huh! untung saja mama belinya banyak, " tutur bu Dewi putus asa.


" Kenapa harus masak kecambah sih ma! mana mama belinya banyak sekali lagi! "


" Ini itu biar kau dan suamimu subur biar bisa cepat kasih mama cucu, dulu nenekmu waktu mama enggak kunjung hamil mama sama papa di suruh makan kecambah terus,dan setelah satu bulan mama punya kamu, dulu belum banyak dokter seperti sekarang, jadi mama sama papa hanya ngikutin saran orang tua-tua dulu, " jelas bu Dewi.


" Owh gitu ya ma, ya sudah nanti Bintang makan banyak deh biar cepet hamil. "


" Kau dan suami mu sudah cek ke dokter belum? "


" Belum ma kata mas Regan kita baru menikah jadi wajar kalau aku belum hamil. "


" Ya memang kalian kan baru beberapa bulan menikah,jadi jangan terlalu khawatir kalau belum hamil, mama lakuin ini hanya karena mama kepingin cepat dapat cucu saja,kau jangan terlalu memikirkan masalah ini ya? "


" Iya ma. " Bintang pun kini tersenyum masam,mana mungkin dia tidak memikirkannya?suaminya kan anak satu-satunya dari keluarga kaya raya pasti sangat mengharapkan keturunan darinya.


Setelah berjibaku di dapur kini akhirnya semua hidangan yang bertema kecambah sudah tersaji di atas meja.


Regan pun kini membelalakan matanya saat melihat semua menu mengadung kecambah.


" Sayang aku ambilin ya? " tawar Bintang.


" Tidak.. tidak, biar aku ambil sendiri saja! " Regan pun kini menepis tangan Bintang dan mulai mengambil menu berbau kecambah itu.


Regan pun menyendok sangat banyak dan kini di taruhnya di piring Rafa.


" Ini ku ambilkan untuk mu! " ucapnya sambil tersenyum manis.


Dan kini Regan menyendok menu serba kecambah itu hanya sedikit di piringnya.


Bu Dewi yang melihatnya pun mengerutkan dahinya.


" Kenapa cuma sedikit Rey? kau harus makan yang banyak, " ucapnya kemudian.


" Segini cukup kok ma! "


" Itu kurang, sini biar mama ambilkan. " bu Dewi pun kini mulai menaruh berbagai macam menu serba kecambah itu di piring Regan.


" Sudah ma, kasihan Rafa nanti tidak kebagian,tadi dia bilang sangat menyukai kecambah jadi biarkan ini semua untuk Rafa, " ucapnya berdalih.


" Cih! kapan aku bilangnya! " gumam Rafa dalam hati.


" Nanti Rafa mama masakin lagi, yang ini kau harus habiskan. " Bu Dewi pun tetap memaksa.


Kini Regan pun kini menatap istrinya.


" Sayang aku tidak suka kecambah, aku tidak bisa memakannya, " bisiknya kini.


" Kau harus mencoba sayang, ini demi kita. "


" Demi kita apanya! " protes Regan tak suka.


" Demi kita,biar cepet punya baby, " Bintang pun kini tersenyum lebar.


" Enggak usah makan ini kita juga bisa punya baby sayang, " Regan pun tetap berusaha untuk menolak.


" Aku mau kau coba dulu! "


Regan pun kini terdiam,ia sekarang benar-benar putus asa.Ternyata seorang Regan Atmaja yang dikenal sadis dan berkuasa tak bisa berkutik di hadapan mertua dan istrinya.Regan pun kini mulai memakan makanannya yang ternyata rasanya tidak terlalu buruk tapi tetap saja butuh perjuangan untuk memakan makanan yang tidak ia sukai.


Sementara Rafa yang kini sudah selesai makan pun mulai beranjak dari kursinya.


" Terimakasih ya bi makan siangnya,Rafa pamit pulang dulu, " pamitnya kini.


" Iya sama-sama,nanti malam ikut makan malam di sini ya? "


"Sepertinya tidak bisa bi,nanti sore Rafa akan kembali ke kota. "


" Owh,ya sudah terimakasih ya buat benangnya tadi, kau hati-hati nanti kalau pulang. " Bu Dewi yang sudah di dekat Rafa pun kini mengusap bahu Rafa lembut.


" Iya bi. Rey, Bi aku pamit pulang dulu ya, " ucap Rafa yang kali ini berpamitan pada Bintang dan Regan.


" Iya Fa,salam buat nenek, mama sama papa ya? " ucap Bintang.


" Iya. " Rafa pun kini mulai melangkah keluar bersama bu Dewi yang mengantarnya.


Sementara Regan kini tersenyum lega melihat saingannya itu pulang.


" Pergi sana yang jauh jangan kembali lagi! " gumamnya pelan.


Setelah kepulangan Rafa, Bintang dan Regan pun menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan ke sekeliling desa menikmati keindahan alam disana, hingga tak terasa kini waktu pun sudah semakin gelap.


Kini bu Dewi dan Bintang tampak sedang menikmati makan malam mereka tapi kenikmatan makan malam itu tidak untuk Regan karena makan malam kali ini yang juga bertema kecambah membuat Regan terus bermuka masam.


" Oh ya Rey, ini mama buatin jamu,di minum ya, " ucap bu Dewi yang kini menaruh satu gelas jamu di hadapan Regan.


" Tapi ma Regan kan enggak sakit kenapa harus minum jamu! " perasaan Regan pun mulai tak enak.


" Itu untuk setamina aja kok sayang,biar kau tambah kuat, " tutur Bu Dewi.


" Kuat? emang aku kurang kuat gimana? apa mama gak lihat badanku kekar gini? masak masih meragukan kekuatan ku, " pikir Regan saat ini.


Regan yang kini sudah menyelesaikan makannya pun mulai mengambil jamu yang di berikan mertuanya itu, namun saat mencium baunya Regan mengurung kan niatnya untuk meminumnya.


" Ma baunya kok gini!enggak enak! " protesnya.


" Ya kan namanya jamu pasti baunya enggak enak, " tutur bu Dewi.


" Sudah minum aja sayang, jamu tradisional itu baik untuk kesehatan. " Bintang pun kini ikut menimpali.


Dengan mata terpejam dan hidung yang ia sumbat Regan pun mulai meneguk jamu itu, Bintang dan Bu Dewi yang melihat nya pun kini terkekeh.


" Gimana sayang? enak? " tanya Bintang.


Regan pun menggelengkan kepala dengan muka masamnya.


"Ini jamu isinya apa aja sih ma! kenapa ada amis-amisnya! " ucap Regan yang kini merasa mual.


" Oh,itu tadi mama kasih telur ayam kampung makanya rasanya gitu! "


" Telur ayam? " tanya nya tak percaya.


" Iya,telur ayam kampung mentah itu kalau di sini selain di buat lauk juga dibuat jamu nak," jelas bu Dewi.


" Hah!jadi tadi ada telur mentahnya ma! "


Bu Dewi pun mengangguk membuat Regan semakin mual dan kini mulai berlari kebelakang.


" Sayang kau kenapa? " tanya Bintang panik dan mulai mengikuti suaminya itu.


" Seperti nya aku hamil sayang, " jawab Regan yang kini mual-mual ingin muntah.


" Hih kau ini! " Bintang pun kesal karena candaan suaminya.Ia pun kini mulai memijat tengkuk suaminya yang masih merasa ingin muntah itu.