
Jadi kau benar-benar ingin mati Dav! " teriaknya yang melihat David malah meninggalkan mobil.
" Ma'af tuan nanti saja marahnya,saya tidak bisa mendengar, " jawab David dari kejauhan. David tetap saja berjalan meninggalkan Regan dan Bintang yang masih berada dalam mobil.
" Sialan! " Regan pun membuang nafasnya kasar dengan senyuman kecut di bibirnya.Ini pertama kalinya David berani mengacuhkannya, " manusia itu benar-benar ingin mati di tangan ku! " gerutunya kesal.
" Sabar sayang,mungkin ada hal penting yang harus David lakukan. " Bintang pun mencoba menenangkan Regan yang kini benar-benar tampak marah.
" Kau tau! Ulahnya ini bisa membahayakan mu dan calon anak kita! Bagaimana bisa aku sabar! Aku akan membuat perhitungan padannya! Untung saja kau tidak jatuh, jika saja kau tadi sampai jatuh aku pasti sudah membunuhnya. " Regan pun kini beranjak bangun dan mulai keluar dari mobil.
Bintang yang bisa melihat kemarahan suaminya mulai menghela nafasnya.
" Dasar manusia kaku! Kenapa malah cari mati coba! " Bintang pun kini bergegas mengikuti Regan.
Sedangkan di sisi lain David kini sudah berada di sebuah Kafe pinggir jalan. Ia berdiri di antara dua orang yang tengah menikmati makanan mereka.
" Ehem, " suara batuk yang sengaja ia buat-buat hingga membuat dua orang dihadapannya kini menatapnya.
" Tuan David? " ucap salah satu di antaranya yang ternyata adalah Maura, " tuan sedang apa di sini? " tanya Maura namun tak mendapatkan jawaban dari David. David hanya sibuk menatap laki-laki yang kini tengah duduk di hadapan Maura.
" Sedang apa kau di sini? " Dengan begitu dingin David bertanya pada Maura.
" Sedang makan lah, sedang apa lagi? Tuan mau ikut makan? " Maura pun mulai menawari David.
David kembali diam dan kembali memperhatikan laki-laki yang tengah bersama Maura.Terlihat dari tatapannya David tidak menyukai sosok laki-laki itu.
Sementara di sisi lain Regan yang dari dari tadi mengikuti David mulai mengepalkan tangannya.
" Jadi hanya karena ingin menemui Maura dia hampir membuatku celaka! " ucapnya penuh amarah. Regan pun berjalan menghampiri David namun langkahnya terhenti karena Bintang yang kini menarik tangannya.
" Kita tunggu di mobil,biarkan David menyelesaikan masalahnya, " tutur Bintang.
" Tidak!Aku harus memberikan pelajaran padanya! " Regan pun tetap kekeh ingin menemui David namun Bintang kembali menarik pergelangan tangannya.
" Kau tau berapa umur David? " tanyanya yang membuat Regan kini tampak bingung.
" Dia lima tahun lebih tua dari ku, kenapa kau menanyakan itu? "
" Dia lima tahun lebih tua dari mu,itu tandanya dia sudah cukup tua bukan? apa kau tidak ingin melihat laki-laki tua itu menikah? Biarkan dia menyelesaikan masalah pribadinya. " Bintang pun kembali menarik tangan Regan untuk pergi dari tempat itu.
" Tapi sayang dia sudah membuat kita hampir celaka, aku harus memberikannya perhitungan. "
" Kalau tadi kita tidak ciuman pasti kita lebih waspada.Tidak mungkin kau sampai jatuh seperti tadi. Sudah jangan salahkan David di sini kau yang salah. "
" Kok jadi aku yang salah? " protes Regan.
" Ya pokoknya kau yang salah.Titik. " ucapnya yang masih terus menarik tangan Regan.
Regan pun hanya bisa pasrah mengikuti langkah Bintang.Masalah akan menjadi panjang jika dia tidak mau menurut,apalagi wanita di hadapannya ini selalu menggunakan Jeck sebagai senjata terakhir untuk mengalahkannya.Ya untuk sekarang lebih baik menurut saja.
Sedangkan di sisi lain suasana canggung masih mengelilingi Maura, bagaimana tidak David yang baru saja datang terus menatap tak suka laki-laki yang kini sedang makan bersamanya hingga membuatnya merasa tak enak hati.
Maura pun mulai mencari cara untuk mencairkan suasana.
" Oh ya Stev, kenalkan beliau tuan David atasanku di kantor, " ucapnya canggung.
" Sepertinya kita sudah pernah bertemu sebelumnya." Steven pun mulai mengingat-ingat karena wajah David begitu tak asing baginya," ah sudahlah aku tak berhasil mengingat nya.Kenalkan saya Steven teman kantor Maura dulu. " Steven pun menjulurkan tangannya.
" Hem. Saya David atasan sekaligus calon suami Maura. " Mereka pun kini saling berjabat tangan.
Sementara Maura kini membelalakan matanya,menatap David dengan begitu intens.
Benarkah yang di ucapkan laki-laki idamannya ini? Dia benar-benar sadarkan?
Calon suami?dia bilang calon suami? Benar kan dia bilang seperti itu? Maura benar-benar masih tak percaya dengan apa yang ia dengar, rasanya itu bagaikan mimpi yang kini membawanya terbang ke awang-awang.
Sementara Steven hanya manggut-manggut,seperti ada rasa kecewa di wajahnya.
" Aku akan membawanya,apa kau keberatan? " ucap David dengan diginnya, tak ada ramah-ramahnya sama sekali walaupun Steven bersikap ramah padanya.
" Tentu saja tidak. " Walau sebenarnya berat tapi apa daya Steven hanya bisa mengikhlaskan.Dia calon suaminya.
David pun kini langsung menarik pergelangan tangan Maura untuk berjalan mengikutinya.
" Ki_kita mau kemana tuan? " tanya Maura.
" Menjauh dari laki-laki itu! "
Maura pun melirik Steven, memang ada yang salah dengan Steven? Kenapa harus menjauh darinya?
Kini Maura pun mengerti dan mulai tertawa cekikikan.
" Pppfffft.... tuan cemburu ya sama Steven? "
" Tidak! " David pun menjawabnya dengan sangat tegas.
" Lalu kenapa membawaku menjauh dari Steven? "
" Aku tidak suka melihat mu berasamanya. "
" Lalu itu apa namanya? bukan cemburu ? " cibirnya. Maura tau betul jika manusia di sampingnya tidak akan mudah mengakui perasaannya.
" Aku sudah bilang aku tidak cemburu !"
David pun kini mengutuki dirinya sendiri, kenapa perasaan ini harus hinggap di hatinya. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan selama ini.Merasa sakit hati karena melihat wanita yang selalu membuatnya pusing bersama laki-laki lain, sungguh konyol sekali pikirnya.Perasaan apa ini? Benarkah aku sedang cemburu? Apa aku benar-benar mulai menyukainya?lalu apa tadi? Kenapa tadi aku harus mengaku sebagai calon suaminya? Ah rasanya aku ingin tenggelam saja di makan bumi.
David benar-benar merasa malu. Ia memilih memalingkan wajah hanya untuk menghindari kontak mata dengan Maura.Membuat Maura kini tertawa cekikikan.
" Apa susahnya sih bilang cemburu, " gumamnya.Laki-laki di hadapannya memang gengsinya melebihi menara Eiffel.
" Kenapa tertawa? "
" Tidak. " Seketika Maura pun menutup mulutnya rapat-rapat.
" Dimana mobil mu? "
" Ada di sana. " Maura pun menujukkan dimana ia memarkir mobilnya.
"Mana kuncinya? "
" Ini, " Maura pun memberikan kunci mobilnya pada David,seketika David pun kembali menarik pergelangan tangan Maura melangkah menuju tempat mobil Maura terparkir.
" Masuklah, " ucap David seraya membukakan pintu mobil untuk Maura.
Maura pun kini langsung masuk dan duduk di kursi kemudi.Maura menatap David yang kini mulai menyalakan mesin mobilnya.
" Aku tidak bisa mengantarmu, pulanglah dengan hati-hati,langsung hubungi aku saat kau samapai rumah, jangan temui laki-laki lain selain aku.Aku tidak suka melihatnya. Jangan goda laki-laki lain dengan senyuman genit mu itu.Kau hanya boleh menggoda ku! Mengerti! " Sikap posesif David pun mulai keluar.
Perubahan sikap David pun di sambut senyum bahagia oleh Maura,terlijat jelas dari wajahnya Maura begitu bahagia. Walau tidak ada kata cinta atau sayang yang keluar dari mulut David,Maura sudah cukup mengerti bagaimana perasaan David padanya.
" Pulanglah, hati-hati di jalan, " ucap David lagi sembari menutup pintu mobil Maura.David pun tersenyum tipis dan kini mulai meninggalkan tempatnya berdiri.
" Calon suami tunggu! " teriak Maura yang kini berlari ke arah David.
David yang sedikit terganggu dengan panggilan Maura pun menunduk malu, kenapa wanita itu harus memanggilnya seperti itu di saat ada banyak orang? Memalukan sekali, pikirnya.
" Hem, ada apa? Jangan memanggilku seperti itu. Aku tidak suka, " ucapnya sedatar mungkin.
David pun menatap malas Maura yang sedang cengegesan di hadapannya.Sikap Maura yang seperti inilah yang membuatnya begitu malas.
" Aku hanya mau ini. " Maura pun sedikit menjinjitkan kakinya dan cup,satu kecupan ia daratkan di pipi mulus David.Setelah itu ia kembali berlari ke mobilnya meninggalkan David yang kini diam terpaku.
" Terimakasih perhatiannya calon suami,sampai jumpa nanti, " ucap Maura dengan genitnya.Ia pun kini mulai melajukan mobilnya.Sepertinya " Calon Suami " akan menjadi nama panggilan khusus dari Maura untuk David.
Sementara David hanya tersenyum tipis, sikap Maura terkadang memang membuatnya malas tapi kali ini Maura terlihat begitu menggemaskan di matanya. David pun terus memegang pipinya, pipi bekas kecupan Maura yang membuatnya kini terus tersenyum, namun senyuman itu hilang tatkala ia mengingat kesalahannya.
David pun mempercepat langkahnya, dalam wajahnya hanya ada ketakutan. Semoga saja setelah ini ia malaikat maut tak datang menjemputnya.
Braaaaaak... Suara tangan Regan yang memukul mobilnya dengan begitu keras. Membuat David yang kini berada di hadapannya tersentak hebat.
" Tiga puluh menit empat puluh detik, kau membuat ku menunggu begitu lama Dav! " ucap Regan sembari melihat jam tangannya.
" Ma_ma'af tuan, " David pun tak berani menatap mata Regan, mata elang yang seakan siap menerkam mangsanya.
Regan yang kini berdiri di pinggiran mobil mulai menahan emosinya.Mengatur nafasnya agar sedikit tenang.
" Cepat masuk, antarkan aku pulang. " Kali ini Regan bicarakan sedikit tenang.
David pun bergegas membukakan pintu untuk Regan dan kini ia berlari mengitari mobil dan mulai masuk di bangku kemudi.
David pun mulai melajukan mobilnya, ia melaju dengan sangat hati-hati.Ia tidak ingin membuat kesalahan untuk kedua kalinya.Sesampainya di halaman rumah David bergegas turun dan mulai membukakan pintu untuk Regan dan Bintang.
" Ada yang ingin aku bicarakan, ke ruang kerja sekarang! " ucapnya pada David. Regan pun kini memasuki rumah bersama Bintang yang berada dalam rangkulannya.
" Jangan galak-galak kenapa sih yank, kasihan tuh belahan jiwamu jadi sedih gitu, " ucap Bintang sembari melirik David yang kini berjalan di belakangnya dengan wajah yang terus di tekuk.
" Jangan mempengaruhi ku.Aku akan tetap menegurnya. Kau jangan melarang ku. " Kali ini Regan begitu tegas. Membuat Bintang tak bisa berbuat banyak untuk membantu David lepas dari kemarahan suaminya.
" Kau tahu kesalahan mu Dav! " ucap Regan yang kini sudah duduk di kursi kebesaran nya. Bersama Bintang yang kini duduk di atas pangkuannya.
" Saya tau tuan ma'af kan saya. " David pun berucap penuh penyesalan. Ia tetap menundukkan pandangan nya tanpa berani menatap wajah Regan.
" Apa yang kau lakukan tadi bisa membuat ku celaka,membuat istri dan calon anakku juga celaka. Apa kau sadar itu? "
" Iya tuan, saya sadar saya begitu menyesal. "
" Kali ini kau ku ma'afkan tapi tidak untuk lain kali. " Nada Regan begitu dingin kali ini dia benar-benar marah.
" Terimakasih tuan. "
" Dari mana kau tadi? " Regan pun pura-pura bertanya padahal ia sudah tau kemana David pergi. Entah apa alasannya kali ini.
" Mengamankan masa depan saya tuan. " David menjawabnya dengan tegas walau tak sedikit pun ia berani menatap wajah Regan.
" Masa depan?Pfffft..., " Regan ingin sekali tertawa namun rasanya itu tidak sopan mentertawakan laki-laki yang sedang jatuh cinta.Begitu pun dengan Bintang yang kini menahan tawanya.Ternyata manusia kaku bisa juga jatuh cinta.
" Emmmm,,, apa kau ingin aku melamar nya untuk mu? " tawaran Regan yang membuat David seketika menatap nya.
" Ma_maksud tuan? "
" Kau sudah lama bekerja untuk keluarga ku.Aku sudah menganggap mu keluarga ku sendiri.Jika kau mau,aku akan melamar masa depan mu itu. Aku akan bicarakan ini pada mama dan papa. "
David pun terlihat terkejut. Bagaimana bisa tuanya itu tau apa yang ia maksud masa depan tadi?
" Emmm, terimakasih tuan, tapi saya rasa itu terlalu cepat. Kita masih perlu banyak mengenal satu sama lain. "
" Hem.Baiklah terserah kau saja.Sekarang kau boleh pulang. "
" Terimakasih tuan. " David pun kini bergegas keluar dari ruang kerja Regan.
Sementara Regan kini mulai bermain benda kenyal di dada Bintang.
" Sayang nanti ada yang lihat. " Bintang pun buru-buru menghentikan tangan nakal suaminya itu.
" Gak ada yang lihat, gak ada orang juga di rumah. "
Regan pun kembali memainkan tangannya, kali ini ia mulai menyusupkan tangannya ke dalam pakaian Bintang dan mulai melepas pengait yang menutupi benda kesukaannya.Regan pun mulai meremas dan memainkan puncak bukit kembar kesukaannya itu.Membuat Bintang kini mulai menggeliat.Tangan nakal suaminya berhasil membangkitkan birahinya.
Regan terus memainkan tangannya di dada Bintang hingga suara desahan lembut keluar dari bibir mungil Bintang.Membuat Regan semakin bersemangat untuk menjamah tubuh istrinya itu.Regan kini memindahkan tubuh Bintang keatas meja.Dengan perlahan ia mulai ******* bibir manis Bintang.Ciumannya kini turun ke leher,Regan terus mencium dan menjilat di sana.Aroma tubuh Bintang benar-benar membuatnya semakin bergairah. Ciuman Regan semakin turun kebawah membuat Bintang semakin menggeliat, tangan Regan mulai membuka satu persatu kancing Bintang dan tangan yang lainnya sudah bermain di area sensitif Bintang yang kini sudah terasa basah.
Karena model baju Bintang memiliki banyak kancing membuat Regan sedikit merasa kesal.Nafas yang dari tadi penuh gairah tiba-tiba saja menguap hilang.Regan pun fokus pada kancing-kancing baju Bintang.Dari tadi di buka tapi belum juga bisa membuat benda kesayangannya keluar dari sarangnya.Kali ini Bintang mulai membantu suaminya untuk melucuti pakaiannya.Regan yang tak sabaran ingin merobek saja pakaian itu, namun Bintang selalu saja menahannya.
" Desainer bodoh mana yang membuat pakaian seperti ini! aku akan menuntutnya! " ucapnya dengan kesal.
Bintang yang tahu kekesalan Regan pun langsung mencium bibir manis suaminya itu.Ia mulai mengigit kecil bibir bawah dan bibir atas Regan secara bergantian.Bintang bermain begitu lembut,dari menyesap,meng*l*m dan ******* ia lakukan dengan sang lembut.Membuat gairah Regan terpancing kembali.
Regan pun mulai menyambut permainan istrinya, ia mulai merengkuh pinggang Bintang agar tidak ada jarak di antara mereka dan tangan yang lain masih saja sibuk membuka kancing baju Bintang.
Satu persatu kancing sudah terbuka dan kini sudah tampak dua benda menonjol dengan tubuh yang begitu putih mulus.
Regan selalu terkesima dengan keindahan tubuh Bintang,ia selalu merasa kelaparan setiap melihat tubuh indah itu,Regan pun siap untuk mendarat di benda kesayangannya,benda menonjol yang menjadi tujuan pertamanya.
" Sayaaang kalian di mana? mama pulang.Mama bawa kejutan untuk kalian, " teriakan mama Nita yang membuat Bintang secepat kilat menutup pakaiannya.Membuat Regan gagal mendarat di benda kesayangannya.Padahal tinggal sedikit lagi bibirnya bisa menyentuh puncak bukit kembarnya.Ah sungguh sayang sekali pemirsa...
Regan pun diam terpaku menelan ludahnya sendiri.Wajahnya begitu datar tanpa ekspresi. Sementara jeck yang sudah menegang dari tadi harus menerima kenyataan yang begitu pahit.Sabar ya jeck ...
_
_
Jeck : Kesabaranku udah overdosis thor 😭